
Ketika seseorang merasa dicintai
dia akan jauh lebih bisa merasa positif dalam melakukan apa pun. Walaupun sampai
hari ini Daniah belum sekalipun mendengar pengakuan Saga tentang perasaannya. Namun
karena dia merasa dicintai, dia sudah merasa itu lebih dari cukup. Untuk saat
ini, dia tidak akan serakah. Menuntut apa pun dari Saga.
Seminggu hampir berlalu. Masa
percobaan bisa di lewati Daniah dengan sukses. Dalam kurun waktu itu tidak tahu
apa yang membuatnya bisa sepatuh itu. Tapi dia benar-benar menuruti apa yang di
katakan Saga tanpa banyak bicara. Saking curiganya sampai Saga memeriksa
makanan apa yang di berikan Pak Mun pada istrinya. Apa ada indikasi pak Mun
memberikan makanan penghilang kesadaran. Nihil. Makanan yang di berikan Pak Mun sudah sesuai
standar ahli gizi yang bekerja pada keluarganya. Sepertinya gadis itu mulai
menjalani perannya sebagai istri dengan baik.
“Karena kau sudah sepatuh ini,
baiklah hukumanmu selesai. Kamu bisa bebas keluar rumah lagi seperti biasa.”
Mereka tiduran di atas tempat tidur saling berpelukan, setelah menyelesaikan
dan menuntaskan gairah mereka masing-masing. Daniah menarik selimut sampai ke
lehernya karena sudah tidak memakai apa pun.
“ Terimakasih sayang.” Memeluk Saga erat.
Akhirnya, aku bisa keluar dari
rumah. Hiks. Aku kangen cilok di dekat ruko. Aku kangen Tika juga.
“Hemm.” Mengusap kepala Daniah
pelan.
“Terimakasih sayang, jadi mulai
besok aku sudah bisa mulai bekerja lagi kan.” Antusias. Memikirkan cilok dan
semua rutinitas harian di ruko.
“Besok akhir pekan kan?”
Duarrr, cilok ku. Semangkok cilok
bersayap terbang tinggi ke angkasa. Membuat Daniah menitikkan air mata dalam
hatinya.
Kenapa dia curang sekali,
membebaskan hukumanku di akhir pekan. Jelas-jelas akhir pekan aku harus
bersamanya di mana pun dia berada. Apalagi saat dia ada di rumah.
“Ah ia, aku akan di rumah dan
tidak ke mana-mana. Apa kamu ada acara sayang?”
Pergilah! Tolonglah ada acara
penting. Aku tidak mau seharian bersamamu lagi.
“Ayo kita kencan.”
“Kencan?” Kaget. Kosa kata yang
sangat mahal harganya untuk Daniah. Baginya kencan adalah barang mahal yang
hanya menghamburkan uang. Karena dia bukan tipe wanita yang mau dibayarin oleh
teman kencannya. Jadi setiap pergi keluar kencan mereka akan membayar
masing-masing. Kenapa? Toh tidak ada salahnya kalau laki-laki yang keluar uang
kan. Memang, namun bagi Daniah hati mereka berdua belum terlalu jauh terikat
untuk sampai tergantung sejauh itu.
Tiga kali dia berkencan, hubungan
mereka memang masuk kategori cukup serius. Namun dia tidak mau terlalu
tergantung, karena antara mereka belum terikat hubungan apa-apa. dia sadar itu,
hubungan keluarganya yang terikat darah pun belum cukup membuatnya
menggantungkan diri pada keluarganya. Apalagi hanya sebatas pacaran dan teman
kencan. Mereka hanyalah dua orang asing yang berusaha mencari tahu satu sama
lain, untuk meningkatkan ke hubungan yang lebih dekat lagi. Belum ada ikatan apa pun yang terjalin.
Apa dia mau kencan ala manusia
normal atau ala Presdir Antarna Group.
“Kenapa sayang? Kenapa tiba-tiba
mengajakku kencan.”
“Hemm, sebagai hadiah kepatuhanmu
seminggu ini.” Bergumam pelan di telinga Daniah. “Kamu tidak mau?”
“Mau, mau aku mau.” Mulai waspada
kalau Saga mulai mengunakan kalimat tanya dalam kata-katanya.
Daniah terlihat berfikir secara
serius. Tentang tema kencan yang pas untuk dirinya dan Saga besok. Mereka masih
mengobrol lama sampai akhirnya Daniah terlelap dalam pelukan Saga. Laki-laki
itu mencium kening istrinya lalu ikut tenggelam dalam mimpi, sambil masih
memeluk istrinya.
***
Kencan ala rakyat biasa, Daniah
menyebutnya ala rakyat jelata seperti dirinya. Bukan kencan ala yang mulia raja
yang semua harus serba privat dan sendirian. Kali ini kencan terbuka. Daniah
ingin sekali memperkenalkan kehidupan masyarakat biasa pada Saga, walaupun
maksud terselubungnya ingin menjahili Saga seharian. Hehe.
Apa! memang ada rakyat biasa yang
berkencan dengan penampilan seperti ini.
“Sayang, kamu salah kostum. Tidak
ada laki-laki biasa yang berkencan dengan dandanan seperti ini.” Daniah
melepaskan jas yang dipakai Saga. Lalu menarik tangan Saga masuk kembali ke ruang
ganti baju.
Kenapa dia nggak punya baju santai
si.
__ADS_1
Daniah membuka lemari, memeriksa
isinya satu persatu. Dia tidak menemukan apa pun yang dia cari.
“Hei, kamu mau apa?” Mulai protes
ketika Daniah membuka satu demi satu kancing kemeja yang dia pakai.
“Buka! Pakai yang ini saja.”
Daniah mengeluarkan pakaian semi formal dari dalam lemari. Kemeja lengan
pendek. Tidak terlihat terlalu mencolok. Cih, dia memalingkan muka. Sebenarnya
yang membuat Saga mencolok bukannya pakaiannya tapi wajahnya. Daniah bergumam
sambil merapikan lengan baju Saga.
“Apa-apaan ini, kenapa kamu
menggulung lenganku lagi, ini kan baju lengan pendek?” Protes dengan selera
norak Daniah.
“Haha, biar terlihat lebih santai
sayang. Sudah-sudah ayo keluar.” Daniah mendorong tubuh Saga dari ruang ganti.
Masih mendengarnya bicara dengan nada kesal, tapi dia tidak membongkar lengan
bajunya dan membiarkannya seperti itu.
Di depan tangga dia menarik baju
Daniah sampai gadis itu berhenti kaget.
“Ambil topi sana!” memegang Dagu
Daniah memutarnya ke kanan dan ke kiri. Mengamati secara serius.
“Buat apa?” Menurut saja ketika
wajahnya bergoyang ke kanan dan ke kiri.
“Buat menutupi wajahmu. Penampilanmu ini mencolok sekali. Lihat wajahmu. “ Memegang dagu Daniah lagi. “Lihat
rambutmu.” Memegang rambut.
Aku bisa gila karena emosi nanti
kalau sampai ada yang melirikmu. Saga ingin berteriak begitu. Tapi dia hanya
menatap tajam saja.
Memang kenapa dengan penampilanku,
aku kan sudah memakai riasan senatural mungkin, menyisir rambutku dengan rapi.
“Tutupi itu semua, kamu mau
menggoda siapa dengan penampilanmu itu?”
Apa! jelas-jelas wajahmu itu yang
terlalu mencolok untuk masuk kategori manusia biasa.
Dan siapa yang akan tergoda dengan wajahku begini.
“Ambil topi sana, atau kita
batalkan kencan. Lebih enak tidur seharian di kamar sambil memelukmu.” Ancaman
mematikan.
“Aaaaa, ia, ia, aku ambil topi
sebentar ya sayang. Kamu tunggu di bawah ya.” Daniah berbalik ke kamar. Dia
belum pernah menemukan topi atau sejenisnya ada di lemarinya. Tapi sepertinya
saja ada pikir Daniah. Dan benar saja dia menemukan banyak sekali topi di
lemari kaca bagian atas.
Kenapa aku tidak pernah melihat ini
ya. Ini tidak muncul baru saja karena aku mencari topi kan. Haha, memang ini
dunia fantasi apa.
Daniah memilih dua topi dengan
warna hitam. Kalau-kalau suaminya mau pakai juga. Langsung keluar, takut yang mulia mulai kesal karena disuruh
menunggu. Dia hanya memegang topi itu di tangannya, tidak memakainya. Saat
menyusuri tangga dia mendengar suara Sekretaris Han. Sedang terlibat
pembicaraan dengan Saga. Sepertinya mereka sedang membicarakan tentang
perusahaan.
Daniah mendekat, langsung berdiri
di samping Saga.
“Dia tidak ikut kan?” menunjuk
Sekretaris Han. “Kita kan mau kencan ala rakyat biasa seperti janjimu, jadi
kita ikuti aturan mainku kan,” bertanya lagi.
“Terus mau kita jalan kaki sambil
bergandengan tangan keluar rumah. Sampai besok juga tidak akan keluar dari
kompleks.” Menjawab panjang sekali, tapi jawabannya juga menyebalkan.
Memang si, kawasan elite ini luas
sekali.
“Bukan begitu sayang, kita kan
bisa naik angkutan umum. Naik taksi online.” Begitulah biasanya anak muda kencan
tuan muda. Cukup dengan modal seadanya. Jalan bergandengan berdua.
“Hei, jangan sembarangan ya. Memang
siapa yang mengizinkanmu naik mobil dengan orang asing. Aku tidak suka
melihatmu berbagi udara dengan laki-laki asing dalam satu ruangan.”
Apa! dia ini mulai kambuh gilanya.
Bisa-bisanya hal beginian dia pikirkan. Berbagi udara, dapat kosa kata dari mana si dia.
Daniah kehabisan kata-kata membalasnya,
dia hanya menatap Sekretaris Han kesal. Kalau sampai dia ikut, kencan ala
rakyat biasa mustahil bisa terlaksana. Jangankan bisa mengerjai Saga.
Jangan-jangan dia yang akan dikerjai lebih-lebih nanti.
“Kalau begitu anggap saja saya
taksi online tuan muda. Saya akan mengantar kencan kalian kemanapun, tanpa
mengganggu Anda.”
Daniah terlihat berfikir, menatap
Han. Ide apa itu, jelas-jelas kamu Sekretaris Han. Yang bisa disuruh melakukan
apa pun oleh Saga.
__ADS_1
“Benar juga, anggap saja begitu.” Menjawab
senang. Saga menyukai ide itu. Dia menepuk bahu Han dengan penuh kebanggaan.
Bagaimana bisa dianggap begitu,
kenapa untuk hal beginian kalian kompak sekali si.
“Baiklah, tapi janji jangan
mengganggu kencan kami ya.” Daniah melingkarkan tangan di lengan Saga. “Hari
ini dia hanya suamiku, bukan Presdir Antarna Group.” Lelaki biasa yang tidak
akan melemparkan uang ke arena bermain lalu mengatakan kepada pemiliknya. Aku
hanya mau berdua dengan wanitaku di sini, usir pengunjung yang lain. Aaaa
memikirkan hal begituan sudah membuat Daniah merinding.
“Tentu saja nona, saya hanya akan
menjadi supir taksi online Anda.”
***
“Sayang hentikan.” Daniah
mendorong tubuh Saga yang menempel di sampingnya. Bukan hanya menempelkan
tubuh, bibir dan tangannya juga sibuk
beraktivitas. “Dia melihat kita nanti. “ Daniah menunjuk kursi pengemudi yang
sedang fokus membawa kendaraan.
“Pak sopir apa kau melihat kami
sekarang, melihat apa yang kulakukan pada istriku.” Saga tidak tahu malu
bertanya.
“Tidak tuan.” Menjawab singkat dan
terus fokus mengemudi. Han memang tidak sedikit pun melirik kaca spion. Dia memang
tidak melihat tapi kan dia mendengar kali. Dia kan tidak tuli.
Saga tersenyum pada Daniah. “ Dia
tidak melihat kan.”
Ya iya, dia tidak melihat tapi dia
kan dengar!
“Pak sopir apa kamu keberatan aku
mencium istriku di sini.” bertanya lagi pada sopir taksi onlinenya.
“Tentu saja tidak Tuan, silahkan
lakukan apa pun yang kalian inginkan.”
Apa kalian sedang main
sopir-sopiran sekarang. Dan mana ada sopir yang menjawab begituan. Kalau kamu
benar sopir taksi online kami pasti sudah di seret ke luar dari kendaraan.
“Sayang hentikan.” Mendorong wajah
Saga dengan kedua tangannya.
“Cih, lihatlah baru sehari aku
menghapus masa hukumanmu kamu sudah kurang ajar begini.”
Apa! siapa yang berani kurang ajar
padamu tuan muda. Kamu kan yang isengnya kelewatan.
“Sayang, bukan begitu.” Menarik
tangan Saga. “Kamu boleh menciumku di manapun kamu mau, di sini.” Menunjuk
lehernya. “Di sini.” Menunjuk pipinya. Dan seterusnya sampai semua anggota
tubunya tertunjuk. “Lakukanlah sebanyak yang kamu inginkan.” Menyerah kalah.
Sudah gila ya! Kenapa kau mencium semua
bagian yang aku sebutkan tadi.
Setelah selesai dengan kelakuannya,
Saga memeluk Daniah dan menyadarkan kepalanya di bahu gadis itu. Daniah hanya
menepuk-nepuk kepala Saga lembut. Kehabisan kata-kata.
“Pak sopir, apa kau ada pekerjaan
setelah mengantar kami.”Saga bicara pada sopirnya lagi, masih menyandarkan
kepalanya.
“Tidak tuan.” Han menjawab singkat.
“Kalau begitu aku mau menyewa
mobil ini seharian. Hari ini aku mau kencan dengan istriku, jadi aku mau
memakai mobil ini mengantar ke mana kami pergi. ”
“Baik Tuan. Saya akan matikan
aplikasi. Saya akan mengantar kalian ke mana saja.” Menghayati perannya sebagai
sopir taksi online.
“Haha, sudah cukup. Kalian ini
sedang main drama sopir-sopiran ya.” Daniah tidak bisa menahan tawanya
mendengar percakapan kedua orang yang saling memahami itu. Yang satu aneh yang
satunya selalu mengganggap keanehan tuannya sesuatu yang harus dilindungi. Jadi
dia benar-benar tahu harus melakukan apa.
“Pak sopir siapa nama Anda?”
Daniah ingin ikut main drama.
“Jangan bicara dengannya.” Memeluk
tubuh Daniah semakin erat. “Aku tidak mau kamu bicara dengan orang asing.”
Bagaimana aku bisa terlibat dengan
dua orang aneh ini si.
Mobil memasuki area parkir mall.
Akhir pekan semakin ramai. Terlihat dari antrian di pintu masuk. Daniah dan
Saga turun dari mobil. Memasuki pintu mall. Ramai sekali pengunjung. Mereka terlihat
gembira. Ada yang saling bergandengan tangan. Para orang tua yang sibuk berteriak pada
anak-anak mereka agar tidak lepas dari pengawasan. Daniah pun demikian,
menggandeng tangan Saga erat. Memakai topinya dan menarik nafas panjang.
Kencan pertamaku dengan suamiku.
BERSAMBUNG
__ADS_1