Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
116. Masa Percobaan


__ADS_3

Matahari sudah terang di luar sana.


Semua orang di dalam rumah sudah beraktifitas sesuai dengan tugas


masing-masing. Jen dan Sofi memilih kabur bahkan sebelum mereka sarapan. Ya,


mereka mendengar babak pertama teriakan Saga pada kakak ipar mereka. Karena tidak


tahu bagaimana akhir peperangan, mereka memilih menyelamatkan diri daripada


harus terkena serpihan ledakan.


Padahal saat keluar dari kamar


mereka masih baik-baik saja pikir mereka. Jen dan Sofi bertanya ke sana ke mari,


tapi semua bungkam tentang ada kejadian apa semalam. Pak Mun tidak mau bicara


hanya bilang tuan muda dan nona baik-baik saja, sedang ada di kamar.  Saat mereka melihat Sekretaris Han duduk


dengan sarapannya di meja makan sambil membaca dokumen mereka memberanikan diri


mendekat.


“Benar kalian mau tahu? Orang yang


sok mau tahu biasanya mati duluan lho.” Mendengar itu mereka langsung kabur


meninggalkan meja makan tanpa menyentuh sarapan. Memaki Sekretaris Han ketika


sudah sampai di mobil masing-masing.


Udara segar masuk ke dalam kamar


melalui sirkulasi udara, sinar matahari jatuh ke dalam ruangan. Namun Saga


sengaja menutup tirai untuk melindungi istrinya.


Pak Mun baru saja meletakan makanan


ketika Saga muncul dari kamar mandi. Sudah memakai setelan jasnya. Rambut


tersisir rapi dan semua sudah sempurna. Dia memang sangat tampan di pagi hari.


Apalagi saat suasana hatinya sedang sangat baik.


“Sarapan Anda Tuan Muda.”


“Hemm. Kemarilah!” Pak Mun


mendekat ke sofa yang di duduki Saga. Dia menggeser piring agar lebih dekat, dan


mudah di jangkau. “Aku mau bertemu dengan gadis itu, pelayan di rumah belakang


yang berteman dengan istriku.”


“Baik Tuan Muda. Akan saya panggilkan.”


“Tunggulah di bawah, aku akan


turun setelah Daniah bangun.”


“Baik Tuan Muda. Silahkan


menikmati sarapan Anda.”


“Hemm.”


Pak Mun pamit lalu berjalan keluar.


Sambil beralih menatap ke tempat tidur, Saga meraih gelas dan meminumnya hampir


separuh. Lalu mengambil roti isi di piring. Memakannya.


Huh! Enak sekali dia tidur, apa dia


sedang bermimpi sekarang.


Terdengar gumaman-gumaman dari


bawah selimut. Seseorang menggeliat, lalu selang tidak lama dia sudah duduk.


Menarik selimut menutupi dirinya sampai ke bahu. Karena dia sadar tidak ada


apa pun yang menempel di tubuhnya sekarang. Dia menggeliat, menghilangkan rasa


pegal.


“Kau sudah bangun?” Suara dari


sofa memecah konsentrasi Daniah mengumpulkan nyawa yang berterbangan saat dia


tidur.


“Eh, ia sayang.” Menarik selimut  melindungi diri. Ingatan semalam kembali


berlarian, membuatnya waspada. Dia mengintip melalui ekor matanya bagaimana


suasana hati suaminya. lalu sadar saat melihat piring di depan Saga. Menoleh


pada jendela. Matahari sudah terang di luar sana.


Jam berapa ini? Bagaimana aku bisa


bangun setelahnya. Dia bahkan sudah sarapan. Aku pasti sudah gila.


“Maafkan aku sayang, aku kesiangan.


Kamu bahkan sudah sarapan ya.” Mencari-cari di mana baju tidurnya berada. Tidak


di temukan di manapun matanya berkeliling. Tidak mungkinkan dia lari ke kamar


mandi dengan tubuh polos ini.


Aku kan bisa menyeret selimut ini,


ia bawa saja masuk ke kamar mandi.


“Sudahlah! Kembalilah tidur, kau


bisa tidur lagi sampai kapan pun kau mau.”


“Hehe, aku mau bekerja sayang.


Hari ini banyak barang yang akan masuk.”


Saga bangun dari duduk, dia sudah


menyelesaikan sarapannya. Mengambil dasi di atas meja. “Bekerja? Memang kau mau


bekerja ke mana? Lupa yang aku katakan semalam.” Tersenyum tipis, sambil melihat


dirinya dalam pantulan kaca.


Berfikir, berfikir, Daniah berusaha


berfikir keras.


“Kau sedang dalam masa percobaan


hukuman.” Memberi informasi, karena sepertinya istrinya lambat berfikir.


Aaaaa, ia, dia melarangku ke luar


rumah. Sial.


“Kalau kau berani keluar rumah tanpa


izin dariku, bukan kau saja yang akan menanggung akibatnya. Pelayan dan penjaga


yang bertugas hari ini akan ikut  bertanggung jawab juga.”


“Apa?” Memang dia mau melakukan


apa.

__ADS_1


“Akan kupecat mereka semua tanpa


peringatan.”


“Sayang, kamu tidak bisa memecat


mereka seenaknya.” Kehilangan kata-kata karena sikap seenaknya Saga.


"Kenapa? aku yang menggaji mereka


terserah aku mau melakukan apa.”


Haha, ya, ya, kau rajanya yang


mulia. Hamba mohon ampun sudah menjawab Anda


Daniah hanya bisa tersenyum kecut


di atas tempat tidur.


“Kau tidak perlu mengancam juga,


aku tidak akan berani keluar rumah.” Gumam-gumam tapi dengan suara jelas. Biar


di dengar yang mulia raja.


Saga tersenyum tipis. “Baguslah


kau tahu, hati-hati dengan  yang kau


lakukan, karena orang lain juga akan ikut menanggungnya.”


“Baik.” Hanya bisa pasrah.


Saga selesai dengan Dasinya, dia


mengambil hp  milik Daniah di atas meja. Melemparkan pada daniah tepat mengenai selimutnya.


Membuat selimut itu merosot dari bahunya. Menunjukan tubuh polos Daniah dengan


banyak sekali tanda kepemilikan di sana. Bertebaran di seluruh tubuh


“Wahhh, wahhh, kau sedang


menggodaku sekarang?”


Daniah kaget melihat tubuhnya


sendiri, dia menarik selimut. Menggulungnya, menggulungnya sampai ke leher.


“Kenapa? Mau mencicil hutangmu


pagi ini,” bertanya sambil tergelak nakal.


“Tidak sayang, tidak, aku baru mau


menghitung hutangku, belum mau melunasinya.” Semakin rapat dia menggulung


selimutnya. Bahkan sampai melilit ke leher.


Saga mendekati tempat tidur,


membuat gadis itu meringsek mundur ketakutan.


Jangan! Jangan lagi! Aku mohon.


“Apa yang kau lakukan, kau bisa


susah bernafas dan mencekik lehermu sendiri.” Melepaskan gulungan selimut dari


leher Daniah. “Kenapa kamu mengemaskan begini si, aku jadi ingin memakanmu kan.”


Merapikan rambut Daniah yang berantakan.


Hah! Dia bilang apa? itu, kata-kata


itu dia tujukan padaku kan.


“Istirahatlah kalau kau masih


lelah. Aku akan menyuruh Pak Mun mengirim pelayan untuk membantumu. Pindah ke


“Ba, baik.” Daniah kehilangan


pikiran sehatnya, pikirannya sedang bingung sekarang. Mencerna sikap Saga


dengan nalar manusianya.


“Aku berangkat ya, kemarilah,


berikan aku ciuman selamat pagi.” Saga menyentuh pipinya. Masih dalam keadaan


belum sepenuhnya sadar dengan situasi yang terjadi, Daniah beringsut dari


tempatnya duduk. Masih dengan selimut agar menutupi tubuh polosnya.


“Selamat pagi sayang, selamat


bekerja.” Ciuman di seluruh bagian wajah, dan kecupan tiga kali di bibir.


Ini kami sedang main drama apa sih?


“Istrirahatlah!”


“Ba, baik.”


Saga teringat sesuatu dengan hp


yang dia lemparkan tadi. Dia berbalik. Membuat Daniah kembali terkejut dan


menarik selimutnya lagi.


“Tontonlah peresmian Danau Hijau di


chanel resmi Antarna Grup, tonton sampai selesai!”


“Eh, ia, baik.”


“Biar otakmu pintar sedikit.”


Saga tergelak meninggalkan Daniah


di atas tempat tidur yang masih tidak tahu apa yang baru saja dia alami tadi.


Tolong, ada yang bisa menjelaskan


situasi apa ini, kenapa dengannya. Semalam dia sudah seperti banjir besar yang


akan melumatku hidup-hidup. Tapi pagi ini dia sudah seperti pemain utama dalam


drama romantis.


Aku tidak sedang menunggu hukuman


mati kan? Jadi aku dibaik-baikin dulu.


***


Saga menuruni tangga, bahkan


terdengar siulan kecil dan dendangan dari bibirnya. Dia berjalan riang seperti


pengantin baru yang baru keluar dari kamar pengantinnya.


“Apa itu dia?” Saga mendapati


seseorang sedang berdiri di dekat sofa ruang TV. Dia berdiri sambil menundukkan


kepalanya. Pak Mun di sebelahnya mempersilahkan Saga duduk.


“Ia Tuan Muda. Dia Maya.”


Saga mendekat, lalu duduk di sofa.


Bersamaan Sekretaris Han muncul dari ruang kerja, ikut berkumpul. Auranya

__ADS_1


membuat suasana semakin tegang saja.


“Perkenalkan dirimu!” Pak Mun


angkat bicara.


Maya terlihat sangat gelisah, ini


kali pertamanya berhadapan langsung dengan majikan yang sudah setahun ini


menjadi tempatnya bekerja. Dia baru beberapa kali melihat wajah tuan muda. Tapi


itu pun tidak sedekat ini. Ia terlihat gemetar mencengkram tangannya.


“Selamat pagi Tuan Muda, saya


Maya. Saya bekerja di rumah belakang, bertugas di bagian pakaian.”


Apa aku membuat kesalahan. Kenapa


sampai aku bisa berdiri di sini.


“Kenapa takut, aku memanggilmu


bukan karena kau melakukan kesalahan.”


Mendengar itu membuat Maya bukannya


semakin tenang, tapi malah semakin gelisah. Hanya satu alasan kenapa sampai dia


di panggil, pasti karena nona. Semalam telah terjadi sesuatu di rumah ini.


Walaupun tidak ada pelayan yang berani membicarakannya. Tapi Maya tahu ada


sesuatu yang terjadi.


“Aku hanya ingin bertemu dengan


teman istriku dan berterimakasih padanya.” Maya mendongak sebentar, melihat ke


arah Saga. Laki-laki itu tersenyum. “Terimakasih sudah menjadi teman di saat-saat


sulit istriku datang ke rumah ini.”


Kenapa dia masih pucat pasi begitu


si, memang aku semenakutkan itu apa.


Saga mendongakkan kepalanya, melihat


ke belakangnya. Han sedang berdiri tidak bergeming di belakangnya. Dengan wajah


datar namun pandangannya menatap lekat gadis itu.


“Han, kau menakutinya tahu,


berhenti melihatnya begitu. “


“Saya tidak sedang menatapnya Tuan


Muda. Saya sedang menunggu Anda.”


Alasan apa itu, jelas-jelas aku


lihat kau memelototinya.


“Jangan hiraukan dia, mendekatlah.”


Maya belum bergerak.


“Apa kau tidak dengar apa yang di


katakan tuan muda.” Han ikut bicara, geram karena Maya belum melangkah


sedikit pun. Ucapan Han semakin membuat Maya menciut.


“Hei, kenapa kau berteriak


padanya. Sudah kubilang kau menakutinya. Tutup mulutmu Han, mau kusuruh kau


pergi.”


“Maaf Tuan Muda.”


Jatuh cinta pada gadis ini baru tau


rasa kau nanti, pikiran liar Saga berlarian.


“Maafkan saya Tuan Muda.” Maya


berjalan mendekat. Saat ini dia benar-benar bisa melihat wajah Tuan Saga dengan


sangat jelas. Bukan hanya sekedar di TV atau di internet. Dia memang terlihat


sangat sempurna dan tampan. Gumam Maya dalam hatinya penuh kekaguman. Tapi


buru-buru dia menundukkan matanya lagi saat matanya  bertemu dengan


Sekretaris Han di belakangnya.


“Apa yang  biasanya dibicarakan istriku?”


“Nona banyak cerita tentang


pekerjaannya, dan adiknya.” Menjawab dengan cepat.


“Dia tidak membicarakanku.”


Hah! Pertanyaan apa ini? Aku harus


menjawab apa ini.


“Nona jarang bercerita tentang


kehidupan pribadinya Tuan Muda. Maaf.”


Seperti yang kuduga. Di rumah ini


tidak ada yang tau dia minum pil kontrasepsi. Dia pasti menyimpannya rapat


seperti menyembunyikan aibnya. Baiklah, karena kau anak yang baik, aku akan


membiarkan kalian tetap berteman.


“Baiklah. Sepertinya kau juga


tidak tahu apa-apa. Pak Mun pindah tugaskan dia untuk melayani Daniah mulai hari.”


Maya mendongak terkejut, yang baru


dia dengar tidak salahkan.


“Baik Tuan Muda.” Pak Mun


menjawab.


“Tugasmu hanya satu, pastikan


Daniah tidak melakukan sesuatu yang bisa membuatku kesal. Aku akan melipat


gandakan gajimu jadi bekerjalah dengan benar.”


Duarr, tugas macam apa itu.


Lagi-lagi Saga berfikir semua orang seperti Sekretaris Han, yang tahu


menafsirkan walaupun hanya dengan mendengar desahannya saja. Maya kebingungan


dengan tanggung jawabnya apa, tapi dia tidak berani bertanya. Dia hanya perlu


menjawab baik kan.


“Ba, baik Tuan Muda.”


Semoga ada yang bisa menjelaskan maksud

__ADS_1


perintah tuan muda nanti.


BERSAMBUNG


__ADS_2