
Hariawan sudah keluar ruangan, dia
tidak membicarakan apa pun tentang daftar wanita yang sudah dia susun semalaman.
Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keponakannya memperlakukan
istrinya. Dia tahu untuk menyerah. Peringatan Sekretaris Han siang tadi adalah
benar. Kalau dia melangkah lebih jauh lagi, hubungannya dengan Saga yang sedang
tidak terlalu baik akan jauh lebih memburuk lagi.
Sementara itu Daniah dan Saga
memilih tinggal di ruang baca.
“Sayang, kenapa membiarkan pamanmu
berlutut?” Menyuarakan rasa tidak sukanya.
“Aku tidak menyuruhnya berlutut,
dia sendiri yang berlutut.” menjawab sesuai kenyataan, membuat Daniah langsung merasa kalah sekaligus kesal.
Cih, tetap tidak mau mengakui
salah.
“Tapikan kamu bisa memintanya
bangun tadi.” Upaya membantah pertama. Dia benar-benar belajar dengan giat setiap hari. Keberaniannya juga mulai perlahan bersemi subur.
“Tidak dengar tadi aku sudah
menyuruhnya bangun.” Emosi. “Kau berdiri di sana tapi isi kepalamu ke mana?”
menunjuk ruang kosong tempat di mana Daniah tadi berdiri.
Idih, aku kan berfikir keras tadi.
“Ia, ia tadi kamu sudah
menyuruhnya bangun tapi dia yang tidak mau.” Mengalah karena merasa dirinya
waras. “Tapi kan paman lebih tua usianya dari kita sayang. Dan dia pamanmu.” Terkejut, reflek memundurkan kepala karena Saga mendekatkan wajahnya.
“Niah.”
“Eh, ia.”
“Kalau ayahmu juga melakukan
kesalahan yang sama seperti yang pamanku lakukan, aku tidak akan semudah itu
memaafkannya. Sekali pun kau yang berlutut memohon menggantikannya.”
Ia, ia, aku tahu. Tanpa perlu
melihat ini aku pun tahu. Seberapa berkuasa dan keras kepalanya kamu.
“Ia, aku tahu. Tapi sayang lain
kali tidak perlu menunjukkan padaku hal seperti ini aku juga sudah paham.” Ya Daniah paham sekali. Sekuat apa pun perasaan yang mengikat mereka. Laki-laki di hadapannya tetaplah Tuan Saga. orang yang bisa melakukan apa pun hanya dengan isyarat tangannya. Dia tidak akan lupa itu.
“Apa? kamu sedang bicara apa
lagi?” Mulai paham kalau istrinya mulai menulis novel drama yang tidak nyambung dengan kenyataan.
“Aku sadar seberapa berkuasanya
kamu.”
“Huh! Dasar bodoh.”
Tuh kan, dasar tidak nyambung. Aku ingin menunjukan kepada paman sebesar apa aku mencintaimu, makanya aku menarikmu kemari.
“Apa si, kenapa bilang aku bodoh?” Protes dengan wajah yang dibuat sok menggemaskan. Daniah tidak tahu kalau dia memasang wajah mematikan seperti itu, dia bisa membuat Saga melakukan apa pun yang ia minta. Lihat, bagaimana Saga menahan diri untuk tidak menciuminya sekarang.
“Kau tahu kenapa pamanku kemari?” Saga memilih memainkan jari-jarinya di pipi Daniah.
Menganggukkan kepala kuat, dia sudah
mendengarnya tadi. Tentu dia tahu. “Paman ingin kembali bekerja di ibu kota,
jadi datang padamu memohon.”
“Bodoh! Baiklah, karena kau mengemaskan
aku memaafkan kebodohanmu. Kemarilah.”
__ADS_1
Apalagi si ini, memang kenapa paman
datang.
Daniah mendekat, Saga meraihnya dan
menjatuhkannya dalam pelukannya. Dia mendekap erat Daniah. Mencium pipi
istrinya. Tangannya menyentuh punggung dan kepala Daniah. Membuat gadis itu
bingung. Tapi dia tetap membenamkan dirinya dalam pelukan suaminya. Dia sekarang juga meletakan tangannya di bahu Saga dan mengusapnya pelan.
“Kalau ibu melakukan sesuatu yang
mengganggumu katakan padaku, jangan coba menghadapinya sendiri.”
Eh, dia tahu. Apa dia tahu tentang
pil kontrasepsi juga. Pak Mun!
“Kedepannya hanya pegang tanganku
dan percaya padaku. Aku mencintaimu, ingat itu di hati dan pikiranmu. Apa pun
yang orang lain katakan jangan pedulikan. Kau paham.” Semakin erat dia memeluk istrinya. mencoba mengalirkan cinta dan perasaan tulusnya pada Daniah. Hanya percaya padaku, apa pun yang terjadi kedepannya. Begitu yang ingin ia sampaikan.
“Ia sayang. Terimakasih sudah
mencintaiku. Aku akan melakukan hal yang sama untukmu.” Mencium pipi kiri Saga.
“Kalau kau berani membujuk untuk
menikah lagi, habis kau.” Telak, Daniah langsung terbelalak mendengarnya.
Apa! Bagaimana dia bisa tahu
rencana ibu. Pak Mun!
Saga mengendurkan pelukannya,
membuat Daniah melepaskan diri. Sekarang gadis itu menyentuh wajah suaminya.
“Aku tidak akan membujukmu menikah
lagi, kenapa juga aku melakukannya. Aku kan ingin memilikimu sendirian.”
Tertawa. “Terimakasih sayang. Terimakasih sudah mencintaiku.”
telinga Daniah. Membuat gadis itu langsung pucat dan membelalakkan mata. “Aku
menunggu malam ini, servis pijat plus-plus darimu.” Lalu dia terbahak melihat Daniah
yang membeku.
“Hei, mau kupanggil Dokter Harun,
wajahmu langsung pucat pasi tu.”
Aaaaaaaaaa!
***
“Berhentilah sampai di sini.”
Hariawan meletakan map coklat
di atas meja. Dia dan ibu sudah bicara berdua di ruang membaca milik ibu. Wanita
itu meraih amplop di atas meja. Mengeluarkan isinya. Lalu membantingnya di atas
meja.
“Aku bahkan tidak punya kesempatan
menyerahkannya pada Saga. Bagaimana aku bisa bicara kalau dia menarik istrinya
untuk ikut masuk ke ruangan kerjanya.” Dan slide kejadian tadi melintas lagi,
Hariawan bahkan secara detail bisa menceritakan bagaimana mesranya hubungan
Saga dan Daniah.
“Kak, Daniah tidak pantas menjadi
ibu dari anak-anak putraku.”
“Hentikan! Sekretaris Han bahkan
sudah bisa menduga rencanamu.” Hariawan bicara tegas.
__ADS_1
Wajah ibu menjadi pias karena
terkejut. Sekali lagi, ia selalu kalah langkah dalam hal apa pun. Menghadapi
sekretaris itu.
“Apa kau mengatakan padanya?” Merasa kesal dan dikhianati.
“Tidak. Mana mungkin aku
mengatakannya. Dia bahkan sudah tahu hanya karena kedatanganku. Berhentilah
sampai di sini, dan terimalah Daniah sebagai menantu di rumah ini. Saga bahagia
bersamanya. Bukannya itu yang utama.”
Ibu menghela nafas berat. Ya, kalau
hanya melihat itu tentu dia juga akan ikut sangat senang. Tapi pergaulan kelas
atasnya bukan hanya tentang bahagia dan cinta. Tapi lebih tentang status sosial
seseorang.
Daniah, jika dilihat dari
penampilan fisik tentu saja dia kalah jauh dari Helen. Pekerjaan, apa yang bisa
dia banggakan dari pekerjaannya sekarang. Orangtua, dia bahkan tumbuh dari
keluarga yang tidak lengkap. Walaupun dia punya ibu tiri sekali pun. Dan sampai
kapan rahasia tentang asal usulnya akan tersimpan rapat seperti sekarang. Jika
putranya memperkenalkannya ke publik, orang-orang akan mulai mencari tahu dan
berusaha menggali informasi.
“Aku akan berusaha membujuk
Daniah.” Akhirnya rencana terakhirnya terlontar juga. walaupun tadi pagi dia gagal memprovokasi. Tapi dengan sedikit usaha dan strategi dia yakin Daniah akan menyerah dan mengikuti idenya.
“Apa kau sudah gila! Kau pikir
gadis itu bisa melakukan apa.”
“Membujuk Saga untuk memilih salah
satu gadis ini untuk menikah secara resmi dengannya.” Meraih amplop coklat
di hadapannya. “Daniah yang akan melakukannya.”
“Apa kau pikir Sekretaris Han akan
diam saja. Sudahlah. Hentikan jangan membuat semua orang susah. Dia bahkan tahu
kalau kau mengirimkan uang setiap bulan padaku.”
“Apa!”
“Han tahu semua yang kau lakukan,
dan dia pasti melaporkan semuanya pada Saga.”
Ibu cukup terguncang dengan
kejadian ini. Dia sudah berusaha sembunyi-sembunyi mengirimkan uang pada kakak
laki-lakinya. Karena selama ini Saga tidak pernah menanyakannya, dia pikir
putranya tidak tahu. Dan sekarang, Sekretaris Han bahkan bisa menebak
kedatangan kakaknya. Yang sudah susah payah ia bujuk untuk coba merayu Saga.
Ibu Mencengkeram tangannya sendiri
merasa sangat kesal.
Epilog
Pak Mun batuk-batuk di dapur. Dia
duduk memeriksa laporan keuangan rumah tangga di meja dapur. Terbatuk lagi sambil mengelus-ngelus dadanya.
Kenapa sepertinya aku sedang
dimaki-maki ya, tenggorokanku jadi gatal begini.
Dia bangun dan mencari segelas air
__ADS_1
dingin.
bersambung