Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
139. Main Pijat-Pijatan


__ADS_3

Hari ini Saga pulang ke rumah jauh


lebih awal dari biasanya. Tanpa ada drama karena Sekretaris Han memberi info


akurat pada Daniah. Gadis itu benar-benar langsung menarik tangan Leela untuk


mengantarnya pulang. Walaupun dia sadar kontrak mematikan antara dirinya dan


Saga sudah berakhir, tapi seperti menuruti kemauan Saga dan tidak membuatnya


marah menjadi suatu kebiasaan yang nyaris mendarah daging. Walaupun saat ini


sesekali dia masih suka membantah kalau melalui kata-kata.


Seperti hari ini, selepas mandi dan


menunggu waktunya makan malam mereka menghabiskan waktu di dalam kamar. Duduk


di atas tempat tidur. Masih memakai pakaian lengkap mereka. Lalu Saga memberi


ide sambil menghabiskan waktu. Untuk main pijat-pijatan.


“Buka bajumu!” katanya duluan. Dia


memilih untuk memijat duluan. Sudah menarik ujung baju Daniah. Gadis itu


berusaha mempertahankan pakaian yang melekat di tubuhnya.


“Tidak mau!” Tidak kalah berteriak


mengalahkan suara Saga. Kalau dia melepas baju, dia tahu apa selanjutnya yang


akan terjadi.


“Kau benar-benar berani ya


sekarang.” Saga menundukkan kepalanya. Menempel di telinga Daniah. Bahkan nyaris


menggigit telinga itu.


“Sayang, bukan begitu. Pijat saja


bahuku.” Daniah menepuk bahunya, sementara posisi dia sudah tidur tengkurap


tanpa bisa bergerak sedikit pun. Saga sudah berada di atasnya bertumpu pada


lututnya. Daniah hanya berharap kaki suaminya sekokoh sifat berkuasa dan menang


sendirinya. Hingga dia tidak perlu gelisah dan takut tergencet sedikit pun.


Kenapa juga si pakai acara


memijatku segala, biasanya kamu kan yang minta pijat.


Tidak  menghiraukan ocehan Daniah Saga menarik baju


Daniah paksa. Setelah berhasil melepaskannya dia melemparkan baju itu jauh dari


tempat tidur. “Dasar pembangkang!”


“Maaf, maaf!” Berteriak karena


cubitan tangan Saga di pinggangnya.  Saat


Saga melepas satu-satunya pelindung tubuhnya dia pasrah. Telinganya merinding


geli saat bibir laki-laki itu menelusuri punggungnya.


Pijat, pijat saja, kenapa musti


cium-cium segala. Memang ini panti pijat plus-plus apa!


Walaupun akhirnya Daniah terdiam


dan menikmati setiap sentuhan tangan Saga di punggungnya.


Cih, kenapa dia bisa melakukan


semua hal begini si. Bahkan pijatannya sangat nyaman. Gerutu Daniah berakhir


menjadi pujian. Beberapa kali dia mengerjapkan mata karena merasa sangat


nyaman.  Sungguh menikmati, karena tangan


Saga benar-benar fokus memijat tanpa menjahilinya.


Saga fokus dengan gerakan


tangannya, mulutnya tidak bicara sepatah kata pun. Dia menyusuri setiap bagian


punggung istrinya. Kecupan lembut dia berikan dibeberapa titik saat memijat.


“Balikan badanmu!” Setelah cukup


lama dia memijat punggung Daniah.


Apa! Daniah belum bergerak. Dan dia


tidak mau bergerak dari tempatnya. Hanya Mengangkat kepala, mencari di mana


bajunya. Tidak terlihat. Saat dia memutar pandangannya dia melihat pakaiannya


teronggok di lantai di dekat meja rias.


Habislah aku kalau aku berbalik.


“Balikan badanmu. Bagian punggung


sudah selesai sekarang bagian depan.” Saga mengulang kata-katanya. Tapi dia


tidak merubah posisi masih bertumpu pada lututnya di atas punggung Daniah. Dia


mengangkat tubuhnya lebih tinggi, supaya Daniah bisa memutar tubuhnya.


“Tidak mau!”


“Apa! kau benar-benar belajar


dengan giat membantahku ya.” Gusar, menurunkan bagian lututnya supaya tubuhnya


menempel di punggung polos Daniah.


“Haha, sayang bukan begitu.”


Daniah mulai takut tertindih. “Bagian depan tidak usah dipijat. Sudah cukup


sekarang. Nyaman sekali. Ahhh, senangnya. Terimakasih sayang.” Daniah menyentuh


bahunya dengan tangan kanan dan memberikan sedikit pijatan di sana. Menunjukan


kalau dia merasa sangat puas dengan sentuhan tangan Saga. “Tanganmu hebat


sekali, aku bahkan berfikir kalau aku dipijat tukang pijat profesional. Sayang


apa kamu juga pernah ikut kelas memijat.” Benar-benar berusaha mengalihkan


pembicaraan.


“Balikkan badanmu!”

__ADS_1


Sial, dia tidak menggubris


kata-kataku.


“Tidak mau, aku tahu apa yang kau


pikirkan.” Berusaha tetap diposisinya tengkurap.


“Hei gadis mesum memang apa yang


kau pikirkan!” Tertawa sekali lagi, sambil tangannya mulai aktif menjahili bagian


sensitif.


Nah kan lagi-lagi kenapa aku yang


kena si. Yang mesum itu kamu Tuan Saga. Tapi kenapa aku yang selalu kena.


“Aku hitung sampai tiga belum


berbalik, habis kau!” Mulai mengancam karena bosan menunggu. Daniah masih


bersikeras mempertahankan posisinya.


“Ia, aku berbalik.” Berteriak. “Tapi sayang, kamu bisa turun dulu kan?”


“Tidak mau.” Menjawab secepat


kilatan lampu kamera.


Apa!


“Satu...” Mulai menghitung karena


kesal.


Secepat kilat Daniah memutar


tubuhnya. Tangannya berusaha menjangkau selimut atau apa pun yang bisa


diraihnya. Tapi tidak ada apa pun yang bisa di sentuhnya. Hanya bantal yang ada


di sampingnya. Tidak mungkin dia meraih benda besar itu.


“Apa yang kau cari?” Tangan Saga


meraih tangan Daniah, yang mencari upaya terakhir untuk menutupi bagian depan


tubuhnya. “Aku kan bilang hanya akan memijatmu. Tidak yang lain. Dasar mesum.”


Telunjuknya menunjuk kening Daniah.


“Janji!”


“Tidak mau!” Seringai muncul di


garis bibir Saga. Selama beberapa detik dia benar-benar melakukan gerakan


memijat seperti yang dia lakukan tadi. Tapi selang hanya beberapa detik saja


dia sudah tergelak dan menjatuhkan diri di samping Daniah.


“Sayang.” Mulai waspada.


“Siapa suruh kamu nggak pakai baju.”


Tertawa puas.


“Apa! memang siapa yang melepas


dan melempar bajuku entah ke mana.”


menyentuh bagian kesukaannya. Dan melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Aaaaaaa, benarkan aku tahu yang kau


pikirkan. Bukan otakku yang mesum kan. Ayo klarifikasi kata-katamu tadi.


***


Daniah berhasil membujuk Saga untuk


duduk. Setelah dia puas melakukan apa yang dia inginkan. Gadis itu sudah


mengambil pakaian dan memakainya. “Sekarang gantian ya. Aku yang akan


memijatmu.” Tersenyum manis.


Cih, bagaimana kalau Pak Mun


tiba-tiba datang mengetuk pintu tadi.


Selang beberapa saat setelah Daniah


mulai memijat,  dia bahkan baru menyudahi


pikirannya pintu benar-benar di ketuk. Pak Mun masuk tanpa mendengar suara


balasan.


Lihat kan! Dasar Tuan Saga.


Daniah meneruskan pijatannya


sementara Pak Mun mendekat.


“Kenapa?” Saga bertanya.


“Ada tamu yang di undang nyonya


untuk makan malam Tuan.” Tanpa diberitahu siapa orangnya Saga sudah bisa


menebak siapa tamu yang dimaksud Pak Mun.


Sudah kuduga, dia tidak mungkin


tidak datang.


“Siapkan saja semuanya.”


“Apa Anda mau turun untuk menyapa


Tuan. Nyonya juga sedang menunggu di bawah.”


“Aku akan menyapanya saat makan


malam nanti.”


“Baik, kalau begitu saya permisi.”


Pak Mun menganggukkan kepala pada Daniah sebelum berlalu. Gadis itu yang


penasaran dan ingin bertanya berhasil menutup mulutnya. Menunggu sampai Pak Mun


berlalu ke luar kamar.


"Siapa sayang?” Menatap Saga,


sementara tangannya berhenti beraktifitas.

__ADS_1


“Apa! teruskan tanganmu.” Saga


menggerakkan kakinya. Tidak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan Daniah.


Tangannya terulur menyentuh rambut Daniah. Menciumnya beberapa kali. “ Kapan kau mau naik level jadi pijat


plus-plus” lihat, senyum nakalnya tapi tersimpan keseriusan seperti biasanya di


sana.


“Apa!” terkejut. Apalagi saat mata


mereka bersitatap Daniah bisa melihat keseriusan di mata Saga. Bahwa dia ingin


servis lebih dari sekedar pijatan biasanya.


Gila ya!


“Haha Sayang.” Tidak tahu harus


berkata apa. tidak tahu juga pijat plus-plus yang sebenarnya itu seperti apa.


“Satu gerakan saja.” Saga


mengangkat satu jarinya. Menepuk kedua lututnya. “Naik!”


“Apa! gerakan apa?” Pura-pura


bodoh saja pikir Daniah. Dia masih terlalu malu untuk melakukan hal agresif


apa pun di hadapan Saga saat lampu kamar masih menyala.


“Mau kuajari.” Tertawa tanpa


malu.


“Tidak! Tidak mau.” Spontan  menjawab dan spontan mendekat, Daniah hanya


memberikan kecupan di bibir Saga. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.


Lalu dia secepatnya bergerak ke posisinya semula.


“Kurang!” Mengetuk-ngetuk bibirnya


yang habis mendapat kecupan dari istrinya.


“Sayang!” memohon. Hanya wajahnya


yang menunjukan kalau dia benar-benar malu. Tapi Saga selalu menyukai ekspresi


malu-malu dan wajah merah padam Daniah. Hingga dia jauh lebih giat menjahili


istrinya kalau sudah seperti itu.


“Sini kuajari bagaimana pijat


plus-plus.” Menarik tangan Daniah sampai tubuh gadis itu terjatuh di dadanya.


Aaaaaaaaa.


Ketukan pintu dan suara panggilan


ibu langsung membuat Daniah terperanjat kaget. Dia bangun dari pelukan Saga.


Merapikan rambutnya. Sementara Saga tidak perduli dan berusaha menarik tubuhnya


untuk kembali terbaring.


“Saga, ibu masuk ya.”


Posisi orang-orang di atas tempat


tidur sudah normal kembali. Saga sudah duduk bersandar, sementara kakinya ada


di pangkuan Daniah. Gadis itu merapikan rambutnya lagi dengan cepat ke belakang


telinga. Memastikan sekali lagi kalau penampilannya normal. Dia menarik kancing


bajunya saat melihat pakaiannya terbuka sedikit.


“Kenapa Bu?” Saga bertanya ketika


ibu sudah mendekat ke tempat tidur.


“Daniah sedang memijatmu ya?”


Tanya ibu sebelum menjawab Saga. Dia menatap tajam menantunya.


Melihatku memijat Tuan Saga


pandangan ibu sudah setajam silet. Bagaimana kalau tadi dia datang saat aku


sedang dipijat, apa matanya akan jadi gergaji mesin yang mengoyakku.


“Bisakah kamu turun sebentar,


pamanmu datang berkunjung. Sudah lama kan kalian tidak bertemu.” Akhirnya


berusaha tidak memperdulikan apa yang dilihatnya.


“Aku akan menyapanya nanti.” Saga


membalas cepat.


“Sayang.” Daniah menurunkan kaki


Saga. “Kenapa kita tidak turun sekarang.” Mendengar tamu yang datang adalah


paman, Daniah berinisiatif untuk mengajak suaminya turun.


“Kau belum selesai memijatku!”


protes. Sambil menunjuk kaki dengan ekor matanya. “Dari tadi tanganmu bahkan


belum bergerak dari kaki.”


“ Kita lanjutkan nanti lagi sebelum


tidur ya.” Jawaban Daniah membuat ibu meliriknya lagi, masih dengan pandangan


setajam pisau dapur.


“Saga apa kamu mau ibu mengundang


tukang pijat profesional. Salon langganan Ibu.” Ibu benar-benar berusaha sekuat


tenaga, mencari celah sekecil apa pun harapan ada di sana.


“Tidak perlu Bu, Daniah bahkan


sudah sekolah memijat. Aku harus memakai apa yang sudah aku investasikan.”


Apa! dasar!


Saga berjalan di samping Daniah


sambil melingkarkan tangannya di bahu Daniah. Memainkan telinga gadis itu.


Tidak perduli ibu yang juga menoleh dan memperhatikan apa yang dia lakukan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2