Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
76. Menginap


__ADS_3

Malam semakin berputar, gelap semakin larut dan menenggelamkan penduduk bumi untuk masuk ke dalam mimpi-mimpi panjang. Mengistirahatkan sejenak tubuh untuk mengumpulkan kembali tenaga demi esok hari yang lebih baik.


Di rumah ini pun, pesta telah berakhir, satu persatu keluarga pamit pulang. Mereka tampak sangat senang karena mendapat kesempatan untuk menyapa Presdir Antarna Group. Melihat dari dekat, bernafas dengan udara yang sama, sudah menjadi kebanggaan yang bisa mereka ceritakan pada teman sejawatnya. Pesta ulang tahu Gunawan kali ini, adalah pesta paling spesial sepanjang hidupnya. Statusnya di hadapan keluarga besar naik drastis. Daniah yang tadi dipandang sebelah mata pun tidak luput dari jilatan sikap mereka. Seperti menjilat ludah sendiri, mereka tidak tahu malu, berpamitan dengan hangat dan bahkan ada yang memeluknya. Mengajaknya bermain dan berjanji akan mengirimkan hadiah pernikahan.


Daniah tersenyum, jujur, saat ini dia dalam kondisi hati yang sangat buruk. Perubahan drastis orang-orang ini setelah kedatangan Tuan Saga, hanya menunjukan bahwa dia sama sekali tidak berharga tanpa laki-laki yang sedang melingkarkan tangan di pinggangnya ini.


“Terimakasih Tuan Saga, Anda sudah menyempatkan waktu datang ke pesta sederhana kami.” Saga hanya duduk mendengarkan dan tidak bicara apa pun. Tapi dia membiarkan Ayah Daniah terus saja bicara. Dia sendiri lebih tertarik dengan wanita yang ada di sampingnya, Saga memainkan rambut Daniah. Menariknya, memaksa gadis itu menoleh dan memperhatikannya. Hanya fokus padanya.


Aku ingin menciumnya.


Mata Saga  fokus menelusuri lekukan leher Daniah.


Aku ingin menciuminya. Sialan!Apa yang aku pikirkan sekarang. Lihat aku, hanya lihat aku sekarang!


“Apa kau mau menginap di sini?” tanyanya sambil membelai lembut rambut Daniah. Ternyata dia bisa bertahan. Karena tidak mungkin dia melakukannya di depan orang tua Daniah kan. Pertanyaannya berhasil membuat Daniah fokus padanya.


“Tidak!” spontan berteriak. Karena reaksi spontanitas yang menolak, Saga malah semakin menjadi. Dia kan selalu senang kalau Daniah tidak suka. Intinya dia akan melakukan apa pun yang tidak diinginkan Daniah. Dan Daniah menyesali jawaban reaktifnya barusan, karena dia melihat bibir Saga tersenyum mencurigakan.


“Kenapa? Aku ingin tidur di kamarmu, tempat di mana dulu kamu tidur sebelum menikah denganku.” Tersenyum. Tidak perduli semua orang di ruangan ini kecuali manusia setengah batu Sekretaris Han sudah terkejut dan panik. Apalagi ibu, dia yang sudah terlihat takut semakin tampak pias.


Benarkan, dia punya rencana terselubung. Senyumnya sudah seperti itu. Dan kamarku, tidak, dia tidak boleh melihat kamarku.


“Sa, saya akan menyiapkan kamar tamu untuk Anda Tuan.” Ibu yang dari tadi hanya menunduk diam membuka suara. Dia kembali meremas tangannya khawatir ketika lagi-lagi sorot mata Saga tertuju padanya.


“Kenapa? Aku ingin tidur di kamar istriku yang dulu.” Masih tetap dengan pilihan pertamanya. Karena melihat gelagat wanita itu mencurigakan Saga malah semakin tertarik saja.


“Kamar Daniah sudah lama tidak dipakai jadi berantakan, saya akan minta pelayan menyiapkan kamar tamu. Niah, nggak papa kan kalau tidur di kamar tamu. Kamu bisa membantu ibu mengganti sprei tempat tidur, biar ayah dan Tuan Saga bisa berbincang.” Ibu bicara sudah dengan kalimat memohon, seharusnya Daniah menyeringai sekarang, tapi dia sungguh anak yang baik ya. Ia merasa iba melihat ibu tirinya.

__ADS_1


“Apa! Kau suruh istriku apa? Mengganti sprei. Haha, sepertinya kalian benar-benar tidak tahu posisi kalian ya.” Amarahnya memuncak mendengar kalimat ibu.


“Sa, sayang, bukan begitu.” Daniah memeluk Saga yang sudah bicara sambil berteriak. “Ibu hanya ingin aku membantu memilihkan sprei yang cocok. Ia kan bu?” Daniah menoleh pada ibunya. Berusaha menyelamatkan wanita itu. Kurang baik apa dia, seharusnya dia menikmati ini sebagai ajang balas dendam kan. Tapi ternyata tidak, sebencinya dia pada ibu tirinya, dia masih mengganggap bahwa keluarga adalah hal paling penting di atas semuanya.


“Ia, ia Tuan.” Ibu menjawab terbata. Saga hanya memandang sebentar, lalu beralih pada Han. Sekretarisnya duduk di sofa tidak jauh dari mereka duduk.


“Han!” Saat namanya dipanggil sekretaris cekatan itu sigap dan langsung mendekat.


“Ia Tuan Muda.” Siap menunggu perintah.


“Bereskan kamar, aku dan Daniah akan menghabiskan malam disini.” Memutuskan semuanya secara sepihak, sekaligus memberi tahu keluarga Daniah untuk jangan melakukan apa pun. Han yang akan menyiapkan semuanya.


“Baik Tuan Muda.”


Han mengangguk, lalu pergi keluar, terdengar dia menelepon dan bicara panjang. Daniah hanya menduga-duga apa yang dilakukan Sekretaris Han, setelah mendengar perintah sependek itu.


“Bereskan kamar, aku dan Daniah akan menghabiskan malam disini.”


Membereskan kamar menghabiskan malam apa lagi-lagi aku yang jadi korbannya!


...***...


Apa-apaan dia ini. Dia memanggil Pak Mun dan para pelayan datang ke rumah ini. Lihat apa yang dia bawa. Kenapa sekalian tidak membawa tempat tidur. Kenapa tidak sekalian kalian pindahkan kamar Tuan Saga kemari. Memang kalian pikir kami mau menginap berapa lama.


“Apa Anda mau saya membawa tempat tidur juga?” Bertanya pada Daniah yang menatapnya kesal. Han tahu nona mudanya pasti ingin menendang atau menginjak kakinya sekarang.


“Tidak!” Mengeram kesal. “Tolong, kalau gila juga kan harus ada batasannya dong.” Mendekat dan berkata lirih, supaya hanya Han yang mendengar. “Tempat tidur di kamar tamu juga sangat nyaman, sayang aku antar Pak Mun ke kamar tamu dulu ya.” Sudah berkata dengan suara normal.

__ADS_1


Saga malah melirik ibu.


“Tidak Niah, kamu temani Tuan Saga saja. Biar ibu yang mengantar mereka ke kamar tamu. Ayo silahkan Pak lewat sini." Ibu pergi, Daniah kembali duduk di samping Saga.


Raksa  yang duduk jauh, hanya mengamati. Risya menggigit jarinya khawatir, melihat semua pemandangan sepanjang acara setelah kedatangan Tuan Saga dan saat ini. Dia sungguh-sungguh merasa sebentar lagi duri tajam akan melilitnya kuat. Membalasnya dengan lebih tidak manusiawi, daripada yang sudah dia lakukan pada Daniah. Ibu pun berjalan gemetar, mengingat semua hal yang dia lakukan kepada Daniah. Dia tidak pernah berfikir kalau anak tirinya itu benar-benar mendapatkan kasih sayang Tuan Saga. Sesal tiada tara menghujani dirinya.


Sambil menunggu Pak Mun menyiapkan kamar, pembicaraan ayah kembali berlanjut, yang isinya berterima kasih, tentang perusahaan dan juga anaknya. Dia melirik Daniah memberikan sorot mata hangat yang masih dirasa janggal oleh Daniah. Tapi gadis itu tersenyum tulus dengan ucapan ayahnya. Ya, mungkin ini kerinduan yang sudah teramat lama. Saat ayahnya mencoba menyentuh hatinya. Jiwanya yang selama ini kering akan kasih sayang pun berterimakasih. Lupa, semua hal buruk yang sudah dilakukan ayahnya.


Saga hanya membalas sekenanya, tidak jauh berbeda ketika dia bicara dengan orang lain selama ini.


“Aku mau mandi.” Saga bangun sambil menoleh pada Daniah. Kata-katanya  menghentikan bicara ayah Daniah secara paksa. Padahal Gunawan belum menyelesaikan pujian-pujiannya.


“Baik, saya  akan siapkan.” Daniah bangun menyusul Saga yang sudah berjalan ke arah Pak Mun tadi pergi. “Ayah kami permisi.”


“Baiklah, pergilah, Tuan Saga pasti lelah. Pergi dan layani dia.” Ayah Daniah tersenyum sangat senang, hanya Tuhan yang tahu arti dibalik senyuman itu. Daniah menoleh sekali lagi pada.ayahnya, berharap.senyum hangat itu selamanya tertuju untuknya, terlepas apa pun hubungannya dengan Tuan Saga nanti.


Daniah menggandeng lengan Saga agar mengikutinya.


Setelah kedua orang itu menghilang Gunawan memberi perintah kepada bibi pelayan untuk mengantar Sekretaris Han menuju kamarnya. Laki-laki yang sedari tadi hanya diam dan entah makan atau tidak dia tadi. Tidak ada yang tahu. Benar, rasanya Sekretaris Han memang belum pernah ketahuan makan atau minum sekalipun ya. Wkwkw.


“Silahkan beristirahat Sekretaris Han, bibi akan mengantar ke kamar Anda.” Gunawan bicara dengan sopan, sama sopannya ketika bicara dengan Tuan Saga. Karena dia tahu, laki-laki di hadapannya ini sama berkuasanya di Antarna Group.


Han menganggukkan kepala, mengucapkan terimakasih lalu berjalan mengikuti bibi pelayan. Rasanya juga sudah lelah dan ingin tidur gumamnya.


Baiklah untuk hari ini sepertinya cukup, tuan muda tidak mungkin keluar dari kamarnya lagi. Aaaa, hari yang benar-benar merepotkan. Sepertinya ini pertama kalinya tuan muda perduli pada orang lain. Bahkan pada keluarga Helena pun tidak begini. Nona Daniah Anda benar-benar berhasil membuat Tuan Saga mati gaya. Aku ingin mandi air hangat lalu tidur.


Sekretaris Han masuk ke dalam kamar. Hari untuk sebagian orang sudah berakhir, tapi.untuk yang lain, malam panjang mungkin baru saja dimulai.

__ADS_1


Bersambung.............


__ADS_2