Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
150. Membayar Kerugian


__ADS_3

Masih di kontrakan sempit. Masih menunggu tanpa kepastian. Beratnya menunggu yang tak pasti.


Suara keras volume hp membuat Arandita


bangun dari lamunan panjangnya mengenai Sekretaris Han. Mengenai benang takdir yang ia ikat dengan tangannya sendiri. Dia segera


bergerak cepat mengambil hpnya.


“Datang ke kafe XX jam 11 siang


ini.”


Hanya itu. Sesaat Aran membisu


sambil menatap layar hp. Berfikir.


“Hei belum tentu kan ini darinya.


Bisa jadi ini hanya pesan spam nyasar.” Aran membawa hpnya kembali ke karpet.


Kembali duduk bersandar. Dia melihat pesan di hpnya lagi. Jam 10 lewat lima belas


pesan itu masuk. Satu pesan lagi masuk membuatnya terlonjak. Dia melemparkan hp


ke atas tempat tidur. Lalu pergi menyambar handuk dan bergerak cepat ke kamar


mandi. Tidak lupa keramas, malu mengingat kejadian yang lalu.


“Habis kau terlambat sedetik


saja.” Bunyi pesan yang mengisyaratkan siapa pengirimnya.


Hei, memang dia punya hak apa


mengancamku begitu. Dia kan bukan majikanku. Lagian memang aku salah apa. Tapi


kenapa aku juga takut si.


Aran sudah naik ojek online.


Meminta driver segera menuju lokasi. Dia mengecek lagi hpnya. Melihat jam yang


tertera. "Maaf Kak bisa cepat, hidup dan mati saya tergantung ini." Berteriak kencang supaya di dengar si driver. Motor terus melaju. Rambut melambai ke mana-mana. Kering tertiup angin. Aran bahkan tidak mengikatnya karena tadi masih basah.


Masih jam 11 kurang sepuluh menit,


saat dia sudah masuk ke dalam kafe. Aran mengedarkan pandangannya berkeliling.


Tidak ada yang dia cari. Seorang pelayan menghampirinya.


“Maaf, saya sudah ada janji dengan


Tuan Han. Apa dia sudah memesan tempat?” Bertanya sambil matanya masih  berkeliling,


dan kembali melihat layar hpnya. Memastikan belum jam 11 tepat.


“Silahkan Nona ikuti saya.” Pelayan


wanita itu mempersilahkan Aran mengikuti langkahnya.


Hah! Apa dia sudah datang? Habislah


aku.


Aran berjalan dalam diam, matanya


saja yang berkeliling, namun langkah kakinya mengikuti wanita yang berjalan di


depannya. Sambil menahan nafas. Berhentilah dia di depan pintu.


“Silahkan Nona, Tuan Han sudah


menunggu Anda.”


“Eh baik. Terimakasih.”


Aran memasuki pintu. Dia sudah


melihat. Sekretaris Han sudah duduk di dalam. Laki-laki itu melihat jam


tangannya saat melihat Aran mendekat.


“Duduklah, kau masih punya waktu


dua detik.”


Apa! jadi dia benar-benar akan


menghukumku kalau aku terlambat. Memang apa salahku?


“Kenapa Tuan memanggil saya


kemari?” yang ditanya diam tidak menjawab. Dia mengambil amplop coklat yang ada


di depannya. Lalu dilemparkannya di depan Aran. Gadis itu bingung. Menebak apa


yang ada di dalamnya. Sejauh ini dia tidak menduga apa-apa.


Tunggu, apa itu dosa masalaluku


kepadanya. Hei, kau tidak bisa memakainya untuk mengancamku. Kau kan sudah


mengampuni dan melepaskan aku dulu.


“Apa kau tidak punya kaca di


rumah?” Han bicara sambil menatap Aran tanpa berkedip. Membuat yang di tatap


langsung kehilangan 99 persen kepercayaan diri.


“Eh ia?”


Kenapa dia tanya tentang kaca.


Aran refleks membetulkan rambutnya.


Dia tidak mengikat rambutnya karena tadi masih basah. Segera dia merapikan


rambut dan menyelipkan di belakang telinga. Berfikir kalau kata-kata tentang kaca, karena penampilannya yang sekarang.


Memalukan sekali.


“Bagaimana kau dengan tidak tahu


malunya memakai nama dewi kecantikan sebagai nama penamu.” Seringai tipis

__ADS_1


ditangkap Aran sekilas di bibir Han. Gadis itu terperanjat saat mencerna kalimat


ejekan itu.


Apa! Aran meraih amplop yang ada di


depannya dengan cepat. Tangannya mulai bergetar melihat lembar demi lembar


kertas-kertas itu. Semua hal ada di sana. Bahkan sampai nama akun yang dia


pakai untuk menerbitkan novel-novelnya. Sampai pada jumlah tagihan listrik,


internet dan telepon yang dia pakai. Jumlah pinjaman uangnya di bank yang dia


pakai untuk membeli rumah orangtuanya. Semua detail, sampai alamat dan nama


orangtuanya. Dia menatap Sekretaris Han. Perasaan takut menyelimuti seluruh


tubuhnya saat ini. Namun dia berusaha tidak menunjukannya. Dia benar-benar


berhasil menenangkan hatinya yang berdegup. Jangan sampai bibirmu bergetar


begitu pikirnya. Hingga dia mencengkram ujung jarinya di bawah meja.


Dia benar-benar harimau gila yang


tidak akan melepaskan mangsanya.


“Memang apa salah saya sampai Tuan


memeriksa kehidupan pribadi saya sampai sejauh ini.” Berhasil, Aran bisa bicara


dengan lancar. Tanpa menunjukan rasa takut. Nalurinya sebagai reporter di masa


lalu terpakai pada situasi semacam ini.


Tapi, Aran salah. Han sudah membaca


semua itu. Dia mengenal gadis di hadapannya dengan cukup baik, melalui


informasi yang di


dapatnya selama dua hari ini. Serangga pengganggu yang dia


lepaskan dulu. Karakter berani dan nekatnya menjadikan Han sedikit tertarik


padanya. Kalau saja gadis lain, mungkin dia sudah menangis, lari, atau memohon.


Tapi Aran berbeda, dimatanya yang tidak mengenal takut itu sepertinya bisa


berguna pikir Han.


“ Huh! Kesalahan. Baru beberapa


hari lalu kau sudah lupa. Kau menabrakku di toko buku.”


Apa! memang kau terluka! Geram


karena kesal mendengar apa yang dikatakan Sekretaris Han. Memang tanganmu patah


karena aku menabrakmu.


“Tuan kan tidak terluka. Bahkan tergores pun


“Tidak terluka." Berdecak kesal "Kau tahu, karena


kau menabrakku aku teringat kembali peristiwa menyebalkan itu. Bukankah sudah


kubilang padamu untuk menghilang tanpa jejak. Jangan pernah muncul di hadapanku


lagi. Menghilang dari bumi ini kalau perlu.”


Apa kau menyuruhku mati!


“Maaf.” Mulai sadar tidak akan


menang dengan argumen apa pun yang diberikan. Mungkin saja dia bisa memakai


senjata yang dia pakai dulu, hingga laki-laki ini  melepaskannya. Bisa jadi kali ini berhasil


juga pikirnya. “ Maafkan saya Tuan, saya akan pergi dan menghilang dari kota ini.”


“Huh! Terlambat.” Han menjawab cepat.


“Apa! Kenapa?”


Salahku apa lagi kali ini.


“Kau harus membayar kerugianku.”


Apa! Gila ya!


“Berapa yang harus saya bayar


Tuan, untuk mengobati kerugian Tuan.” Sok bertanya, walaupun dia tahu, dia tidak punya uang untuk bisa membayarnya. Dan dia bisa menebak, nominal yang akan di sebutkan laki-laki di depannya ini pasti tidak masuk akal.


Han menyebutkan nominal uang yang


jumlahnya sama dengan sepuluh kali lipat gajinya di stasiun TVXX dulu.


“Sudah gila ya!” Aran menutup


mulutnya. “Maaf Tuan.” Dia mengambil kertas yang menumpuk di hadapannya. “Tuan


bahkan tahu berapa saldo rekening saya. Saya cuma rakyat miskin yang tidak


punya apa-apa. Bagaimana saya bisa membayar uang sebanyak itu.”


Lihat, dia menyeringai lagi. Mau


apa sebenarnya dia.


“Kalau begitu bayar dengan


tubuhmu.” Wajah Han terlihat sangat senang mengatakannya.


“Apa!” Aran refleks menyentuh


bajunya. Menatap benci pada laki-laki di hadapannya. Dia bahkan menarik kursinya mundur.


Diakan bukan tipe laki-laki gila


perempuan, kenapa dia mau tubuhku.


“Huh! Selain miskin, nekat, kau

__ADS_1


juga benar-benar tidak tahu diri ya. Beli kaca sebesar tubuhmu, biar kau bisa


melihat wajahmu setiap hari. Kau sama sekali bukan seleraku.”


Kesal sekaligus lega yang di


rasakan Aran.


“Lalu maksud Tuan apa dengan tubuh


saya.” Nada protes dalam kata-katanya, kenapa mengucapkan kalimat yang bisa membuat orang salah paham.


Walaupun tidak cantik, aku kan tetap perempuan.


“ Bekerja padaku. Gunakan tubuh dan


tenagamu untuk membayar kerugianku.”


Kenapa Han tertarik pada Aran sejauh ini karena resume yang dia terima setelah menyelidiki masa lalu gadis itu. Sebagai reporter pekerja keras dan nekat. Dia juga punya ban hitam ilmu beladiri populer di negara ini. Dan yang utama, dia tidak pernah menunjukan rasa takutnya.


Bekerja padanya? Sebagai karyawan


Antarna Group. Tidak, tidak mungkin dia sebaik itu.


“Apa sebagai karyawan Antarna


Group?” bertanya juga, berharap dalam hati kalau memang begitu adanya. dia akan punya status.


“Lagi-lagi kau tidak tahu malu ya.” Kata-kata yang langsung menyadarkan Aran siapa laki-laki di hadapannya.


Lihat kan, tidak mungkin kau sebaik


itu.


“Pekerjaanmu hanya melakukan apa


yang diperintahkan padamu.”


“Apa Tuan mau saya jadi pelayan?”


Budak lebih tepatnya. Aran menyeringai dalam hatinya.


“Iya.” Han menjawab santai dan jelas.


Apa! jadi benar kan.


“Aku akan memberimu pekerjaan yang


sangat penting. Jangan khawatir, aku akan mengajimu dengan gaji tiga kali lipat


dari yang kau dapat dari stasiun TV.” Glek, lagi-lagi Aran menelan ludah


menghitung nominal uang yang bisa dia dapat. “Tapi tentu saja, itu tidak


gratis, kau harus membayarnya dengan nyawamu.”


Sudah aku duga.


“Tuan tidak sedang menyuruh saya


melakukan tindakan kriminal kan?” Pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan.


“Memang kau pikir membutuntiku,


mengambil vidio dan foto-fotoku diam-diam bukan tindakan kriminal.” Telak


menjadi panah beracun yang menghujam tubuh Aran.


“Maaf.” Menundukkan kepala dalam. Menyesal dengan pertanyaannya.


Walaupun takut, tapi dia juga


merasa penasaran dan tertantang. Lebih-lebih saat menghitung nominal uang yang


bisa dia dapat setiap bulannya.


Tunggu, jangan serakah. Kau hampir


mati karena keserakahanmu Aran. Kau juga tidak tahu pekerjaan apa yang harus


kau lakukan. Harimau gila ini bahkan sampai bawa-bawa nyawa segala. Ayo berfikir.


Uang, uang malah itu yang


berkelebat di pikiran Aran. Bayar pinjaman bank dan hidup dengan normal. keluar dari kontrakan sempitmu.


Ia, ia aku tahu. tapi ini nyawa taruhanku. Nyawa!


“Bolehkah saya memikirkannya dulu


Tuan. Berikan saya waktu untuk berfikir.” Berfikir jernih selama beberapa hari. itu pasti cukup. Aran akan menimbang untung dan ruginya. Jelas-jelas dia akan untung jika melihat nominal uangnya. mungkin yang mematikan adalah kepada siapa dia bekerja. Tapi tunggu, dulu pun lingkungan pekerjaannya tidak mudah. Tapi dia bisa setegar karang dan menjadi reporter yang diperhitungkan. Pasti sekarang kau juga bisa Aran. Begitu kata hatinya memberi semangat.


Ayo pulang dan berfikir jernih.


“Baiklah.”


Untunglah, dia cukup baik juga


ternyata. Semoga kau aslinya orang baik Tuan Han.


Sekretaris Han melihat jam


dipergelangan tangannya. Aran berfikir mungkin dia sedang melihat tanggal atau


hari kapan dia harus memutuskan.


“Aku beri kau waktu sepuluh


menit, dari sekarang.”


Apa! Gila ya!


“Tuan.” Panik.


“Berpikirlah, waktu terus


bergerak.”


Aaaaaaa, dia memang harimau gila!


Bersambung


Sampai jumpa di update selanjutnya ^_^


Semoga kebaikan selalu hadir untuk kita semua.....

__ADS_1


__ADS_2