Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Hukuman Aran


__ADS_3

Terlepas dari selesainya


pertengkaran Daniah dan Saga. Ada seseorang yang tidak bisa lari dari jerat


hukuman.


“ Menurutmu apa yang akan terjadi


pada Aran? Sangat jarang ada yang bisa keluar dengan menegakan kepala dari


ruangan pak Mun.”


“ Apa dia membuat kesalahan pada


tuan muda?” Merinding mendengar kata-katanya sendiri. Jangankan membuat kesalahan di depan tuan muda, dia sendiri bahkan belum pernah bicara secara langsung dengan tuan muda. walaupun sudah tiga tahun dia ada di rumah ini.


“ Hampir sebagian yang masuk ke


ruangan pak Mun keluar dengan membawa surat pemecatan.” Pak Mun bisa terlihat ramah, baik dan normal. Tapi sama seperti sekertaris Han, sikapnya akan berubah mengancam kalau berurusan dengan tuan muda. Semua pelayan di rumah ini sudah tahu itu.


Dua orang pelayan wanita yang cukup


dekat dengan Aran sedang duduk meluruskan kaki mereka di dalam kamar. Membicarakan nasih Aran ke depan. Posisi


kamar mereka yang bersebelahan juga mendekatkan hubungan keseharian diantara


mereka.  Sampai jam segini Aran  belum terlihat batang hidungnya keluar dari


ruangan pak Mun. Bahkan waktu makan malam pun sudah lewat.


“ Dia pasti belum makan malam.”


“ Tuan muda dan nona juga tidak


keluar dari kamar untuk makan malam. Sepertinya Aran benar-benar sudah terlibat


dengan urusan yang sangat berbahaya.”


Mereka mencoba menduga kesalahan


apa yang dibuat Aran, tapi tidak ada yang sampai di akal mereka berdua.


Beberapa alasan mereka sebutkan, lalu keduanya mengeleng. Karena standarisasi


kesalahan di hadapan tuan muda adalah semua atas kehendaknya.


“ Huh! Kita tunggu saja sebentar


lagi. Kau sudah bawa makanan untuk Arankan?”


“ Hemm, ini.” Dia mengeluarkan


sekotak susu dan juga jus buah. Ada coklat dan juga roti. “ Apa kita bawa mi


cup ya. Siapa tahu dia lapar.”


“ Ya sudah, ambil sana ke dapur


sama airpanasnya juga.”


Gadis itu bangun dari duduk, lalu


beranjak keluar kamar. Selang beberapa saat setelah menghilang di balik pintu,


dia membuka pintu cepat.


“ Kak! Aran sudah kembali.” Gadis


itu mengandeng tangan Aran masuk ke kamarnya.


Wajah pucat pasi Aran, tangannya


bergetar dan mulutnya komat kamit juga. Dia membawa Aran duduk di atas tempat


tidur. Mengambil sebotol jus, membukakan tutupnya.


“ Minumlah, biar kau ada tenaga.”


Dia di hukum apa sama pak Mun


sampai sepucat ini.


“ Mau makan? Kamu laparkan?” temannya


membuka bungkusan roti. Memotongnya separuh, menyuapkan ke mulut Aran. “ Pergi


ambil mi sana. Sepertinya Aran butuh makanan hangat.”


Aran masih terdiam, hanya mulutnya


yang mengunyah. Tapi dia tidak punya tenaga untuk bicara sedikitpun. Mengunyah


roti. Meneguk jus buah. Selang seling sambil di suapi. Bahunya di elus pelan.


Di tepuk perlahan juga.


“ Sabar ya Aran.”


“ Kak.” Lirih Aran bicara.


“ Ia.” Masih mengelus bahu Aran lembut.


“ Sepertinya setelah hari ini aku


akan pensiun menulis dan membaca.”

__ADS_1


Eh kenapa? Sebenarnya hukuman apa yang di dapatnya dari pak Mun. Menulis dan membacakan hobinya selama ini.


Tapi dia tidak bertanya. Sampai mi


instan datang sekalipun, dia tidak mengobati rasa penasarannya dengan bertanya. Akhirnya mereka menyedu tiga cup, sebagai rasa solidaritas untuk


Aran. Walaupun sebenarnya mereka tidak lapar. Tapi kuah hangat dan pedas mi


instan selalu saja tetap enak di nikmati walaupun sudah kenyangkan. Aran masih


belum bicara apapun sampai mi di tangannya habis. Begitu pula kedua orang di


depannya. Walaupun setengah mati mereka penasaran, tapi mereka tetap tidak akan


bertanya.


Karena apapun yang terjadi di


ruangan pak Mun, hanya orang yang memasukinya dan pak Mun yang tahu.


***


Malam yang tidak akan pernah dilupakan Aran seumur hidupnya.


“ Temui pak Mun untuk


mempertanggungjawabkan kesalahanmu.” Begitu suara sekertaris Han yang kembali


bergema di telingan Aran. Diucapkan dengan wajah tanpa simpati. Bahkan


sekertaris Han langsung berbalik tidak menoleh padanya lagi.


Hati Aran sakit rasanya, seperti


dia orang asing.


Aran masih mematung di depan pintu


ruang kerja pak Mun. Belum berani mengetuk pintu, selama beberapa menit dia


masih menguatkan hatinya. Mencoba menerka, apa yang akan terjadi di dalam kalau


sampai dia memasuki pintu itu.


Kenapa dia tidak mennghukumku


langsung?


Tangan Aran terlihat bergetar.


Walaupun dia merasa senang karena bukan Han yang langsung menghukumnya, tapi


kenapa perasaannya malah ngeri. Han berjanji untuk tidak memukulnya.


Apa karena itu dia tidak mau


memukulku. Dan sekarang menyerahkanku pada pak Mun.


Wajah laki-laki yaang kadang


bersahabat itu terngiang, Aran tidak membayangkan kalau laki-laki yang sedang


ada di dalam ruangan sedang  menunggunya


dengan tongkat rotan di tangan. Menepuk-nepuk tongkat di depan maatanya sambil


tersenyum.


Aaaaaa, aku takut! Masih mending


ibu memukulku pakai sapu. Aku masih bisa merengek.


Aran melangkah pelan. Menarik nafas


dalam, sambil tangannya sudah memegang handle pintu.


Pak Mun orang baik. Pak Mun orang


baik.


Begitu mantera yang ia ucapkan


sambil mendekati pintu. Mengetuk pintu perlahan. Membukanya dengan hati-hati.


Pak Mun orang baik. Pak Mun orang


baik.


Aran mundur dua langkah membentur


pintu lagi saat melihat pak Mun menatapnya dengan tatapan bercampur. Kesal,


marah dan jengah sekaligus menjadi satu. Perpadu di wajahnya.


Pak Mun orang baik. Begitu ulangnya


dalam hati.  Tapi dia tidak terlihat


seperti orang baik sekarang. Menjerit lagi dalam hati. Ingin berbalik dan


keluar dari ruangan ini.


“ Duduk!”


“ Ba, baik pak.” Aran cepat

__ADS_1


mengeser kursi dan duduk di depan meja pak Mun. Mereka berhadap-hadapan. Aran


meneriksa di meja dan melirik beberapa sudut. Dia tidak menemukan benda apapun


yang bisa dipakai pak Mun untuk memukulnya. Sejenis rotan, kayu, atau pipa


begitu.


Hei Aran, diakan punya tangan.


Memang dia tidak bisa memukulmu dengan kedua tangannya itu.


Wajah Aran langsung depresi saat


melihat tangan pak Mun yang ada di atas meja.


“ Arandita!.”


“ Ia pak Mun, maafkan saya.”


Berteriak cepat sampai suaranya mengagetkan dirinya sendiri. “ Maaf.”


Menundukan kepala.


“ Kau tahu apa kesalahanmu?” Aran


masih terdiam. Dia melihat pak Mun mengeluarkan dua buah tumpukan kertas dari


dalam laci yang dia bagi dua. Bagian kanan terlihat hanya beberepa lembar,


sedangkan bagian kiri tampak mengunung. “ Katakan apa kesalahanmu?”


“ Saya membawa nona Daniah ke rumah


saya pak.” Masih tertunduk menjawab.


“ Kau membahayakan keselamatan nona


Daniah." Itu yang utama. " Dan kau melanggar aturan yang sudah dibuat oleh tuan muda.” Menyodorkan


kertas bagian kanan. “ Aku tidak tahu kenapa sekertaris Han memberimu


kesempatan memilih. Karena kesalahan seperti yang kau lakukan hari ini tidak akan di toleransi sedikitpun biasanya."


Eh, benarkah dia menolongku. Tapi tunggu, memang aku kriminal sampai membahayakan keselamatan nona. Kamikan cuma mampir ke rumaah untuk bertemu dengan ibuku. Bahayanya dimana? Ingin protes keras.


" Lalu ini." Kata-kata pak Mun menyadarkan Aran.  “ Dia memberimu pilihan. Kau di


pecat dan pergi dari sini, jangan pernah muncul di hadapan nona Daniah seumur


hidupmu.” Menyodorkan kertas di bagian kanan. “ Atau selesaikan hukumanmu malam


ini juga.” Mendorong segunung kertas di bagian kiri. " Dan kau bisa tetap bekerja di rumah ini."


Apa ini!


Tangan Aran gemetar memegang dua tumpukan kertas di depannya. Sekertaris Han memberinya kesempatan memilih. Dipecat atau menyelesaikan hukuman.


" Kenapa saya mendapat kesempatan ini pak?"


" Apa kau masih punya waktu untuk bertanya. Putuskan sekarang kau memilih yang mana?" Pak Mun melihat Aran yang binggung. " Putuskan dalam sepuluh menit."


Dipecat, pergi dari rumah ini. Artinya aku harus menghilang lagi untuk kedua kalinya. Kehilangan pekerjaan, kembali hidup serabutan di kontrakan sempit. Dan yang pasti, ya. Melepaskan kesempatan memperjuangkan perasaanku. Huh! apa untuk ini sekertaris Han menyuruhku memilih.


Aran menemukan kesimpulan penting selama dia berfikir. Kalau dia di pecat artinya hubungannya dengan Han yang belum terjalin sudah harus pecah. Bahkan sebelum di mulai.


" Saya akan menyelesaikan hukuman saya pak!" Menarik tumpukan kertas yang segunung di depannya.


Ini Apa?


" Aku tidak tahu apa motivasimu, tapi karena kau sudah memilihnya aku akan menghargainya." Pak Mun menunjuk tumpukan kertas di depannya. "Salin semua aturan yang harus kau patuhi di rumah ini. Tulis dengan tanganmu. " Lalu pak Mun mengambil lembaran kertas kosong di dalam laci. Masih sama menggunungnya. " Setelah itu buat surat permohonan maafmu. Semakin banyak semakin bagus."


Apa! gemetar-gemetar tangan Aran.


" Selesaikan malam ini juga."


" Tapi pak ini banyak sekali."


" Kalau begitu, aku sarankan, kau pilih surat pemecatan dirimu saja."


" Tidak pak! Saya bisa melakukannya." Berdiri sambil mengacuhkan tangan. " Demi gaji dan cinta." Pak Mun mengeryit mendengar teriakan Aran.


" Tulis dengan benar surat permohonan maafmu, karena tuan muda akan melihatnya."


" Ba, baik pak."


Pak Mun menatap Aran yang mulai meraih kertas kosong dan pena. Dia bangun dari duduk untuk meninggalkan Aran.


Kenapa Han sampai memberinya kesempatan begini? Dia keluar dari ruangan untuk menyiapkan makan malam masih di penuhi tanya. Bahkan dia masih mendapati sekertaris Han keluar dari ruang kerja Saga. Belum kembali pulang ke rumahnya.


" Dimana gadis itu pak? Apa yang dia pilih?" Tanya Han.


" Dia memilih tetap tinggal dan menyelesaikan hukumannya."


Tunggu, barusan Han tersenyum senangkan? Pak Mun menatap punggung Han yang meninggalkannya setelah mendengar ucapannya.


Epilog


Aaaaaaa, persetan dengan uang dan cinta, aku mau mati saja!


Aran membenturkan kepalanya ke meja berulang. Belum separuh dia menyalin buku aturan, tangannya sudah gemetar kaku.


Kalau sampai aku tidak bisa membuatmu bertekuk lutut setelah aku melakukan ini, maka. Maka apa Arandita?


" Maka aku akan pergi kencan dengan siapapun yang di jodohkan orang tuaku!, tidak! aku akan pergi kencan dengan siapapun yang mengajakku berkencan!" Berteriak keras sampai suaranya mengema di ruangan kerja pak Mun.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2