
Setelah bisa menguasai segenap hati dan emosi, Daniah bergegas menyusul keluar ruangan. Mensejajarkan langkah Saga yang besar, dia berjalan tepat di belakang suaminya. Bruk! tubuhnya menempel di punggung Saga.
“Lihat kan, kamu cari-cari kesempatan menciumku lagi.”
Saga membalikan badan, menyeringai. Sambil mencubit hidung Daniah.
Siapa yang mau menciummu! Kenapa juga berhenti mendadak begitu.Tuan apa perlu kita periksa ke dokter kejiwaan, sepertinya Anda mengidap penyakit narsis yang akut. Bahkan mungkin seluruh tubuhmu sudah dipenuhi dengan kenarsisan yang hakiki.
“Saya sedang melamun tadi dan Anda berhenti mendadak.”
“Banyak sekali alasanmu.”
Aku sedang tidak membuat alasan, dan aku juga tidak mau menciummu!
Saga melanjutkan langkahnya menuruni tangga, terhenti lagi langkahnya, untung saja Daniah menyadari, jadi dia juga berhenti. Daniah mengintip dari balik punggung Saga.
Eh, bukankah itu Helena.
“Selamat malam Saga.” Helena sedang meletakan sendok di meja makan. Ibu di sampingnya menyentuh tangannya.
“Ibu yang mengundang Helen ke rumah, nggak papa kan?”
“Bawakan buah ke ruang kerjaku.” Pak Mun yang berdiri menganggukkan kepala. Lalu dia memberikan instruksi kepada koki, kemudian menyusul Saga ke ruang kerja.
"Lakukan saja yang ibu inginkan." Tanpa memandang Helena di samping ibunya, dia melangkah meninggalkan kesunyian. Semua terdiam, hanya terdengar langkah kaki Pak Mun menyusul masuk ke ruang kerja.
Daniah duduk di kursi di dapur, mengambil sekotak stroberi dari kulkas lalu memakannya. Sambil melihat koki sedang mengupas buah dengan hati-hati.
“Maaf ya Bu, aku memaksa Ibu untuk mengundangku?” Helena terduduk di kursi, ada kepingan hatinya yang terbuka. Dia kecewa bercampur sedih. setelah pulang ke tanah air dia tidak pernah membayangkan akan seperti ini reaksi yang ia dapat dari Saga.
“Tidak, sudah seharusnya kamu datang. Helen, ayo lakukan semua cara yang kamu bisa untuk kembali pada Saga.” Ibu mencoba menguatkan, dia ingin mempunyai menantu seperti Helena. Wanita yang bisa ia banggakan saat perkumpulan para sosialita.
Helena melirik Daniah di kursi dapur, dia tersenyum saat mereka bersitatap. Dan mungkin karena kadar tidak tahu malunya atau kepercayaan dirinya sangat tinggi dia mendekati Daniah.
“Daniah maaf ya membuatmu sangat tidak nyaman pasti ya, aku sangat akrab dengan ibu, jadi dia memaksaku datang untuk makan malam di sini.”
__ADS_1
“Hehe, tidak apa-apa Nona.”
“Kenapa kamu masih canggung begitu, panggil saja aku Helen. Bolehkah kita berteman?” Helena mengulurkan tangannya.
“Tentu saja nona.” Daniah menerima uluran tangan itu, ya inilah tujuannya, menjadi teman Helena.
Pak Mun sudah muncul, Daniah sudah mengambil nampan berisi buah yang diminta Saga tadi. Bersiap membawakan ke ruang kerja. Namun langkahnya terhenti saat melihat Pak Mun yang sepertinya merasa tidak enak.
“Nona Helena, tuan muda meminta Anda membawakan buah ke ruangan kerja.” Dia menatap Daniah seperti permintaan maaf, gadis itu menjawab dengan senyuman seperti biasanya.
Entah kenapa aku kok merasa sedih ya. Padahal harusnya aku kan senang.
Daniah menyerahkan nampan yang ia pegang pada wanita di depannya, yang tersenyum sangat senang menerimanya. Ia seperti menang.
“Maaf ya Daniah.”
“Tidak apa-apa Nona silahkan.”
Daniah menatap setiap langkah kaki Helena dengan dada yang berkecamuk.
“Ia bersiap-siaplah.” Ibu ikut bicara.
“Bersiap-siap untuk apa?” Wajah polos Daniah. Padahal tentu dia tahu maksud perkataan mereka.
“Tentu saja keluar dari rumah ini.” Sofia dengan kesal membalas.
Daniah maju mendekat, menepuk bahu adik iparnya.
“Adik ipar kalau kamu sebenci itu katakan pada kakakmu untuk menceraikan aku. Tapi, kalau kamu berani si. Hehe.” Tawa Daniah menantang harga diri adik iparnya. "Nggak berani kan? Kalau begitu berhenti menggangguku."
“Kau!”
“Sofi hentikan, kalau kakakmu mendengar keributan nanti malah kamu yang akan dihukum.” Ibu melerai anaknya yang sudah seperti ingin menjambak rambut Daniah.
Daniah memilih berjalan ke rumah belakang. Menunggu di rumah utama hanya akan membuatnya sesak nafas. Udara di luar rumah sangat sejuk. Karena jarang bisa menikmatinya, Daniah merasa suasana rumah utama dan rumah belakang itu sudah seperti surga dan neraka.
__ADS_1
Segarnya. Gumamnya pelan menghirup udara.
Apa yang mereka lakukan di ruang kerja ya, mengobrol, berciuman, atau. Hehe, berhentilah berfikir mesum Daniah. Apa ini akan berjalan dengan mudah ya. Ayolah, kamu bahkan belum memulai apa pun, masak sudah takut begini. Bukankah aku sudah melihat kegigihan Helena, ya gadis itu pasti bisa melunakkan hati Tuan Saga. Apa aku bisa pergi dari tempat mewah ini ya, pergi bebas, walaupun bercerai tapi bisa pergi tanpa kebencian.
“Nona, kenapa Anda di sini?” Pelayan yang biasanya menemani Daniah mengobrol mendekat. “Bukankah Tuan Saga ada di rumah? Sudah waktunya makan malam kan?” tanyanya, sambil duduk di samping Daniah.
“Duduklah, udara hari ini sejuk ya.”
“Eh ia. Apa ini karena Nona Helena datang.” Pelayan wanita itu bertanya lembut. Seperti bisa meraba kegundahan hati nona mudanya. “Nona Daniah kan sudah menjadi istri tuan muda, kenapa masih mengkhawatirkan hal seperti itu?"
Haha, kamu pasti tidak tahu kan kenapa aku bisa ada di tempat ini. Aku hanyalah gadis yang dijual ayahku untuk menebus hutang. Aku bukanlah wanita istimewa yang dipilih Tuan Saga.
“Bukankah Helena sangat cantik?”
“Nona, Anda juga sangat cantik dan baik.”
Daniah hanya membalas dengan tertawa.
“Bukankah mereka pasangan yang serasi?”
“Nona juga serasi dengan tuan muda.”
“Haha, apa si.”
Saat mereka masih berbincang, Pak Mun muncul, mendekat.
“Nona Muda sudah saatnya kembali, tuan muda sudah keluar dari ruang kerja.”
“Eh ia Pak. Aku masuk dulu ya.”
“Ia Nona.” Pelayan wanita yang menemani Daniah bangun dan menundukkan kepalanya.
Kenapa aku terhibur dengan kata-kata sederhananya ya. Hehe. Aku jadi ingin mentraktirnya jalan-jalan dan makan di luar. Terimakasih Maya, sudah menjadi temanku di lubang neraka ini.
bersambung
__ADS_1