Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
105. Mengandung Anakku


__ADS_3

Di ruang ganti baju, Saga sudah mengganti baju yang baru saja dia pakai dengan setelan baju tidurnya. Daniah meletakan pakaian yang baru beberapa jam dipakai itu di keranjang baju kotor. Dengan perasaan sayang.


Cih, baru juga ganti baju sudah ganti baju lagi. Ini kan namanya pemborosan.


“Sayang.” Masih mematung di depan lemarinya, dia sudah menarik pintu dan memegangi handle lemari. Tapi belum membukanya.


“Hemm.” Menatap lekat pada istrinya.


“Aku pakai baju ini saja ya.” Daniah menarik ujung roknya. “Aku juga baru pakai tadi.” Sayang kan, bahkan dia tidak berkeringat atau kotor sedikit pun. Dia saja hanya bergulingan di sofa tadi.


Saga malah duduk di dekat meja penyimpanan jam tangan. Bertopang pada satu tangannya menyandarkan.bahu.


“Ganti bajumu dengan baju tidur.”


Ishh, kenapa juga aku musti bertanya tadi. Tapi apa kau mau duduk di situ selama aku ganti baju. Tidak tahu malu sekali.


“Sayang kenapa kau tidak menunggu di tempat tidur saja?” Sudah membuka lemari pakaian lebar, mengambil satu baju warna coklat.


“Kenapa? Memang apa yang mau kau sembunyikan.” Seringai di bibirnya muncul. “Aku bahkan sudah hafal seluruh lekuk tubuhmu.” Tertawanya menyusul kata-katanya. Membuat Daniah memerah malu. Dari telinga sampai wajahnya.


Dasar gila!


Saga tidak beranjak dari tempat duduknya. Melihat istrinya satu persatu menanggalkan pakaian lalu berganti dengan baju tidurnya. Baju tidurnya memang satu model, hanya berbeda warna.


“Ganti dengan warna pink.” Katanya tiba-tiba setelah Daniah selesai meletakan baju yang dia pakai di keranjang, menumpuk dengan pakaian Saga tadi.


Apa!


Setelah Daniah selesai dengan baju tidur warna coklatnya. Dia baru bicara, bukannya tadi di awal meminta Daniah untuk memakai baju warna pink. Ini dia sedang mengerjai aku kan, batin Daniah kesal. Dia masih menatap Saga jengah.


“Aku mau kau pake yang warna pink.”


Dia ini ya.


Gemetar-gemetar kesal. Mengambil baju tidur berwarna pink dengan gusar. Menutup lemari dengan keras. Kali ini sudah tidak bersikap malu-malu. Sudah secepat kilat mengganti baju supaya urusan cepat selesai.


Sudah puas!


“Ayo tidur, aku lelah.” Menarik tangan Daniah. Tidak mengomentari apa pun.


Saga menjatuhkan diri lebih dulu di tempat tidur, lalu menarik selimutnya. Sementara Daniah mematikan lampu setelahnya juga naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam bawah selimut.


“Mendekatlah!” Daniah menggeser tubuhnya, sampai menempel. Dia bersandar di dada Saga, sampai laki-laki itu bisa mencium kepalanya. “Kau bersenang-senang hari ini.” Membelai kepala Daniah yang bersandar di dadanya.


“Hemm.” Saga menarik telinga Daniah mendengar jawaban istrinya. “Apa?” Daniah bertanya sambil menyentuh jemari Saga agar melepaskan telinganya. Sakit tahu, begitu katanya lirih.


“Jawab dengan benar kalau aku bertanya.”


“Maaf.”


Padahal dia kalau ditanya jawabnya cuma hemm, hemm. Orang lain suruh menafsirkan sendiri. Memang semua orang sesakti Sekretaris Han apa.

__ADS_1


“Kami pergi ke spa, makan dan jalan-jalan sebentar tadi.”


“Spa?” maksud pertanyaannya tempat apa itu, kenapa kalian pergi ke spa.


“Ia, tempat untuk pijat seluruh badan.” Daniah menjawab sambil memperagakan tangannya memijat kaki Saga di sampingnya.


“Pijat! Kamu dipijat? Siapa? Kamu dipijat siapa? laki-laki atau perempuan hah!” mengguncang tubuh Daniah keras. Membuat orang kaget saja. Daniah sampai menggeser tubuhnya panik.


Idih apa-apaan si dia ini.


“Dipijat perempuan sayang. Semua dipijat perempuan kok. Itu juga spa khusus perempuan.” Saga mengeram kesal. Walaupun sudah dibilang dipijat perempuan juga tetap membuatnya kesal. “Kami di pijat ramaian kok, satu ruangan empat orang.”


“Apa empat orang.” Frustasi sendiri membayangkan. Istrinya di dalam ruangan bersama empat orang tanpa pakaian. “Bodoh! Memang siapa yang mengizinkanmu menunjukan tubuhmu di depan orang lain.” Kesal dia mendorong Daniah dari pelukannya.


“Apa!” Daniah juga kesal. Ada ya orang seperti dirimu ini. Kenapa tidak normal begini jalan pikiranmu. “Kami kan pijat juga pakai baju sayang. Pakai baju. Lagian semua perempuan kok.”


“Memang kalau perempuan lantas boleh melihat tubuhmu. Cih bagaimana Leela bekerja, begini saja tidak becus.”


Aaaa kenapa ini, kenapa bawa-bawa Leela juga. Apa ini maksudnya dia, yang selalu mengatakan kalau Tuan Saga pasti tidak suka.


“Sayang maafkan aku.” Merasakan sinyal bahaya mengancam. “Aku benar-benar salah dan tidak berhati-hati. Maafkan aku.”


Apa si, aku kan cuma dipijat perempuan. Kenapa sampai segitunya. Aku bahkan harus minta maaf karena dipijat perempuan.


“Lain kali kalau kau mau di pijat katakan padaku, Han akan panggil ahli memijat nanti, lakukan hanya di depanku.”


“Apa?” bingung.


“Ia, ia baik sayang.” Kehabisan kata-kata.


“Ahhh, membuat kesal saja. Kemarilah.” Menepuk dadanya tempat tadi Daniah berbaring.


Memang aku masih berani kembali ke situ.


“Kenapa diam?”


Daniah beringsut mendekat ke pelukan Saga lagi. Tangan laki-laki itu menepuk kepalanya lembut.


“Jangan memancing kemarahanku lagi.”


“Ia sayang. Maafkan aku.”


Kalau gila kumohon ada batasannya juga Tuan Muda, standar kehidupanmu ini aneh sekali si. Marah hanya karena aku dipijat. Kenapa tidak marah sekalian kalau ada laki-laki yang memanggil namaku. Eh, Leela pernah mengingatkanku ini kan. Cih, sudah seperti aku ini istri yang kamu cintai setengah mati saja.


Daniah melingkarkan tangannya memeluk pinggang Saga. Laki-laki itu tidak bereaksi. Tapi hembusan nafasnya belum terdengar seperti dia sudah tidur. Daniah mendongak, melihat Saga sudah memejamkan matanya.


Apa dia benar-benar mengantuk ya.


“Sayang, apa kau sudah tidur?”


“Hemm.” Ternyata belum ya gumam Daniah.

__ADS_1


“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” meneruskan kata-katanya. Dia ingin iseng memastikan sesuatu. Kalau dia mendapatkan jawaban itu akan lebih baik, kalau tidak ya sudahlah.


“Hemm.”


“Apa kau mencintaiku?” Menutup mulutnya, terkejut sendiri dengan pertanyaan yang ia lontarkan.


Ayo jawablah, jawablah.


“Hemm.” Jawaban yang sama dari sejak dia mulai bertanya.


Jadi maksudnya apa?


“Apa kau akan menceraikan aku suatu hari nanti.” Pertanyaan yang memancing kemarahan.


“Hemm.” Gemetar-gemetar geram sendiri Daniah. Mendongak, mata Saga tertutup. Dia ini sebenarnya sadar tidak si, gumam Daniah pelan.


“Apa kau benar-benar tidur.” Tuk, tuk, menusuk perut Saga, tidak ada reaksi. “Sayang apa kau punya pacar lain di luar sana.”


“Hemm.”


“Berhentilah menjawab hemm, hemm, memang aku tahu artinya apa.” Mengangkat kaki kirinya menyilang di kaki saga. Menjatuhkannya dengan keras.


“Kurang ajar sekali kau berani menindihku.” Suara Saga sama sekali tidak seperti orang yang sedang mengantuk. Daniah menarik kakinya pelan turun dari kaki Saga.


“Sayang, jadi kau belum tidur ya. Haha.”


Habislah aku.


“Kau berisik sekali bagaimana aku bisa tidur.” Sudah duduk di samping Daniah yang mulai mengkerut. “Kau tanya apa tadi?” Tangan mulai beraksi, menarik selimut. Menyusuri tubuh Daniah dalam balutan baju tidur warna pinknya.


“Apa aku mencintaimu? Benar mau mendengar jawabannya?” Memainkan daun telinga Daniah yang sudah memerah.


Antara ia, namun juga takut mendapat jawaban yang sebenarnya.


“Aku akan menjawabnya, kalau kau sudah mengandung anakku.” Memasukan jari ke dalam baju tipis Daniah. Tangannya menempel di perut, membelainya pelan. Mendengar kalimat barusan, wajah Daniah langsung berubah. Dia memalingkan wajah ke arah berlawanan. Menutupi perasaannya. “Apa kau sudah ada tanda-tanda hamil?” Mencium lembut perut Daniah yang ia sibak. Bibirnya menempel tepat di pusar.


“Sayang hentikan.” Daniah berusaha menyembunyikan bagian tengah perutnya dengan tangan. “Sepertinya belum. Maafkan aku. Sepertinya aku masih belum bisa mendengar jawabanmu ya.”


Bagi Saga hamilnya Daniah adalah ikatan kuat yang tidak akan bisa membuat Daniah kabur darinya, kalau sampai istrinya hamil, dia yakin wanita dalam pelukannya ini akan berhenti memikirkan cara meninggalkannya.


Bagi Daniah, kehamilannya saat ini adalah sesuatu yang di luar rencana hidupnya.


“Kenapa minta maaf, kita masih punya banyak waktu untuk melakukannya kan.” Sudah menjatuhkan diri di samping Daniah. Mulai menyentuh leher dengan bibirnya yang lembut. Membasahi telinga Daniah dengan kata-kata yang membuat gadis itu mencengkram tempat tidur. Saga sudah menarik baju tipis Daniah melemparkannya ke ujung tempat tidur. “Kau yang sudah menggangu tidurku ya. Rasakan akibatnya."


Sampai Saga selesai dan menjatuhkan diri di sampingnya, memeluknya erat, ada buliran airmata di matanya menetes. Daniah dirasuki perasaan bersalah dan takut sekaligus.


Kenapa kau mengatakan menginginkan anak dariku.


Malam semakin larut, cukup lama sampai Daniah juga ikut terlelap di samping Saga.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2