Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
142. Jen dan Raksa (Part 1)


__ADS_3

Gedung pusat Antarna Group.


Menjulang mencakar langit biru. Gedung pusat yang menjadi impian semua orang


yang bekerja di Antarna Group. Jika bekerja di anak perusahaan gaji mereka


sudah jauh lebih tinggi daripada perusahaan lain, apalagi jika mereka sampai


bisa memasuki gedung pusat. Walaupun dengan skala kerja dan tekanan yang


semakin meningkat, namun kebanyakan orang masih saja berlomba untuk bisa sampai


di sini.


Kalau biasanya kita hanya melihat aktifitas


lantai atas, lantai paling prestisius di gedung ini, sekarang kita akan melihat


area lain. Tempat di mana para pekerja berjibaku dengan waktu, peluh dan


semangat mereka untuk bekerja keras. Bekerja di Antarna Group adalah pilihan


yang akan dipilih orang-orang di negara ini. Mereka harus bersaing secara ketat


melalui beberapa tahap seleksi yang tidak mudah. Hingga bekerja keras bukan lagi


merupakan keharusan namun sebagai upaya mereka berterimakasih sudah mendapat


pekerjaan yang mereka impikan.


Di lantai empat, bagian arsip


laporan seluruh cabang anak perusahaan Antarna Group. Lantai ini adalah tempat


laporan semua hal tentang perusahaan. Baik berupa produk ataupun jasa.


Di sinilah semua kegiatan anak cabang akan di periksa. Dan di lantai inilah


Jenika bekerja. Adik dari pemilik perusahaan yang sama sekali tidak mendapat


perlakuan istimewa dari siapa pun. Tidak ada yang tahu, kecuali direktur bagian.


Dan sini pula Raksa melakukan kegiatan magangnya. Sepertinya Han sengaja menugaskan mereka di tempat yang sama untuk memudahkan pemantauan. Tapi karena ulahnya menjadi bumerang bagi Jenika. Dan parahnya hanya bagi Jenika, bagi Raksa dia selalu bersikap seperti biasa. Tersenyum dan bekerja dengan keras.


Pagi ini seperti biasa suasana


kantor tampak sibuk. Pegawai magang hilir mudik melakukan pekerjaan yang


diberikan karyawan senior mereka. Ada yang berteriak, lalu ada yang berlari.


Begitu seterusnya.


Jenika pun demikian, di sini dia


tidak berbeda dengan yang lain. Hanya karyawan magang yang bisa di suruh ke sana


kemari. Saat ini dia sedang mendorong troli berisi tumpukan laporan anak


perusahaan. Dia melirik sekilas sampul laporan-laporan itu.


“Apa! jadi brand parfum ini milik


perusahaan Kak Saga.” Penasaran sambil mendorong dia membalik sampulnya. “Benar, ini kan parfum yang pernah kubeli buat mantan yang kemaren. Hihi. Aku


suka aromanya. Ah mantanku, dia sedang apa ya?” Kenangan manis melintas


membuatnya tersenyum.


“Hayoo, lagi mikirin mantan ya.”


Sebuah tangan sudah meraih troli yang Jen dorong. Tangan mereka bersejajar


sekarang. Saat mendongak terkejutnya Jen ternyata Raksa yang membantunya.

__ADS_1


“Eh, bukan. Aku nggak punya mantan


kok. Sumpah.”


Lho, kenapa aku bilang nggak punya


mantan si. Nanti Raksa berfikir aku punya pacar donk.


“Maksudku sekarang aku lagi


single, nggak punya pacar.” Tersipu malu. Apalagi saat Raksa tersenyum mendengar


jawabannya.


“Nanti juga ketemu sama jodohnya.


Hehe,  Mau dibawa ke mana?” Raksa menunjuk


troli yang dia dorong dengan matanya.


“Ruangan delapan. Tapi nggak papa


membantuku sekarang. Memang sedang senggang.” Jen mengatakan dengan dada yang


berdebar, berusaha tidak menoleh pada Raksa. Saat ini ketika sudah


memproklamirkan diri ingin mengejar Raksa entah kenapa setiap kali bertemu


dadanya selalu berdebar jauh lebih kuat dari biasanya.


“Memang ada waktu senggang untuk


kita anak magang. Hehe.” Mereka tertawa bersama saat Raksa menyelesaikan


kalimatnya. Ya, waktu senggang mereka hanya saat jam makan siang.


Makanan di kantin kantor sangat enak. Antarna Group memang memberi fasilitas mewah bagi para karyawannya. Tapi tentu saja mereka harus bekerja keras membalas apa yang sudah mereka terima.


Semua karyawan bekerja keras,


adalah proses belajar ya adik-adik magang, dulu kami juga mengalaminya kok.


Bahkan jauh lebih berat. Begitulah kalau senior sudah memberi wejangan  pada mereka.


Setelah selesai menumpuk laporan.


Mereka keluar dari ruangan delapan. Raksa yang mendorong troli kosong,


sementara Jen berjalan di sampingnya.


“Terimakasih ya Raksa sudah


membantuku.” Bicara tanpa menoleh. Jen melepaskan tangannya dari troli, karena


sekarang benda itu kosong jadi cukup Raksa yang mendorongnya.


“Hei, kenapa sungkan.” Raksa


menghentikan langkah,  mereka sama-sama


berhenti. Lalu saling bersitatap. “ Maaf ya, aku bahkan tidak mengenalimu kalau


kamu adik ipar Kak Niah. Kalau tahu aku pasti akan menyapamu sesering mungkin.”


Eh, wajah Jen langsung merona. Dia


tersipu malu.


“Kedepannya kalau butuh bantuan


apa pun jangan sungkan bicara padaku. “ Raksa menepuk kepala Jen dengan


tangannya lembut. “Karena kau adik ipar Kak Niah, mulai sekarang aku akan

__ADS_1


mengganggapmu seperti adikku sendiri.”


“Apa!” Jen menutup mulutnya dengan


tangan, terkejut dengan teriakannya sendiri. Lebih terkejut saat melihat wajah


Raksa yang tampak canggung. Raksa segera menarik tangannya. Menggoyangkannya


menjauh.


“Eh, maaf ya. Sepertinya aku


berlebihan. Kamu bahkan sudah memiliki kakak sempurna seperti Tuan Saga.


Bagaimana aku bisa berani menawarkan diri.” Berusaha tersenyum walaupun dia


merasa tidak nyaman.


Sepertinya aku sudah berlebihan ya.


“Tidak, bukan seperti itu kok.”


Meraih tangan Raksa lagi lalu meletakkannya kembali di kepalanya. “Aku senang


kok. Haha.” Mencoba mencairkan suasana. Jen berharap Raksa tidak tersinggung


tadi.


Raksa pun tertawa lalu menurunkan


tangannya bingung, kenapa Jen mengembalikan tangannya ke kepalanya lagi.


“Kak Niah banyak bercerita tentang


bagaimana baiknya Jen. Terimakasih ya sudah menjaga Kak Niah. Pernikahan Kak


Niah diawal-awal kan cukup berat” Menoleh. “Maaf.” Jen paham maksudnya. Dia pun


memperlakukan kakak iparnya dengan tidak baik di awal-awal. “Tapi aku sekarang


sangat bersyukur, Kak Niah hidup dengan bahagia dan mendapat cinta dari Tuan


Saga. Terimakasih sudah menjaga Kak Niah selama ini.”


“Eh, ia. Kakak ipar sangat baik, jadi semua sayang padanya.”


Tapi jangan anggap aku adik! Itu kan


lebih mengerikan daripada dianggap teman. Hiks, hiks. Jangan anggap aku adik.


Aku ingin berteriak begitu di depan Raksa. Tapi kalau dia kaget dan malah


membenciku bagaimana.


Mereka kembali berjalan mendorong


troli.


“Oh ya Jen sebenarnya aku


penasaran lho, bagaimana kamu bisa magang jadi karyawan biasa. Padahal Tuan


Saga kan kakakmu?”


Mereka bicara cukup banyak, dan


ternyata sudah sampai di ruangan masing-masing. Raksa melambaikan tangan ketika


pergi. Dan kejadian itu banyak yang melihat. Akhirnya mulailah gosip beredar


di antara para karyawan, kalau Jen dan Raksa sedang menjalin hubungan.


Disayang tapi dianggap adik, aku gak mau!

__ADS_1


Jen berteriak dalam hati, sambil menjatuhkan diri di meja kerjanya.


bersambung


__ADS_2