
Di luar masih temaran, sisa gelap
malam belum memudar menyelimuti bumi. Mataharipun masih tertidur di
peraduannya. Masih membelai manusia dalam mimpi. Di kamar utama kedua orang itu
sudah terbangun. Saga terbangun karena mendengar gesekan tubuh Daniah.
“ Kenapa bangun? Di luar masih
gelap. Tidurlah lagi” Mencegah kaki Daniah yang sudah turun satu, dengan
menyilangkan kakinya. Gumaman masih keluar dari mulutnya. Walaupun mata Saga
masih terpejam malas. Dia masih ingin tidur lagi, dan tidak mau istrinya
beranjak dari sisinya.
“ Sayang, aku mau ke kamar mandi
sebentar.” Menepuk kaki, supaya Saga mengangkatnya.
Gumam-gumam, tidak tahu bicara apa.
“Cepat kembali.” Akhirnya diangkatnya kakinya, lalu menarik selimut lagi.
“ Ia, ia aku segera kembali.”
Mengusap kepala Saga sebelum beranjak. Meninggalkan jejak.
Setelah keluar dari kamar mandi
rasa kantuk Daniah sudah tersapu air. Tapi saat dilihatnya jendela, di luar
memang masih terlalu pagi. Masih gelap. Mungkin para pelayan saja yang sudah
bangun sepagi ini gumamnya. Di atas tempat tidur Saga sudah membuka matanya.
Kupikir dia tidur, ternyata tidak
ya. Tadinya aku mau diam-diam turun.
“ Kemari! Mau kemana kau?” Tahu apa
yang dipikirkan Daniah saat matanya melihat jendela dan pintu bergantian.
“ Haha, sayang. Bangun yuk, aku
sudah tidak mengantuk.” Kalau masih bergulingan di bawah selimut Daniah bisa
menduga apa yang akan terjadi. Bisa jadi Saga akan membatalkan jadwal paginya.
Melihat suaminya menepuk tempat tidur sambil menatap tajam, mau tidak mau
Daniah kembali juga. “ Memang masih mengantuk?” Tanyanya. Daniah memilih duduk bersandar
bantal. Sementara Saga menempel tepat di paha Daniah yang hanya berlapis tipis
baju tidur.
Daniah mengambil hpnya yang ada di
atas meja. Membuka beberapa pesan, ada pesan Raksa menanyakan kedatangannya
nanti. Dia membalasnya dengan cepat. Kalau tuan Saga mengizinkannya pulang.
Beberapa rencana langsung tersusun tentang apa yang ingin mereka lakukan.
“ Kau kirim pesan dengan siapa?”
Menarik ujung baju Daniah, Tersibak ke atas. Sekarang bibirnya menempel tanpa batas benang tipis
lagi. Daniah mulai merinding ketika kecupan mulai beraksi.
“ Haha, geli sayang.” Mengusap
kepala Saga agar berhenti. “ Kirim pesan dengan Raksa, hari ini rencananya mau
membeli beberapa barang untuk Risya.”
“ Kau senang sekali sepertinya ya?”
Haha, aku tidak perlu menjawabkan.
Nanti urusan jadi panjang lagi.
“ Terimakasih ya sudah mengizinkan
aku pulang.” Saga tidak menjawab dengan mulutnya tapi dengan tangannya. Daniah
memukul tangan itu sambil tertawa, tapi dia membiarkan suaminya melakukan apa
yang ia mau.
“ Sebenarnya tidak menduga kalau
Risya akan menikah. Kupikir dia akan mengejar karirnya di dunia entertrainer.”
Daniah membuka beberapa berita online yang mengabarkan pernikahan Risya dengan
seorang pengusaha. “Apa dia juga di jodohkan ya?” Bertanya pada dirinya
sendiri. Karena Saga juga tidak mungkin menanggapi. Dia melihat foto-foto Risya dan pengusaha itu di sosial medianya.
Tapi kalau melihat dari tabiatnya,
__ADS_1
kalau dia tidak suka, pasti dia akan menolak. Calon suaminya tampan juga si,
hehe. Ibu juga tidak mungkin memaksa anak kesayangannya kalau Risya tidak mau.
Pernikahan Risya sedikit mengulik
kembali kenangan di hati. Tentang pernikahannya sendiri. Dia yang harus terpaksa
menikahi tuan muda yang sama sekali tidak ia kenal. Jangankan berharap
dicintai, diperlakukan selayaknya wanita saja sudah cukup ketika memasuki rumah
utama ini. Orangtuanya yang melepaskan kepergiannya tanpa keraguan.
Ahh, semoga Risya bahagia dengan
pernikahannya ini. Baik di awal atau sampai akhir nanti.
Daniah tidak berharap sedikitpun, Risya akan melewati ujian awal pernikahan seperti yang ia rasakan bersama tuan Saga.
“ Niah!”
“ Aaaaa, kenapa mengigitku?” Daniah
berteriak sampai refleks memukul punggung Saga. Saat pikirannya sedang tengelam
tadi sepertinya dia tidak mendengar kalau suaminya bicara dan memanggilnya.
“ Punggungku sakit!” Katanya keras
dengan suara dibuat-buat.
Hah! Aku bahkan hanya memukulmu
pelan.
“ Maaf sayang, sakit ya?” usap-usap
punggung dengan lembut. “ Sudahkan?” Sebenarnya Daniah ingin mencubit punggung
itu. Karena tahu Saga hanya berakting. Diusapnya lagi. “ Sudah?”
“ Masih sakit! Minta cium biar
sembuh.”
Nahkan, rasa sakitmu itu
mengada-adakan?
Saga sudah memutar tubuhnya
membelakangi Daniah, akhirnya dia turun dari duduk, meletakan hpnya. Berbaring di belakang Saga sekarang.
“ Aaaa, sakit punggungku!”
punggung, Daniah bergumam tanpa suara. Dia menaikan baju tidur Saga. Lalu
memberi kecupan lembut di punggung suaminya tempat dia menepuk tanpa tenaga
tadi.
“ Lagi!”
Hei, kau memang pintar sekali ya
tuan muda, untuk modus beginian.
“ Padahal tadi kau juga mengigitku.
Sakit tahu! Huhu.” Ikut berakting sambil mengusap pahanya yang tergigit tadi.
“ Sakit? Mana yang sakit.” Daniah
sampai terkejut karena Saga langsung berbalik merespon. Dia bahkan langsung
bangun dan duduk di atasnya, bertumpu dengan kedua lututnya. “ Kakimu sakit, sini
kulihat!”
Hei, kenapa ini? Kenapa kau
seantusias itu.
“ Mau kucium berapa kali? 100 kali,
atau 200 kali.” Tidak perlu mendengar jawaban Daniah dia sudah beraksi.
“ Eh, sayang. Sudah! Sudah sembuh
kok, tidak sakit lagi.” Berusaha menahan kepala Saga. “ Sudah sembuh, sungguh.”
“ Hei, aku baru mau mengobatimu.
Jangan bergerak.”
Aaaaaa, kenapa aku kena lagi si.
“ Sayang sudah, kenapa bibirmu
kemana-mana sekarang.” Saga mendongakan kepala, tersenyum licik penuh
kemenangan.
“ Apa kau tidak pernah dengar
__ADS_1
tentang satu kesatuan tubuh, kalau satu bagian sakit bagian yang lain kadang
ikut sakit juga lho. Jadi aku akan mengobati semuanya.” Katanya tertawa lalu
meneruskan apa yang sudah dia mulai.
Kamu dapat pribahasa aneh itu
darimana tuan muda!
***
Akhirnya pagi ini jadwal mundur
dari yang ditentukan. Daniah meraih hpnya, mengetikan pesan kepada Raksa kalau
sepertinya dia akan terlambat nanti. Saga menarik lagi tubuh Daniah dalam
pelukannya, belum mau melepaskan.
“ Sayang, bangun! Kamu sudah
terlambat.”
“ Hemm. Sebentar lagi.” Ucapnya
tidak jelas karena bibirnya menempel di punggung Daniah.
Ya Tuhan ini manusia ya. Untung
kamu presdirnya ya, kalau kamu cuma karyawan biasa. Kau pasti sudah di depak dari kapan waktu.
Daniah mengalah dan berbalik,
memandang wajah suaminya yang masih malas membuka mata. Padahal dia sudah
terjaga.
“ Sayang, apa aku boleh bertanya?” Ingin memaksa Saga membuka mata dan bangun. Biasanya kalau kesal mendengar pertanyaannya yang aneh-aneh pasti akan membuat suaminya bangun.
“ Hemm.” Tapi jelas terdengar
malas, tahu kalau pertanyaan Daniah terkadang tidak penting ditanggapi. Saga
malah mulai mendekap Daniah lagi kearahnya, berharap istrinya diam.
“ Sayang, kenapa dulu kau memilih
menikahiku?”
Cih, lihatkan, kau selalu bicara
aneh-aneh. Bahkan sepagi ini.
“ Kenapa lagi.” Saga membuka mata. “
Karena kau jelek dan kampungan, dengan menikahimu akan membuat Helen kesal.” Jawabnya jujur tanpa filter apapun.
“ Cih, jujur sekali menjawabnya.” Memukul
dada Saga dengan keras. “ Bohong sedikit kenapa?” Daniah sudah berwajah masam.
“ Baiklah, aku ralat. Karena kau
cantik, seksi dan mempesona, aku jadi jatuh cinta pada pandangan pertama
denganmu.” Tersenyum tipis sambil menyelipkan rambut di belakang telinga. " Senangkan?"
“ Sayang, kau sedang membuat fitnah
terbesar dimuka bumi ini tahu.” Tangan kecilnya Daniah sudah memukul lagi. Kali ini berulang kali. Dengan mimik kesal.
“ Haha, tuhkan.” Meraih kepala
Daniah, menghujani pipi Daniah dengan ciuman. Lalu uyel-uyel pipi lagi, sampai ke leher juga. “ Kamu
mengemaskan sekali begini bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu coba.”
Apa-apaan si dia, mengesalkan
*sekaligus membuatku meleleh.*Cuma dengan kata-kata lagi.
Epilog
Han masuk ke dalam rumah, karena
sudah lebih dari sepuluh menit menunggu tidak melihat Saga keluar. Dia menuju
dapur, menjumpai pak Mun yang sedang menyiapkan makanan.
“ Apa tuan muda belum sarapan?” tanyanya saat melihat nampan berisi makanan.
“ Tuan muda dan nona belum keluar
dari kamar.”
“ Apa!” Han melihat jam tangaannya.
Cih, sebenarnya apa si yang mereka
lakukan berdua sampai sesiang ini.
Bersambung
__ADS_1