Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
131. Duka Yang Berulang Setiap Tahun


__ADS_3

Hari yang tidak selalu sama, tapi


di tanggal yang sama dan bulan yang sama setiap tahunnya.


Setiap tahun selalu ada agenda


tahunan di Antarna Group. Peringatan kematian pendiri sekaligus presdir pertama


Antarna Group. Ayah dari Saga Rahardian. Di tanggal yang sama setiap tahunnya


Antarna Group akan melakukan kegiatan bakti kepada masyarakat. Semua anak


cabang di bawah Antarna Group kecuali yang bekerja di bidang layanan publik,


mall dan rumah sakit akan di liburkan untuk aktivitas pekerjaan rutin. Mereka


akan melakukan kegiatan sosial kepada masyarakat.


Instruksi dari pusat memberikan


beberapa alternatif kegiatan. Agar semua bersinergi dengan perusahaan satu


dengan yang lainnya. Beberapa hari yang lalu semua pimpinan perusahaan sudah


berkumpul di gedung pusat untuk melaporkan rencana bakti kepada masyarakat ini.


Secara detail mereka memberi laporan kegiatan apa yang akan mereka lakukan.


Baik dari acara maupun besarnya biaya yang di keluarkan. Sudah ada jumlah


patokan uang yang harus dikeluarkan dari pusat.


Biasanya mereka akan melakukan


pelayanan kesehatan seperti donor darah untuk para karyawan. Yang semua hasil


darah yang terkumpul akan disumbangkan kepada bank darah nasional. Mereka juga


memberikan makanan gratis yang biasanya ada di setiap halaman perusahaan.


Siapa pun boleh ikut menikmati. Tanpa ada batasan.


Setiap tahun di tanggal yang sama


masyarakat ikut berdoa bagi kesuksesan Antarna Group. Doa-doa mereka terbang ke


langit.


Selain kesehatan ada juga pembagian


sembako secara gratis bagi ribuan orang yang sudah mengantri dengan tertib.


Mereka adalah ibu-ibu yang datang dari pelosok negri. Mereka yang setiap tahun


selalu menantikan momen ini. Mungkin mereka terlihat senang bisa mendapatkan


semua kebaikan ini dari Antarna Group. Namun mereka selalu menyelipkan dalam


doa-doa mereka supaya perusahaan ini tetap jaya selamanya. Bisa menjadi tempat


anak-anak mereka bekerja. Bisa menjadi tempat mereka menggantungkan hidup dengan


layak.


Selain kepada masyarakat Antarna Group selalu memberi bonus tahunan yang diberikan pada hari ini kepada semua karyawannya. Besarnya ditentukan berdasarkan lamanya dia bekerja di Antarna Group.


Di tanggal ini setiap tahun, duka


itu kembali dikenang. Tapi dengan cara yang berbeda-beda olah setiap orang.


***


Saat semua lini masa membicarakan


peringatan kematian pendiri Antarna Group,  Saat banyak orang menerima banyak sekali


kebaikan dari Antarna Group, sementara itu di manakah Saga dan semua anggota


keluarganya. Mereka tidak pernah muncul di publik. Untuk menunjukan duka


mereka. Media pun tidak berani mencari tahu. Berita yang muncul di TV hanya


tentang bagaimana Antarna Group berbagi pada masyarakat. Tapi tidak pernah


menyinggung ranah pribadi pemiliknya.


Saga dan semua orang ada di sini.


mengingat duka yang sudah sekian lama berlalu. Semua orang sudah berdiri dengan


tenang. Seorang pemuka agama membacakan doa dengan khusyu. Terdengar isak dari


beberapa sudut. Saga sampai melihat Daniah di sampingnya. Gadis itu terisak


tertahan. Ia terlihat menyeka air matanya pelan. Namun berusaha tidak


mengeluarkan suara.


Ibu yang dipeluk Sofi jauh bisa


mengeluarkan suara tangisnya. Dia sesenggukan. Pasti teringat semua kenangannya


bersama suaminya. laki-laki yang ia nikahi karena cinta. Laki-laki luar biasa


yang tak tergantikan bahkan sampai hari ini.


Setelah pemuka agama selesai


membacakan doa, dia beringsut pergi. Membiarkan keluarga Antarna group tenggelam


dengan duka mereka masing-masing. Sekretaris Han tetap setia di posisinya.


Berdiri tidak jauh dari Saga. Saat ini ia menatap Daniah dari belakang ada rasa


bersalah yang muncul di matanya.


Maaf kan saya Nona.


Saga terlihat mengulurkan tangannya


pada Daniah. “Mendekatlah!” lembut dia bicara, Daniah menurut dengan berdiri


di samping Saga. Laki-laki itu mencium kepalanya. Membelai kepalanya lembut.


Isak gadis itu semakin terdengar. Ia berusaha menahannya, tapi tidak berhasil.


Saga meraih tangan Daniah dan menggenggamnya.


“Menangislah kalau kamu mau


menangis.”


Mendengar itu tangis Daniah pecah.


Sesenggukan keras terdengar. Membuat ibu yang sudah mulai bisa menguasai diri

__ADS_1


dan air matanya menoleh. Begitu pula dengan Jen dan Sofia.


Ada apa dengan Kakak Ipar, kenapa


dia menangis sekeras itu. Jen


Bukankah kakak ipar tidak mengenal


ayah, kenapa dia bisa menangis sekeras itu. Sofi


Suamiku, dia menantu kita. Wanita


yang dicintai anakmu. Ibu


Sementara yang lain menatap Daniah


dengan perasaan berbeda, Han masih memberikan sorot mata bersalahnya. Sementara


Saga meraih bahu Daniah, memeluknya. Dia menatap lekat makam ayahnya.


Ayah, dia Daniah. Wanita yang


kucintai. Dia cantik kan? Tenang saja dia bukan hanya cantik wajahnya. Hatinya


*sudah seperti malaikat.  Dia juga seperti*mu yang senang berbagi, dia sepertimu yang sering memberi pada orang lain. Aku


akan menjaga dan mencintainya di sisiku selamanya.


***


Perjalanan menuju rumah semua


membisu dalam keheningan. Daniah berada dalam pelukan Saga, masih terlihat dia menyeka


airmata di sudut matanya.


Sesampainya di rumah.


“Jen, antar kakak ipar ke kamar,


dan Sofi temani ibu.” Saga membelai pelan kepala Daniah. “Istirahatlah di kamar.”


“Ia.” Daniah Menganggukkan kepala. Masih


ada sisa kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya.


“Hari ini semua tetap di rumah,


tidak ada yang boleh pergi keluar.” Kalimat itu ditujukan untuk Jen dan Sofi.


“Ia Kak.” Menjawab berbarengan.


Jen terlihat memapah Daniah yang terlihat


lunglai. Sofi juga beranjak ke kamar ibu. Wanita itu sudah duluan masuk ke


dalam kamar. Sesampainya tadi dia langsung naik meninggalkan semua orang.


Pak Mun masih berdiri siaga


menunggu perintah.


“Pak Mun istirahatlah. Hari ini


aku tidak ingin melihat siapa pun di rumah utama. Biarkan para pelayan kecuali pengawal


yang bertugas libur.”


“Baik Tuan Muda.” Gurat sedih pun


selalu berduka. Di tanggal dan bulan yang sama setiap tahunnya, rumah ini akan


selalu seperti ini.


“Ikut aku Han.”


Han mengikuti langkah kaki Saga.


Sementara Pak Mun masih berdiri sampai Saga menghilang di pintu ruang kerjanya.


Lalu dia kembali dan menemui pelayan dan penjaga yang sedang menunggu di rumah


belakang. Untuk memberi tahu, hari ini tidak ada yang diizinkan mendekati


rumah utama, intinya tidak ada yang boleh terlihat atau mengeluarkan suara di


sekitar rumah. Beberapa pelayan memilih keluar dan berlibur namun ada yang


memilih menghabiskan hari di dalam kamar mereka di rumah belakang. Setiap tahun,


di tanggal yang sama rumah ini akan sunyi tanpa aktifitas..


Kembali pada Saga di ruangan


kerjanya. Laki-laki itu duduk di sofa. Membiarkan Han berdiri di depannya.


Sial! Sepertinya tuan muda tahu. Dia peka sekali kalau berurusan dengan nona sekarang.


Han mengeram.


“Jelaskan padaku! Kamu tahu kan?”


Han masih terdiam di tempatnya,


tapi dia tidak menatap Saga dan memilih memalingkan pandangannya.


“Lihat aku! Kau tahu ini hari apa


kan? Aku bahkan tidak akan bisa mengendalikan emosiku walaupun padamu.”


Teriakan Saga menggema sampai keluar ruangan.


“Maaf kan saya Tuan Muda.”


“PMSekarang jelaskan padaku. Siapa


yang ditangisi Daniah. Dia tidak mungkin menangisi ayahku. Bahkan jen dan Sofi


bisa mengendalikan diri mereka. Walaupun kenangan Jen dan ayah memang masih


samar. Tapi Daniah jelas tidak mengenal ayahku.”


Suara Saga terdengar semakin getir,


membuat Han merasa semakin bersalah dari semua segi.


“Maaf kan saya Tuan Muda.” Menarik


nafas pelan. “Hari ini juga hari kematian ibu Nona Daniah.” Tidak bisa menatap


wajah tuan mudanya.


“Apa!” Saga bangun mendengar


ucapan Han. “Barusan kamu bilang apa!” Saga mendorong tubuh Han keras sampai

__ADS_1


membentur tembok. Dia mencengkeram kerah kemeja Han. “Kenapa kau tidak


mengatakannya bodoh!”


“Maafkan saya Tuan Muda.” Lirih. Penuh


penyesalan.


“Kenapa kau tidak mengatakannya


padaku!” berteriak keras.


Saga memejamkan mata dan berusaha


mengalirkan udara, supaya bisa berfikir sehat. Dia ingin menghajar Han


sekarang. Entah kenapa perasaannya seterluka ini, saat dia mengetahui bahwa


alasan Daniah menangis sebenarnya adalah apa.


“Karena hari ini Anda pasti ingin


bersama Nona Daniah, maka saya tidak mengatakannya. Kalau Anda tahu Anda pasti


membiarkan nona pergi, padahal saat ini Anda ingin bersama wanita yang Anda


cintai untuk berbagi kesedihan kan.”


“Bodoh! Pikirkan perasaan Daniah


juga. Kau tahu sepenting apa dia bagiku!”


“Maafkan saya Tuan Muda.” Tapi


Anda tetaplah yang paling penting bagi saya.


Saga melepaskan cengkraman


tangannya, tapi dia masih berdiri di hadapan Han. Matanya masih menatap kesal


pada sekretarisnya itu.


“Mulai sekarang pikirkan


perasaannya lebih dulu. Pikirkan Daniah sebelum aku,” Han tidak menjawab.


Membuat Saga semakin Gusar. “Jawab!” sambil berteriak kakinya sudah menginjak


kaki Han. Terlihat Han meringis. “Jawab aku Han.”


“Maafkan saya Tuan Muda.” Han


selalu menghormati nona mudanya, sebagai bentuk penghormatannya pada Saga. Karena


dialah wanita yang dicintai Saga.


“Huh! Aku tahu ini tidak akan


berhasil. Baiklah dengarkan aku. Aku benci melihat Daniah menangis. Aku tidak


suka melihatnya menangis apa pun alasannya. Jadi bisakah kau memastikan kalau dia


tidak akan menangis lagi.” Menepuk kedua bahu Han keras. “Jawab!”


“Baik Tuan Muda, saya akan


melakukan yang terbaik untuk Anda.”


“Kau benar-benar setia pada sumpahmu ya.”


Sudah terdengar helaan nafas ringan


di antara keduanya. Saga menepuk bahu Han beberapa kali.


“Pulanglah! Siapkan semuanya


besok. Aku mau pergi mengunjungi makan ibu mertuaku.”


“Saya akan menyiapkan semuanya


Tuan Muda. Saya tidak akan pulang, saya akan ada di bawah, kalau Anda perlu


sesuatu.  Saya akan ada di kamar tamu di


bawah.”


Cih.


Saga membiarkan Han melawan


kata-katanya, setiap tahun di tanggal yang sama. Kalau dia mengusir Han


sekalipun, laki-laki itu akan tetap bertahan di rumah ini. Diam di kamar tamu,


dan keluar hanya untuk menyiapkan makan malam.


***


Untuk pertama kalinya Saga ragu


untuk masuk ke dalam kamarnya. Hampir lima menit dia berdiri di depan pintu.


Saat dia sudah memegang handle pintu dari dalam Jen juga membuka pintu.


“Kak Saga.”


“Mau ke mana?” tanyanya.


“Kakak ipar bilang sudah tidak


apa-apa. Dia mau sendiri.”


“Baiklah, terimakasih ya.” Saga


mengusap kepala Jen pelan. “Istirahatlah, atau temani ibu di kamarnya.”


“Ia Kak. Kak Saga juga istirahat ya.”


Jen melangkah pergi, menoleh


sebentar dan pintu sudah tertutup. Kakaknya sudah menghilang.


Setelah di dalam kamar, Saga


mengedarkan pandangannya.  Mendapati  Daniah sedang duduk di tempat tidur. Bersandar


di bantal. Gadis itu terlihat menyeka airmatanya saat melihat Saga datang. Dia


turun dari tempat tidur.


“Kemarilah!” Mendekat ke sofa di


mana Saga duduk. Berdiri di hadapan suaminya, yang tiba-tiba memeluknya. “Maaf.” Memeluk daniah erat. “Maafkan aku”. Tidak tahu alasannya apa tapi itu


membuatnya menangis lagi. "Maafkan aku." berulang saga mengatakannya. Masih memeluk tubuh daniah yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2