
Daniah berjalan perlahan menuju tempat tidur. Sehabis mengatakan kata naik tidak terdengar suara apa pun. Saga pun sudah tidur di bawah selimut.
Jangan bicara apa pun sekarang, cukup lakukan yang dia katakan. Aku yakin dia hanya menggertak. Dia tidak mungkin memintaku tidur bersama. Meniduriku maksudnya. Jelas-jelas dia tidak menyukaiku. Baik, pelan-pelan Daniah. Jangan membuat suara menggangu. sebentar lagi dia juga tidur seperti biasanya. Aku hanya perlu menahan nafas sampai dia tidur.
“Kau lupa apa yang kukatakan tadi.” Saat Daniah sudah terbaring di tempat tidur. Saga menendang selimut sampai benda itu teronggok di lantai. Sekarang Kaki kanan Saga sudah naik ke atas kaki Daniah, menindihnya.“Aku kan bilang akan mencabik-cabik habis dirimu. Apa kau sudah siap.”
Sudah tidak tahu sepucat apa sekarang wajah Daniah, tangannya bergetar berpegang pada pinggir tempat tidur. Berusaha menggerakkan kakinya agar leluasa menyingkir. Tenaganya kalah jauh. Kaki panjang milik Saga bahkan tidak bergeser sedikit pun. Semakin dia berusaha menggerakkan kaki, semakin kuat kaki laki-laki itu menekannya.
“Suamiku, maafkan saya. Maafkan kesalahan saya.” Daniah berusaha mengeluarkan kalimat mengiba, yang terdengar sangat tulus. Kemampuan aktingnya makin hari memang semakin membaik. “Saya salah sudah bertemu dengan Helena, padahal Anda masih belum memaafkannya. Dan saya lancang berfikir untuk mempertemukan Anda kembali dengannya.”
Saga mengeram kesal, sekarang tangannya malah melingkar ditubuh Daniah. Memeluk gadis itu. Daniah semakin menciut ketakutan.
“Kenapa membahas Ele lagi?” bergumam di dekat telinga Daniah.
“Karena Anda masih mencintai Helen, makanya saya berfikir” terbata, suara Daniah tertahan ketika Saga mencengkram lehernya. Semakin lama semakin kuat, Daniah mulai tersengal. Dia batuk berulang setelah Saga melepaskan tangannya.
“Jangan menyebut namanya dengan mulutmu lagi, aku akan menghukummu untuk itu!”
“Ba.. hemm. Hemm.” Daniah membuka mulutnya karena intuisi untuk menyelamatkan diri. Bibir lembut Saga menyatu dengan miliknya. Tapi, kenapa dia melakukannya dengan sangat lembut. Padahal dia kan sedang kesal. begitu yang sepintas terpikir di kepala Daniah.
Dia bahkan mencekikku barusan karena aku menyebut nama Helen. Tapi dia menciumku dengan sangat lembut.
Menarik nafas sebentar, lalu Saga kembali melancarkan serangan ciuman yang keduanya, kali ini lebih lama dan dalam.
“Su.. suamiku”
Ini salahkan, ini salahkan. Aku tidak harus tidur dengannya kan.
Bibir Saga mulai menelusuri telinga, leher, dan bahu Daniah. Kecupan lembut mengalirkan semua perasaannya yang sebenarnya. Tapi tidak dengan Daniah. Gadis itu memejamkan mata, menggigit bibirnya kelu, mencengkeram seprei.
“Suamiku, maafkan saya.” Masih berusaha menyelamatkan diri. Saga masih menelusuri lekukan tubuh Daniah. “Bukankah Anda bilang tidak menyukai saya karena saya jelek dan kampungan.”
“Hemmm.” Tidak menghentikan aktivitas bibirnya.
Lihat kan, kamu mengakui kalau aku memang tidak sesuai seleramu. Kenapa masih melakukan ini.
“Dan agar saya cukup tahu diri untuk tidak mengharapkan bisa melayani Anda sebagai istri di tempat tidur.”
“Hemm.”
Bagaimana ini, tangannya mulai tidak bisa dikondisikan. Sudah masuk ke dalam bajuku.
“Kenapa sekarang Anda.” Jemari Saga menutup bibir Daniah yang mau bicara lagi.
“Apa kau lupa dengan aturan utama yang kamu tanda tangani denganku. Aku adalah aturan hidup yang harus kamu patuhi. Kalau aku bilang kamu jelek artinya apa.”
“Saya jelek.” Menjawab lirih, masih sambil memalingkan wajah.
“Kalau aku bilang aku mau tidur denganmu artinya apa?”
“Saya akan tidur dengan Anda.”
Kecupan lembut di leher Daniah lagi. setelah mendengar jawaban Daniah.
Apa ini, kenapa dia melakukannya dengan sangat lembut. Dia bilang kan ingin mencabik-cabikku. Apa memang seperti ini yang namanya mencabik-cabik.
“Aaaaaa, sakit.” Erang Daniah.
“Suamiku.” Daniah berusaha menggerakkan tubuh, melepaskan diri perlahan dari cengkeraman harimau di sampingnya. “Anda kan harus tidur dengan wanita yang Anda cintai. Silahkan hukum saya apa pun, saya mengaku bersalah.”
“Jadi kamu menolak tidur denganku?” Saga mendesah, suaranya sudah terdengar sangat kesal. Dia menghentikan kecupan lembut di leher Daniah, mengangkat kakinya. Saga menggeser tubuhnya kembali ke posisi biasanya dia tidur. Mengumpat kesal. “Aku tidak pernah memaksa perempuan untuk melayaniku. Pergilah kalau kamu tidak mau tidur denganku!” Suaranya terdengar sangat kesal, tapi entah kenapa seperti angin surga bagi Daniah.
__ADS_1
Syukurlah, aku selamat kan! Walaupun dia marah dan akan menghukumku dengan cara yang lain. Tapi bukankah lebih baik, daripada ini.
Daniah bernafas lega. Dia menarik nafas pelan, sambil menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Dia sudah menyinggung Saga, kalau dia masih tidur satu tempat tidur dengannya bukankah itu tidak tahu malu namannya.
“Pergilah, dan lihat bagaimana aku menghancurkan semua keluargamu tanpa sisa!”
Deg, Daniah yang sudah berdiri tiga langkah dari tempat tidur membeku. Dia tidak punya keberanian untuk bergerak lagi.
Kalau aku tidak bisa membuatmu berada di sisiku karena kau mencintaiku, maka aku akan memaksamu berada di sampingku dan belajar mencintaiku. Biarkan aku yang mencintaimu duluan sekarang.
“Pergi sana! Enyah dari hadapanku!” Seharusnya Daniah pergi dan tak perlu memikirkan apa pun kalau dia mau selamat, tapi sekali lagi dia harus menyerah, karena hal konyol melindungi keluarga.
Daniah membalikan badan, berjalan pelan menuju tempat tidur, dia naik duduk bersimpuh di samping Saga yang duduk bersandar sambil menekuk kakinya. Nafasnya masih berhembus pendek, dia masih sangat kesal. Begitu yang diraba Daniah.
“Maafkan saya suamiku.”
“Pergi sana! Aku sudah tidak berselera lagi.” Menendang lutut Daniah dengan menggeser kakinya.
“Maafkan saya suamiku, saya salah, maafkan saya.”
“Aku tidak pernah memaksa perempuan melayaniku.”
Kurang ajar! Aku bahkan harus memaksamu menoleh padaku.
“Saya tidak dipaksa sama sekali, saya melakukannya karena senang. Bukankah Anda tahu kalau ini yang saya impikan ketika menjadi istri Anda. Bisa tidur bersama Anda.”
Lupakan harga diri, kalau aku masih hidup besok itu sudah keberuntungan. Memohonlah Daniah. Kau sudah tidak punya apa-apa, bahkan dari awal ketika menandatangani kontrak hidup dan mati dengan laki-laki ini.
“Keluar kau!”
“Tidak suamiku.” Daniah meraih tubuh Saga dan memeluknya. Wajahnya terbenam di dada Saga. “Saya yang menginginkannya, saya yang ingin bersama Anda. Anda tidak memaksa saya. Saya mohon jangan buang saya.”
Dan pada akhirnya aku yang memohon. Hal yang paling gila yang aku lakukan dalam hidupku adalah memohon untuk ditiduri laki-laki ini.
“Wah, wah, beraninya memelukku.”
“Maafkan saya.” Daniah yang sudah mau melepaskan tangannya malah ditahan. Sekarang Sagalah yang memeluknya dengan erat. Mulai menyusuri setiap bagaian lekuk leher Daniah dengan bibirnya. Kecupan keras sampai membuat Daniah merintih membekas tanda merah.
“Kau menyukainya. Ini stempel kepemilikan, kamu tahu artinya?”
“Ia saya menyukainya.”
Aku pasti sudah gila.
"Malam ini walaupun kau merintih kesakitan aku tidak akan melepaskanmu." Saga berbisik ditelinga Daniah. Gadis ini mencengkram seprei tempat tidur.
Malam yang panjang baru saja dimulai....
BERSAMBUNG
Ada dua wajah kehidupan yang bisa dilihat di kamar ini. Wajah bahagia, milik laki-laki yang sudah memperdayai wanita yang dicintainya untuk memohon tidur dengannya. Senyum cerah dan kemenangan, mengalahkan semua isi bumi. Dan satu wajah penuh rona malu dari wanita yang bagaimana bisa tidak tahu malunya menyerahkan diri pada laki-laki yang dibencinya. Laki-laki yang sudah memperlakukannya seperti pembantu. Yang jelas-jelas tidak mencintainya.
Saga benar-benar seperti pengantin baru yang habis melakukan malam pertama dengan penuh cinta. Ya, mungkin dia merasakan gairah penuh cinta itu. Tapi tentu saja tidak dengan Daniah. Dilihat dari sudut mana pun wajahnya terlihat sangat letih bercampur malu.
“Apa ini?” Saga menarik syal bunga yang melingkar di leher Daniah. Dia terlihat sangat tampan dengan setelan jas dan dasi warna navy. “Memang negara ini punya musim dingin?” katanya sambil mengernyit melihat benda di tangannya.
“Tidak suamiku.” Menutup wajahnya dengan tangan. Malu, isi kepalanya tentang peristiwa semalam masih sangat lekat diingatan. “Saya hanya ingin memakainya.” Sambil menutupi lehernya. Aib yang ingin dia sembunyikan dari semua mata orang di rumah ini.
“Apa ini benar-benar ada di lemarimu?” Mengangkat syal tinggi di tangannya, melihat dari berbagai arah. Seperti berkata, bagaimana benda aneh ini bisa ada di lemarimu.
“Ia, saya menemukannya di dalam laci.” Bersungguh-sungguh. Tidak mungkin dia memakai pakaiannya sendiri di hadapan Saga.
__ADS_1
“Cih, selera Han kampungan sekali. Buang itu!” katanya tegas. “Mataku sakit melihatnya.”
Siapa juga yang mau memakai benda aneh itu di musim seperti sekarang. Hiks, kalau bukan karena tanda merah di leherku ini. Kalau matamu ering sakit, pergi ke dokter sana!
“Saya mohon suamiku biarkan saya memakainya hari ini saja.” Sudah mau merebut dari tangan Saga, tapi tentu dia kalah cepat. Saga mengibaskan tangannya lalu menyimpannya di balik punggungnya.
“Kenapa? Apa yang mau kamu sembunyikan.” Saga sudah menempelkan bibirnya di telinga Daniah. Gadis itu menjerit, tiba-tiba Saga menggigitnya. “Ini stempel kepemilikan.” Jemari Saga menyentuh leher Daniah. “Kenapa wajahmu merah Sesenang itu ya.”
“Ti, tidak!” Spontan menjawab keras.
Siapa yang senang, toh kamu melakukannya juga bukan karena menyukaiku, tapi hanya karena menghukumku yang sudah lancang menyusun rencana untuk mempertemukanmu dengan Helena.
“Tidak!” Saga melotot. Tidak suka mendengar jawaban Daniah.
“Tidak begitu, maksudnya ia saya senang. Saya senang sekali bisa tidur dengan Anda semalam.”
Puas! Puas! Kalau aku bicara begitu, lihat kamu tersenyum sesenang itu membuatku menderita kan. Puaskan kamu sekarang.
Saga melemparkan syal yang dia pegang, lalu menarik tangan Daniah keluar dari kamar. Berjalan beriringan. Pak Mun sudah berdiri di bawah tangga, menyambut mereka. Dia tersenyum saat melihat Saga turun dengan menggandeng tangan Daniah.
“Selamat pagi Tuan Muda dan Nona Muda.” Anggukan kepalanya saat kedua orang sudah ada di hadapannya.
“Pagi Pak Mun.” Hanya Daniah yang menjawab ramah, Saga hanya sedikit menganggukkan kepalanya.
Ibu mertua dan dua adik ipar yang sudah duduk di meja makan ikut berdiri. Wajah mereka penuh tanda tanya, apalagi kalau bukan melihat tangan Saga yang menggenggam tangan Daniah. Bahkan sampai mereka berada di dekat meja makan.
Apa yang terjadi hari ini, apa akan turun hujan es. Kenapa Kak Saga menggandeng tangan kakak ipar, dan lihat wajahnya. Kenapa dia terlihat senang sekali. Wajah kakak ipar juga, malu-malu dan canggung begitu. Ada apa ini? Sofia
Tidak bisa berfikir apa-apa saking terkejutnya. Ibu
“Selamat pagi Bu!” Saga menyapa duluan, Daniah sampai mengernyit, selama mereka menikah sepertinya belum pernah dia melihat Saga menyapa orang duluan, walaupun pada ibunya.
Ibu tersadar lalu mengisyaratkan kedua putrinya untuk duduk.
“Selamat pagi juga Saga, apa semalam tidurmu nyenyak?” Ibu tersenyum, menatap Daniah, seperti berusaha mencari tahu sesuatu.
“Ya begitulah.” Saga melepaskan tangannya. Lalu duduk di kursi yang sudah ditarik Pak Mun. “Daniah membuatku tidur dengan nyenyak semalam.”
Daniah hanya bisa tersenyum di samping Saga. Sambil terkekeh dalam hati, karena suaminya seperti makhluk lain yang entah datang darimana.
Ada apa dengannya, apa dia selalu segila ini kalau habis tidur dengan wanita. Ya, aku pasti bukan yang pertama atau satu-satunya kan. Walaupun jelas sekali dia memperlakukanku dengan sangat lembut, tapi aku harus tetap menutup hatiku. Laki-laki ini milik Helena, cinta sejati akan kembali pada pemiliknya. Daniah
Apa itu bekas kecupan di leher kakak ipar. Aaaaaa, aku ingin menjerit sekarang. Apa Kak Saga benar-benar tidur dengan kakak ipar. Dan barusan Kak Saga benar-benar menyebutkan namanya kan. Daniah, jadi itu nama kakak ipar. Sofia
Saking tidak pernah berinteraksi dan merasa kalau kakak iparnya tidak akan bertahan lama di rumah ini jadi dia merasa tidak penting untuk mengingat namanya.
Apa itu bekas kecupan. Gila! Banyak sekali. Leher kakak ipar seperti habis dipukuli. Hei, tidak mungkinkan mereka bercinta semalaman. Jelas-jelas kemarin malam sepertinya kakak ipar sangat canggung, dan Kak Saga terlihat menakutkan. Apa dia memang habis dipukuli. Tapi kalau habis dipukuli kenapa Kak Saga sesenang itu, dan wajah kakak ipar sangat malu sepertinya. Jenika
Lagi-lagi ibu kehilangan kata-kata walaupun hanya sebatas dalam pikirannya.
Mereka sarapan dengan membawa pikiran sampai pada titik terdalam. Penasaran, namun tidak ada yang berani sekedar bertanya, atau sedikit membahasnya. Baiklah, nanti mereka akan menghujani Daniah dengan ribuan pertanyaan saat Saga sudah berangkat bekerja. Begitu akhirnya keputusan final mereka bertiga. Sama, walaupun tanpa kerja sama.
Saga tersenyum sambil menyentuh bibir Daniah, mengusap pelan sisa saus yang menempel di sana. Lalu dia menjilat jari yang tertempel saos dari bibir Daniah.
“Makanlah.”
“Ba. Baik.” Daniah bingung sendiri.
Semua orang merinding melihatnya. Tengkuk ibu berdenyut dengan kejutan pagi ini. Pak Mun yang biasanya diam tanpa ekspresi terlihat tersenyum tipis. Sementara kedua adik ipar saling meremas tangan mereka berdua di bawah meja.
Membuat daftar dosa yang sudah mereka lakukan pada Daniah. Dan menyesalinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG