
Daniah memasang wajah cemberutnya. “
Sayang, kenapa berhenti?” Wajah bengong dan takjub Daniah berubah kecewa. Dia
mengkerutkan bibirnya. Dia sedang menikmati ketegangan demi ketegangan
tiba-tiba Saga seenaknya menghentikan ceritanya. Ini seperti saat kamu sedang
seru-serunya nonton drama di tv lalu muncul tulisan bersambung di layar tv.
“ Aku lelah!” Balas Saga seenaknya
sambil tertawa melihat wajah masam istrinya.
Kenapa dia tambah manis kalau
terkena sinar matahari. Saga mengusap-usap pipi Daniah dengan punggung
tangannya. Tidak perduli kalau Daniah sedang penuh harap menunggu kelanjutan
ceritanya.
Apa! kenapa tiba-tiba lelah si,
pada saat klimaknya begini lagi!
Sebal bercampur penasaran,
bagaimana setelah Han berlutut. Apa dia akan memohon, dan ada drama airmata. Apa
akan terjadi pertengkaran tidak terduga. Atau setelahnya mereka akan saling
berpelukan hangat. Menilik dari kedekatan mereka sekarang sepertinya
kesalahpahaman benar-benar berhasil diluruskan.
Penasaran!
“ Ayo masuk! Panas.” Saga bangun
dan menarik tangan Daniah.
“ Baiklah, tapi lanjutkan ya
ceritamu.” Mengedipkan kedua matanya sambil tersenyum cerah.
“ Tergantung!”
“ Tergantung apa?” Saga hanya
tertawa lalu menyambar bibir lembut Daniah yang membuat gadis itu terperanjak kaget. Lebih-lebih
saat sadar mereka sedang ada dimana. “
Kalau kau patuh dan bersikap manis akan ku lanjutkan ceritaku.” Ujung bibir
Saga membentuk senyum. Yang sudah ditebak Daniah maunya apa.
Aaaaa, bisa tidak si kalau tidak
memanfaatkan kesempatan.
Mereka akhirnya masuk ke dalam
rumah setelah sarapan di taman. Sudah sejak lama sejak mereka menikah, pertama
kalinya sepasang suami istri itu menikmati waktu bersama di taman. Seisi rumah
bahkan sangat takjub. Jen dan Sofi masih membahas perubahan sikap kakak
laki-laki mereka bahkan sampai mereka naik meneruskan obrolan di kamar. Amera
sedang sibuk dengan rencananya. Dia tidak perduli saat dua adik beradik itu
bicara sambil tertawa di atas tempat tidur.
Sementara Saga menarik tangan
Daniah menaiki tangga. Langsung masuk ke kamar mereka.
__ADS_1
***
Han masih duduk berlutut.
Pagi ini dia sudah menyiapkan
semuanya. Saat mengunci pintu tempat tinggalnya dia sudah bisa membayangkan
bagaimana Saga akan memberi reaksinya. Terakhir kali dia menghubungi ayahnya
sebelum koma, kemarahan Saga jika di sebut namanya belum habis terbendung. Dan
sekarang dia benar-benar melihat dengan mata kepalanya dari dekat.
Saga jauh lebih kuat semenjak kau
pergi. Jangan kuatirkan apapun di sini. Ayah akan melindunginya sampai kau
kembali. Kata-kata ayahnya kembali terngiang.
“ Tuan muda.”
“ Kau mau mati!” Langsung membalas
kata-kata Han sebelum laki-laki itu meneruskan bicaranya.
“ Anda sudah bekerja keras.” Sebuah
pujian yang meluncur dari mulut Han untuk tuan mudanya. Seperti orangtua yang
sudah bangga melihat kesuksesan anaknya.
“ Aku akan merobek mulutmu kalau
kau bicara sepatah kata lagi Han. Keluarlah! Aku akan membiarkanmu pergi
sekarang, hanya karena paman. Jangan pernah muncul di depanku lagi.” Karena
laki-laki yang sedang terbaring tidak berdaya itu adalah ayahmu. Saga akan
menggangapnya sebagai caranya membalas semua kebaikan paman selama ini.
“ Maafkan saya.”
ajar ini minta maaaf.
Saga bergerak dari duduknya.
Bangun. Dia benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi. Kau pikir cukup dengan
minta maaf semua selesai. Geramnya kesal dan marah. Dan hari itu dia
benar-benar melampiaskan semua kemarahan yang dia tahan selama ini. Semua ketakutannya yang terluapkan melalui kemarahannya pada Han. laki-laki yang sudah dia percayai.
Huh! Kurang ajar, kenapa tanganku
yang sakit.
“ Sialan!” Saga yang jatuh di sofa
karena kelelahan. Sementara Han masih terduduk di tempatnya. “ Kau mau apa Han!”
Marah. “ Kenapa tidak menghindari pukulanku bodoh!” Bukanya puas Saga semakin menjadi kesalnya, karena Han sama sekali tidak menghindar saat dia melayangkan pukulannya.
“ Tuan muda apa tangan anda
baik-baik saja.” Malah bertanya dengan nada kuatir. Sambil menatap tangan Saga, bahkan tidak perduli dengan nyeri di pipinya.
“ Sialan! Kau masih mengkuatirkan
tanganku?” memaki. “Memang apa yang kau makan sampai bisa sekuat itu. Tanganku
sakit!” mengibaskan tangan kanannya yang dia pakai untuk memukul Han beberapa kali.
“ Maafkan saya.” Han bangun dari
posisinya duduk bersimpuh di lantai. Lalu keluar meninggalkan Saga di dalam
ruangan. Tidak lama dia masuk lagi membawa alat kompres di tangannya. Saga
__ADS_1
menoleh sambil menyandarkan kepala.
“ Cih, apa yang kau lakukan.”
“ Mengompres tangan anda, kalau
tidak nanti bisa bengkak.” Han meraih tangan Saga lalu meletakan alat kompres
itu di punggung tangan Saga. “ Seharusnya anda jangan memukul terlalu keras,
tangan andakan jadi terluka.” Dengan hati-hati berpindah kebagian tangan yang lainnya.
“ Hahaha.” Saga tertawa sambil
merebut alat kompres di tangan Han yang menempel di tangannya. Bagaimana
laki-laki di depannya sudah seperti tidak punya dosa sama sekali. “ Bodoh! Padahal
kau yang terluka.” Alat kompres itu menempel di bibir Han yang bengkak dan
memerah sekarang. “Pegang sendiri!” di dorongnya tangannya. “ Beraninya kau menyuruhku
memegangnya.”
“ Maafkan saya tuan muda.” Han
menempelkan alat kompres di beberapa bagian wajahnya yang terasa nyeri. “
Tangan anda sudah tidak apa-apa.”
“ Tutup mulutmu!.”
“ Baik.”
Mereka saling pandang lalu tergelak bersamaan.
Epilog
" Saya harus pergi dan lepas dari bayang-bayang ayah. Kalau saya ingin berada di belakang tuan muda mengantikan ayah. Tuan muda, untuk bisa melindungi anda saya harus menjadi kuat. Agar orang bukan melihat ayah, tapi melihat saya." Han menatap Saga. Teringat kata terakhir ayahnya saat dia pergi.
Pergilah, kau yang akan mengantikan janjiku pada tuan besar kelak. Kalau kau tidak bisa berdiri dengan kakimu sendiri, maka kau tidak pantas berada di samping tuan muda.
" Karena itulah saya pergi. Untuk mengumpulkan semua orang yang mencintai tuan besar dan Antarna Group. Untuk berada di belakang tuan muda kelak."
" Bodoh! Kenapa kau tidak mengatakannya?" merebut alat kompres yang di pegang Han. " Apa kau mau terlihat keren dengan pergi seperti itu." Menekan alat kompres keras, membuat Han meringis. " Apa! sakit? ini belum seujung kuku sakitnya hatiku saat kau pergi." Tapi Saga mengendurkan tekanan kompres di pipi Han.
" Maafkan saya. Tapi kalau saya mengatakannya apa tuan muda akan mengizinkan saya pergi."
" Tidak!"
Huh! memang apa yang saya harapkan. walaupun tahu alasannya, anda pasti akan tetap mencegah saya pergikan. Untuk itulah kenapa saya pergi dengan cara semacam itu.
" Sekarang bolehkan saya meminta sesuatu pada anda?" Mungkin ini kali pertama Han minta sesuatu pada Saga. Selama ini kalau hanya uang, Saga memberikan kebebasan penuh pada Han untuk memakainya.
" Apa?"
" Biarkan ayah saya pergi istirahat dengan tenang tuan muda.""
" Tutup mulutmu! paman belum meninggal, beraninya kau mengatakan itu." Marah lagi. Han terdiam. Bagaimanapun semua dokter sudah menyimpulkan hanya karena bantuan alat-alat itulah, dan keras kepalanya Saga yang membuat ayahnya masih terbaring dengan jantung berdetak. seperti tertidur.
" Saya akan berada di belakang tuan muda mengantikan ayah. Saya yang akan meneruskan sumpah ayah pada tuan besar. Saya tidak akan pergi dari sisi tuan muda sampai tuan muda bahagia."
Saga menatap Han lekat.
" Anda sudah bekerja keras dan tumbuh dengan kuat tuan muda." Tangan Han terangkat menyentuh kepala Saga. " Sekarang saya yang akan melindungi anda."
" Kau mau mati ya, singkirkan tanganmu!" Tapi Saga tidak menepisnya. Dia rindu tangan hangat paman di kepalanya. Dan dia benar-benar merasakan kebahagiaannya sendiri karena Han ada di hadapannya. " Pegang janjimu Han." Saga bangun dari tempat duduknya. Menghampiri kaca transparan di depannya.
Apa paman tahu alasan Han pergi? Maafkan aku paman, karena ketakutan dan keegoisanku.
" Apa tuan muda tahu, kalau ayah lebih mencintai tuan muda dari pada saya anaknya sendiri."
" Cih, kau masih iri. Padahal kau juga mendapatkan cinta ayahku."
Huh! anda masih saja mendendam untuk itu ya, padahal jelas-jelas saat itu tuan besar hanya bersandiwara.
Dan mungkin sumpah itu akan segera berakhir, saat Han yakin kalau Saga sudah benar-benar mendapatkan kebahagiaannya.
Bersambung
__ADS_1