Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Ngidam


__ADS_3

Makan siang di sebuah restoran


keluarga. Janji Saga pada pemilik restoran untuk mengajak istrinya benar-benar


ia lakukan. Di sebuah ruangan privat yang disiapkan khusus untuknya dan Daniah. Istri


pemilik restoran ikut menyapa dengan sangat antusias dan berdebar.


Wahhh, nona Daniah ternyata manis


begini ya.


Berbeda dari apa yang ia


imajinasikan, gadis tinggi semampai dengan wajah dan penampilan glamor. Sketsa


di kepalanya langsung terbang saat bertemu Daniah. Wanita imut dan mungil


dengan rambut bergelombang dan riasan wajah yang polos dan sederhana. Dan Keramahan yang


menyentuh sampai hatinya walaupun ini kali pertama mereka bertemu. Dia bahkan


ingin rasanya memeluk Daniah dan mengusap kepalanya kalau suaminya tidak


mengingatkan.


Jangan melakukan kontak fisik


berlebihan dengan nona Daniah, karena tuan Saga tidak menyukainya. Jelas-jelas


diucapkan suaminya semalam. Akhirnya dia hanya bisa berjabat tangan sebentar


dengan Daniah.


Tapi aku benar-benar ingin menyentuh


pipinya!


“ Nona, apa saya boleh memeluk


nona.” Duarr, keceplosan. Saga langsung menoleh mendengar perkataan wanita yang


berdiri di depan Daniah. Sementara Daniah tersenyum canggung. Kalau saja tidak ada Saga dia pasti sudah menghambur ke pelukan wanita paruh baya di depannya.


“ Sayang!” Sang suami langsung


menarik tangan istrinya untuk mendekat. “Maaf tuan Saga sepertinya istri saya


sudah kelewatan karena merasa senang bertemu dengan nona Daniah.” Bahkan wajah


Daniah menjadi tidak nyaman karena suasana menjadi sedikit tegang. “Istri saya


sedang hamil muda, jadi maunya yang aneh-aneh tuan Saga. Maafkan saya.” Melirik istrinya untuk diam.


“Memang apa hubungannya istrimu


hamil dengan ingin memeluk istriku.” Saga menjentikan jarinya agar Daniah


mendekat padanya. Tidak rela. Suaranya jelas terdengar tidak suka.


“ Sayang.” Daniah mendekat. “Kalau


ibu hamil biasanya memang ngidamnya unik, gak papa ya cuma peluk saja.” Masih berdiri belum duduk di samping Saga.


“ Tidak boleh! Kemari!”


“ Sayang ini mau bayinya dalam


perut.” Terlihat sekali dahi  Saga berkerut. " Memang orang ngidam begitu, agak aneh-aneh." Lanjut Daniah menjelaskan.


Kumohon berhenti berdebat dengan ibu hamil, ini memalukan sekali.


" Apa itu ngidam, dan berhenti bicara sembarangan. Bagaimana kau tahu itu maunya si bayi?" menepuk kursi di sebelahnya keras. Supaya Daniah duduk. Setelah istrinya duduk, dia melingkarkan tangannya memeluk pinggang Daniah. Sambil melirik istri pemilik restoran. Dia milikku begitu ujaran penegasan di matanya.


" Sayang, namanya ngidam harus dituruti. itu maunya adek bayi." Daniah berbisik di telinga Saga. Wajah laki-laki itu sedikit bersemu. Senyum langsung muncul di wajahnya.


" Baiklah peluk sana." Kau akan menyesal menawariku itu ya, senyum kemenangan sudah muncul.


Akhirnya Daniah memeluk istri pemilik restoran, setelah melakukan transaksi dengan Saga. Dia mengusap perut, mengucapkan kata-kata pujian. Membayangkan kalau dia di beri kesempatan menjadi seorang ibu nanti.


Apa aku akan ngidam aneh-aneh juga ya nanti.

__ADS_1


" Nona cantik sekali, semoga anak saya kalau perempuan bisa secantik nona." Ucap ibu paruh baya itu mengusap pipi Daniah. keinginannya sudah terkabul, dia terlihat senang sekali memeluk punggung Daniah. "Semoga nona cepat ketularan hamil juga ya." berbisik di telinga.


" Tidak ada yang secantik istriku di dunia ini." Saga menyahut dengan ekspresi tidak terima. Lagi-lagi tidak mau mengalah. Han yang duduk di sudut ruangan yang sedari tadi hanya diam mengeleng kepala penuh arti.


Hentikan tuan muda! Hentikan kumohon. Sepertinya cuma kamu yang tidak mau kalah dengan ibu-ibu. Ini ibu hamil lagi. Daniah sendiri merasa malu setengah mati.


***


Selepas selesai makan siang dan mendapat ucapan terimakasih bertubi-tubi dari pasangan pemilik restoran. Daniah meninggalkan restoran dengan perasaan sukacita. Mendapat cerita kehamilan yang selalu mendebarkan khususnya bagi ibu muda yang baru pertama kali mengalaminya. Bahkan karena kelicikannya untuk menyusahkan suaminya, dia sudah punya rencana untuk ngidam apa kalau hamil nanti.


“ Sayang, kita mau kemana setelah ini?” Berjalan menuju area parkir.


“ Mengantarmu pulang.”


“ Aaaaaa, aku tidak mau pulang.”


Menjejakan kaki keras sambil melepaskan lengan Saga yang masih berjalan


beberapa langkah di depannya.


Katanya jalan-jalan, ternyata hanya mau aku menemanimu makan.


Masih diam sambil memasang wajah


masam. Saga berhenti dan membalikan badan.


“ Kemari! Kau lupa sedang dalam masa hukuman? Mau berulah lagi.” Katanya sambil mengerakan jari-jarinya.


“ Haha, tentu saja tidak yang


mulia. Aku akan melakukan apapun yang kau mau.” Langsung mendekat dan


melingkarkan tangan lagi ke lengan Saga.


Membantahnya sekarang, seperti


menceburkan diri ke lubang neraka.


“ Kenapa? Kau bosan di rumah?”


Daniah menggangukan kepala sambil bersandar kepalanya. “ Siapa suruh membangkang.” Mencium rambut Daniah.


“ Ia, ia. Akukan sudah minta maaf,


Apa aku benar-benar akan di antar


pulang. Aaaa, menyebalkan sekali.


" Niah" Mulai mengulung rambut seperti tidak ada bosannya. "Apa pak Mun tidak memberimu makan?" Hari ini Daniah terlihat makan jauh lebih banyak dari biasanya, dan Saga menyadarinya. "Apa makanan tadi enak, kau terlihat menikmati sekali." Membuat Saga penasaran.


Daniah jadi berfikirkan? Benarkah, sepertinya aku makan dengan normal tadi.


" Ia makanannya enak." Jawab begitu saja biar cepat, pikir Daniah.


" Kau mau aku memperkejakan kokinya di rumah untuk memasak untukmu?"


" Tidak!"


Jangan aneh-aneh dan seenaknya tuan muda! memang siapa yang akan langsung memperkejakan koki restoran di rumah saat istrinya bilang makanan enak sebuah restoran. Cuma orang aneh yang akan melakukannya.


" Benar, tidak mau?" Tanya Saga serius. " Han akan mengurusnya kalau kau mau?"


" Tidak sayang, setelah dipikir-pikir rasanya lumayan saja. Tidak sampai membuatku ingin makan tiap hari."


Hah! aku sampai lupa siapa suamiku!


Mobil memasuki sebuah gerbang. Daniah langsung melihat ke luar kaca.  Gerbang danau hijau dan keramaian menyambut mereka. Daniah langsung merasakan energi terkumpul lagi di dadanya. Suaminya memang sering sekali bicara apa tapi yang dilakukan apa. Membuat kejutan-kejutan tidak terduga yang selalu membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Dia menyukai ini, sangat.


“ Turunlah, kau bilang bosankan di


rumah?” Lembut Saga bicara sambil membukakan pintu mobil.


Senyum terkembang dari bibir Daniah


saat tangannya terulur menyambut uluran tangan Saga. Yang berdiri di luar


mobil.


“ Kau senang?” ucapnya mengusap


rambut Daniah. “ Danau ini  terlihat

__ADS_1


semakin baik saja sejak pembukaan.”


“ Berkatmu sayang.”


Mereka terlihat bergandengan tangan


menyusuri jalan setapak menuju taman. Sore sudah mulai menjelang. Pengunjung


taman terlihat ramai.  Han mengikuti


langkah kaki tuan dan nonanya yang terlihat berjalan tanpa arah, hanya menikmati pemandangan danau hijau. Sedang dia sendirian.


Apa yang kulakukan di sini


sebenarnya. Gumamnya pelan.


Danau yang ada di kejauhan itu


terlihat sangat tenang. Dilihat dari sudut manapun tempan ini memang tempat


yang nyaman menghabiskan waktu. Daniah ingat tempat dia duduk ini. Inilah


lokasi bersejarahnya bertemu dengan Noah. Saat pagi-pagi dia mengeluarkan semua


energinya untuk memaki laki-laki yang ada di sampingnya sekarang.


“ Kenapa? Kau sedang mengingat


dosa-dosamu?”


Apa si, kenapa dia selalu benar


membaca isi pikiranku.


“ Haha sayang, memang apa yang


sudah kulakukan. Aku hanya ingat pertama kalinya aku bertemu Noah di sini.”


“ Jangan bicara tentangnya.”


Idih, masih saja cemburu.


Jelas-jelas aku dan Noah tidak ada hubungan apa-apa.


Tapi Daniah memilih menyudahi


pembicaraan mengenai Noah. “ Sayang, aku mau es cream.” Daniah menunjuk


sepasang remaja yang sedang berjalan sambil membawa dua cup es cream bertumpuk


dengan aneka toping di atasnya.


Saga sudah menggangkat tangannya


memanggil Han yang duduk tidak jauh dari mereka.


“ Tidak mau!” Daniah menarik tangan


Saga keras.


“ Apa!” Han sudah mendekat. “ Tidak


mau es cream?”


“ Tidak mau kalau sekertaris Han


yang membelinya, aku mau suamiku yang beli.” Menyeringai.


Cih


“ Kau mulai banyak maunya ya!”


Daniah cemberut. “ Baiklah, tunggu di sini aku yang beli.” Saga menepuk bahu


Han. “ Jaga dia.”


“ Baik tuan muda.”


Han bisa melihat senyum licik di bibir Daniah saat dia berhasil mengerjai Saga dengan semua permintaannya.


" Sekertaris Han, apa kau tidak kesepian? kau merindukan Aran tidak. Hohoho." Menutup mulut sambil membuang muka melihat air danau yang tenang.

__ADS_1


Sepertinya ada yang aneh dengan dirimu nona?


Bersambung


__ADS_2