
Mereka main salon-salonan dulu di penghujung sore.
“ Sudah selesai sayang.” Daniah memberikan sentuhan terakhir dengan
jari-jarinya di sela rambut Saga. Walaupun hanya di sisir dengan jari tetapi
sudah terlihat sempurna. Memang ya, orang tampan mau digimanain juga tetap tampan. “Suamiku memang yang paling tampan.”
“ Kau baru sadar sekarang.”
Haha, dia benar-benar masih kesal ya. Bisa gawat kalau tetap di tempat
tidur.
Daniah mulai berfikir untuk membujuk Saga supaya makan malam di bawah
bersama dengan yang lain. Karena setelah tidur badannya sudah segar kembali.
“ Niah.”
“ Ia sayang, kita turun yuk. Aku sudah tidak lelah kok, kan sudah tidur
tadi.”
Bukannya bangun, Saga memilih menjatuhkan tubuh berbaring. Dia menepuk
dadanya, agar Daniah menyandarkan kepala di sana.
“ Apa keluargamu memperlakukanmu dengan baik?” Tanyanya kemudian setelah
kepala Daniah bersandar. Seperti biasa membelai kepala Daniah dan mulai
memainkan jari-jari di rambut istrinya.
Huh! Padahal kau sudah tahu semuanya.
“ Semua baik padaku sayang, sungguh. Ayah menitipkan salam dan
berterimakasih untuk semua hadiahmu. Apa kau bisa datang nanti?”
“ Tidak.”
Cepat sekali menjawabnya, bahkan kau tidak memikirkannya dulu. Padahal
keluargaku sangat berharap. Tapi aku tidak bisa memaksamukan.
“ Kau pasti sibuk ya.” Bagaimanapun membuat suaminya berbaur dengan
keluarganya itu sesuatu yang tidak mungkin. Walaupun Daniah masih berharap akan
ada kejutan nanti seperti halnya saat ulang tahun ayahnya. Tapi dia tidak
terlalu berharap, karena di pesta pernikahan nanti akan jauh lebih banyak tamu
undangan dan juga media. Dan Saga membenci itu semua.
Saga memindahkan kepala Daniah dengan hati-hati ke atas bantal. Lalu dia
bagun dan duduk. Meraih kaki Daniah.
Eh, dia mau apa?
“ Sayang mau apa?” Kalau Saga melakukan sesuatu tanpa bicara terkadang
bagi Daniah sikap suaminya ini masih sedikit menakutkan dan membuat orang
terkejut. Karena marahnya juga sering kali muncul tiba-tiba dengan alasan tidak masuk akal.
“ Memijat kakimu, kau pasti lelahkan.” Mendongakan kepala. “ Setelah
bersenang-senang dengan adik kesayanganmu.” Memindahkan kaki ke pangkuannya. Dan mulai memberikan pijatan lembut.
Huh! Sorot mata dendamnya masih membara! Dasar manusia paling cemburuan sejagad raya.
“ Bagaimana enak?” Meneruskan memijat tanpa ada gerakan aneh sedikitpun. Layaknya tukang pijat pada umumnya.
“ Ia sayang, teruskan. Nah dibagian situ, nyaman sekali.” Giliran yang dipijat mulau ngelunjak. Minta macam-macam.
“ Wahhh, wahhh kau mulai kurang ajar ya. Main memerintah seenaknya.”
Daniah menjentikan jari di dagu Saga sambil mengedipkan mata. Sebagai wujud rasa terimakasihnya.
“ Kau mau apa?” ketika melihat Daniah mengambil hp di meja.
__ADS_1
“ Aku mau memoretmu sayang. Saat kau memijat begitu kau terlihat seratus
kali lebih tampan dari bisanya.” Ucap Daniah sambil tertawa, lalu seperti apa
yang dia katakan dia benar-benar mengambil gambar Saga saat sedang menjadi
tukang pijat.
“ Kau benar-benar kurang ajar ya.” Tapi dia membiarkan Daniah mengambil
foto sebanyak yang dia mau. Sambil masih meneruskan pijatan dikakinya. “ Sudah!
kau kenakan ya.” Mendorong kaki dari pangkuannya.
“ Haha, terimakasih sayang.”
“ Lihat hpmu sini.” Menyambar hp yang masih dipegang Daniah. Dia sedang
melihat foto tukang pijat dadakan.
Daniah mulai terlihat berfikir keras saat Saga memegang hpnya.
Tidak ada pesan terlarang di hpkukan? Aaaaa, kenapa aku berdebar ya.
“ Niah.”
Aaaaa, dia menemukan apa lagi?
“ Ia sayang.” Perlahan ingin meminta hpnya kembali, tapi refleks tangan
Saga menjauhkan benda itu.
“ Sampai kapan kau mau menyimpan namaku dengan nama ini hah!” Menunjukan
layar depan hp dimana tertera namanya di sana. Yang mulia raja. “ Kau simpan
adikmu dengan nama apa?" Dengan nada suara sedikit kesal, Saga menduga panggilan sayang pastinya.
Aaaaaa, aku tidak mau menjawab.
“ Jawab!”
“ Adik kesayanganku.” Pelan menjawab akhirnya.
“ Sayang, itukan nama yang aku simpan dulu, aku belum sempat
mengantinya.” Saat Saga masih menjadi raja tak terbantahkan, saat pernikahan
mereka berada di bawah ikatan selembar kontrak mematikan.
“ cih!”
“ Kemarikan hpku biar aku ganti ya.” Masih berusaha merebut hp di tangan suaminya.
“ Seharusnya kau simpan namaku dengan benar. Suami tersayangku,cintaku,
atau suami tampanku. Itu baru benar.” Mengerutu, sambil masih memeriksa pesan yang ada di hp Daniah satu persatu.
“ Ia, ia. Sini biar aku ganti. Eh tunggu.” Daniah bangun dan duduk di
samping Saga. Merapikan rambut. “ Kalau aku, kamu simpan namaku sebagai apa di hpmu?”
Haha, kau memojokanku begini, aku mau lihat kau simpan apa namaku di hpmu tuan muda.
“ Apa lagi memang.” Meraih ujung rambut Daniah. Memberi kode jawaban.
“ Jangan-jangan kamu simpan namaku dengan nama si keriting jelek?”
berteriak protes. Karena menduga Saga akan menitik beratkan pada rambut yang selalu dimainkannya tanpa bosan itu.
“ Kau pintar juga rupanya.” Mengalihkan pandangan dari hp.
“ Dasar! Mana hpmu?” Merangkak menuju laci. Benda kecil itu tidak
berkedip. “ Hpmu mati sayang.” Meraihnya lalu dihidupkan. “ Eh menyala, buka!” Menyodorkan ke depan wajah.
“ Geser saja, nggak dikunci.”
Apa! bahkan hp presdir Antarna Group tanpa pengamanan standar.
Benda kecil diujung hp kini menyala, berkedip bersamaan dengan milik
Daniah.
__ADS_1
“ Sayang seharusnya kan kamu kunci hp, gimana kalau hilang. Memang benda
ini gak penting apa. Eh ini foto kita kapan ya?” layar depan menampilkan foto mereka di pantai saat sedang berciuman. " Dasar sekertaris Han sempat-sempatnya ambil foto beginian."
“ Han menjaga hp itu dengan nyawanya.”
Cih, alasan apa itu. Terserahlah, cari-cari namaku. Apa tadi keriting
jelek. Tidak ada. Si jelek, tidak ada juga. Istri keritingku mungkin ya.
Aaaaaa, tidak ada juga. Keriting-keriting, tidak ada juga.
Daniah sibuk dengan hp Saga, dengan wajah yang berubah-ubah ekspresi, membuat laki-laki itu tertawa.
“ Kenapa tidak ketemu?”
“ Keriting jelek tidak ada juga, kamu simpan sebagai apa sayang.” Menyerah.
“ Bodoh! Kaukan bisa ketik nomormu sendiri, nantikan muncul.” Balasnya tertawa membuat orang kesal.
“ Ah ia juga ya, kenapa tidak kepikiran.”
“ Wahh seharusnya aku menyimpan namamu jadi si jelek bodoh ya.”
Daniah merengut. Lalu mulai mengetikan nomor yang ia hafal di luar
kepala. Selesai, munculah di layar hp. Dia diam tergugu menatap layar
ponselnya.
“ Benar, ini namaku yg kamu simpan sejak dulu sayang.”
“ Kenapa? Kau terharu.” Menyentuh ujung bibir Daniah sambil tersenyum.
Aaaaaa, inikan curang namaanya. Inikan bahkan sebelum aku mulai jatuh
cinta paadamu. Inikan sebelum kau memperlakukanku dengan baik.
“ Wahhh, kau terharu rupanya ya. Sekarang kau tahu sebanyak apa aku
mencintaimu?” Daniah menjatuhkan hp di tangannya. Menghambur dalam pelukan
Saga. Meraih bibir suaminya lebih dulu.
Layar hp Saga masih menyala, tertera sebuah nama di sana. Curly
kesayangganku dengan tanda hati merah.
***
" Tuan muda, saya membawa makan malam. Apa saya boleh masuk?" Ketukan pintu membuat Daniah langsung menarik selimut menutupi tubuhnya. Dia bawa berlari menuju ruang ganti baju. Terdengar dia membanting pintu keras karena terburu-buru.
" Hati-hati, kau bisa tersandung nanti." Saga hanya tertawa sambil memakai baju yang dia pakai tadi. " Masuklah pak!"
Pak Mun masuk dan meletakan nampan berisi makanan dengan rapi di atas meja.
" Apa ada lagi yang anda butuhkan tuan?"
" Terimakasih pak, keluarlah. Kau bisa istirahat sekarang, aku tidak akan keluar kamar lagi." Pak Mun menggangukan kepala. Dia terlihat tersenyum lega, karena melihat suasana hati Saga jauh berubah dari saat ia masuk ke kamar tadi.
Daniah mengintip keluar, saat Pak Mun sudah menutup pintu dia keluar dari ruang ganti baju. Sudah memakai baju rumahnya. Dia langsung duduk di samping suaminya.
" Kau lapar?"
" Ia. Ayo makan. Wahh sepertinya enak." Daniah melihat makanan yang ada di piring, dia mengambil potongan buah untuk menyegarkan mulut. Lalu mengambil makanan utama, menariknya ke depannya. "Sayang, kamu mau yang mana?" Mengambil piring Saga dan meletakan nasi di atasnya. " Mau lauk yang mana?"
" Berikan sendokmu!" Tangannya sudah menggantung di udara.
Eh kenapa dengan sendokku, kamukan punya sendok.
Tapi sebelum dia meminta untu kedua kalinya diserahkan sendok ditangannya. Mata Daniah mengeryit ketika Saga menjatuhkan sendok itu ke lantai. Dia sengaja melepaskan dari gengamannya.
" Eh maaf jatuh ya." Menatap sedih sendok di lantai. " Kalau begitu makan malam hari ini kita berbagi sendok ya, sini biar aku yang menyuapimu."
Apa! Dia masih menyimpan dendam! Daniah berteriak keras dalam hati. Dia belum akan puas sebelum membalasku perihal berbagi sendok dengan Raksa.
" Kenapa? tidak mau?" sudah mengambil sesuap nasi, memasukan kemulutnya duluan dari piring Daniah. Lalu mengambil lagi, menyodorkan ke depan mulut Daniah sekarang. " Ayo makan!"
Haha, ia tuan muda, terserah padamu! Daniah membuka mulutnya.
Bibir ini hanya milikku. Menggigit sendok dengan kekanakan sambil menatap Daniah dengan senyum penuh arti.
Ia, terserah padamu suami kesayanganku
__ADS_1
bersambung