Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
102. Leela (Part 2)


__ADS_3

Sepertinya dugaan kalau Leela adalah Sekretaris Han versi cewek salah, karakternya 180 derajat sangat berbeda dari laki-laki yang hanya menunjukan ekspresi melalui senyum itu.


Leela bekerja dengan sangat sigap. Dia pun mudah berbaur dan bergaul dengan karyawan lainnya. Namun setiap pembicaraan mengenai pertanyaan tentang Tuan Saga hanya dibalas senyuman olehnya tidak lupa dia meminta maaf karena tidak bisa menjawab apa-apa. Sebenarnya karyawan pada kecewa tapi segera terobati karena sifat Leela yang ceria.


“Tika, aku mau ketemu dengan calon supplier baru yang menawari pakaian anak. Mau lihat sampel dulu.” Leela langsung bangun meninggalkan pekerjaannya tanpa diminta. Padahal Daniah berharap agar anak itu berdiam diri di ruko saja. “Lee bagaimana kalau kamu menunggu di sini saja, aku tidak akan lama kok. Bantu yang lainnya di sini saja. ” Berharap Leela akan menurut.


“Maaf Nona, saya harus berada di samping Nona selama Nona meninggalkan rumah. Ini perintah dari.”


“Hentikan! Ayo ikut.” Tidak membiarkan dia menyelesaikan kalimatnya. Daniah menarik tangan Leela, tidak lupa dia tersenyum dan melambaikan tangan pada karyawannya. Walaupun lagi-lagi mereka memberi pandangan penasaran dan tanda tanya.  Sesampainya di dalam mobil. “Leela, bisa tolong hentikan kata-katamu tentang ini perintah tuan muda. Ini perintah tuan Saga.”


Itu mantra yang selalu di katakan Sekretaris Han kalau aku banyak bicara sebelum melakukan yang dikatakan Tuan Saga.


Daniah menarik nafas kesal, sekarang benar-benar yakin kenapa Leela menjadi sopirnya. Untuk apa dia sebenarnya berada di sisinya.


Hei tuan muda, memang siapa yang mau kabur darimu si, kau masih memegang kartu asku. Keluargaku, tidak perlu sampai melakukan hal sejauh ini juga kali.


Di kafe, bertemu dengan calon supplier pakaian anak. Terjadi lagi peristiwa memalukan karena Leela.


“Maaf Tuan Anda tidak diizinkan menyentuh tangan nona muda.”


Laki-laki di hadapan Daniah melongo bingung, lebih-lebih Daniah. Apalagi saat Leela melepaskan tangan mereka yang sedang bersalaman. Dengan ekspresi wajah datar.


“Leela ada apa denganmu. Dia bukan mau menyentuhku, kami hanya bersalaman. Tahu, bersalaman.” Daniah memberi contoh dengan kedua tangannya. "Ini kan tanda sopan santun di negara kita."


“Tapi Nona ini.”


Daniah menempelkan jarinya di bibir isyarat untuk diam, tahu Leela akan bicara apa. “Duduk diam di situ ya. Jangan bicara apa-apa.” Daniah malu sendiri. Leela  mengangguk dan benar, dia hanya duduk, diam dan memperhatikan.


“Siapa dia Mbak, lucu juga?”


“Bukan siapa-siapa Mas, jangan pedulikan perkataannya barusan.”


Laki-laki itu mengambil tas cukup besar yang tadi dia letakan di bawah. Lalu dia mengeluarkan isinya dan menyusunnya di atas meja.


“Ini contoh produk yang kami produksi Mbak. Kami memang baru, tapi kami bisa memastikan bahwa produk yang kami hasilkan itu berkualitas, silahkan Mbak Daniah lihat.”


"Kenapa Anda memanggil nona kami dengan sebutan nama?" lagi-lagi bicara yang mengagetkan semuanya. Daniah mengeram. mencubit tangan Leela. "Maaf Nona, tapi dia menyebut nama Anda."


"Bisa diam kan? mau kusuruh pergi sekarang."


"Maaf Nona, tapi saya harus menjaga Anda."


"Kalau begitu diam ya. jangan bicara apa pun, jangan menyela. cukup lihat aku saja. Oke, mengerti." Leela menganggukkan kepala. Daniah menarik nafas frustasi. "Maaf ya Mas, tadi sampai mana?"


"Ia Mbak." Menoleh pada Leela.

__ADS_1


Dia ini siapa, aku menyebut nama Daniah saja sudah memandangku dengan sorot mata membunuh begitu.


Dia beralih dengan barang yang berjajar di atas meja. tidak memperdulikan pandangan wanita yang sedang menatapnya tajam itu. Daniah juga memeriksa setiap detail produk di bawah pengawasan mata tajam Leela, sampai terdengar dia menghembuskan nafas kesal sambil menoleh pada gadis itu. Leela seperti tidak merasa bersalah sedikitpun bahwa keberadaanya sudah membuat suasana tidak nyaman. Dia hanya tersenyum ketika Daniah menatapnya semakin jengah.


Selesai juga kesepakatan, mengakhiri perbincangan. Kali ini tidak ada jabat tangan, Daniah hanya menganggukkan kepala. Dia akan menghubungi dan memberikan keputusan jadi atau tidaknya kerja sama beberapa hari nanti. Dia perlu merundingkan dengan karyawannya, lebih penting untuk membandingkan produk sampel dengan apa yang sudah dijualnya.


Daniah sudah duduk di kursi taman dekat area parkir di cafe tadi bertemu dengan calon supplier barunya tadi.


“Duduklah! Letakan tas itu, beratkan.” Daniah menepuk bangku kosong di sebelahnya.


“Tidak apa-apa Nona.”


“Duduklah, atau kuadukan pada Tuan Saga kalau kau membantah kata-kataku.”


Idih, sudah pintar dan lihai sekali aku mengancam.


Terbukti Leela berjalan menuju kursi, dia duduk dan meletakan tas produk contoh itu di pangkuannya. Menjaganya dengan tangan agar tas itu tidak terjatuh.


“Taruh saja tasnya di bawah.” Menunjuk bawah kursi, toh itu trotoar, plastiknya juga tebal dan tidak akan kotor.


“Tidak apa-apa Nona, ini kan barang milik Anda, saya harus menjaganya dengan baik.”


Ya ampun anak ini apa-apaan si.


“Leela, kamu ini bukan adik atau saudara Sekretaris Han kan?” Sebenarnya bertanya tanpa maksud apa-apa, hanya merasa jengkel saja.


“Jadi benar kalian saudara, saudara kandung?”


Wahh, wahh, isi kepala Daniah berlarian. Mencerna informasi penting yang baru dia dapatkan.


“Bukan nona, saya adik sepupu Sekretaris Han. Saya anak dari adik kandung ayahnya Sekretaris Han.”


Aku tidak pernah membayangkan kalau Sekretaris Han ternyata benar-benar manusia. Dia juga punya ibu dan ayah.


“Berarti kamu tahu banyak tentang Sekretaris Han donk.” Antusias, lupa deh tujuannya mendudukkan Leela, mendengar rahasia Sekretaris Han dia jauh lebih sangat penasaran.


“Maaf Nona saya tidak bisa menjawab apa-apa jika Nona menanyakan perihal Sekretaris Han.”


Menyebalkan, dia bahkan sudah membentuk dinding yang tinggi mencegahku masuk.


“Apa dia punya pacar?” Leela diam.


“Di mana dia tinggal.” Leela diam.


Daniah sudah meremas udara di depannya. Ternyata Sekretaris Han jauh lebih misterius dari apa pun, bahkan tidak ada celah sedikit pun untuk mencari tahu tentangnya.

__ADS_1


“Baiklah lupakan dia, tidak penting juga.”


Aaaaaaa, aku benar-benar penasaran tentang Sekretaris Han.


“Sekarang aku mau tanya tentangmu.”


“Baik nona.”


Apa! dia langsung bereaksi.


“Apa yang Tuan Saga perintahkan padamu. Mengawasiku?”


“Tuan muda hanya meminta saya memastikan Anda beraktifitas seperti biasa dan pulang ke rumah pada waktunya.”


Lugas sekali dia menjawab, seperti tidak dibuat-buat. Baiklah masih terlalu dini menyimpulkan. “Apa dia memintamu melaporkan semua hal yang aku lakukan?”


“ Tidak Nona.”


“Jangan bohong! Kau tidak akan melaporkan aku bertemu dengan laki-laki di cafe ini tadi kan?” Memastikan lagi.


“Saya akan menyampaikan kalau tuan muda menanyakannya.”


“Itu sama saja kau memata-mataiku tahu!” Kesal sendiri. Tangan Daniah mencengkram bahu Leela “Jangan, jangan katakan apa pun tentang aku bertemu dengan laki-laki lain.”


“Tapi, bukankah Nona akan menjawab juga kalau tuan muda bertanya? Kalau jawaban saya tidak sama dengan jawaban Nona. Nona pasti tahukan apa yang akan terjadi pada saya.”


Eh, apa artinya aku menjerumuskannya ke lubang neraka.


“Baiklah, sekarang bisa perjelas deskripsi pekerjaanmu? Kenapa Tuan Saga menyuruhmu jadi sopirku.”


“Karena Anda pernah kabur.”


Apa kabur lagi, kabur lagi yang jadi alasannya.


“Jadi perintah umum yang harus saya lakukan hanyalah agar apa yang Anda lakukan tidak membuat tuan muda kesal.”


“Maksudnya?” Bingung.


“Saya hanya harus memastikan bahwa apa pun yang Anda lakukan tidak akan membuat tuan muda marah. Contohnya saat Anda bersalaman tadi, tuan muda pasti tidak suka kalau Anda disentuh laki-laki lain jadi saya melarang tuan tadi menyentuh Anda.”


Apa! dia lebih gila dari Sekretaris Han. Dia menyimpulkan semua seenaknya. Siapa sebenarnya yang merekomendasikan orang gila ini untuk jadi sopirku!


Daniah membisu sepanjang perjalanan, memikirkan siapa yang sudah merekomendasikan Leela, dan juga memikirkan bagaimana caranya agar sopirnya ini bisa di pecat.


Maaf leela, tapi aku belum siap menghadapi kegilaan Sekretaris Han versi cewek di sepanjang hariku!

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2