
"Kamu mau membawaku ke mana Jen?" berteriak karena kesal.
"Sudah Kakak Ipar duduk diam saja, aku akan bawa kakak ke tempat luar biasa, kakak ipar bisa melepas ketegangan." Jenika dan Sofia tertawa bersamaan.
"Jangan aneh-aneh ya Jen, kalau kakakmu tahu aku pergi ke tempat begituan, habis aku." walaupun tidak tahu mau dibawa ke mana tapi pikiran Daniah sudah menjurus.
"Haha, kakak ipar mikir apaan si." Jenika melajukan mobil tidak perduli gerutu kakak iparnya. Saat Daniah menoleh pada Sofi meminta jawaban dia pun hanya tertawa dan membungkam mulutnya. Merahasiakan tempat tujuan mereka.
...***...
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” Teriakan keras memenuhi langit-langit tinggi ruangan. Karena sepertinya belum puas, membuat mereka bertiga mengantri untuk kedua kalinya menaiki roller coaster. Walaupun sudah kedua kalinya, teriakan ketiga wanita itu masih sama kerasnya. Bahkan jauh lebih membahana. Setelah wahana berhenti mereka turun. Di dekat mereka ada dua orang langsung tersungkur duduk. Mual dan pucat. Tapi tidak dengan Daniah dan kedua adik iparnya, mereka tertawa bersama saat menuruni tangga untuk kali kedua. Puas berteriak tanpa ada yang merasa terganggu mendengar teriakan mereka. Sepertinya tujuan pencipta permainan roller coaster mungkin memang untuk untuk itu ya. Membuat orang berteriak sepuasnya, sampai membuat lega dan hati plong.
“Bagaimana ada tempat sekeren ini di kota kita ya?” Daniah menarik tangan Jenika, dia menunjuk wahana bom-bom car. “Naik itu yuk.” Daniah sudah seperti bocah merengek pada ibunya. Jenika dan Sofia mengikuti. Hari ini adalah harinya kakak ipar, begitu gumam mereka berdua. Hari ini kedua adik ipar itu akan berakrab ria dengan wanita yang di cintai kakaknya.
“Kakak ipar, bagaimana kamu menikmati masa muda si. Tempat ini sudah ada dari dua tahun lalu kali.” Daniah terperangah, takjub, tapi dia buru-buru melengos.
“Aku bekerja keras untuk bertahan hidup Adik Ipar. Aku kan bukan adik dari laki-laki kaya seperti kalian.”
Paham kalian, aku harus mencari uang dan hidup dengan tidak mudah di keluargaku.
“Hehe, kakak ipar sekarang kan kamu istri laki-laki kaya itu. Jadi silahkan bersenang-senang sepuasnya hari ini”
Mereka naik memilih mobil masing-masing. Main tabrak-tabrakan seperti bocah. Daniah terbahak saat Jenika memakinya dengan keras karena menghantam mobilnya.
Menyenangkan sekali ya ternyata pergi dengan sesama perempuan begini. Dan kalian ternyata imut begini.
Mereka sudah kehabisan tenaga setelah keluar dari arena bom-bom car, sekarang ambruk di kedai food court. Sofia yang paling kecil yang dapat jatah memesan minuman, sementara Jenika dan Daniah duduk menjatuhkan kepala mereka di meja.
“Terimakasih Jen, sudah mengajakku kemari. Ini menyenangkan sekali.”
Kapan-kapan aku harus mengajak karyawanku liburan kemari. Biarkan mereka main puas sambil berteriak-teriak. Selama ini paling mereka cuma bisa teriak-teriak di dalam ruko kalau ketemu customer bawel dan aneh-aneh. Di sini, aku bahkan sempat memaki Tuan Saga tadi tanpa merasa bersalah dan membuat orang terganggu. Jen dan Sofi bahkan tidak mendengarnya kan. Haha.
Sofia muncul membawa tiga gelas minuman. Dia juga membeli camilan.
“Ayo makan!”
Tanpa perlu malu-malu mereka menyantap hidangan di hadapan mereka.
Ahh, ternyata kalian ini manis juga ya. Rukun lagi. Hehe, maaf ya, aku selama ini menilai kalian buruk karena ya memang kalian nyebelin sih. Haha. Aku tidak mau minta maaf ya, kalian memang menyebalkan kemarin-kemarin.
“Kakak ipar bagaimana rasanya malam pertama?” Daniah tersedak minumannya mendengar pertanyaan Jenika yang tanpa sensor. “Apa? Aku kan penasaran malam pertama Kakak Ipar dan Kak Saga, ceritakan donk.”
Rasanya Daniah ingin mencubit bibir di depannya, bisa-bisanya menanyakan hal memalukan begitu dengan wajah biasa saja, sambil ngemil lagi.
“Itukan pertama kalinya juga untuk Kak Saga, kalian pasti malu-malu menggebu ya. Haha.”
__ADS_1
Kali ini Daniah menjatuhkan camilan yang ada di tangannya.
Apa barusan Jenika bilang, pertama kalinya. Tuan Saga?Jadi aku adalah yang pertama dan satu-satunya. Hei, mana mungkin?
“Pertama kalinya bagi Tuan Saga. Hei jangan bercanda Jen.” Daniah menyeringai lalu meminum jus dari gelasnya.
“Siapa yang bercanda!” Berteriak bersamaan. Kakak beradik yang sangat kompak kalau urusannya tentang kakaknya.
“Hei.” Daniah masih menunjukan reaksi tidak percayanya.
Jenika menggebrak meja, membuat Daniah terlonjak. Gadis itu mengelus dadanya dan melotot pada Jenika.
“Memang Kakak Ipar itu pikir kakakku itu laki-laki seperti apa?”
Daniah tidak bisa berkata-kata, bingung mencari pilihan kata yang pas. Tapi dia lebih bingung lagi memikirkan supaya kalimatnya bisa diterima dua bocah pengagum kakaknya ini.
“Kak Saga itu laki-laki paling baik di dunia.”
Ya, ya dia kan kakakmu.
“Dia laki-laki yang harus dewasa sebelum waktunya dan menjaga kami bertiga. Dia tidak punya waktu bersedih karena menguatkan ibu dan adik-adiknya. Apa Kakak Ipar tahu!” berapi-api.
“Kecilkan suaramu Jen, kamu mau dilaporkan polisi karena mengganggu ketertiban umum.” Daniah mencubit tangan adik iparnya.
“Kak Helen itu cinta pertama Kak Saga.” Melanjutkan ceritanya. Kenapa info yang kamu berikan mematikan begini. Wajah Daniah kali ini semakin berkerut. Dia benar-benar tidak percaya.
“Hei Jen, baiklah ceritakan semuanya tapi tidak boleh kamu tambah-tambahin ya. Kakakmu memang sudah hebat, jadi jangan dipoles lagi kehebatannya. Aku ingin tahu dia yang sebenarnya!” Daniah menyentuh tangan Jenika. Tersenyum hangat.
Ayo katakan semua rahasia Tuan Saga, kalau perlu sekalian sekretarisnya.
“Empat tahun lalu mereka bertemu di danau hijau” Jenika memulai ceritanya. Sofia juga menimpali dengan sangat antusias di sampingnya. Mereka berdua ini memang pemuja kakaknya. Daniah tahu di beberapa bagian cerita tentang Saga dilebih-lebihkan. Tapi dia tidak menyela. Biarkan saja, yang penting mereka senang pikir Daniah.
“Tapi dua tahun lalu kak Helen pergi tanpa pamit.” Menyudahi ceritanya dengan nada kesal. Sekarang Jenika benar-benar sudah beralih hati dari Helena. Ya, karena merasa wanita itu memang sudah tidak punya kesempatan lagi.
“Tapi tunggu dari mana kamu tahu? Kalau Tuan Saga dan Helen belum bernah melakukannya bersama.” Daniah merasa malu dengan pertanyaannya sendiri.
“Kak Helen curhat sama kami. Jangan-jangan Kakak Ipar sebelum dengan Kak Saga pernah melakukannya ya?” Sofia yang marah, merasa dikhianati.
“Sembarangan!” Memukul tangan Sofia, yang dipukul melotot. Sambil mengelus tangannya. "Tuan Saga itu yang pertama kali dan satu-satunya juga untukku tahu. " Wajah Daniah merona malu, dia mengusir canggung dengan meraih camilan dan memakannya lahap.
"Cieee, malu ya. Senang ya. Haha." Jenika dan Sofia mengangkat tangannya tos. “Kami juga masih perawan tahu Kak. Kak Saga bisa murka kalau kami pacaran bebas, kami boleh pacaran tapi jangan sampai terlibat pergaulan bebas.” Daniah memicingkan mata. Tidak percaya. “Hei nggak percaya lagi. Kami bisa dapat hukuman berat kalau melanggar aturan pacaran Kak Saga.”
“Memang apa hukumannya, kalian bakal digunduli.” Maaf ya, tapi Daniah terkikik ketika mengatakannya. Jenika mendengus.
“lebih parah dari itu.” Jenika memukul meja.
__ADS_1
“Hentikan tanganmu Jen, mau jadi hakim apa, main pukul-pukul meja terus.” Daniah melanjutkan ngemil cantiknya.
“Kami nggak boleh main sosial media lagi. Akun kami bakal dihapus. Pokoknya nggak boleh main sosial media bentuk apa pun”
“Apa! memang yang begitu bisa di sebut hukuman apa. Aku kira apa?” menjawab malas. “Seharusnya hukumannya itu digunduli, atau di ikat di gunung. Haha, maaf Jen bercanda kali. Serius banget.” Daniah mengelus tangan Jenika yang wajahnya sudah berkobar. Daniah masih menahan tawa sambil minta maaf.
“Kakak Ipar digunduli atau diikat di gunung itu masih belum seberapa, rambut kami bisa tumbuh lagi ketimbang kami nggak boleh main media sosial. Kami ini selebriti media sosial kak. Follower kami.”
“Halah. Sudah-sudah ia, kamu kan nggak bisa hidup kalau nggak pegang hp sebentar saja.” Daniah mengalah saja. Berbeda dengannya yang main media sosial untuk jualan dan cari uang kedua adik iparnya memang memakai sosial media untuk bergaya.
"Tapi memang Tuan Saga sungguh bicara begitu?" Daniah benar-benar penasaran, sebenarnya sifat Saga itu seperti apa. "Melarang kalian pacaran bebas."
"Kak Saga bilang, cuma kami yang bisa menjaga diri dan kehormatan kami sendiri. pacaran boleh saja, tapi jaga kehormatanmu. Begitu yang dia bilang. Dia kan mengkhawatirkan kami Kakak Ipar."
Ahh, ternyata dia benar-benar sayang pada adik-adiknya ya. Pantas saja dua orang ini memuja kakaknya begitu.
“Eh kalau begitu kita foto bertiga yuk.” Cerita tentang malam pertama berakhir. Cekrik-cekrik heboh. Ya gitu deh, tahu kan kalau lagi heboh foto bareng, Daniah juga ikutan berebut posisi dan bergaya.
Posting. Caption-nya “ Bersama Sofia dan kakak ipar tersayang, muah, muah. Ayo bersenang-senang.
Tring!
Terkirim.
Epilog :
"Kenapa?" Saga sudah menyerahkan dokumen terakhir yang dia tanda tangani ke tangan Han.
"Nona Jenika memposting foto baru di akun sosial medianya, apa Anda mau melihat?" Han menyerahkan hp yang dia pegang.
Wajah Saga langsung berubah cerah, membaca caption yang ditulis Jenika. "Biarkan mereka bersenang-senang." Saga benar-benar terlihat sangat senang melihat yang ditulis Jenika. Rupanya kamu sudah tahu harus mendukung siapa ya. Gumam Saga pada adik-adiknya.
"Baik Tuan Muda."
"Apa orang tua Daniah sudah minta maaf." Beralih pada masalah lain.
"Belum Tuan Muda, mereka sudah bersikap baik, tapi saya rasa nona muda juga hanya berfikir mereka baik karena ada Anda di sana."
"Pastikan mereka minta maaf dengan benar pada Daniah. Aku lapar, ayo kita makan."
"Baik Tuan Muda."
Para pekerja di gedung Antarna Group masih bergeliat dengan pekerjaannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1