Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
124. Kencan (Part 1)


__ADS_3

Ketika seseorang merasa dicintai


dia akan jauh lebih bisa merasa positif dalam melakukan apa pun. Walaupun sampai


hari ini Daniah belum sekalipun mendengar pengakuan Saga tentang perasaannya. Namun


karena dia merasa dicintai, dia sudah merasa itu lebih dari cukup. Untuk saat


ini, dia tidak akan serakah. Menuntut apa pun dari Saga.


Seminggu hampir berlalu. Masa


percobaan bisa di lewati Daniah dengan sukses. Dalam kurun waktu itu tidak tahu


apa yang membuatnya bisa sepatuh itu. Tapi dia benar-benar menuruti apa yang di


katakan Saga tanpa banyak bicara. Saking curiganya sampai Saga memeriksa


makanan apa yang di berikan Pak Mun pada istrinya. Apa ada indikasi pak Mun


memberikan makanan penghilang kesadaran. Nihil.  Makanan yang di berikan Pak Mun sudah sesuai


standar ahli gizi yang bekerja pada keluarganya. Sepertinya gadis itu mulai


menjalani perannya sebagai istri dengan baik.


“Karena kau sudah sepatuh ini,


baiklah hukumanmu selesai. Kamu bisa bebas keluar rumah lagi seperti biasa.”


Mereka tiduran di atas tempat tidur saling berpelukan, setelah menyelesaikan


dan menuntaskan gairah mereka masing-masing. Daniah menarik selimut sampai ke


lehernya karena sudah tidak memakai apa pun.


“ Terimakasih sayang.” Memeluk Saga erat.


Akhirnya, aku bisa keluar dari


rumah. Hiks. Aku kangen cilok di dekat ruko. Aku kangen Tika juga.


“Hemm.” Mengusap kepala Daniah


pelan.


“Terimakasih sayang, jadi mulai


besok aku sudah bisa mulai bekerja lagi kan.” Antusias. Memikirkan cilok dan


semua rutinitas harian di ruko.


“Besok akhir pekan kan?”


Duarrr, cilok ku. Semangkok cilok


bersayap terbang tinggi ke angkasa. Membuat Daniah menitikkan air mata dalam


hatinya.


Kenapa dia curang sekali,


membebaskan hukumanku di akhir pekan. Jelas-jelas akhir pekan aku harus


bersamanya di mana pun dia berada. Apalagi saat dia ada di rumah.


“Ah ia, aku akan di rumah dan


tidak ke mana-mana. Apa kamu ada acara sayang?”


Pergilah! Tolonglah ada acara


penting. Aku tidak mau seharian bersamamu lagi.


“Ayo kita kencan.”


“Kencan?” Kaget. Kosa kata yang


sangat mahal harganya untuk Daniah. Baginya kencan adalah barang mahal yang


hanya menghamburkan uang. Karena dia bukan tipe wanita yang mau dibayarin oleh


teman kencannya. Jadi setiap pergi keluar kencan mereka akan membayar


masing-masing. Kenapa? Toh tidak ada salahnya kalau laki-laki yang keluar uang


kan. Memang, namun bagi Daniah hati mereka berdua belum terlalu jauh terikat


untuk sampai tergantung sejauh itu.


Tiga kali dia berkencan, hubungan


mereka memang masuk kategori cukup serius. Namun dia tidak mau terlalu


tergantung, karena antara mereka belum terikat hubungan apa-apa. dia sadar itu,


hubungan keluarganya yang terikat darah pun belum cukup membuatnya


menggantungkan diri pada keluarganya. Apalagi hanya sebatas pacaran dan teman


kencan. Mereka hanyalah dua orang asing yang berusaha mencari tahu satu sama


lain, untuk meningkatkan ke hubungan yang lebih dekat lagi. Belum ada ikatan apa pun yang terjalin.


Apa dia mau kencan ala manusia


normal atau ala Presdir Antarna Group.


“Kenapa sayang? Kenapa tiba-tiba


mengajakku kencan.”


“Hemm, sebagai hadiah kepatuhanmu


seminggu ini.” Bergumam pelan di telinga Daniah. “Kamu tidak mau?”


“Mau, mau aku mau.” Mulai waspada


kalau Saga mulai mengunakan kalimat tanya dalam kata-katanya.


Daniah terlihat berfikir secara


serius. Tentang tema kencan yang pas untuk dirinya dan Saga besok. Mereka masih


mengobrol lama sampai akhirnya Daniah terlelap dalam pelukan Saga. Laki-laki


itu mencium kening istrinya lalu ikut tenggelam dalam mimpi, sambil masih


memeluk istrinya.


***


Kencan ala rakyat biasa, Daniah


menyebutnya ala rakyat jelata seperti dirinya. Bukan kencan ala yang mulia raja


yang semua harus serba privat dan sendirian. Kali ini kencan terbuka. Daniah


ingin sekali memperkenalkan kehidupan masyarakat biasa pada Saga, walaupun


maksud terselubungnya ingin menjahili Saga seharian. Hehe.


Apa! memang ada rakyat biasa yang


berkencan dengan penampilan seperti ini.


“Sayang, kamu salah kostum. Tidak


ada laki-laki biasa yang berkencan dengan dandanan seperti ini.” Daniah


melepaskan jas yang dipakai Saga. Lalu menarik tangan Saga masuk kembali ke ruang


ganti baju.


Kenapa dia nggak punya baju santai


si.

__ADS_1


Daniah membuka lemari, memeriksa


isinya satu persatu. Dia tidak menemukan apa pun yang dia cari.


“Hei, kamu mau apa?” Mulai protes


ketika Daniah membuka satu demi satu kancing kemeja yang dia pakai.


“Buka! Pakai yang ini saja.”


Daniah mengeluarkan pakaian semi formal dari dalam lemari. Kemeja lengan


pendek. Tidak terlihat terlalu mencolok. Cih, dia memalingkan muka. Sebenarnya


yang membuat Saga mencolok bukannya pakaiannya tapi wajahnya. Daniah bergumam


sambil merapikan lengan baju Saga.


“Apa-apaan ini, kenapa kamu


menggulung lenganku lagi, ini kan baju lengan pendek?” Protes dengan selera


norak Daniah.


“Haha, biar terlihat lebih santai


sayang. Sudah-sudah ayo keluar.” Daniah mendorong tubuh Saga dari ruang ganti.


Masih mendengarnya bicara dengan nada kesal, tapi dia tidak membongkar lengan


bajunya dan membiarkannya seperti itu.


Di depan tangga dia menarik baju


Daniah sampai gadis itu berhenti kaget.


“Ambil topi sana!” memegang Dagu


Daniah memutarnya ke kanan dan ke kiri. Mengamati secara serius.


“Buat apa?” Menurut saja ketika


wajahnya bergoyang ke kanan dan ke kiri.


“Buat menutupi wajahmu. Penampilanmu ini mencolok sekali. Lihat wajahmu. “ Memegang dagu Daniah lagi. “Lihat


rambutmu.” Memegang rambut.


Aku bisa gila karena emosi nanti


kalau sampai ada yang melirikmu. Saga ingin berteriak begitu. Tapi dia hanya


menatap tajam saja.


Memang kenapa dengan penampilanku,


aku kan sudah memakai riasan senatural mungkin, menyisir rambutku dengan rapi.


“Tutupi itu semua, kamu mau


menggoda siapa dengan penampilanmu itu?”


Apa! jelas-jelas wajahmu itu yang


terlalu mencolok untuk masuk kategori manusia biasa.


 Dan siapa yang akan tergoda dengan wajahku begini.


“Ambil topi sana, atau kita


batalkan kencan. Lebih enak tidur seharian di kamar sambil memelukmu.” Ancaman


mematikan.


“Aaaaa, ia, ia, aku ambil topi


sebentar ya sayang. Kamu tunggu di bawah ya.” Daniah berbalik ke kamar. Dia


belum pernah menemukan topi atau sejenisnya ada di lemarinya. Tapi sepertinya


saja ada pikir Daniah. Dan benar saja dia menemukan banyak sekali topi di


lemari kaca bagian atas.


Kenapa aku tidak pernah melihat ini


ya. Ini tidak muncul baru saja karena aku mencari topi kan. Haha, memang ini


dunia fantasi apa.


Daniah memilih dua topi dengan


warna hitam. Kalau-kalau suaminya mau pakai juga. Langsung keluar, takut yang mulia mulai kesal karena disuruh


menunggu. Dia hanya memegang topi itu di tangannya, tidak memakainya. Saat


menyusuri tangga dia mendengar suara Sekretaris Han. Sedang terlibat


pembicaraan dengan Saga. Sepertinya mereka sedang membicarakan tentang


perusahaan.


Daniah mendekat, langsung berdiri


di samping Saga.


“Dia tidak ikut kan?” menunjuk


Sekretaris Han. “Kita kan mau kencan ala rakyat biasa seperti janjimu, jadi


kita ikuti aturan mainku kan,” bertanya lagi.


“Terus mau kita jalan kaki sambil


bergandengan tangan keluar rumah. Sampai besok juga tidak akan keluar dari


kompleks.” Menjawab panjang sekali, tapi jawabannya juga menyebalkan.


Memang si, kawasan elite ini luas


sekali.


“Bukan begitu sayang, kita kan


bisa naik angkutan umum. Naik taksi online.” Begitulah biasanya anak muda kencan


tuan muda. Cukup dengan modal seadanya. Jalan bergandengan berdua.


“Hei, jangan sembarangan ya. Memang


siapa yang mengizinkanmu naik mobil dengan orang asing. Aku tidak suka


melihatmu berbagi udara dengan laki-laki asing dalam satu ruangan.”


Apa! dia ini mulai kambuh gilanya.


Bisa-bisanya hal beginian  dia pikirkan. Berbagi udara, dapat kosa kata dari mana si dia.


Daniah kehabisan kata-kata membalasnya,


dia hanya menatap Sekretaris Han kesal. Kalau sampai dia ikut, kencan ala


rakyat biasa mustahil bisa terlaksana. Jangankan bisa mengerjai Saga.


Jangan-jangan dia yang akan dikerjai lebih-lebih nanti.


“Kalau begitu anggap saja saya


taksi online tuan muda. Saya akan mengantar kencan kalian kemanapun, tanpa


mengganggu Anda.”


Daniah terlihat berfikir, menatap


Han. Ide apa itu, jelas-jelas kamu Sekretaris Han. Yang bisa disuruh melakukan


apa pun oleh Saga.

__ADS_1


“Benar juga, anggap saja begitu.” Menjawab


senang. Saga menyukai ide itu. Dia menepuk bahu Han dengan penuh kebanggaan.


Bagaimana bisa dianggap begitu,


kenapa untuk hal beginian kalian kompak sekali si.


“Baiklah, tapi janji jangan


mengganggu kencan kami ya.” Daniah melingkarkan tangan di lengan Saga. “Hari


ini dia hanya suamiku, bukan Presdir Antarna Group.” Lelaki biasa yang tidak


akan melemparkan uang ke arena bermain lalu mengatakan kepada pemiliknya. Aku


hanya mau berdua dengan wanitaku di sini, usir pengunjung yang lain. Aaaa


memikirkan hal begituan sudah membuat Daniah merinding.


“Tentu saja nona, saya hanya akan


menjadi supir taksi online Anda.”


***


“Sayang hentikan.” Daniah


mendorong tubuh Saga yang menempel di sampingnya. Bukan hanya menempelkan


tubuh, bibir dan tangannya  juga sibuk


beraktivitas. “Dia melihat kita nanti. “ Daniah menunjuk kursi pengemudi yang


sedang fokus membawa kendaraan.


“Pak sopir apa kau melihat kami


sekarang, melihat apa yang kulakukan pada istriku.” Saga tidak tahu malu


bertanya.


“Tidak tuan.” Menjawab singkat dan


terus fokus mengemudi. Han memang tidak sedikit pun melirik kaca spion. Dia memang


tidak melihat tapi kan dia mendengar kali. Dia kan tidak tuli.


Saga tersenyum pada Daniah. “ Dia


tidak melihat kan.”


Ya iya, dia tidak melihat tapi dia


kan dengar!


“Pak sopir apa kamu keberatan aku


mencium istriku di sini.” bertanya lagi pada sopir taksi onlinenya.


“Tentu saja tidak Tuan, silahkan


lakukan apa pun yang kalian inginkan.”


Apa kalian sedang main


sopir-sopiran sekarang. Dan mana ada sopir yang menjawab begituan. Kalau kamu


benar sopir taksi online kami pasti sudah di seret ke luar dari kendaraan.


“Sayang hentikan.” Mendorong wajah


Saga dengan kedua tangannya.


“Cih, lihatlah baru sehari aku


menghapus masa hukumanmu kamu sudah kurang ajar begini.”


Apa! siapa yang berani kurang ajar


padamu tuan muda. Kamu kan yang isengnya kelewatan.


“Sayang, bukan begitu.” Menarik


tangan Saga. “Kamu boleh menciumku di manapun kamu mau, di sini.” Menunjuk


lehernya. “Di sini.” Menunjuk pipinya. Dan seterusnya sampai semua anggota


tubunya tertunjuk. “Lakukanlah sebanyak yang kamu inginkan.” Menyerah kalah.


Sudah gila ya! Kenapa kau mencium semua


bagian yang aku sebutkan tadi.


Setelah selesai dengan kelakuannya,


Saga memeluk Daniah dan menyadarkan kepalanya di bahu gadis itu. Daniah hanya


menepuk-nepuk kepala Saga lembut. Kehabisan kata-kata.


“Pak sopir, apa kau ada pekerjaan


setelah mengantar kami.”Saga bicara pada sopirnya lagi, masih menyandarkan


kepalanya.


“Tidak tuan.” Han menjawab singkat.


“Kalau begitu aku mau menyewa


mobil ini seharian. Hari ini aku mau kencan dengan istriku, jadi aku mau


memakai mobil ini mengantar ke mana kami pergi. ”


“Baik Tuan. Saya akan matikan


aplikasi. Saya akan mengantar kalian ke mana saja.” Menghayati perannya sebagai


sopir taksi online.


“Haha, sudah cukup. Kalian ini


sedang main drama sopir-sopiran ya.” Daniah tidak bisa menahan tawanya


mendengar percakapan kedua orang yang saling memahami itu. Yang satu aneh yang


satunya selalu mengganggap keanehan tuannya sesuatu yang harus dilindungi. Jadi


dia benar-benar tahu harus melakukan apa.


“Pak sopir siapa nama Anda?”


Daniah ingin ikut main drama.


“Jangan bicara dengannya.” Memeluk


tubuh Daniah semakin erat. “Aku tidak mau kamu bicara dengan orang asing.”


Bagaimana aku bisa terlibat dengan


dua orang aneh ini si.


Mobil memasuki area parkir mall.


Akhir pekan semakin ramai. Terlihat dari antrian di pintu masuk. Daniah dan


Saga turun dari mobil. Memasuki pintu mall. Ramai sekali pengunjung. Mereka terlihat


gembira. Ada yang saling bergandengan tangan.  Para orang tua yang sibuk berteriak pada


anak-anak mereka agar tidak lepas dari pengawasan. Daniah pun demikian,


menggandeng tangan Saga erat. Memakai topinya dan  menarik nafas panjang.


Kencan pertamaku dengan suamiku.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2