Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
135. Ibu (Part 2)


__ADS_3

Sementara itu di dalam rumah, selepas kepergian Saga dan Daniah.


Jen dan Sofi yang akan berdiri di


belakang kakak iparnya sebagai pembela dan pendukung garis keras. Karena mereka tahu, kedamaian rumah ini tergantung bagaimana suasana hati kakaknya. Dan mereka paham sekali, siapa yang berpengaruh merubah mood Kak Saga tersayang mereka.


“Ibu, apa ibu tidak menonton


pengakuan cinta Kak Saga pada kakak ipar?” Pertanyaan sekedarnya yang dilontarkan Jen, sebenarnya hanya sebagai penegas, kalau ibu sudah kalah telak dalam hal apa pun. Karena ibunya sudah ribut membahasnya waktu itu, Jen tahu ibu menonton. Bahkan ibu hafal apa yang di ucapkan Kak Saga di luar kepala.


Ibu terdiam, memandang kedua


putrinya.


“Jangan mengusik mereka lagi bu. Kak


Saga yang sudah tergila-gila pada kakak ipar. Ibu tidak bisa melakukan apa pun.”


Sekali lagi berusaha menunjukan poin utamanya. Bahwa Sagalah yang duluan jatuh


cinta pada kakak ipar. Sejak mereka tidur bersama. Itu fakta.


“ Ibu tidak akan menggangu Daniah


jadi kalian tidak perlu berkata apa pun. Ibu hanya belum bisa rela dia mengandung


anak Saga dan penerus keluarga ini.” Getir ibu menjawab. Ya, dia tidak akan


menggangu gugat posisi Daniah sebagai istri Saga. Karena dia tahu itu mustahil.


“Kenapa Bu? Memang apa yang salah


dengan kakak ipar? Dia wanita baik-baik.” Jen masih bicara penuh percaya diri


dengan pendapatnya. “Dan yang terpenting mereka saling mencintai sekarang. Dan yang paling utama, Kak Saga mencintai kakak ipar Bu.”


“Keluarganya, garis keturunan


keluarganya.”


Jen menghentikan bicaranya saat


Sofi menarik bajunya.  Sofi menunjuk Daniah yang sudah berdiri tidak jauh dari


mereka dengan ekor matanya. Yang mereka tangkap saat melihat Daniah mematung seperti itu adalah, kakak ipar mendengar semua pembicaraan mereka.


Sial.


“Kakak Ipar. Maafkan ibu. Dia pasti asal bicara.”  Jen mendekat meraih tangan Daniah. Memohon


agar kakak iparnya tidak mengambil hati pembicaraan mereka. Walaupun terlihat


gurat kecewa muncul di wajah Daniah, tapi gadis itu berhasil mengusirnya dengan cepat.


Daniah menepuk bahu Jen.


“Kamu bisa terlambat Jen kalau


belum berangkat sekarang. Pergilah.” Melepaskan tangan Jenika dari tangannya. Dia tersenyum tipis.


“Kakak Ipar.” Merengek. Jen


sekarang sering sekali memakai senjata ini meluluhkan Daniah.


“Aku tidak apa-apa. Pergilah. Sofi


juga, berangkat sekarang nanti kalian terlambat.” Menepuk bahu Jen lagi. Lalu mendorong tubuh adik iparnya untuk pergi. "Berangkat sana."


“Maaf ya Kakak Ipar.” Sofi


mengambil tas mereka berdua. Menyerahkan tas Jen, menarik Jen agar ikut menyingkir.


Paham mereka tidak bisa menyelesaikan apa pun, sekalipun terlibat dalam


kerusuhan pagi ini.


“Kenapa minta maaf, memang apa


salahmu. Sudah sana. Aku sudah bilang pada Raksa untuk bersikap baik padamu Jen,


karena kamu adik ipar yang baik hati.” Daniah mengedipkan matanya jenaka.


Membuat Jen langsung semangat membara. Lupa sudah pembicaraan dengan ibunya


tadi. Dia sudah melangkah dengan riang  ke mobilnya.


Raksa, Raksa, aku akan


menaklukkanmu. Satu bulan ya. Hehehe, tidak akan memakan waktu selama itu. Akan


kupakai semua pesona dan daya tarik Jenika, gadis manis yang punya sejuta pesona.


Jen mengibaskan rambutnya. Sofi di


sampingnya hanya tersenyum kecut. Tahu apa yang sedang dipikirkan Jen. Dia menuju mobilnya sendiri. Malas meladeni


kakaknya yang mulai dirasuki penyakit cinta.


Sementara itu setelah Jen dan Sofia


pergi Daniah mendekati ibu mertuanya. Dia tahu, dia harus bicara dengan wanita


di depannya ini. Tidak tahu apa pun yang akan dia bicarakan. Tapi dia tetap


harus bicara.


“Duduklah, kita memang harus

__ADS_1


bicara.” Ibu menunjuk sofa di depannya.


Suasana di dalam rumah sudah terasa


sesak untuk Daniah. Tapi dia mau tidak mau memang harus duduk dan bicara dengan


ibu mertuanya. Hatinya sudah sekuat ini. Ikatan janji yang diberikan Saga


untuk mengikat hatinya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mengangkat tegak


kepalanya di hadapan ibu mertuanya.


Daniah duduk di sofa,


di hadapan ibu mertuanya.


“Ibu.” Daniah tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena dengan cepat ibu langsung memotong pembicaraan.


“Aku tahu, aku sudah kalah sejak


lama perihal dirimu Daniah." Terdengar ibu menghela nafas. "Apalagi saat Saga mengatakan perasaannya pada dunia. Bahwa dia mencintai istrinya. Aku tahu aku sudah kalah.” Ibu menelan


ludah. Menatap wanita di hadapannya. Sebenarnya apa yang dimiliki gadis ini


sampai membuat Saga jatuh cinta padanya. Gumamnya dalam hati, masih dengan


perasaan tidak terima. “Saga tidak pernah memproklamirkan perasaannya. Dengan


Helen sekalipun.” Dia terdengar menarik nafas dalam.


Sementara Daniah masih duduk dengan


tenang, tidak menjawab atau memberi reaksi apa-apa. dia hanya terlihat sedang


mengerutkan keningnya.


Apa ibu belum menyerah perihal Helen,


kenapa masih menyebutnya.


“Saga memperkenalkan Helen sebagai


kekasihnya ke publik. Semua orang tahu siapa Helen, tapi dia tidak pernah


menunjukan perasaan cintanya pada Helen pada orang-orang. Berbeda denganmu,


Saga tidak memperkenalkanmu pada dunia. Tapi dia menunjukan cintanya kepadamu


pada semua orang.”


Wajah Daniah bersemu, merasa


bahagia dengan sendirinya. Kata-kata ibu mertua terdengar seperti kalimat


pujian. Tapi dia segera menyadarkan diri, jelas-jelas, pasti bukan itu maksud


ibu mertua kan.


bagaimana denganmu?” Seperti berusaha melontarkan bola panas yang akan melumerkan kepercayaan diri Daniah.


Benar kan, ini inti bicara ibu


panjang lebar tadi.


Ibu tidak bisa mengusik Saga, tapi


dia menemukan celah untuk menggoyahkan pernikahan ini melalui Daniah. Perasaan


menantu di hadapannya ini, sampai hari ini yang ia tahu. Gadis ini masihlah


wanita yang pernah berkata ingin pergi dari rumah ini. Dia bahkan pernah mengatakan


akan berlutut di kakinya kalau sampai Saga menceraikannya. Artinya perasaannya


pada putranya tidaklah seperti yang ia dapatkan dari suaminya.


“Apa ini bisa di terima, jika kamu


sendiri tidak mencintai anakku. Kenapa kau dengan tidak tahu malunya menerima


cinta yang begitu berlimpah dari putraku?” pertanyaan sekaligus kecaman.


Deg, Daniah mencengkeram sofa dengan


kedua tangannya. Pikirannya tumpang tindih. Kalau dulu mungkin dia tidak akan


bisa menjawab. Tapi sekarang hati mereka yang terikat satu sama lain. Membuatnya percaya diri menatap ibu.


“Ibu.” Dia membuka mulutnya lirih.


“Perasaanku seperti apa, Tuan Saga tahu dengan pasti itu. Aku bersyukur


mendapatkan cinta yang berlimpah dari suamiku, dan sebesar itu pula aku akan


 berusaha membalasnya. Jika orang lain tidak melihatnya, aku tidak terlalu memusingkan


itu. Yang terpenting, suamiku tahu dan merasakan perasaan tulusku padanya.” Pelan, namun runut Daniah menyanggah ibu.


Cih, kenapa aku tidak menemukan


kata yang tepat untuk membantahnya. Ibu merasa gusar sendiri. Karena sepertinya


menantunya percaya diri dengan perasaannya sepertinya menyerang melalui celah


ini hanya akan sia-sia.


“Daniah, apa kau merasa pantas

__ADS_1


untuk melahirkan anak dari Saga?”


Benar, seharusnya aku memakai celah


ini, wajahnya sudah terlihat pias. Ibu menemukan sasaran tepat menjatuhkan


mental Daniah. “Kau harus tahu, lingkungan pergaulan kami berbeda denganmu


menjalani hidup selama ini. Kelak, penerus keluarga ini akan menggantikan Saga,


baik dalam bisnis ataupun pergaulan. Tapi bagaimana dia bisa menegakkan


wajahnya jika dia memiliki ibu dengan latar belakang sepertimu.”


Daniah menggigit bibirnya. Merasa


apa yang baru ibu katakan sangat menyakitkan. Menjatuhkan harga dirinya.


Seharusnya aku tahu ini. Kalau ibu


menggunakan kelemahanku yang satu ini. Bahkan menjawab satu kata pun aku tidak


akan mampu.


Ibu mengeluarkan sesuatu dari


kantung bajunya, meletakan di atas meja dengan perlahan. Wajah Daniah langsung terlihat pucat saat mengenali benda yang di letakan ibu barusan.


“Minumlah ini diam-diam, dan


bujuklah Saga.” Masih meletakan benda kecil itu di bawah tangannya.


“Maksud ibu?” Minum pil KB dan membujuk Tuan Saga, untuk apa? pertanyaan itu muncul.


“Biarkan dia menikah lagi dengan


wanita yang pantas untuk menjadi ibu dari anaknya. Aku tidak akan mengusikmu.


Kamu tetap akan menjadi istri yang dicintai Saga di sampingnya. Tapi bukan


kamu yang akan di kenal dunia sebagai ibu dari anak putraku.”


Huh! Jahat sekali. Bagaimana bisa


semudah ini ibu mengatakan ini padaku.


Jika dulu, mungkin Daniah akan


langsung menganggukkan kepala dengan ide gila ini. Dulu saat hatinya masih


terkunci rapat untuk Saga. Saat ia hanya melihat Saga sebatas kontrak mematikan


yang bisa menyelamatkan hidup keluarganya. Tapi tidak sekarang, saat ia tahu


setulus apa hati suaminya untuknya. Apakah Daniah sudah gila sampai akan


mengikuti permainan ibu mertuanya.


“Ibu, sepertinya ibu tidak mengenal


anak ibu dengan baik ya.” Menatap ibu mertuanya dengan sorotan tajam. “Apa ibu


pikir saya seberani itu. Minum pil kontrasepsi diam-diam tanpa sepengetahuan


Tuan Saga.”


Aku berani dulu, walaupun itu kusesali


sampai hari ini.


“Kalau dia tahu, dia pasti akan


mencekikku.” Menjawab dengan gelak sambil memperagakan dengan tangannya


sendiri.


Ya dia pasti akan sangat murka, aku


bahkan tidak berani membayangkan bagaimana kemarahannya.


“Daniah, apa kamu tidak terlalu


serakah?” Ibu sama sekali tidak tertawa melihat apa yang dilakukan Daniah. Padahal Daniah sudah berusaha membumbui gerakan mencekik lehernya dengan tawa.


Serakah! Ibu tahu berapa kali aku


mengingatkan diriku untuk jangan terlalu serakah pada cinta Tuan Saga. Aku


sungguh tau diri untuk selalu ingat posisiku.


“Maaf Bu, aku tidak akan minum pil


itu atau membujuk suamiku. Aku tidak punya keberanian untuk itu. Kenapa Ibu


tidak mengatakan langsung pada Tuan Saga.”


Wajah ibu berubah kesal. Dia


mengambil pil itu dan melemparkannya di depan Daniah. Tepat  pada ujung meja di


depan menantunya.


“Kalau kau tahu diri, cukup tahu


diri siapa dirimu, minumlah. Jangan sampai kau mengandung anaknya Saga.” Sebuah


serangan terakhir yang di harapkan mampu menggoyangkan pertahanan Daniah.

__ADS_1


Tapi saat ibu mendongak dan menatap lekat menantunya, gadis itu tidak bergeming. Membuatnya semakin larut dalam rasa kesal.


Bersambung


__ADS_2