Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
136. Ibu (Part 3)


__ADS_3

Tanpa ada yang menyadari baik


Daniah atau ibu, Pak Mun sudah berdiri di ruangan yang sama dengan mereka. Dia


memandang pil kontrasepsi yang ada di atas meja. Sama persis seperti yang dia


temukan di tas nona mudanya waktu itu. Itu membuatnya gusar. Terbang sudah kedamaian rumah ini begitu pikirnya.


“Nyonya, bagaimana Anda bisa


meminta nona muda untuk minum pil itu?” kata-katanya sudah terlihat meninggi. Dia


bahkan bicara seperti saat dia kesal dengan pelayan rumah belakang yang bekerja dan


melakukan kesalahan. “Kalau tuan muda tahu, Anda tahu akan semarah apa dia.”


Daniah langsung bangun mendekati


Pak Mun. Gadis itu yang paling tahu, akan seperti apa reaksi Saga. Dia menarik tangan Pak Mun untuk mengikutinya. Menuju ruangan lain. Dia tidak mau sampai ibu mertuanya menduga-duga, karena pembicaraannya dengan Pak Mun. Karena perkara dia minum pil kontrasepsi menjadi rahasia yang tersimpan rapat di rumah ini. Bahkan jen dan Sofi yang ada di rumah juga tidak tahu mengenai pil kontrasepsi.


“Pak Mun jangan mengatakan pada


Tuan Saga, kumohon. Apa pun yang Pak Mun dengar barusan. Aku tidak


menyentuhnya. Aku bersumpah, aku tidak menyentuh pil itu sama sekali.”


Mungkin saja akan terjadi pecah


perang dunia ketiga kalau Saga tahu ibunya menyodorkan pil kontrasepsi ke depan Daniah.


Hingga Daniah harus menghindari itu semua. Dia memohon, memohon dengan sangat


pada Pak Mun untuk menyelamatkan ketenangan rumah ini.


“Pak Mun saya mohon jangan


mengatakan apa pun pada Tuan Saga. Saya mohon.”


“Nona, nyonya tidak akan berhenti


sampai di sini, “ ujar Pak Mun meyakinkan. Bahwa apa yang akan dilakukan


nyonya kedepannya bisa jadi akan jauh lebih ekstrim lagi.


“Aku tahu, tapi aku tidak akan


pernah meminumnya. Aku bahkan tidak akan berani menyentuh pil itu lagi pak. Pak


Mun pasti masih ingat kan bagaimana marahnya Tuan Saga, dan aku tidak akan lupa


itu Pak. Aku tidak akan punya keberanian walaupun hanya menyentuhnya. Percayalah


padaku.” Menggenggam tangan Pak Mun erat. Walaupun laki-laki itu merasa tidak


nyaman, tapi dia membiarkannya.


“Nona.”


“Bapak tidak mau terjadi  perang dahsyat  di rumah kan? Aku tidak mau ibu dan Tuan Saga kembali bertengkar karena


aku lagi. Ya Pak, demi kedamaian rumah ini. Tolong rahasiakan semua yang Pak


Mun dengar pagi ini.”


Ini adalah pilihan terbaik untuk


menyelamatkan kedamaian rumah ini. Dia sendiri tidak mau kalau sampai ibu harus

__ADS_1


kembali pergi, mungkin kali ini akan jauh lebih lama dari sebelumnya.


“Pak Mun hubunganku dengan Tuan


Saga saat ini sedang dalam kondisi sangat baik. Percayalah. Aku akan berada di


samping Tuan Saga dengan bahagia apa pun situasinya.”


Sebentar Pak Mun memandang sorot


mata Daniah secara langsung, lalu dia menundukkan kepalanya setelah yakin.


“Baiklah Nona, saya akan melakukan


apa yang Nona minta. Tapi saya mohon ke depannya jika nyonya masih bersikap


seperti ini jangan menyimpan dan menghadapinya sendiri. Nona bisa menyampaikan


pada saya atau Sekretaris Han, dia pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan


tenang. Dan tuan muda tidak akan merasa terganggu.”


“Baik, baik, Pak. Saya akan ingat


itu. Terimakasih ya Pak.”


Pak Mun sudah mengantarkan Daniah


menuju mobil yang di bawa Leela, lalu dia kembali masuk ke dalam rumah. Seperti


yang dia duga, nyonya masih menuggu di tempat duduknya. Dia pun berjalan


mendekat.


“Pak Mun.” Wanita itu memanggil, walaupun sebenarnya tidak perlu. Karena kepala pelayan itu memang berjalan menuju tempatnya duduk.


laki-laki itu memotong pembicaraan nyonya. Dia tidak ingin mendengar apa pun


alasannya. Dia sudah cukup mendengar apa yang harus ia dengar dari pembicaraan


wanita di hadapannya ini dengan Nona Daniah tadi.


“Apa kamu mau mengadukan semuanya


pada Saga?” Terlihat sekali ibu khawatir, dia tidak perduli dengan pertanyaan Pak


Mun.


“Sesuai dengan permintaan Nona


Daniah saya tidak akan mengatakan tentang pil dan apa yang Nyonya katakan pada


nona tadi. Tapi saya minta cukup sampai di sini. Apa pun yang nyonya rencanakan


cukup sampai di sini.” Terdengar ibu bernafas lega. Walaupun kemudian terlihat


dia tampak gusar, karena mencerna kalimat Pak Mun sebagai suatu ancaman


untuknya.


“Lancang sekali, apa sekarang Pak


Mun sedang mengancam saya.”


“Tidak Nyonya, bagaimana mungkin


saya mengancam Nyonya. Saya hanya berusaha menjaga ketenangan rumah ini untuk

__ADS_1


tuan muda.”


Wajah ibu sangat masam mendengar


perkataan Pak Mun.


“Aku tidak akan mengganggu Daniah


sebagai istri Saga. Aku hanya.”


“Nyonya, bukankah seharusnya Anda


berterimakasih. Karena Nona Daniah bisa membuat tuan muda tersenyum kembali


setelah sekian lama. Seharusnya Anda mendukung mereka, untuk kebahagiaan tuan


muda.” Sebuah argumen sederhana yang di lontarkan, karena Pak Mun yakin, kalau nyonya juga melihat kebahagiaan di mata tuan muda. Bahwa saat ini nona mudanya adalah wanita yang akan memberi pengaruh besar dalam hidup Saga.


“Pak Mun, ini bukan hanya untuk


sekarang. Tapi untuk kehidupan selanjutnya keluarga ini. Keturunan  Saga harus berasal dari wanita yang sama


derajatnya dengannya.”


Pak Mun terlihat sangat tidak suka


dengan kalimat nyonya di depannya. Apa yang salah dengan nona mudanya, derajat,


keturunan. Apa pentingnya itu jika Tuan Saga menerima dan mencintainya dengan


tulus. Itu sudah hal paling utama, tidak ada yang lebih penting dari itu semua.


“Nyonya, kalau saja tuan besar


masih hidup apa yang akan dipikirkannya jika tahu Anda melakukan hal seperti


ini.”


Wajah ibu terlihat getir. Dia


tertunduk sekarang.


“Tuan besar bukan orang yang suka


membedakan status orang lain. Saya rasa dialah yang akan paling bahagia melihat


tuan muda dan Nona Daniah." Pak Mun tahu, kata-katanya terdengar menyakitkan dan seperti kecaman. tapi ini adalah kenyataan yang bisa menyadarkan nyonya kedepannya. "Apa nyonya tahu, karena sikap tuan besar yang baik pada semua orang dan tidak membedakan derajat orang lain.” Pak Mun menghela


nafas ketika melihat nyonya menggigit bibirnya kalah. “ Hari ini, ada banyak


orang seperti Sekretaris Han yang berdiri di belakang tuan muda. Menyayangi dan


mencintai tuan muda. Mereka yang akan dengan tulus berkorban untuk tuan muda.


Semua itu tidak muncul begitu saja kan Nyonya.”


“Hentikan.” Sadar, bahwa apa yang diucapkan Pak Mun adalah benar. Dan dia merasa kesal karenanya.


“Karena kebaikan tuan besar sejak


dulu, saat ini tuan muda bisa bersama orang-orang yang menyayanginya.”


Lagi-lagi ibu tidak bisa membantah


bagian apa pun yang di ucapkan Pak Mun. Membuatnya serasa tersapu gelombang kekalahan. Air itu menariknya hingga ke tengah lautan kegetiran. Tapi tetap saja, dia masih merasa bahwa Daniah tidak pantas menjadi ibu dari anak putranya.


"Saya harap, Nyonya menyerah dengan rencana apa pun yang sedang coba Nyonya lakukan."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2