Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Bulan Madu (Part 10)


__ADS_3

Kode Zero, siaga satu. Rumah sakit kota mendapat panggilan darurat yang membuat semua petinggi RS kalang kabut.


Tim kesehatan langsung di


terbangkan dengan helikopter menuju pulau XX. Tempat dimana Daniah dan Saga


berbulan madu. Pulau yang menjadi sentra wisata kota XX. Dokter perempuan yang


di rekomendasikan Harun mendapatkan tugas pertamanya. Dengan paniknya dia


menjawab saat mendapat telfon untuk berada di pulau dalam hitungan menit. Kode


zero, darurat. Istri tuan Saga terluka. Begitu instruksi dan informasi gawat


yang di sampaikan padanya. Sepanjang helikopter mengudara wajahnya sudah


terlihat pias. Pesan yang dia kirim pada dokter Harun dibalas santai oleh


dokter muda itu.


Dia menatap layar hpnya serius, meyakinkan diri kalau pesan itu memang ditulis oleh dokter Harun sendiri. Jelas-jelas ini dari nomor pribadinya.


Tapi kenapa jawabannya santai begini!


“ Tarik nafasmu dalam, tenanglah, semua baik-baik saja. Anggukan


saja kepalamu dan ladeni  semua kemauan


tuan Saga, Jangan membantahnya atau berargumen di depannya,  semua pasti baik-baik saja.” Pesan itu sama sekali tidak membuat


kepanikannya hilang. Dia masih saja menebak-nebak dan berspekulasi apa yang


terjadi pada istrinya tuan Saga. Segawat apa situasi yang akan dia hadapi


nanti.


Sementara di tempat yang jauh di


sana Harun melemparkan hpnya ke meja. Bersyukur karena dia tidak ikut. Dia bisa


menebak apa yang terjadi di sana. Bagi Saga, kuku jari istrinya tergores saja


sudah bisa jadi kode zero yang membuat seisi rumah sakit panik.


Terimakasih Tuhan, walaupun


setumpuk pekerjaan di RS ini, jauh lebih baik. Daripada ngiler melihat pasangan


di mabuk cinta itu.


Jiwa jomblo dokter Harun mengeliat.


Kembali ke keadaan genting di


pulauXX,  Sebuah ruangan langsung di


sulap menjadi kamar perawatan VVIP. Tempat tidur diganti, seprei dan semua yang


ada di ruangan sudah berganti rupa, semua baru. Beberapa vas bunga denga  bunga asli aneka rupa sudah menghiasi beberapa


sudut ruangan. Mereka bergerak cepat. Beberapa orang hilir mudik memeriksa,


apakah ruangan perawatan sudah sempurna. Dan bisa di tempati.


Dan sekarang setelah melalui kekacauan, Daniah sudah menempati ruangan tersebut.


Saga di sampingnya duduk bersandar di tempat tidur. Wajahnya terlihat sangat


kuatir.


“ Sayang, aku tidak apa-apa.


sungguh. Lihatlah” Menepuk sekujur tubuhnya pelan dengan tangannya. “ Yang terluka Aran.” Daniah


berusaha menenangkan suami di sampingnya. Wajah Saga terlihat tegang. Rasa


marahnya, dan kobaran api yang tadi terlihat saat kedatangannya  sudah mulai memudar. Berganti rasa kuatir. Tapi dia tetap tidak mau mendengarkan penjelasan Daniah sedikitpun.


“ Diamlah, biarkan dokter


memeriksamu.”  Meraih tangan kiri Daniah


dan mengengamnya kuat. Menciumnya berulang.  Dokter wanita pengganti dokter Harun yang sepanjang perjalanan tadi


panik terlihat mulai bisa bernafas lega. Sepertinya apa yang dikatakan dokter


Harun benar adanya. Gumamnya pelan. Dia hanya harus mengikuti kemauan tuan Saga dan


menggangukan kepala saja. Dia mulai pemeriksaan,  memeriksa semua bagian vital Daniah. Denyut

__ADS_1


jantung, tekanan darah, mata, telinga, lidah. Bagian tubuh yang kasat mata. Dan


memang tidak menemukan ada luka sedikitpun. Bahkan sekecil apapun.  Pasien yang sedang terbaring di ruangan paling


besar di klinik ini dalam keadaan sehat walafiat. Bahkan satu goresan sedikitpun


tidak ada.


Lalu kode zeronya ini apa! Para


petinggi rumah sakit sudah gempar tadi.


Dokter perempuan itu berusaha


menahan tawanya membayangkan wajah para petinggi rumah sakit yang sudah kalang


kabut dan menyiapkan fasilitas VVIP di rumah sakit. Kalau istri tuan Saga perlu


di rujuk ke RS.


“ Istri tuan baik-baik saja. Tidak


ada tanda-tanda luka atau goresan di kulit. Semuanya baik-baik saja.”


Hah! Jadi pengakuan cintanya di tv


benar-benar tidak main-main. Dia benar-benar mencitai istrinya. Tadinya kupikir itu hanya kerjaan media menaikan rating.


“ Baiklah. Terimakasih sudah


melakukan pekerjaanmu dengan baik. Sekarang keluarlah!” Saga bahkan bicara


tidak mengalihkan pandangan matanya. Masih menyentuh pipi merah istrinya yang


menahan malu tidak terkira.


Aaaaa, aku pasti dianggap gila oleh


dokter cantik ini. Tuan Saga yang gila bukan aku dokter. Akukan sudah bilang


tadi kalau aku baik-baik saja.


“ Baik tuan, saya permisi sekarang. Untuk nona,


silahkan istirahat.” Dokter perempuan itu menganggukan kepalanya memandang Daniah.


“ Ia dokter. Terimakasih, maaf


mulutnya.


Dokter perempuan itu menganguk lalu


undur diri. Dia tidak bisa menahan senyumnya saat sudah berbalik dan melangkah


pergi menuju pintu keluar.


Daniah yang fenomenal itu. Aku


melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Sungguh beruntung sekali nona dirimu.


Pintu tertutup, dia menarik nafas dalam. Lega. Dia mengangukan kepala pada dua


pengawal yang sedang duduk di depan ruangan. Lalu salah satunya mengistruksikan


agar dirinya mengikuti. Dokter perempuan itu tidak banyak bicara dan mengikuti


saja langkah pengawal di depannya menuju ruang istirahat sebelum kembali ke rumah sakit.


Dia melihat hpnya. 20 panggilan tidak terjawab dari rumah. Pesan masuk yang jumlahnya puluhan juga dari pihak rumah sakit. Dia tertawa sendiri sambil terus melangkah mengikuti salah satu pengawal yang membawanya.


***


Sementara itu di dalam ruangan.


Wajah tegang dan panik Saga sudah berangsur menghilang. Dia terlihat sangat lega sekarang. Tapi sekarang


giliran Daniah yang panik.


“ Kemarilah!” sudah ikut duduk di


tempat tidur. Mendorong kursi yang dia duduki tadi menjauh.


“ Sayang, kau mau apa?" Berteriak terkejut dengan tindakan tiba-tiba Saga. " kenapa menarik


bajuku? Lepaskan!” Berusaha melawan sekuat tenaga. Sambil mengoyangkan tangannya. Dan meraih bantal kepelukannya.  Menepis tangan Saga, karena suaminya


benar-benar tidak tahu situasi.


Inikan ruangan perawatan, bahkan

__ADS_1


para pengawalmu ada di luar. Kalau mereka tiba-tiba masuk bagaimana!


“ Aku mau memeriksa tubuhmu. Apa


ada yang terluka atau tidak.” Sudah berhasil menarik lepas pakaian Daniah.


“ Dokter sudah memeriksanya tadi.


Aku baik-baik saja.” Masih berusaha menahan tangan Saga. Yang mustahil bisa dia


lawan.


“ Aku mau memeriksanya sendiri.


Sudah diam!” Suara Saga sudah tidak selembut saat dia panik tadi. Sudah kembali


normal seperti biasa. Ketus dan sok berkuasa. Tidak bisa di bantah sama sekali.


Tapikan tidak perlu melepas baju


juga kaliiii!


Daniah menyerah, pemeriksaan


kesehatan bukan oleh ahlinya dilakukan.  Setiap inci bagian tubuh Daniah tidak luput dari pemeriksaan, dibumbui


dengan kecupan di sana sini. Sepertinya tindakan di luar kegiatan mediklah yang jauh lebih banyak di lakukan Saga.


“ Sayang, kau sudah memeriksa


bagian itu dua kali.”


Lagi pula akukan tidak mungkin


terluka di bagian itu juga!


“ Benarkah?” Tidak perduli yang


diucapkan Daniah dan masih melanjutkan apa yang dia lakukan.


Aaaaaa.


Selesai sudah hasil pemeriksaan oleh dokter dadakan. Dia sudah merasa


puas kalau istrinya benar-benar baik-baik saja. Dia menjatuhkan tubuh berbaring


di samping Daniah. Melingkarkan tangan. Menempelkan pipi kiri Daniah ke bibirnya.“


Maafkan aku.”


Kenapa kalau dia minta maaf aku


malah takut si. Karena biasanya akan muncul aturan-aturan aneh setelahnya.


“ Seharusnya aku tidak membiarkanmu


pergi. Seharusnya kau tetap ada di bawah pandanganku.”


Nahkan, benarkan, jangan buat peraturan aneh-aneh lagi.


“ Aku benar-benar tidak apa-apa


sayang.” memandang wajah suaminya hangat. " Sungguh aku baik-baik saja. Aran dan dua pengawalmu benar-benar melindungiku dengan baik. Aran sampai terluka begitu."


Ayo fokus pada mereka saja Daniah, jangan membahas kak Haksan. Aku tidak pernah melihatnya berteriak semarah itu tadi. Dan itu membuatku benar-benar merinding.


“Kau mau aku melakukan apa pada


laki-laki itu?”


Bagaimana ini, kalau aku bilang


untuk melepaskannya bagaimana kalau tuan Saga malah semakin murka.


" Aku mungkin saja sudah membunuhnya kalau Han tidak menahanku tadi."


Benarkan, aaaa, aku tidak berani bicara apapun.


" Maaf, maafkan aku membuatmu kuatir." Akhirnya hanya mengatakan itu sambil memeluk Saga. mendekatkan wajahnya lebih dekat. "Terimakasih sudah datang, aku benar-benar senang melihatmu tadi." Senyum yang muncul di wajah Saga melegakan hati Daniah.


" Niah, berjanjilah satu hal padaku." Membelai pelan kepala istrinya.


" Apa?" Daniah mendongakan wajahnya.


" Jangan sampai terluka. Karena aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan pada orang yang melukaimu."


Daniah bahkan tidak berani menjawab apapun. Dia hanya memeluk Saga lebih erat lagi.


" Sayang hentikan." Keharuan itu langsung pecah saat tangan mulai tidak bisa dikondisikan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2