Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Bulan Madu (Part 8)


__ADS_3

Setelah keluar masuk beberapa toko.


Termenung cukup lama sambil membayangkan wajah Saga, Daniah menemukan barang


yang sekiranya membuat suaminya puas. Walaupun dia masih deg-degan juga saat


keluar dari toko tadi. Takut kalau ternyata laki-laki itu masih protes juga.


Aku akan memberikannya dengan gaya


imut, sambil bilang aku memikirkannya sepanjang mencari hadiah.


Daniah seperti mendapat asupan


tenaga lagi. Seteleh berhasil meyakinkan dirinya sendiri. Dia berteriak sambil


berlari kecil membelah kerumunan manusia menuju area kafe ataupun kedai


makanan. Tempat orang-orang berburu kuliner. Baik makanan yang sepertinya


populer baru-baru ini sampai makanan dengan citarasa lokal yang melegenda. Dia sudah terlihat


menunjuk-nunjuk sebuah kios kecil yang menjajakan makanan.


Aku ketemu cilok di sini. haha,


cilok adalah makanan bangsa yang bisa ditemui di mana saja.


Dia memesan dua porsi pedas


untuknya dan dan Aran. Puas sekali. Walaupun banyak jajanan lain, tidak tahu,


matanya tertuju ke kios dengan stand warna mencolok bergambar cilok.


“ Kak Niah.” Pasrah menatap dua


porsi cilok yang ada di tangan Daniah.


Sepertinya aku sudah berkali-kali


dibunuh  sekarang, berapa kali sudah


melanggar aturan tertulis tuan Saga. Semoga tuan Han tidak menanyakan sampai


detail makanan yang dimakan nona.


Aran menerima satu cup yang dibeli


Daniah untuknya. Diapun ikut makan karena melihat Daniah makan dengan lahap.


“ Kita ke kafe itu saja ya. Mau


mendinginkan badan.” Daniah tertawa sambil menunjuk sebuah kafe yang nampak


paling ramai. Karena lokasinya terbilang strategis dengan luas bangunan paling


besar dibandingkan dengan yang lain. Aran mengikuti di samping Daniah sambil


menghabiskan cilok di tangannnya.


Makin di makan makin enak juga


ternyata.


Seperti yang terlihat dari luar,


ketika masuk ke dalam kafe langsung di sambut udara dingin dari  pendingin udara. Daniah sampai mengusap


tengkuknya yang berkeringat karena cuaca di luar. Dia mengedarkan pandangan


menyapu ruangan. Seorang pelayan mendekat dan menyapa.


“ Dua orang mbak, minta kursi di


dekat jendela ya.” Katanya.


“ Silahkan.” Dia mempersilahkan


tangannya, meminta kedua pelanggannya mengikuti. Cilok di tangan keduanya belum


habis. “ Silahkan.” Setelah mendapat tempat duduk yang diinginkan, Daniah


menerima menu yaang di sodorkan.


“ Aran mau apa? pilihlah.”


“ Saya sama dengan kak Niah aja.””


“ Hei, jangan begitu. Pilih yang


kamu sukai. Selama tidak ada Han, kamu bebas melakukan apapun.”


Nona, apa anda masih tidak sadar


dua pengawal di belakang kita itu.


“ Aku ingin minuman segar yang


tidak terlalu manis. Sepertinya jus nanas enak. Kalau begitu aku pesan jus


nanas aja ya mbak. Dengan bongkahan batu es ya. “ Membayangkan saja pasti


minuman itu akan segar sekali. Aran sendiri memilih jus jambu dengan susu.


Mereka tidak memesan makanan


apapun. Daniah masih menghabiskan cilok di dalam cup miliknya. “Terimakasih ya.


Hari ini menyenangkan sekali.”


“ Ia kak, saya juga senang sekali.”


Hei kalian jangan menatapku seperti


itu. Dari tadi nona yang mengajaku bicara. Memang aku harus diam kalau dia


bicara padaku.


Aran berusaha mengalihkan


pandangannya dari kedua laki-laki yang juga pesanan minuman mereka datang


bersamaan. Menataap Aran dengan wajah tanpa ekspresi.


Saat Pesanan sampai di meja. Langsung  diterima dengan bahagia oleh Daniah.


Gadis itu menghabiskan hampir separuh gelas minumannya. Sampai terdengar


pecahan batu es yang bergesek.


“ Haha, aku haus sekali.” Minum lagi


beberapa sedotan sampai terdengar lagi gesekan batu es. “Tuan Saga sudah


selesai belum ya?”


“ Tuan Han sudah menanyakan kita


dimana beberapa waktu lalu kak. Mungkin saja tuan Saga sudah mau selesai.” Aran


memeriksa hpnya lagi. Jangan-jangan ada pesan masuk. Tidak ada, aman batinnya.


“ Benarkah?” Merasa senang, karena


mereka tidak perlu bertemu di keramaian seperti ini. Dia akan kembali sebelum


tuan Saga selesai, itu rencana awalnya tadi. “Aran ceritakan tentang dirimu.

__ADS_1


Sejak kapan kau bekerja di Antarna Grup?”


Aran baru saja mau meletakan


sedotannya dan menjawab, tapi tiba-tiba sebuah suara yang terdengar nyaring dan


senang terdengar. Membuatnya lagi-lagi tidak sempat meluruskan kesalahpahaman.


“ Niah! Daniah! Benar Daniah!”


Yang dipanggil segera memalingkan


wajah menuju suara yang memanggilnya. Saat matanya bersitatap tiba-tiba


wajahnya langsung berubah. Senyum di bibirnya pudar seketika. Aran melihat


dengan jelas tatapan tidak suka Daniah pada laki-laki yang antusias mendekat ke


meja mereka.


Sial! Kenapa aku bertemu berandalan


ini di tempat seperti ini. Apa yang dilakukannya di kota ini! Baiklah, pura-pura


tidak kenal. Acuhkan dia.


Daniah menundukan kepala lagi,


mengaduk minumannya.


“ Kau mau pura-pura tidak


mengenaliku?”


Sial! Kenapa dia tahu si. Apa isi


kepalaku ini transparan sampai bisa ditebak.


Tanpa bertanya ataupun permisi


laki-laki yang baru saja menyapa dan memanggil nama Daniah dengan riang  itu sudah menarik sebuah kursi. Mau duduk


persis di samping Daniah.


“ Hei tuan apa yang anda lakukan?”


Aran menarik kursi itu menjauh sebelum sempat di duduki. “Tuan bahkan tidak


bertanya apa boleh bergabung bersama kamikan?”


Kenapa muncul laki-laki seperti ini


si, dalam bayangankukan muncul laki-laki keren yang paling tidak selevel dengan


tuan Saga. Dalam ketampananlah minimal, walaupun kalau uang tidak mungkin


mengalahkannya.


“ Hah! Siapa dia? Temanmu?” Tangan


laki-laki sok akrab itu sudah bergerak ingin menyentuh dagu ataupun wajah Aran.


Daniah segera refleks menepis tangan lancang itu.


“ Jangan ganggu temanku!” Daniah


bicara dengan nada ketus. Menatap tajam dan benci.


“ Haha, kamu benar-benar tidak


berubah ya Niah. Teman-temanmu selalu jadi kelemahan terbesarmu. Sekarang sudah


ingat aku kan?” Dia tersenyum sinis sambil melirik Aran dan menarik kursi yang


di geser tadi. “ Karena ini kafe milikku, aku tidak perlu izin siapapun  dan bisa duduk dimanapun aku mau. Apalagi


Cih, aku sampai lupa kalau dia


memang murid paling kaya di SMU dulu.


“ Kenapa kau sama sekali tidak


berubah. Apa kau masih bocah SMU yang sok kuasa karena kekayaan orang tuamu!”


Mendengar Daniah bicara dengan


keras dia malah tertawa.


“ Sekarang aku sudah punya


kekayaanku sendiri. Haha. Tapi Niah kau tetap manis sama seperti dulu. Apalagi


kalau sedang marah padaku.” Tidak tahu terbuat dari apa urat malu laki-laki di


depannya ini. Tapi Daniah masih merasa, kalau dia sama persis dengan berandalan


SMU yang menyusahkan kehidupan remajanya dulu.


“ Tutup mulut anda tuan!” Aran


bangun dari tempat duduknya. Mendekat dan berdiri di samping Daniah.


“ Haha, siapa dia Niah.


Pengawalmu?”


Daniah menarik tangan Aran yang


sudah hampir mengebrak meja di depannya.


Ya Tuhan kenapa aku bisa bertemu


berandalan gila ini. Laki-laki di hadapannya ini memiliki rapor hitam selama di


sekolah. Dan lebih menyebalkan lagi dia selalu lepas dari hukuman karena


keluarganya yang kaya raya dan penyokong hampir separuh dari semua kegiatan


sekolah. Dan ilmu bela dirinya tidak main-main. Parahnya dia bisa memukul


perempuan.


Huh! Ku pikir tuan Saga itu


laki-laki paling seenakya dimuka bumi ini. Sampai aku ingat lagi dengan


berandalan ini.


“ Aran tidak apa-apa. Dia


berandalan di Smuku dulu. Kami satu sekolah.”


Hah! Apa dia ini mantan nona?


Kenapa aku benar-benar ketemu dengan mantan nona. Aaaaa, apa aku sedang dikutuk


karakter-karakter novelku yang kadang aku buat susah kalau ketemu para mantan.


Seharusnya mereka dibuang ditempat sampah. Cih.


“ Kau lumayan juga, tapi kau bukann


seleraku.” Menatap Aran sinis sambil menyeringai. Setelah itu beralih menatap


Daniah. “ Niah, bagaimana denganmu. Kau sudah punya pacar?””


“ Aku sudah menikah.” Menjawab

__ADS_1


cepat.


“ Haha, ayolah. Kau tidak akan


mengaku kalau kau menikah dengan tuan Saga Rahardian presdir Antarna Groupkan?”


Wajah Daniah semakin kesal ketika


mendegar laki-laki di depannya tertawa semakin keras. Caranya tertawa masih


sama seperti yang ada diingatannya. Dan dia membenci itu.


“ Tebakanku benarkan kau mau mengaku


sebagai wanita yang dicintai tuan Saga. Sudah ada lima Daniah yang ku kenal


mengaku sebagai istri presdir Antarna Group.” Dia tertawa dengan puas, bahkan


memukul meja di depannya. Merasa bangga karena berhasil menebak arah pikiran


Daniah.


“ Jadi aku orang  ke enam ya? Sepertinya aku kurang beruntung,


biasanya orang-orang percaya lho kalau aku bilang aku istri tuan Saga. Daniah


yang fenomenal itu.” Daniah menenangkan Aran di sampingnya yang sudah semakin


gusar. Aran sepertinya kesal melihat pandangan melecehkan laki-laki di


hadapannya ini ketika melihat Daniah. Itu bukan mata penuh cinta. Itu pandangan


ambisi dan ingin memiliki. Sebatas kepuasan ia bisa memiliki sesuatu yang sulit


dia dapatkan.


Sebenarnya hubungan mereka di masa


lalu apa si. Kau tahu, kalau tuan Saga sampai tahu kejadian ini, aku yakin kau


akan jadi bubur lumer yang tidak akan di kenali siapapun. Sial, para pengawal


saja melihat jelas kejadian ini. Mereka sedang menahan diri karena melihat nona


sangat tenang menghadapi laki-laki ini.


“ Kak Niah, ayo kita pergi.” Aran


meraih tas tangan Daniah di atas meja.


“ Wahh, kau kurang ajar sekali ya.


Akukan sedang bicara dengan Niah. Kami sedang nostalgia masa lalu.” Mengedipkan


mata jenakanya, dan senyum tidak tahu malunya.


“ Tutup mulutmu. Tidak perlu ada


kenangan apapun yang perlu di kenang dalam hubungan kita. Bertemu denganmu lagi


saja sudah seperti mimpi buruk.”


“ Ayolah Niah, kitakan pernah


berkencan sekali.”


“ Hei, kalau kau tidak memukul dan


menyekap temanku, apa kau pikir aku mau pergi kencan denganmu!” Daniah


berteriak akhirnya. “Mengelikan sekali, kau sama sekali tidak berubah. Tidak


tahu malumu itu sudah kelewatan.”


“ Wahhh, manisnya. Kau masih sama


manisnya seperti dulu kalau marah. Apa kalau aku melakukan lagi pada temanmu


ini.” Dia menunjuk Aran. “ Kau mau berkencan semalam denganku.”


“ Apa kau tidak dengar tadi, kak


Niah sudah menikah. Jadi berhentilah sampai di sini sebelum.”


“ Sebelum apa? haha. Sebelum tuan


Saga mematahkan tanganku. Ayolah Niah, sampai kapan kau akan bersandiwara dan


mengaku menjadi istri tuan Saga.” Dia terlihat menimbang-nimbang. “ Kamu memang


manis si, tapi seleranyakan seperti pelukis Helena yang punya tubuh seperti


supermodel itu. Sedangkan kau.”


Byurrr. Sisa jus nanas dan beberapa


bongkahan batu es sudah mendarat tepat di wajah laki-laki itu. Sementara gelas


kosong itu masih di gengam Aran dengan gemetar.


“ Beraninya kau!” dia bangun dari


kursinya. Daniahpun demikian menarik Aran berdiri di belakangnya. Melindungi. Karena melihat


sorot mata laki-laki di depannya sudah memerah kesal.


Gawat dia marah. Dan aku tahu


segila apa dia kalau marah.


Aran yang mau berjalan ke depan


Daniah tertahan. Tangan nona mudanya itu masih melindunginya. Keributan yang


terjadi langsung mengundang para pelayan bahkan para penjaga kafe masuk. Para pelanggan kafe sudah berdiri dari kursi mereka. Yang penasaran masih bertahan ingin melihat sampai sejauh apa kegaduhan ini. Yang tidak suka keributan segera menyingkir keluar setelah membayar tagihan.


“ Kenapa Boss?” ucap mereka panik.


Apalagi saat melihat wajah boss mereka dan rambut terlihat basah dan lengket.


“ Sial, aku sebenarnya ingin


baik-baik menyapa tadi. Tapi temanmu sudah kurang aja.” Menatap Aran penuh


kekesalan. “Aku bisa memaafkanmu kalau kau yang melakukannya, tapi karena dia


yang menyiramku, dia harus membayarnya dengan setimpal kan?”


Daniah maju dan akan memberi pembelaan. Namun dua pengawal yang sedari tadi hanya diam mengamati sudah berdiri di depannya membentangkan tangan.


“ Nona, apa nona tidak apa-apa?”


Sementara tangan Daniah masih melindungi Aran di belakangnya.


" Kenapa kalian baru bereaksi?" Aran berbisik sambil mengeram kesal. Karena tahu kedua orang tadi sudah menonton pertunjukan.


" Sekertaris Han ingin melihat kerjamu. Bagaimana kau bekerja." Menatap Aran meremehkan. "Sepertinya kau tidak berguna sama sekali melindungi nona."


Hei, Apa!


“ Apa-apaan ini! Siapa kalian?


Kalian tidak tahu siapa aku?" Si pembuat onar mundur beberapa langkah. " Niah, mereka siapa? suamimu?"


Aaaa, apa ini akhir dari riwayat pekerjaanku. Dia tidak akan mengusirku dan menyuruhku berenang keluar pulaukan. Aran.


Kekacauan akan berlanjut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2