Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
144. Pertemuan Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Masalah bulan madu masih ada yang


mengganjal di pikiran Han, membuatnya ada di tempat ini sekarang.


Han membawa mobilnya memasuki


sebuah toko buku besar di pusat kota, memarkirkan kendaraan. Lalu masuk ke dalam


toko buku. Karena bukan akhir pekan pengunjung toko tidak terlalu ramai. Atau


mungkin memang minat baca masyarakat yang berkurang. Entahlah, lapak penjual


buku online yang menawarkan diskon juga sangat banyak. Mungkin persaingan ketat


juga menjadi salah satu hal yang membuat toko buku ini lumayan sepi.


Han menuju komputer database toko.


Sekali lagi menuliskan kata bulan madu di mesin pencarian. Lalu keluarlah


deretan judul buku yang dia cari. Rak nomor 12 gumamnya. Dia membaca sekilas


judul-judul itu.


Kenapa aku harus melakukan hal


seperti ini.


Sebagai jomblo abadi, terlebih dia


belum pernah menyiapkan hal seperti ini untuk Saga jadi dia benar-benar dibuat


cukup bingung. Ada banyak sekali destinasi tempat wisata. Tapi dia belum


menemukan tempat yang benar-benar cocok untuk bulan madu bagi tuan muda dan


nonanya. Atau dia sendiri yang mencoba menyusunnya secara sempurna sampai


membuatnya bingung sendiri.


Dia menghentikan langkah kakinya,


mendengar pesan di hpnya. Membukanya. Dari Leela.


“Apa Anda mau memanggil mereka hari


ini?”


“Bawa mereka sore nanti, setelah


aku mengantar tuan muda kembali.”


“Baik.”


Leela menawarkan tiga nama. Han


sudah memeriksa semua data tentang mereka, hanya tinggal bertemu secara


langsung. Dia hanya berharap salah satu dari ketiganya benar-benar cukup


mumpuni.


Brug! Saat dia sedang berjalan dan


fokus dengan hpnya, dari arah rak buku muncul seseorang yang juga sepertinya


sedang fokus membaca buku. Membuat mereka saling bertabrakan. Buku yang


dipegang gadis itu berjatuhan di lantai. Sementara hp milik Sekretaris Han ikut


jatuh dan tertumpuk di antara buku-buku itu.


“Maaf Tuan saya tidak sengaja.”


Panik, gadis itu segera berjongkok mengambil satu persatu bukunya yang


berserak.


“Tidak apa, saya juga tidak


melihat Anda.”


Sekretaris Han menunduk, mengambil


buku-buku yang berserak. Dia menemukan hpnya. Gadis yang menabraknya juga sudah


mengumpulkan buku di tangannya. Mau meraih buku yang disodorkan laki-laki


yang ia tabrak di depannya.


“Terimakasih.” Mengulurkan tangan.


“Huh! Ternyata ini kamu!” Han


meletakan buku yang dia pegang dengan keras ke atas tumpukan buku yang dipegang


gadis itu. Membuat tubuh gadis itu mundur kebelakang terkejut. Dia mulai agak


kesal.


Cih, memang siapa si pikirnya.


Dia mendongakkan kepala, mengamati


wajah, pria tinggi berbalut jas resmi di hadapannya.


“Tuan Han.” Dia refleks mundur dua


langkah. Meletakan buku-buku yang dia pegang di rak. Dia bersyukur tidak


menjatuhkannya karena terkejut.  Sekaligus sebagai antisipasi, kalau keadaan


menjadi genting, dia bisa mudah lari kabur. Dia melangkah mundur lagi.


Kenapa orang sepertinya di toko


buku. Ini bukan toko milik Antarna Group kan?


Dia adalah Arandita, seorang gadis


tidak beruntung yang pernah memiliki sejarah kelam bersama sekertaris Han.


Karena kenekatannya, dia harus di tendang dari tempatnya bekerja. Hingga akhirnya


hidup serabutan menjadi penulis novel online. Saat isi kepalanya buntu dan


kehilangan ide, dia sering memilih keluyuran ke toko buku. Tempat paling aman


yang jarang sekali orang yang mengenalnya di masa lalu datang. Ini pertama


kalinya dia bertemu dengan orang yang dia kenal. Tapi kenapa harus laki-laki


ini. Harimau mengerikan ini. Begitu ratapnya dalam hati.


“Apa kabar Tuan, senang rasanya


orang seperti saya masih dikenali.”


“Orang!” Han mendesah. Membuat wajah


gadis itu berubah kesal, tahu apa maksudnya. Ya, aku memang bukan manusia di


hadapanmu, gerutunya, cuma berani dalam hati dan sambil menundukkan mata. “Kau


masih hidup rupanya” kata-kata Sekretaris Han menusuk ulu hati.

__ADS_1


Kenapa kata-katanya terdengar sebaiknya


aku mati saja si, aku senang dia mengenaliku. Tapikan seharusnya aku tidak


bertemu dengannya.


“Haha, tentu saja, karena


kemurahan hati Tuanlah saya masih hidup seperti ini. Ya, walaupun harus


menjalani hidup yang cukup berat tapi saya benar-benar berterimakasih karena


sudah diberi kesempatan untuk hidup.”


Cih, kapan terakhir kali aku menjilat


untuk bertahan hidup.


“Minggir, kau menghalangi


jalanku!” Tidak menggubris apa yang dibicarakan gadis di depannya.


“Eh, ia maaf. Silahkan mencari


buku-buku Tuan. Saya permisi.”


Arandita  membaca situasi, dia harus segera menghilang


dari tempat ini. Menyelamatkan diri dari harimau yang dulu pernah


melepaskannya. Dia sudah membungkukkan kepala sopan lalu hendak berbalik


mengambil langkah kaki seribu. Menghilang dari bumi kalau perlu.


“Tunggu!”


Apa! kenapa lagi? Apa salahku


sekarang? Bukannya kau menyuruhku pergi.


Han menjentikkan tangannya, meminta


gadis itu mendekat. Dia terlihat bingung, tadi menyuruhnya pergi sekarang


malah memintanya mendekat. Tapi dia malah memilih mematung di tempatnya. Tidak


bergerak, jauh lebih aman pikirnya. Karena dia diam membuat Han yang berjalan


mendekatinya.


Ara terperanjat terkejut. Saat Han


meraih rambutnya yang terurai, dia tadi mengikat rambutnya menjadi dua


seadanya. Dengan karet yang dia temukan di kontrakannya.


Kenapa dia menyentuh rambutku.


Aaaaa, kapan aku terakhir kali keramas!


“Apa dari dulu rambutmu seperti


ini?”


Apa? kenapa? Rambut bergelombangku


kenapa?


“Ini rambut asli saya Tuan.” Dia ingin


menepis tangan yang menyentuh rambutnya, tapi tidak punya keberanian


melakukannya.


ini.” Masih mengamati rambut yang ada di tangan kirinya.


“Dulu saya meluruskan rambut saya


supaya terlihat rapi. Tapi karena akhir-akhir ini saya harus menghemat uang


jadi saya tidak mau menghabiskan uang saya untuk meluruskan rambut.” Menjawab selugas


mungkin.


Han menjatuhkan rambut yang dia


pegang, lalu menatap tangannya. Sepertinya dia merasai rambut bergelombang


berminyak belum tersentuh sampo selama beberapa hari. Nona penulis sepertinya


kamu sibuk sekali ya. Dia mengusapkan tangannya di bahu wanita yang masih


terlihat raut bingung itu.


“Baguslah, dengan rambutmu ini kau


jadi terlihat seperti manusia.”


“Apa?” bingung. Kenapa rambut


yang selama ini dia anggap jelek ini membuatnya jadi manusia di hadapan


laki-laki ini. Aran penasaran ingin bertanya, sekaligus mencegah mulutnya untuk


terbuka. Jangan cari mati. Begitu nuraninya menyadarkan.


“Minggir! Kau menghalangi jalan.”


“Aah, maaf Tuan.” Dia mundur


mempersilahkan Han lewat. Menatap punggung laki-laki itu yang menjauh. Terdengar


dia langsung menarik nafas lega.


Dia bilang apa? dia mengganggapku


manusia. Kenapa? Karena rambut bergelombangku yang berminyak ini. Aaaaa, kenapa


aku tidak keramas si tadi.


Han sudah ada di rak nomor 12 dia


terlihat serius mengambil beberapa judul buku. Sementara gadis itu sepertinya


mengurungkan niatnya untuk menghilang dan kabur. Dia berdiri di belakang rak,


membungkukkan kepala sambil menatap Han. Melihat buku apa yang dia cari.


Bulan madu. Apa dia sudah menikah?


Hah! Dengan siapa? Sial, aku harus kehilangan pekerjaan gara-gara dia dan


sekarang dia mau menikah.


Tanpa sadar dia mendekat, sambil


masih mengendap-endap. Pura-pura membaca, padahal di balik bukunya dia hanya


sedang memperhatikan setiap gerakan Han. Pikirannya berlarian sampai pada titik


kesalahan fatal yang dia lakukan berhubungan dengan laki-laki itu. Dia yang


begitu beraninya melakukan pengintaian seperti yang dilakukannya sekarang.


Sekretaris Han terlihat sudah

__ADS_1


menemukan apa yang dia cari. Ada beberapa buku yang dipegangnya. Lalu dia


berjalan menuju kasir. Naluri keingintahuan yang beberapa tahun ini terpendam


muncul begitu saja. Membuatnya juga berjalan mendekat. Masih membuntuti.


Sudah di area parkir. Han sudah


masuk ke dalam mobilnya. Dia terlihat sudah menghidupkan mobil, tapi tidak


melajukannya keluar dari area parkir. Suara klakson mobil terdengar keras.


Membuat seseorang yang sedang berdiri di balik tiang terlonjak kaget.


“Sial! Dia tahu aku


membuntutinya.”


Sekali lagi suara klakson


terdengar. Han mengeluarkan tangannya. Lalu menggerakkan tangannya memberi


isyarat agar seseorang mendekat.


“Pura-pura tidak lihat, ayo


kabur.” Pikirnya. Tapi suara klakson lagi. Membuat gadis itu akhirnya mendekat.


Di dalam mobil Han kembali menggerakkan tangannya. Membuat gadis itu kembali


mendekat. Sampai tubuhnya menempel di pintu mobil.


“Sekarang kau bekerja untuk


siapa?” bicara tanpa melihat gadis yang menempel di pintu mobilnya.


“Tidak Tuan Anda pasti salah, saya


hanya sedang lewat.” Sambil menggerakkan tangan mencari-cari pintu keluar, sialnya dia tidak menemukan. Kecuali deretan mobil dan juga motor.


“Kau bawa mobil.”


“Tidak.” mulai membaca situasi yang mencekam, yang bisa membuatnya terjebak dengan laki-laki mengerikan di hadapannya ini.


“Motor.”


“Tidak.”


Habislah aku.


“Berani sekali kau ya, masih


membuntutiku.” Sekilas Han melihat wajah Arandita. Yang mulai terlihat panik. Tapi walaupun begitu gadis itu tidak gemetar atau takut. Ya, Han tahu, wanita di depannya ini memang sedikit berbeda. Kalau tidak, bagaimana bisa dia senekat dan seberani itu, saat berurusan dengannya dulu.


“Maaf Tuan, ini hanya naluri


keingintahuan saya.” Akhirnya pasrah mengaku. Dia memang hanya penasaran. Dan rasa ingin tahunya yang kadang membawa petaka.


“Terlalu banyak mencari tahu bisa


membuatmu mati.” Han bicara dengan sinis.


“Ah, ia maaf Tuan. Kalau begitu saya


permisi.”


Aku harus pergi sekarang juga.


“Tunggu!” Han mengeluarkan hpnya,


menyodorkan ke wajah Arandita. Gadis itu mundur ke belakang “ Masukan nomor hpmu.”


“Ahh, saya sangat miskin Tuan,


saya tidak punya hp.” Mengibaskan tangan sambil tertawa.


Aku bisa mati kalau memberikan


nomorku.


Han menggoyangkan hpnya. “Kau masih


ingat kenapa aku mengampunimu dulu.”


“Ia Tuan.”


“Kenapa?” bertanya lagi.


“Karena saya cuma serangga


pengganggu, yang hanya akan mengotori sepatu Anda kalau Anda menginjak saya.” Jawaban yang cukup menyedihkan, namun dijawab dengan lugas oleh Arandita.


“Ingatanmu cukup bagus


juga. Tapi karena aku sudah menganggapmu manusia sekarang, kalau kau bertingkah


aku bisa saja menghabisimu.”


“Apa! kenapa? Apa salah saya.”


“Masukan  nomormu! “ Menggoyangkan kembali hp di depan wajah. membuat Aran tidak bisa menolak. dia mengambilnya.


“Baik.”


Gadis itu menyerahkan hp dengan


kedua tangannya. Setelah selesai memasukan nomor.


“Kalau sampai kau berani memberiku


nomor yang tidak bisa dihubungi, habis kau. Aku bisa menemukanmu walaupun kau


bersembunyi di lubang semut sekalipun.”


“Tunggu! sepertinya saya salah


memasukan satu nomor Tuan.” Mengambil lagi dengan cepat. lalu ketik-ketik dengan cepat juga. “Saya baru mengganti nomor hp beberapa hari lalu, jadi masih agak lupa. Silahkan, saya sudah mencatat


nomor saya dengan benar.” Mengembalikan hp lagi.


Bagaimana dia bisa tahu kalau aku menulis nomor yang salah. Sial!


“Pergilah, tunggu aku menelepon.”


“Baik. Selamat jalan Tuan. Semoga


hari Anda menyenangkan.”


Han tidak menjawab. Dia sudah


menghidupkan mobil. Dan keluar dari area parkir.


Aaaaa kenapa aku membuntutinya. Kenapa aku penasaran dengan harimau gila itu. Aaaaaa!


Gadis itu menabrakkan tubuhnya ke tiang besar penyangga gedung. Membenturkan


kepalanya pelan. “Aku pasti sudah gila, kenapa aku memberinya no telepon.”


Sementara itu Han terlihat melirik


kaca spionnya. Terlihat selintas senyum samar di bibirnya.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa minggu depan ^_^

__ADS_1


__ADS_2