Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
140. Paman Memohon


__ADS_3

Mudah menyetel senyuman, bahkan Daniah selalu melakukannya di awal pernikahannya dulu. Dia sangat pandai berakting senyum di hadapan Saga. Sekalipun hatinya kesal, dia bisa tersenyum semanis gerakan bibir para model di peragaan busana.


Seperti itu pula ibu, wajah ibu segera berubah 180


derajat ketika sudah sampai di lantai bawah menemui tamu yang datang. Ia


memasang senyuman hangat.


“Jadi ini Daniah ya, selamat ya


atas pernikahan kalian. Bibi dan juga pamanmu tidak bisa datang waktu kalian menikah.”


Seorang wanita yang terlihat ramah langsung berdiri dari duduknya saat melihat


Saga  dan istrinya datang. Dia langsung mengulurkan tangan pada Daniah.


“Terimakasih bibi.” Daniah


menerima uluran tangan wanita itu dengan tersenyum. Lalu mereka kembali duduk


di sofa.


“Saga, istrimu cantik sekali.


Senangnya, kalian juga terlihat sangat bahagia.” Wanita itu terus memuji. Namun


pujiannya benar-benar tulus. Dia memang wanita yang baik. Bibi, adalah wanita


polos yang selalu berkonsentrasi dalam hal baik di kehidupannya.


“Terimakasih Bi, Daniah memang


sangat cantik.” Saga memeluk bahu istrinya. “Aku merasa beruntung menikah


dengannya.”


Tuan Saga tolong hentikan, bacalah


situasi dengan benar. ibumu tidak menyukaiku, dan dia pasti tidak sependapat


denganmu. Lihat senyum terpaksanya sekarang.


Tapi sepertinya Saga memang sedang


ingin pamer pada semua orang. Dia menempel dan memeluk Daniah di sampingnya


sepanjang obrolan basa-basi yang sedikit canggung. Dalam tatapan ibu dan semua


orang. Tidak tahu kenapa dia ingin sekali pamer kemesraan. Pikiran Daniah


bergerilya, tapi tetap saja dia tidak paham. Untuk apa Saga melakukan itu.


“Saga, paman membawa hadiah


untukmu.” Ibu bangun dan mengambil sebuah pigura besar berbungkus kertas dengan


sebuah pita berwarna keemasan. “Pamanmu memesan khusus untukmu, bukalah.”


Saga terlihat engan.


“Sepertinya paman sudah


ketinggalan informasi ya, sekarang aku tidak menyukai lukisan lagi, siapa pun


pelukisnya.”


Eh, keadaan berubah menjadi sangat


canggung.


“Sayang.” Daniah menarik ujung


baju Saga. “Apa aku boleh membukanya, paman sudah membawakannya untukmu kan.”


“Kenapa? Memang kau tahu apa


tentang lukisan.” Menunggu jawaban Daniah. Membuat gadis itu bingung sendiri.


Dia hanya ingin mencairkan suasana kaku yang tiba-tiba tercipta ini. Lukisan,


tentu ini mengingatkan semua orang pada Helen. Pelukis cantik yang pernah


menjadi kekasih Saga. Tapi sekarang bahkan Daniah tidak merasa terganggu dengan


nama itu.


“Aku tahu kok.” Mendekati lukisan


yang masih dipegang ibu. “Boleh aku buka kan?”


“Terserah.” Menjawab acuh.


Daniah menerima lukisan dari ibu


dan membukanya perlahan dan hati-hati. Setelah semua kertas terbuka terlihatlah


lukisan apa di dalamnya.


Tunggu ini apa? ini lukisan apa?


aku tidak mengerti, sekarang aku harus bereaksi seperti apa ini.


“Baiklah, karena Daniah


menyukainya, aku akan menerimanya. Terimakasih paman.” Melirik Daniah dengan


senyum jahatnya. Paham kalau gadis itu sedang kebingungan untuk bereaksi


seperti apa. Pak Mun menerima lukisan itu dan membawanya ke ruang kerja Saga.


Setelahnya mereka makan malam.


Suasana kembali sangat canggung. Hanya Daniah dan bibi yang terlibat obrolan


kecil. Selebihnya semuanya terdiam. Menikmati makanan dalam keheningan.


Sesekali Daniah menoleh dan memperhatikan semua orang. Pikirannya kembali


berkeliaran menerka-nerka.


Ada apa dengan mereka?


Tanda tanyanya tidak terjawab


sampai makan malam selesai.


***


Pak Mun menutup pintu ruang kerja

__ADS_1


tanpa bersuara. Setelahnya dia pergi kembali ke dapur. Membereskan semua sisa


jamuan makan malam. Meninggalkan tiga orang yang tampak sangat canggung di


dalam ruangan. Terlebih nona mudanya. Pak Mun bisa melihat bagaimana wajah


panik Daniah tadi Saat Saga menariknya ikut masuk ke dalam ruangan.


Kenapa aku harus ada di sini si. Daniah


berdiri kaku tidak bergerak di posisinya.


Paman Hariawan sudah duduk


berlutut, sementara Saga baru saja menjatuhkan dirinya di sofa. Daniah yang


terkejut hanya bisa berdiri di samping sofa. Dia tidak duduk. Gadis itu melirik


suaminya. Jujur dia benar-benar bingung, sebenarnya apa yang terjadi antara


mereka berdua.


“Paman.” Lirih Daniah bersuara. “Kenapa paman berlutut?” Dia ingin maju mendekat, tapi ketika melihat Saga yang


tidak bergeming dia mengurungkan langkahnya. Dia memilih diam karena tidak tahu


situasi apa ini.


“Bangunlah paman! Duduklah di


sofa.” Saga akhirnya bicara setelah beberapa waktu terdiam.


“Bantu Paman sekali ini Saga.”


Ada apa sebenarnya ini. Tuan Saga


mau menunjukan apa padaku, kenapa dia menyeretku kemari. Apa dia mau menunjukan


betapa berkuasanya dia. Aku sudah tahu! Tanpa perlu melihat situasi semacam


ini. Daniah


“Bangunlah Paman, kau membuatku


tampak seperti orang jahat di hadapan istriku. “


Hariawan mendongak dan menatap


Daniah sebentar. Dia terdengar menghela nafas tapi tidak bangun dari duduk.


“Aku akan berlutut dan memohon


padamu. Sudah setahun aku menjalani hukuman ini, kami semua sudah introspeksi


atas kesalahan kami, biarkan kami kembali ke ibu kota Saga dan menjalankan


usaha di sini. ini sudah satu tahun.” Paman Hariawan mengatakan apa yang sudah


di dengar Saga dari Han siang tadi. Laki-laki itu mendesah. Dia menyandarkan


bahunya di sandaran Sofa. Melirik Daniah yang terlihat seperti sedang berfikir


dengan serius.


Terlihat Daniah yang berusaha


yang bisa ia pikirkan. Kesalahan apa yang  pernah dilakukan laki-laki yang sedang berlutut itu.


“Paman, aku tidak akan merubah


kata-kataku walaupun Paman berlutut sekalipun. Han sudah mengatakannya kan.


Lakukan lima puluh proyek di daerah yang tidak melibatkan nyawa manusia. Kalau


Paman bisa membuktikan kinerja perusahaan Paman dengan baik, aku yang akan


membawa Paman kembali tanpa perlu Paman memohon.”


“Saga, ini sudah setahun.”


Berusaha bicara dengan suara serendah mungkin.


“Huh! Apa hanya waktu setahun ini


yang Paman pikirkan. Mungkin saat ini makam para korban meninggal itu sudah


mengering. Tapi apa Paman tahu, setahun bukan waktu yang sebentar untuk mereka


yang ditinggalkan. Apa Paman pernah mendatangani para keluarga korban setelah setahun


lalu Paman berlutut, menangis dan memohon pengampunan mereka? Apa Paman datang


ke peringatan kematian mereka? Airmata keluarga mereka bahkan belum mengering


sampai hari ini.” Kalimat panjang itu menghujam. "Dan mungkin tidak akan pernah mengering. Mereka akan menangis di hari yang sama setiap tahunnya."


Apa yang kalian bicarakan si?


Daniah berada di dunia yang berbeda.


Terlihat Hariawan mencengkeram


tangannya sendiri. Dia bangun dari duduknya di lantai. Lalu berjalan menuju


sofa di hadapan Saga.


“Maaf.”


“Jangan minta maaf padaku. Setelah


paman introspeksi dengan benar dan melakukan pekerjaan Paman dengan baik. Han


akan mengurus semuanya. Paman bisa kembali ke ibu kota dan bekerja seperti


biasa lagi” Saga mendongak, dan mengulurkan tangannya. “Niah!”


“Eh, ia sayang.”  Terkejut, kesadarannya langsung kembali. Eh Dia


barusan memanggil namaku kan.


“Duduk!” Saga menepuk sofa di


sebelahnya.


“Tidak apa-apa sayang, aku berdiri


saja. Silahkan kalian lanjutkan pembicaraan kalian.” Daniah merasa tidak


nyaman, apalagi ada paman di hadapannya.

__ADS_1


Lagian kenapa kau menyeretku kemari


si, memang mau menunjukan apa?


Daniah terperanjat saat melihat


Saga meliriknya dengan kesal karena dia membantah.


“Baik aku duduk.” Sudah duduk di


samping Saga. “Terimakasih sayang.”


Daniah duduk tepat di sebelah Saga,


dan berhadapan dengan pandangan Hariawan. Laki-laki itu terlihat sedang


menguraikan kesimpulan di kepalanya tentang apa yang dia lihat. Sejauh apa


keseriusan keponakannya ini pada istrinya. Apa yang diceritakan oleh Ibu Saga


tidak dilebih-lebihkan. Dia sedang mengamati situasi.


“Sayang, apa kau tahu tragedi


jembatan kota XX setahun lalu?” Saga melingkarkan tangannya di pinggang Daniah.


Daniah berusaha keras


mengingat-ingat peristiwa apa itu. Jatuhnya jembatan di kota XX. Terlihat


wajahnya berubah cerah, sepertinya dia sudah tahu apa yang dimaksud Saga.


“Ia aku tahu.” Mendelikkan mata


lebar terkejut. Saat Saga meraih rambutnya dan menciumnya.


Hei apa yang kau lakukan di depan


pamanmu.


“Musibah itu terjadi karena


kesalahan perusahaan pamanku sebagai pengembang dan perusahaan kontraktor


pembangun jembatan.” Belum melepaskan rambut Daniah dari tangannya.


“Ah, ia.”


“Lalu aku mengirimnya ke luar kota


untuk introspeksi atas semua kesalahannya. Dan sekarang, bahkan belum separuh


dia menjalankan hukumannya dia sudah ingin kembali ke kota dan menangani proyek


besar. Bagaimana menurutmu?”


Hah! Kenapa menanyakannya padaku.


Lihat pamanmu sudah memandangmu dengan pandangan seperti itu. Turunkan


tanganmu.


Daniah bingung harus menjawab


seperti apa. Tapi ketika Saga menarik rambutnya karena menunggu jawaban


akhirnya dia menjawab juga.


“Paman, jatuhnya jembatan di kota


XX termasuk dalam kecelakaan besar. Aku memang tidak mengikuti beritanya secara


detail, tapi  waktu setahun,  tidak akan bisa menyembuhkan luka orang-orang


yang ditinggalkan dalam kecelakaan itu dalam waktu sesingkat ini. Buktikanlah


ketulusan paman dalam 50 proyek masyarakat di daerah, kalau paman bisa


melakukannya aku yakin Tuan Saga akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi


milik paman.”


Cih, kenapa kata-katamu baik


sekali. Dasar bodoh, kau tidak tahu kan tujuan sebenarnya pamanku datang kemari.


“Aku rasa uang yang ibuku kirimkan


untuk paman setiap bulan, sudah cukup untuk menjamin paman hidup dengan baik.”


Wajah Hariawan mulai terlihat pias.  Ternyata keponakannya tahu semuanya.


Hanya ada satu nama yang ia yakini bisa tahu semuanya itu. Sekretaris Han


benar-benar menakutkan. Ya, karena uang itulah dia di sini. Demi membalas


adiknya. Membujuk Saga. Memberikan beberapa daftar nama wanita yang bisa dia


pilih sebagai istrinya. Hariawan sendiri tidak habis pikir kenapa dia harus


melakukannya. Saga terlihat sangat mencintai istrinya. Apa pun itu, status


apa pun istrinya seharusnya bukan masalah penting. Toh tidak akan ada yang


berani membicarakannya.


“Maaf aku akan menyuruh ibumu


tidak melakukan lagi.”


“Aku tidak keberatan ibu mengirim


uang pada Paman, toh Paman adalah keluargaku. Aku akan selalu menghormati Paman


untuk itu.”


“Saga.”


Sekarang Saga menarik tangan Daniah


agar gadis itu mendekat. Dia melingkarkan tangan di bahu istrinya.


“Sekarang restuilah kami.”


Begitulah akhirnya, Hariawan sama sekali tidak menyinggung tujuan utamanya datang. Sesungguhnya dia tidak benar-benar memohon, karena tahu kesalahannya sangat fatal. Dan hari ini ia kembali mengingat kejadian naas itu. Dan ucapan keponakannya. Hingga akhirnya dia berjanji, besok dia akan mengunjungi keluarga para korban untuk kedua kalinya.


Obrolan mereka berlanjut, Daniah hanya duduk mendengarkan. Pura-pura paham dan menganggukkan kepala. walaupun sejujurnya dia akan jauh lebih senang kalau bisa pergi dari ruangan ini.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2