Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Kesatuan Tubuh


__ADS_3

Di luar masih temaran, sisa gelap


malam belum memudar menyelimuti bumi. Mataharipun masih tertidur di


peraduannya. Masih membelai manusia dalam mimpi. Di kamar utama kedua orang itu


sudah terbangun. Saga terbangun karena mendengar gesekan tubuh Daniah.


“ Kenapa bangun? Di luar masih


gelap. Tidurlah lagi” Mencegah kaki Daniah yang sudah turun satu, dengan


menyilangkan kakinya. Gumaman masih keluar dari mulutnya. Walaupun mata Saga


masih terpejam malas. Dia masih ingin tidur lagi, dan tidak mau istrinya


beranjak dari sisinya.


“ Sayang, aku mau ke kamar mandi


sebentar.” Menepuk kaki, supaya Saga mengangkatnya.


Gumam-gumam, tidak tahu bicara apa.


“Cepat kembali.” Akhirnya diangkatnya kakinya, lalu menarik selimut lagi.


“ Ia, ia aku segera kembali.”


Mengusap kepala Saga sebelum beranjak. Meninggalkan jejak.


Setelah keluar dari kamar mandi


rasa kantuk Daniah sudah tersapu air. Tapi saat dilihatnya jendela, di luar


memang masih terlalu pagi. Masih gelap. Mungkin para pelayan saja yang sudah


bangun sepagi ini gumamnya. Di atas tempat tidur Saga sudah membuka matanya.


Kupikir dia tidur, ternyata tidak


ya. Tadinya aku mau diam-diam turun.


“ Kemari! Mau kemana kau?” Tahu apa


yang dipikirkan Daniah saat matanya melihat jendela dan pintu bergantian.


“ Haha, sayang. Bangun yuk, aku


sudah tidak mengantuk.” Kalau masih bergulingan di bawah selimut Daniah bisa


menduga apa yang akan terjadi. Bisa jadi Saga akan membatalkan jadwal paginya.


Melihat suaminya menepuk tempat tidur sambil menatap tajam, mau tidak mau


Daniah kembali juga. “ Memang masih mengantuk?” Tanyanya. Daniah memilih duduk bersandar


bantal. Sementara Saga menempel tepat di paha Daniah yang hanya berlapis tipis


baju tidur.


Daniah mengambil hpnya yang ada di


atas meja. Membuka beberapa pesan, ada pesan Raksa menanyakan kedatangannya


nanti. Dia membalasnya dengan cepat. Kalau tuan Saga mengizinkannya pulang.


Beberapa rencana langsung tersusun tentang apa yang ingin mereka lakukan.


“ Kau kirim pesan dengan siapa?”


Menarik ujung baju Daniah, Tersibak ke atas. Sekarang bibirnya menempel tanpa batas benang tipis


lagi. Daniah mulai merinding ketika kecupan  mulai beraksi.


“ Haha, geli sayang.” Mengusap


kepala Saga agar berhenti. “ Kirim pesan dengan Raksa, hari ini rencananya mau


membeli beberapa barang untuk Risya.”


“ Kau senang sekali sepertinya ya?”


Haha, aku tidak perlu menjawabkan.


Nanti urusan jadi panjang lagi.


“ Terimakasih ya sudah mengizinkan


aku pulang.” Saga tidak menjawab dengan mulutnya tapi dengan tangannya. Daniah


memukul tangan itu sambil tertawa, tapi dia membiarkan suaminya melakukan apa


yang ia mau.


“ Sebenarnya tidak menduga kalau


Risya akan menikah. Kupikir dia akan mengejar karirnya di dunia entertrainer.”


Daniah membuka beberapa berita online yang mengabarkan pernikahan Risya dengan


seorang pengusaha. “Apa dia juga di jodohkan ya?” Bertanya pada dirinya


sendiri. Karena Saga juga tidak mungkin menanggapi. Dia melihat foto-foto Risya dan pengusaha itu di sosial medianya.


Tapi kalau melihat dari tabiatnya,

__ADS_1


kalau dia tidak suka, pasti dia akan menolak. Calon suaminya tampan juga si,


hehe. Ibu juga tidak mungkin memaksa anak kesayangannya kalau Risya tidak mau.


Pernikahan Risya sedikit mengulik


kembali kenangan di hati. Tentang pernikahannya sendiri. Dia yang harus terpaksa


menikahi tuan muda yang sama sekali tidak ia kenal. Jangankan berharap


dicintai, diperlakukan selayaknya wanita saja sudah cukup ketika memasuki rumah


utama ini. Orangtuanya yang melepaskan kepergiannya tanpa keraguan.


Ahh, semoga Risya bahagia dengan


pernikahannya ini. Baik di awal atau sampai akhir nanti.


Daniah tidak berharap sedikitpun, Risya akan melewati ujian awal pernikahan seperti yang ia rasakan bersama tuan Saga.


“ Niah!”


“ Aaaaa, kenapa mengigitku?” Daniah


berteriak sampai refleks memukul punggung Saga. Saat pikirannya sedang tengelam


tadi sepertinya dia tidak mendengar kalau suaminya bicara dan memanggilnya.


“ Punggungku sakit!” Katanya keras


dengan suara dibuat-buat.


Hah! Aku bahkan hanya memukulmu


pelan.


“ Maaf sayang, sakit ya?” usap-usap


punggung dengan lembut. “ Sudahkan?” Sebenarnya Daniah ingin mencubit punggung


itu. Karena tahu Saga hanya berakting. Diusapnya lagi. “ Sudah?”


“ Masih sakit! Minta cium biar


sembuh.”


Nahkan, rasa sakitmu itu


mengada-adakan?


Saga sudah memutar tubuhnya


membelakangi Daniah, akhirnya dia turun dari duduk, meletakan hpnya. Berbaring di belakang Saga sekarang.


“ Aaaa, sakit punggungku!”


punggung, Daniah bergumam tanpa suara. Dia menaikan baju tidur Saga. Lalu


memberi kecupan lembut di punggung suaminya tempat dia menepuk tanpa tenaga


tadi.


“ Lagi!”


Hei, kau memang pintar sekali ya


tuan muda, untuk modus beginian.


“ Padahal tadi kau juga mengigitku.


Sakit tahu! Huhu.” Ikut berakting sambil mengusap pahanya yang tergigit tadi.


“ Sakit? Mana yang sakit.” Daniah


sampai terkejut karena Saga langsung berbalik merespon. Dia bahkan langsung


bangun dan duduk di atasnya, bertumpu dengan kedua lututnya. “ Kakimu sakit, sini


kulihat!”


Hei, kenapa ini? Kenapa kau


seantusias itu.


“ Mau kucium berapa kali? 100 kali,


atau 200 kali.” Tidak perlu mendengar jawaban Daniah dia sudah beraksi.


“ Eh, sayang. Sudah! Sudah sembuh


kok, tidak sakit lagi.” Berusaha menahan kepala Saga. “ Sudah sembuh, sungguh.”


“ Hei, aku baru mau mengobatimu.


Jangan bergerak.”


Aaaaaa, kenapa aku kena lagi si.


“ Sayang sudah, kenapa bibirmu


kemana-mana sekarang.” Saga mendongakan kepala, tersenyum licik penuh


kemenangan.


“ Apa kau tidak pernah dengar

__ADS_1


tentang satu kesatuan tubuh, kalau satu bagian sakit bagian yang lain kadang


ikut sakit juga lho. Jadi aku akan mengobati semuanya.” Katanya tertawa lalu


meneruskan apa yang sudah dia mulai.


Kamu dapat pribahasa aneh itu


darimana tuan muda!


***


Akhirnya pagi ini jadwal mundur


dari yang ditentukan. Daniah meraih hpnya, mengetikan pesan kepada Raksa kalau


sepertinya dia akan terlambat nanti. Saga menarik lagi tubuh Daniah dalam


pelukannya, belum mau melepaskan.


“ Sayang, bangun! Kamu sudah


terlambat.”


“ Hemm. Sebentar lagi.” Ucapnya


tidak jelas karena bibirnya menempel di punggung Daniah.


Ya Tuhan ini manusia ya. Untung


kamu presdirnya ya, kalau kamu cuma karyawan biasa. Kau pasti sudah di depak dari kapan waktu.


Daniah mengalah dan berbalik,


memandang wajah suaminya yang masih malas membuka mata. Padahal dia sudah


terjaga.


“ Sayang, apa aku boleh bertanya?” Ingin memaksa Saga membuka mata dan bangun. Biasanya kalau kesal mendengar pertanyaannya yang aneh-aneh pasti akan membuat suaminya bangun.


“ Hemm.” Tapi jelas terdengar


malas, tahu kalau pertanyaan Daniah terkadang tidak penting ditanggapi. Saga


malah mulai mendekap Daniah lagi kearahnya, berharap istrinya diam.


“ Sayang, kenapa dulu kau memilih


menikahiku?”


Cih, lihatkan, kau selalu bicara


aneh-aneh. Bahkan sepagi ini.


“ Kenapa lagi.” Saga membuka mata. “


Karena kau jelek dan kampungan, dengan menikahimu akan membuat Helen kesal.” Jawabnya jujur tanpa filter apapun.


“ Cih, jujur sekali menjawabnya.” Memukul


dada Saga dengan keras. “ Bohong sedikit kenapa?” Daniah sudah berwajah masam.


“ Baiklah, aku ralat. Karena kau


cantik, seksi dan mempesona, aku jadi jatuh cinta pada pandangan pertama


denganmu.” Tersenyum tipis sambil menyelipkan rambut di belakang telinga. " Senangkan?"


“ Sayang, kau sedang membuat fitnah


terbesar dimuka bumi ini tahu.” Tangan kecilnya Daniah sudah memukul lagi. Kali ini berulang kali. Dengan mimik kesal.


“ Haha, tuhkan.” Meraih kepala


Daniah, menghujani pipi Daniah dengan ciuman. Lalu uyel-uyel pipi lagi, sampai ke leher juga. “ Kamu


mengemaskan sekali begini bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu coba.”


Apa-apaan si dia, mengesalkan


*sekaligus membuatku meleleh.*Cuma dengan kata-kata lagi.


Epilog


Han masuk ke dalam rumah, karena


sudah lebih dari sepuluh menit menunggu tidak melihat Saga keluar. Dia menuju


dapur, menjumpai pak Mun yang sedang menyiapkan makanan.


“ Apa tuan muda belum sarapan?” tanyanya saat melihat nampan berisi makanan.


“ Tuan muda dan nona belum keluar


dari kamar.”


“ Apa!” Han melihat jam tangaannya.


Cih, sebenarnya apa si yang mereka


lakukan berdua sampai sesiang ini.


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2