
Raksa tidak bisa menutupi rasa
kesalnya ketika keluar dari rumah. Kata-kata ibu dan Risya masih menghantui
kepalanya. Saat ia melihat Daniah yang masih bisa tersenyum, membuat
perasaannya merasa bersalah dengan sendirinya. Bahkan sampai sejauh ini ketulusan masih
jauh dari yang bisa ibunya ia berikan.
Ibu, kak Risya sampai kapan kalian akan begitu. Ayah bahkan sudah berubah.
Walaupun perlakuan ibu dan Risya
sudah jauh lebih berubah, tapi ia benar-benar berharap, kalau kasih sayang yang
mereka tunjukan bukan hanya sebatas karena kak Niah adalah istri dari tuan
Saga. Namun karena Daniah adalah bagian dari keluarga.
“ Mereka sungguh keterlaluan. Tidak
ingat bagaimana mereka memperlakukan kak Niah dulu.” Raksa masih saja ngedumel
bahkan sampai mobil mereka sudah masuk ke jalan raya menuju pusat perbelanjaan.
Dia yang membawa mobil. Sementara Aran duduk di kursi belakang menyimak penuh
arti.
Sepertinya hubungan nona dengan
adik laki-lakinya sangat baik ya. Duduk di kursi belakang menganalisis semua
kejadian di rumah Daniah.
“ Sudahlah biarkan saja.” Daniah
menepuk bahu adiknya menenangkan. Bagaimanapun dia tahu dan cukup tahu diri.
Bagaimana dia diperlakukan dulu.
Setidaknya mereka tersenyum. Begitu yang dipikirkan Daniah.
“ Lagipula ibu juga cerita apa coba
sama bibi-bibi itu. Ibu masih saja tidak berubah.” Masih merasa bersalah dengan
kejadian di dalam rumah tadi. Aran masih menyimak dan mencoba menarik benang
merah apa yang dibicarakan kedua orang di depannya. “Mereka memberi kak Niah
banyak hadiah, tapi juga menuntut banyak hal kan?” Raksa melihat bibi pengurus
rumah memindahkan banyak tas hadiah ke kamar Daniah tadi.
“ Sudahlah! Paling tidak sikap
mereka lebih baik sekarang. Itu sudah membuatku senang.”
“ Mereka baik karena ada maunya kak.”
Gemas sendiri karena Daniah selalu berfikir positif.
Raksa masih tidak habis pikir, apa
keluarga besarnya hanya melihat kak Niah sebagai seorang yang bisa mereka
__ADS_1
manfaatkan seenaknya. Padahal dia tahu, sampai hari ini semua tidak semudah itu
bagi kakaknya.
Daniah mengalihkan pembicaraan
karena tersadar di kursi belakang ada Aran yang mendengarkan apa yang mereka
bicarakan. Walaupun gadis itu tidak tahu apa-apa, tapi dia pasti bisa meraba
arah pembicaraan Raksa.
Daniah memberikan sinyal lewat
sorot matanya agar Raksa berhenti membahas masalah keluarga. Adiknya paham,
akhirnya dia fokus mengemudi. Walaupun gumaman masih terdengar.
" Raksa, apa kau pernah bertemu dengan calon suami Risya. Bagaimana dia?" Berhasil, Raksa lalu bercerita tentang calon suami Risya yang beberapa kali datang ke rumah.
***
Selama beberapa jam mereka keluar
masuk dari satu toko ke toko yang lain. Raksa memeriksa catatan apa saja yang
harus dia beli dengan teliti. Mencoret apa-apa saja yang sudah mereka temukan.
“ Kita beli minum dulu yuk, aku
lelah.” Daniah membungkukan badan sambil memijat kakinya.
Ternyata menyiapkan keperluan
pernikahan tidak semudah yang dibayangkan Daniah. Selama ini bahkan
mencegah airmatanya tumpah. Saat inipun semua keperluannya sudah disiapkan
tanpa harus memikirkan apapun. Membuatnya tidak pernah perlu belanja selama
ini.
Cih kebugaran masa mudaku
sepertinya benar-benar memudar. Kalau dulu aku bisa berjam-jam belanja atau
sekedar survei barang tanpa kelelahan.
Mereka memasuki area food court mall.
Harum masakan langsung menyeruak, menyergap hidung. Mereka bertiga menyusuri
deretan stan makanan. Aroma yang saling bertubrukan memancing para pengunjung untuk mendekat dan tergiur.
“ Kak Niah tidak sedang
bercandakan?” Raksa berdiri sambil menunjukan beberapa kantong makanan
di tangannya. Tangannya sudah tidak bisa menampung, akhirnya Aran yang membawa. Sementara
Daniah membawa kantong berisi minuman, dengan beberapa jenis.
“ Haha, habis aku pengen semua. Sepertinya
enak semua.” Jawab Daniah sambil mengedarkan pandangan mencari tempat duduk.
Tapi ini banyak sekali.
__ADS_1
“ Apa kak Niah bisa
menghabiskannya?” Raksa menggangkat kantong plastik di tangannya.
“ Kan ada kalian, hehe. Ayo cari
tempat duduk dulu.” Berjalan duluan di depan.
Raksa menoleh pada Aran di sampingnya, meminta persetujuan, kalau apa yang sudah mereka beli ini porsinya tidak masuk akal.
" Akhir-akhir ini nona memang lebih banyak makan." menjawab sorot mata Raksa, lalu mengejar Daniah.
Apa kak Niah hamil ya? biasanya orang hamilkan banyak makan. Tunggu! sepertinya aku sedikit cemas. Orang hamil itu bukan banyak makan, tapi banyak maunya.
Apa yang ditakutkan Raksa benar-benar terjadi.
Benarkan, aku yang harus menghabiskan semua!
" Kak Niah! yang benar saja, bantu aku habiskan semua ini." Menunjuk cup makanan yang berjejer di depan mereka. " Ini belum, ini juga belum kak Niah makankan? tadi katanya ingin." Daniah melirik cup makanan yang ditunjuk Raksa. Lalu mengambil sesendok dan memakannya.
" Sekarang udah gak kepingin lagi. Habiskan ya. Haha." Tertawa tanpa rasa bersalah dan memilih menghabiskan minumannya. Dia menyodorkan beberapa jenis makanan di depan Aran. Gadis itu juga harus menjadi korban sama halnya Raksa. Menghabiskan semua yang mereka beli.
Aaaaa, apa aku boleh mengatai nona sekarang. Perutku rasanya mau meledak.
Tapi Aran tetap menghabiskan cup makanan yang sudah dia makan. Tidak bisa protes, berbeda dengan Raksa yang sesekali masih meneriakan protes sambil memaksa Daniah membuka mulut. Menyuapinya dengan sendok yang sama yang dia pakai.
" Haha, maaf ya sepertinya aku khilaf dan lapar mata melihat semua makanan ini tadi."
" Kak Niah..." Ragu, Raksa mau menanyakan tentang kehamilan tapi takut membuat Daniah merasa tidak nyaman.
" Hemm, kenapa?"
" Buka mulut kak Niah, bantu aku habiskan ini." sorot mata mengancam sambil menyodorkan sendok di depan mulut. Daniah menggeleng kuat dan menutup mulutnya dengan tangan.
Dua orang itu benar-benar menjadi korban.
" Aran, apa ada yang mau kamu beli. Katanya nanti malam mau kencankan? ayo beli baju dan semuanya."
Nona! anda mau apa lagi!
Seperti yang ditakutkan kedua orang yang mengikutinya. Kali ini lapar mata Daniah beralih ke belanjaan yang lain. Bahkan sesuatu yang nyaris tidak memiliki kegunaan dalam pemakaian dia beli.
" Ini lucu ya. Raksa coba lihat, ini lucukan." Menyodorkan benda kecil di tangannya.
" Ini apa kak?" Mengambil dengan tangan kiri lalu membaliknya di depan mata, tetap tidak tahu itu benda apa.
" Tidak tahu apa, tapikan lucu. Beli ya." memasukan ke dalam keranjang belanjan yang dibawa Raksa. Dibiarkan saja Daniah melakukan apapun atau mengambil apapun yang ia mau. " Aran, kamu mau yang mana?"
" Tidak usah nona." Aran yang hanya melihat-lihat, karena merasa tak ada yang dia butuhkan di toko ini.
" Kalau begitu aku yang pilihkan ya?"
Aran langsung menyambar benda yang ada di depannya. Bisa satu keranjang kalau sampai nonanya yang memilihkan. " Saya pilih ini saja nona, saya suka motifnya. sepertinya lucu." Ucapnya sambil menunjukan benda yang dia pilih.
Raksa menoleh lalu tergelak, tapi dia membuang muka sambil menahan tawa.
Eh kenapa? Kenapa adik nona reaksinya begitu.
" Selera Aran lucu juga ya."
Aran langsung melempar benda di tangannya.
" Maaf nona, saya kira tadi sapu tangan." wajahnya merah padam.
Kenapa harus celana dalam laki-laki motif harimau yang aku ambil sih!
Bersambung
__ADS_1