Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
143. Jen dan Raksa (Part 2)


__ADS_3

Di dalam toilet kantor lantai empat.


Jen berjalan cepat mendorong semua pintu kamar mandi, memeriksa apakah ada


orang di dalamnya atau tidak. Kosong. Dia merasa lega. Dia benar-benar sedang


ingin berteriak dan meluapkan perasaannya. Yang seharian ini dia tahan. Sudah


beberapa kali dia bertemu dengan Raksa hari ini. Pria itu dengan polosnya


selalu menyapa dan tersenyum. Membuat jantung Jen rasanya mau meledak.


“Jangan anggap aku adik! Itu


mengerikan sekali.” Jen bersandar di dinding, menggaruk dinding dengan jarinya.


Seperti kucing sedang mencakar sofa.


Aku sudah punya Kak Saga yang


sempurna, kenapa aku harus punya satu lagi kakak semanis Raksa.


Frustasi, tidak bisa mengendalikan


perasaannya. Airmatanya sampai menetes tanpa bisa dia kendalikan. Bagaimana tidak,


kejadian seharian ini berkelebat lagi di matanya. Menari-nari menggodanya. Senyum


Raksa yang mengemaskan. Yang dengan tidak canggungnya menyebutnya adik.


Aaaaaaa, itu sungguh menyakitkan.


Seperti kamu sedang mati-matian


berusaha diet, tapi di hadapanmu orangtuamu menyajikan makanan kesukaanmu.


Kamu ingin meraihnya, tapi cuma bisa ngeces melihatnya. Seperti itu yang Jen


rasakan. Bagaimana orang yang dia sukai ada di hadapannya, yang tanpa canggung


menyebutnya adik. Ini adik lho, bukan teman lagi. Seperti sudah ada


garis tebal yang dibuat Raksa. Adik manis.  Menari-nari dengan meledek di kepala jenika.


***


“Mau kubantu Jen?” Raksa sudah


menyodorkan tangannya supaya Jen memindahkan separoh berkas di tangannya. Jen


harus mengkopi dokumen itu menjadi beberapa salinan.


“Eh ia terimakasih.”


Kenapa aku jadi sering bertemu denganmu, Kakak. Getir mencibir diri sendiri. Sebenarnya Jen senang, tapi saat Raksa memproklamirkan kalau dia adalah kakak. semua harapannya rasanya ambyar begitu saja.


“Kenapa masih sungkan juga.”


Mereka berdua menyelesaikan


fotocopy bersama. Yang satu benar-benar tulus membantu sebagai seorang kakak.


Yang satunya harus menahan agar jantungnya tidak meledak melihat senyuman


manusia di hadapannya.


Sungguh ironi. Kasihan sekali kamu


Jen. Dianggap adik jauh lebih menyakitkan daripada cuma dianggap teman.


Atau saat makan siang tadi.


“Jen, kita makan siang bareng ya.”


“Ah, ia.”


Aaaaaa, aku harus senang atau malah


merasa tersiksa ni.

__ADS_1


Di kantin kantor, setelah mengantri


makanan mereka duduk berhadapan di satu meja. Tiba-tiba muncul seseorang


langsung mendorong piring Raksa.


“Cieee, Raksa, kalian pacaran ya.”


Terlalu keras untuk hanya dibilang berbisik. Jen saja langsung merasa malu.


Padahal dia tahu kenyataan sebenarnya hubungan mereka.


“Pacaran apa.” Raksa menggeser


tempat duduknya supaya temannya bisa duduk dengan nyaman. “Maksudmu jenika?”


dia menunjuk Jen di hadapannya.


“Ialah para wanita di lantai


empat heboh membicarakan kalian.  Kebanyakan


si iri sama kamu Jen. Selamat ya.”


Hentikan Kak kalau kamu tidak tahu


yang sebenarnya terjadi, membuatku malu. Sekaligus membuka harapan palsu.


“Jen ini adik ipar Kak Niah,


kakakku.” Raksa dan laki-laki itu cukup dekat, mereka sudah berbagi informasi tentang keluarga. walaupun tidak semua. Raksa hanya sering menyebut Daniah dalam cerita-ceritanya.


“Apa!” Sahabat yang ada di sebelah


Raksa menjatuhkan sendoknya. Melongo. “Serius? Kenapa kalian tidak saling kenal


dari awal. Hei Sa, mau bohong jangan kelewatan juga kali.” Protes. Memang terdengar tidak masuk akal. Tapi mau bagaimana lagi, Raksa memang belum pernah bertemu Jen sebelumnya. Mungkin mereka pernah tidak sengaja bertemu waktu pesta pernikahan, namun keduanya tidak saling menyadari.


“Serius, Jenika adik ipak Kak


Niah. Ya, karena beberapa hal kami memang belum pernah bertemu. Kalau bukan Kak


Niah mungkin sampai sekarang aku juga tidak tahu. Jen sudah kuanggap adik


Hahaha... jangan mengulang-ulang


kata-kata yang seperti pisau itu lagi Raksa, kumohon.


Sehabis makan siang mereka pun


kembali ke lantai empat bersama.


“Kakak ipar bilang Raksa sudah


punya pacar ya?” Jen memberanikan diri memastikan secara langsung. Dia


penasaran dan benar-benar ingin mendengar dari mulut Raksa.


“Haha, Kak Niah cerita ya?” Wajah


tampannya tersipu. Dia meraba tengkuk kepalanya dan memalingkan wajah. Malu.


Aaaaaa, dia menggemaskan sekali.


“Jadi benar ya?”


“Ia, kami pacaran beberapa bulan


 sebelum aku keterima magang. Apa Jen mau aku kenalin.”


“Tidak!” Kenapa aku harus kenalan


dengan sainganku, tidak mau! Protes sendiri.


“Dia wanita yang ramah kok,


seperti Kak Niah. Hehe, mungkin aku melihat Kak Niah dalam dirinya jadi mulai


menyukainya. Eh, aku bukan menyamakan mereka, hanya aku sedikit melihat pribadi

__ADS_1


tegar Kak Niah dalam dirinya jadi aku menyukainya.”


“Ahhh, begitu ya.”


Jadi aku ini benar-benar bukan


tipenya ya, kalau aku dan kakak ipar dari semua segi jelas kami sangat berbeda.


Jen tidak bisa menutupi rasa


sedihnya. Sekarang Raksa seperti berlari jauh di depannya. Hanya sekelebat


bayangannya yang bisa ia tangkap dari kejauhan. Semakin ia berlari mendekat,


Raksa hanya semakin bergerak menjauh.


***


“Apa yang sedang kamu lakukan


Jen?” Beberapa suara ramai terdengar di belakang pertanyaan itu. Gaduh.


Jenika gelagapan, sementara


wajahnya masih menempel di tembok. Beberapa seniornya di lantai empat ini masuk


ke dalam toilet. Menatap Jen penasaran, menunggu jawaban.


“Aku cuma sedang bersandar tiduran


Kak. Hehe.”


"Ooooo, kirain sedang apa."


Eh mereka percaya.


Selang tidak lama mereka sudah


berkerumun mengelilingi Jen.


“Kenapa Kak?” Jen bingung.


“Jen, kami dengar kamu adik


iparnya kakak perempuannya Raksa. Ya ampun kami pikir tadinya kalian jadian


lho, habis akrab sekali.” Salah satu senior menepuk bahu jen membuat gadis itu


terperanjat. “ Raksa memang baik sekali si sama semua orang, tapi akhir-akhir


ini sama kamu kok dia kelihatan jauh lebih perhatian.”


“Haha, tadinya kami cemburu sekali


sama kamu Jen.”


“Ia, kok bisa mendominasi kebaikan


Raksa.”


“Aaaaa, ternyata kamu adik iparnya


ya. Untunglah, kami punya kesempatan buat tetap dekat-dekat dengan Raksa.”


Hei, hei, walaupun aku hanya


dianggap adik. Tapi dia sudah punya pacar kali. Kalian tidak punya harapan. Eh, tapi sepertinya kalian masuk dalam list tipenya Raksa deh.


"Jen, bisa coba comblangin aku nggak?"


"Eh, kita kan sepakat untuk sportif."


"Sudah, sudah, bisa tidak kita menikmati ketampanan dan kebaikan Raksa sama-sama. Biar adil."


"Ah ia juga ya, primadona akan jauh lebih baik kalau jadi milik semua orang."


Dalam hati mereka menyusun strategi masing-masing untuk mendekati Raksa melalui Jenika.


"Eh, jen mana?"

__ADS_1


Mereka tidak sadar Jen sudah kabur sedari tadi.


bersambung


__ADS_2