Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
104. Istirahat sore


__ADS_3

Setelah sampai di rumah Daniah berpisah dengan Maya, dia mengucapkan banyak terimakasih lalu meninggalkan Daniah menuju rumah belakang. Leela sendiri ikut masuk ke dalam rumah. Tidak tahu apa yang dibicarakannya dengan Pak Mun. Daniah memilih masuk ke dalam kamar.


Dia bahkan memilih makan malam di kamar, karena semua orang belum kembali dari urusannya. Dari pada makan di meja makan besar sendirian dia memilih makan sambil nonton tv. Sebenarnya dia tidak terlalu lapar, tapi karena Pak Mun akhirnya dia makan juga.


Berganti pakaian setelahnya lalu menjatuhkan diri di sofa.


Kenapa semua orang berfikir kalau tuan muda itu mencintaiku si. Dia bahkan tidak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Aku malah yang sudah ratusan kali mengatakannya.


Daniah menyalakan tv, tapi dia mengambil hpnya. Melihat foto-foto mereka tadi saat di spa dan makan dan juga jalan-jalan sebentar di sekitar mall. Daniah terpingkal melihat ulang karyawannya yang ada di dalam foto.


Aaahh, mereka ini manis-manisnya. Semoga kalian selalu hidup bahagia nantinya ya.


Sedang menggeliat di sofa, dengan gaya seenaknya. Suara pintu terbuka mengejutkan Daniah. Dia sedang mengangkat kakinya ke atas, sementara kepalanya berada di bibir sofa. Membuat rambut gelombangnya terburai, bahkan hampir menyentuh lantai. Dia mendongak melihat kedatangan Saga.


“Sayang.” Meringis malu, sudah mau berubah posisi.


“Jangan bergerak. Diam di posisimu.”


“Apa!” Walaupun malu campur kesal dia tidak berani bergerak. Lebih sialan lagi saat Sekretaris Han masuk dan tergelak tanpa suara.


“Han, berikan hpku.”


“Baik Tuan Muda.”


Hei, hei, kalian mau apa!


Cekrik, cekrik, cekrik. Entah berapa puluh kali dia memfoto dengan berbagai posisi. Daniah mengeram kesal.


“Sudah, kau bisa duduk sekarang.”


Apa dia sudah gila!


“Lihat rambutmu.” Membantu Daniah merapikan rambut yang terburai. “Sedang bosan ya sampai jungkir balik begitu.” Menggulung rambut, menggulung rambut malah membuat semakin berantakan.


“Sayang apa yang kamu lakukan si, biar aku saja.”


Tidak akan selesai sampai kapan kalau dia sudah main-main dengan rambutku. Kau tergila-gila dengan rambutku ya.


Han tersenyum tipis lalu melangkah membawa setelan baju yang terbungkus plastik. Menuju ruang ganti baju. Daniah bisa melihat punggungnya yang bergoyang.


Apa dia masih menertawakanku!


“Maaf aku tidak turun menyambut. Biasanya Pak Mun datang dan memberitahuku kalau kau kembali.” Beralih pada Saga yang masih duduk di sampingnya. Menggulung-gulung rambut tidak ada habisnya.


“Berikan aku ciuman selamat datang sebagai ganti kau tidak menyambutku.” Melepaskan tangannya dari rambut, berganti menjentikkan telunjuknya di dagu Daniah.


Apa sekarang! Ada Pak Mun di dekat pintu dan Sekretaris Han yang muncul dari ruang ganti.


“Tidak mau!” kesal.


“Siapa yang tidak mau, tentu saja aku mau. Selamat datang sayang.” Ciuman hangat menyambut Saga. Sekretaris Han melewati mereka tanpa bergeming, berjalan menuju pintu. Lalu berdiri di sana.


Sudah kan, puaskan! Senang sekali menjahili orang.


Saga melepaskan tangannya setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.


“Apa mau kusiapkan air untuk mandi.” Daniah menyentuh dasi Saga dan mau membantu melepaskannya. Saga malah meraih jemari Daniah lalu menciumnya dua kali.


“Tidak usah, Pak Mun yang akan membantuku. Turunlah, Jen dan Sofi ada di bawah. Sudah lama kalian tidak berbincang karena Jen sibuk kan?” Menggulung rambut lagi.


Orang ini benar-benar sudah tergila-gila pada rambutku ya. Makanya jangan pernah menghina sesuatu, kena hukumannya kan kamu sekarang.


“Ahh mereka sudah pulang juga. Baiklah.” Melepaskan tangan Saga dari rambut. Kecupan lembut Daniah di pipi Saga sepertinya bisa jadi hadiah yang membuatnya senang. Saga terlihat terkejut, meraba bibinya. Wajahnya terlihat sangat senang. Dia mencium pipi Daniah juga beberapa kali. “Ia, ia sudah. Hentikan.” Mendorong tubuh Saga agar bangun.

__ADS_1


Daniah menunggu Saga masuk ke dalam ruang ganti baju yang di ikuti pak Mun. Akhir-akhir ini sifatnya memang agak melunak. Sekarang jarang menyuruh Daniah menyambut atau melepaskan sepatunya. Dia pun sudah bisa mandi tanpa di siapkan air. Pokoknya standar pembantu yang dulu melekat dalam tubuh Daniah berangsur berkurang, walaupun belum sepenuhnya hilang.


“Sekertaris Han!” memanggil Han yang sudah duluan menuruni tangga, laki-laki itu berhenti. “Besok peresmian Danau Hijaunya?” Mereka berhenti di tengah tangga.


“Ia Nona.” Mengalihkan pandangan setelah beberapa detik.


“Apa Helen juga akan datang?”


“Kenapa? Apa Anda juga mau datang. Saya akan siapkan semuanya kalau Anda mau menemani Tuan Saga.”


Daniah mengibaskan tangannya panik.


Siapa juga yang mau datang, aku kan hanya tanya.


“Tidak! Aku hanya tanya apa Helen juga akan datang?”


“Apa Nona cemburu?”


Memukul bahu Han kesal.


“Berhenti menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan.”


“Maafkan saya Nona, kalau Anda cemburu itu akan mempermudah semuanya.”


Apa! maksud dia ini apa si?


“Kalau begitu saya permisi Nona.” Sudah mau berbalik. “Masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan.” Seperti bilang, berhenti menggangguku.


“Tunggu!”


Lihat, lihat matanya sudah mulai.kesal. Mau apa lagi kamu? Begitu kan yang ada dipikiran mu. Biarin, memang kamu aja yang bisa buat orang kesal dengan jawaban-jawabanmu.


“Ternyata Leela itu adik sepupumu ya.” Tersenyum, seakan sudah menemukan kelemahan Sekretaris Han. Padahal laki-laki itu tetap tenang, bahkan air mukanya saja tidak berubah. “Aku banyak bicara dengannya tadi.”


“Benarkah, saya senang kalau Anda bisa akrab dengannya. Kalau Anda punya keluhan tentangnya katakan saja.”


“Tidak, aku tidak punya keluhan apa-apa kok. Dia bekerja dengan baik. Dia juga banyak bercerita tentangmu.”


Ayo terpancinglah, terpancinglah.


“Bernahkah?” Han tersenyum tipis


“Kenapa? Tidak percaya.” Menantang, padahal Daniah hanya sok-sokan. Dia sama sekali tidak punya modal apa-apa untuk bisa dipakai menggertak Sekretaris Han dari sudut manapun.


“Tidak.” Tergelak kecil, lalu membungkukkan kepala. “Usaha yang bagus Nona, lain kali berusahalah lebih keras lagi.”


Apa! dia sedang menggoda dan mempermainkanku juga!


Daniah menendang udara di depannya tepat di tempat tadi Sekretaris Han berdiri. Dia menggerutu kesal sambil menuruni tangga. Melihat Sekretaris Han masuk ke dalam ruang kerja Saga.


Dia bahkan bisa masuk ke sana seenaknya.


“Kakak ipar!” Menyambut Daniah yang turun dari tangga. Jenika muncul dari dapur membawa sekotak stroberi. Menarik Daniah duduk di kursi, lalu dia memeluk Daniah dan menyandarkan kepalanya di dada gadis itu.


Apa-apaan anak ini.


“Hei, kenapa, ada apa denganmu Jen?” Sedikit khawatir karena kelakuan manja Jen yang tidak biasanya.


Huuuu. Huuu. Malahan tersedu. Walaupun tangisannya palsu.


“Kakak Ipar, Kak Jen sedang galau, gara-gara cowok.” Sofia tertawa sama sekali tidak bersimpati, dia rebahan di sofa sambil menaikan kaki dan bermain hpnya.


Puk, puk, ditepuknya bahu Jenika yang memeluknya.

__ADS_1


“Kenapa? Bukannya kamu juga sudah punya pacar?”


“Ia, karena itulah aku galau Kakak Ipar.” Merengek tidak jelas. “Di kantor ada teman magangku, dia baik sekali. Aku sepertinya jatuh cinta padanya.”


Lepaskan aku dulu!


Daniah berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia. Dia kalah tenaga, akhirnya menyerah melepaskan diri dia membiarkan Jen memeluknya.


“Jen, kamu tahu apa yang paling penting dalam sebuah hubungan selain cinta?”


“Apa?”


Tepukan lembut di bahu Jen lagi.


“Banyak sekali selain cinta Jen. Menjaga kehormatan, menjaga kepercayaan, kejujuran adalah rantai pengikat dalam sebuah hubungan. Tidak akan berjalan baik kalau kesemuanya itu rapuh. Kalau kau memang menyukainya sudahi dulu hubunganmu yang satunya. Jangan bersandar di dua tubuh, karena bukan hanya kamu yang akan terluka nanti tapi kau juga akan melukai dua orang yang lainnya.”


“Tapi bagaimana?” merengek lagi.


“Apanya?” mengusap-usap bahu Jen lembut.


“Laki-laki di tempat magangku itu memang baik, tapi masalahnya dia baik sama semua orang. Hiks, hiks. Dia bukan hanya baik padaku dalam artian menyukaiku. Itu masalahnya. Huaaaa, aku jengkel sekali. Saat di kantin semua orang membahasnya, bahkan senior-senior pekerja perusahaan juga.” Jen menjajakan kaki.


Saga muncul, berdiri di dekat kursi.


“Apa yang kau lakukan Jen?Kenapa memeluk kakak iparmu?” Duduk, dia memberi isyarat agar Pak Mun meninggalkannya. Laki-laki itu mengangguk dan pergi. Sementara Jen melepaskan pelukannya pada Daniah. Cemberut pada Saga.


Apa! aku kan hanya memeluk kakak ipar sebentar.


Sofi langsung menurunkan kakinya saat mendengar suara Saga.


“Kemarilah!” Saga menjentikkan jarinya. Daniah mendekat, tangannya ditarik dipaksa melingkar di tubuh Saga. Seperti yang Jen barusan lakukan padanya.


Apa-apaan dia, jadi dia mau aku memeluknya.


Jenika tergelak, lalu mengambil kotak stroberi yang belum disentuhnya di atas meja. Jen melirik kakaknya yang sedang memberi ciuman di wajah Daniah.


Cih, segitu tergila-gilanya pada kakak ipar, sampai pamer pada kami.


Sofia langsung kembali pada hpnya saat dia ikutan melirik, bergumam hal sama dengan Jen. Pamer. Begitu katanya.


“Besok peresmian Danau Hijau ya?” Daniah menyenderkan kepalanya di dada Saga, agar laki-laki itu menghentikan bibirnya.


“Hemm.” Sambil mengusap-usap rambut Daniah dengan dagunya.


“Iklannya sudah banyak di sosial.media Kak, mau live di TV ya.” Jen nimbrung, Sofi juga sudah membalikan badan.


“Besok kalian jangan ke mana-mana, temani kakak ipar kalian di rumah. Nonton saja di TV”


Aaaaaa, gagal deh. Bersamaan dipikiran Jen dan Sofi.


Gagal sudah semua rencana mereka, tadinya dua beradik itu mau live sosial media di depan Danau Hijau.


“Jen, mungkin sudah ada acara?” Saga menarik lagi kepala Daniah yang terangkat, membenamkan lagi di dadanya. Tidak mau Daniah bergeser satu senti pun dari sampingnya.


Apa-apaan si dia ini.


“Nggak ada Kakak Ipar, besok kami akan nonton TV lihat Kak Saga di peresmian Danau Hijau bersama Kakak Ipar di rumah.” Jen mencari aman dalam hidupnya. Ini jauh lebih baikan, dari pada live sosial media tapi diamuk di rumah.


Saga bangun dan menarik Daniah. “Ayo tidur, aku sudah mengantuk.”


Baiklah, baiklah pergilah kalian pasangan yang dimabuk cinta.


Craus-craus, Jen mengunyah stroberinya. Menatap Saga dan Daniah menaiki tangga.

__ADS_1


Aaaaa, bagaimana ini teman magangku itu wajahnya terngiang-ngiang di kepalaku terus.


BERSAMBUNG


__ADS_2