Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Rahasia Aran (Part 1)


__ADS_3

Merubah posisi tidurannya di sofa.


Tv menyala, tapi karena jarangnya menonton jadi tidak tahu apa yang harus di


lihat dan dinikmati. Tapi, tetap saja dibiarkannya benda itu hidup, mengusir


sepi. Masih terkurung di dalam rumah. Belum boleh beraktifitas normal. Tapi


sepertinya ini akan jadi hari terakhir, karena semua keluhan datang bulan sudah


lewat dan hanya tinggal beberapa titik noda saja yang keluar.


Akhirnya besok aku bebas!


Bebas kepalamu! Huh! Sepertinya


makna kebebasan makin lama di era sekarang makin di persempit. Tapi


terserahlah, pikir Daniah yang penting dia bisa keluar rumah dan kembali


bekerja. Terserah, mau diawasi Aran selama di luar rumah bukan menjadi perkara


penting lagi. Toh sebelumnya dia bisa bersama Leela. Jadwal kunjungan ke dokter


juga sudah keluar.


Baiklah, lakukan semuanya dengan


senang Daniah. Terima yang sudah menjadi garis nasibmu. Menjadi istri tuan Saga


dengan segala kerumitannya itu.


Daniah menjatuhkan tubuhnya ke atas


bantal, menarik bantal sampai menyangga kepalanya. Seraut wajah tuan Saga


muncul di pelupuk matanya. “ Bagaimana caranya aku bisa hidup dengan normal


sebagai istrinya ya?” memikirkan trik khusus agar kedepannya Saga bisa bersikap


layaknya manusia normal. Tidak, cukup menjadi suami normal seperti kebanyakan


suami lainnya.


Hemmm. Berfikir keras, akhirnya Cuma


mendesah.


Tapi dia tuan Saga! Dilihat dari


semua hal memang dia sudah di luar standar normal manusia biasanya.


Daniah teringat Raksa semalam. Upayanya untuk tidak mempertemukan Raksa dengan ibu sepertinya gagal. Ajakan makan malam Saga membuat mereka mau tidak mau bertemu di meja makan.


Hah! Semoga semalam Raksa tidak


melihat bagaimana sikap ibu padaku. Dan Rukoku apa yang terjadi selama aku


tidak pernah datang.


“ Tuan Saga mengirim dua staff ahli


ke ruko mbak. Mereka membantu kami dengan baik.” Begitu laporan Tika, walaupun


Daniah tidak paham maksudnya tapi sepertinya semua berjalan dengan normal.


Tidak ada kendala berarti yang dilaporkan Tika. Grup chat toko juga cukup


tenang.


Tapi ngomog-ngomong apa yang


dilakukan dua orang staf ahli di rukoku, Tika bahkan sampai menyebutnya staff


ahli.


Saat Daniah menanyakan pada Saga


semalam sebelum tidur, dia hanya menjawab Hemm, mana kutahu yang mereka


lakukan. Mungkin membantu karyawanmu melipat baju.


Ah sudahlah, percuma bicara

__ADS_1


padanya. Aku akan melihat langsung besok.


Setelah benar-benar jenuh


bergulingan di sofa Daniah keluar dari kamar. Sepi menyergap. Semua orang


pergi, bahkan Amera juga. Dia megatakan akan memperjuangkan  mimpi dan cita-citanya.


Mimpinya bukan untuk menjadi istri


sekertaris Han kan. Membayangkan saja sudah ngeri kalau gadis itu dengan tidak


tahu malu muncul di antarna Group untuk mengaku sebagai kekasih Han.


Dan akhirnya Daniah membawa langkah


kakinya menuju rumah belakang. Mencari Aran, gadis itu sama menggangurnya


seperti dirinya. Karena pekerjaan utamanya adalah menjadi asisten pribadinya..


“ Nona ada apa kenapa sampai


kemari?” Maya yang tadi di teriaki saat sedang membereskan pekerjaannya


langsung berlari menuju ruang tamu rumah belakang. Beberapa pelayan tampak


canggung saat Daniah berdiri di sana dengan wajah ramahnya. Walaupun terlihat


ramah namun bagi beberapa pelayan menjaga jarak dengan nona mudanya adalah hal


paling baik yang bisa dilakukan untuk meminimalisir melakukan kesalahan.


“ Haha, maaf ya aku menggangu


kalian bekerja.”


“ Tidak apa-apa nona, apa yang bisa


kami bantu.”


“ Aku hanya sedang bosan jadi main


kemari. Tapi kalian sedang sibuk ya.” Beberapa pelayan menggangukan kepala lalu


Ia si, inikan masih jam kerja


mereka. Cuma akukan pengganguran di rumah ini.


“ Apa nona mau saya panggilkan


Aran. Dia sepertinya masih ada di kamarnya.”


Wajah penuh semangat Daniah muncul.


Tujuannya kemari memang sebenarnya mencari gadis itu.


“ Dimana kamar Aran, biar aku


kesana?”


Semua saling pandang, ingin menolak


tapi tidak berani. Lebih baik Aran yang keluar dari kamar dan mengikuti nona ke rumah utama pikiran mereka bersamaan. Tapi sepertinya Daniah bersikeras untuk mendatangi kamar Aran. Akhirnya Maya yang berinisiatif mengantarkan Daniah ke kamar


Aran yang ada di lantai dua.


“ Aran membantu beberapa pekerjaan


pagi, tapi kalau dia sudah selesai dia lebih sering di kamarnya nona.” Maya


memberi penjelasan sambil mensejajari langkah kaki Daniah di sampingnya.


“ Memang apa yang dikerjakan dia di


kamar?”


“ Katanya dia penulis novel


online.”


Haaaaa, benarkah?


Sampailah di sebuah pintu. Deretan

__ADS_1


kamar yang berjajar. Serasa ada di bilik kos-kosan mahasiswa saja. Tertulis


nama Aran di pintu masuk.


“ Terimakasih ya maya.”


“ Saya panggilkan Aran nona.” sudah mau mengetuk pintu.


“ Tidak usah, biar aku masuk


sendiri. Kembalilah bekerja, maaf sudah merepotkanmu ya.” Menepuk bahu Maya pelan.


“ Tidak nona, nona bisa menyuruh


saya melakukan apapun yang nona mau.””


Untuk itulah aku di gaji tiga kali


lipat di rumah ini.


Daniah membuka pintu pelan. Saat Maya sudah meninggalkannya. Pintu berderik kecil namun sepertinya tidak mempengaruhi Aran karena gadis itu tidak


muncul. Mata Daniah berkeliling mencari. Kosong. Terdengar suara kran air dari


kamar mandi.


“ Ternyata dia sedang mandi ya.”


Daniah benar-benar masuk setelah mengatakan permisi dengan suara pelan. Melihat


seluruh isi ruangan. Sepertinya nyaman sekali gumamnya.


Wahhh, kamar para pelayan di sini


saja kelasnya berbeda ketimbang bibi pengasuh di rumah.


Pandangan Daniah menangkap sesuatu


yang menarik di atas meja. Layar laptop yang tidak dimatikan. Gambar screen saver membuat matanya terbelalak dari kejauhan.


“ Bukankah itu sekertaris Han.”


Langsung mendekat secepat kilat dan refleks duduk di kursi. Bersamaan itu Aran


muncul dari kamar mandi.


“ Nona!” terkejut setemgah mati,


lebih terkejut ketika melihar tangan nona Daniah sudah menyentuh mouse dan


melihat layar laptopnya dengan penuh tanda tanya.


Habislah aku tidak mematikan


laptop.


“ Aran, bukannya ini sekertaris


Han.”


Matilah aku


***


Daniah tidak berhenti berdecak kagum. Bahkan sampai beberapa kali bertepuk tangan karena antusiasnya mendengar cerita Aran. Saat dia menjelaskan satu persatu foto sekertaris Han yang ada di layar laptopnya. Mulut Daniah terbuka lebar beberapa kali. sudah seperti mendengar dongeng yang menarik. Alur yang di ceritakan Aran dengan teratur seperti membaca novel.


" Hebat! hebat!"


Aran mengeryitkan matanya beberapa kali melihat reaksi Daniah.


Kenapa nona sebahagia itu si, seperti habis mengetahui rahasia terbesar bumi saja.


" Wahhh aku tidak menyangka kalau reporter yang berhasil mengelabui sekertaris Han itu perempuan. aku pikir tadinya pasti laki-laki keren yang pemberani. Seperti di film-film detektif itu." Daniah meraih tangan Aran cepat. "Ajari aku Aran." semangat sambil mengoyangkan tangan Aran beberapa kali.


Ajari apa nona!


" Ajari aku bagaimana kamu bisa mengelabui sekertaris Han."


Deg, wajah Aran berubah pias. Mengelabui sekertaris Han adalah kesalahan terbesar yang sampai hari ini akan selalu menjadi penyesalan seumur hidupnya.


" Katakan, apa yang kamu lakukan sampai Han tidak tahu kamu buntuti."


Bagaimana ini? apa aku akan benar-benar mati kali ini ditangan harimau gila itu. Kalau aku menjawab nona habislah aku. Tapi kalau aku tidak menjawab, Haaaa, kenapa wajahnya sesenang ini si.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2