Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
120. Hukuman Untuk Leela


__ADS_3

Tidak bisa dipercaya Saga


benar-benar tidur terlelap dalam dekapan Daniah tanpa melakukan apa pun. Rekor


yang harus di catat sejarah sepanjang hubungan mereka.  Bahkan Daniah pun jatuh sebentar dalam alam


tak sadarnya. Namun tidak lama dia tertidur karena merasa dirinya terancam. Setelah


terbangun dia tertawa sendiri, karena Saga masih terlelap dalam dekapannya.


Bahkan saat dia iseng menarik-narik telinga Saga laki-laki itu tidak menggeliat.


Dia benar-benar tertidur dengan wajah yang sangat tenang.


Setelah bangun tidur mereka makan


siang dengan suasana hangat dan nyaman. Bahkan bagi Daniah situasi ini masih


terasa canggung, namun entah kenapa dia merasa sangat menikmati. Perasaan


malu-malu di hatinya menyeruak. Dia merasa bahagia dengan perlakuan Saga dan


hatinya menerimanya sebagai ketulusan Saga. Mungkin cacian Helen dan ancaman


Helen yang ia dapatkan tadi memang menjadi bukti semua hubungan Saga dan Helen


sudah berakhir. Hingga Daniah bisa bernafas lega. Semua ketakutannya seakan


berlarian meninggalkannya.


“Pulanglah!” kecupan lembut di


pipi Daniah. Setelah makan siang selesai.


“Apa aku  boleh mampir ke


toko?” Mencari celah lolos dari masa percobaan. Memanfaatkan situasi, dengan


mempertimbangkan suasana hati Saga yang sedang sangat baik.


“Hei, kau lupa sedang masa


percobaan hukuman. Melanggar sekali saja kuanggap kau gagal dalam masa


percobaanmu ya.” Menghardik keras lewat kata-kata.


“Maaf. Aku hanya bercanda.”


Memeluk Saga tanpa di sadari. Sepertinya akhir-akhir ini tubuhnya punya refleks


yang baik untuk menyelamatkan diri dengan baik. “Aku akan pulang dan


menunggumu. Terimakasih sudah mengajakku makan siang.”


“Nah begitu kan manis." Kecupan lembut di kepala Daniah." Han ambilkan


barang-barang yang kamu ambil di ruko tadi.” Daniah bingung, mengikuti langkah


Sekretaris Han. “Kenapa kau menyimpan semua hal berhargamu di ruko?”


Daniah terkejut ketika melihat apa


yang di bawa Sekretaris Han.


“Kamu bisa menyimpan dan meletakan


itu di manapun kamu mau di rumah.” Lembut Saga memeluk Daniah yang sudah merasa


haru menyeruak di hatinya.  Kenangan berharga


milik ibunya, yang hanya bisa tersimpan di gudang di sudut rumahnya. Dan betapa


terhiburnya ia saat Saga pun menganggap itu adalah sesuatu yang berharga


baginya.“Han akan mengantarmu ke bawah.”


“Eh ia, makasih sayang.” Daniah


memberikan ciuman lembut di pipi Saga, lagi-lagi membuat laki-laki itu


terkejut. “Aku akan menunggumu di rumah.”  Tidak semudah itu Saga melepaskan Daniah


setelah ciuman di pipinya. laki-laki itu merasa ciuman di pipi yang di lakukan Daniah tanpa ia minta adalah sesuatu yang sangat berharga, yang harus ia balas ribuan kali lipat.


“Keluarlah dulu Han.” Saga menarik


tangan Daniah. Han paham lalu dia melangkah keluar, dan menutup pintu tanpa


suara.


Terjadilah, hal yang harus terjadi.


Daniah merapikan rambutnya lagi.


Dengan wajah merah padam. Dia keluar dari ruangan presdir.


Kenapa dia sensitif sekali si kalau


aku mencium pipinya. Aku kan hanya berterimakasih, kamu kan tidak perlu

__ADS_1


membalasnya dengan seribu ciuman juga.


Leela sudah menunggu di depan


pintu. Dia menerima pigura besar di tangan Sekretaris Han lalu mengikuti


langkah Daniah.


“Leela sudah makan?” Di dalam lift.


Han ikut membawa kotak berdiri paling belakang.


“Sudah Nona.” Menjawab singkat


sambil mencari pandangan ke arah lain agar Daniah tidak bertatap mata


dengannya.


“Baiklah, kita langsung pulang ya.


Lagian aku nggak bisa ke mana-mana.”


Sekretaris Han tidak bicara apa-apa


selama di dalam lift, sampai dia meletakan barang-barang di dalam bagasi


belakang dengan hati-hati. Dia membukakan pintu depan untuk Daniah. Menunggu


sampai Daniah masuk.


“Selamat jalan Nona.”


“Terimakasih.”


Daniah melirik Leela dan Sekretaris


Han bergantian, mereka bahkan tidak saling menyapa.


***


Dalam perjalanan pulang. Sebenarnya


Daniah ingin sekali mampir ke tokonya. Tapi mengingat ancaman Saga tadi membuat


nyalinya menciut. Dia terlihat berfikir lama, dan tenggelam dalam lamunannya


cukup lama. Kembali mengingat semua kejadian yang terjadi di gedung Antarna


Group. Semua. Dari kedatangannya tadi sampai dia bertemu Helen. Daniah menoleh


pada Leela yang juga diam saja.


Daniah menyentuh tangan Leela


memintanya menghentikan kendaraan. Lalu dia meraih dagu Leela dia melihat pipi kiri  gadis itu memerah, bahkan ada luka kecil


di sekitar bibirnya sebelah kanan. Kalau dia menunduk atau memalingkan wajah


Daniah bahkan tidak akan menyadarinya.


“Ada apa dengan wajahmu?”


Memeriksa dengan teliti.


“Tidak apa-apa Nona, saya hanya


terjatuh.”


Daniah mengernyit tidak percaya,


bagaimana Leela bisa memakai alasan jatuh. Kalau dia sendiri yang jatuh dia


akan percaya.


“Jatuh, di mana? Kamu baik-baik


saja tadi. Apa Sekretaris Han yang melakukan ini.”  Daniah mengguncang tubuh Leela agar bicara


jujur. “Dia yang memukulku kan.” Bicara dengan suara keras. Daniah merasa


sangat  kesal, bagaimana bisa Sekretaris Han melakukan ini.


“Tidak nona.”


Bahkan sampai akhir Leela hanya


menutup mulutnya membuat Daniah merasa bersalah.  Karena dia Leela harus menerima hukuman. Bahkan


ini bukan kesalahannya. Geram rasanya memikirkan wajah Sekretaris Han, ingin


dia meremas wajah itu karena kesal. Saat sudah sampai di rumah, Daniah segera


masuk ke dalam rumah. Meminta alat kompres untuk di tempel di pipi Leela. Dia


menarik tangan Leela untuk duduk. Di depannya sudah ada kotak obat.


“Maaf.”


“Nona tidak melakukan kesalahan

__ADS_1


apa pun, tidak perlu minta maaf.” Duduk diam, dan membiarkan Daniah melakukan


apa pun yang ia inginkan, sekedar mengobati rasa bersalahnya.


“Bagaimana ini bukan salahku. Aku


yang menyuruhmu turun tadi kan, memaksamu tidak mengikutiku. Cih, bagaimana dia


bisa memukulmu begini. Maafkan aku Leela.” Menyentuh pipi Leela.


“Ini bukan kesalahan Anda atau


Sekretaris Han nona ini semua salah saya.”


“Memang apa salahmu?” Berteriak


juga akhirnya. Jelas-jelas ini salahnya, begitu Daniah berfikir. Kalau dia


membiarkan Leela di sampingnya tadi. Sekertaris Han pasti tidak akan melihatnya


terpojok di hadapan Helen.


“Saya seharusnya tidak


meninggalkan Anda apa pun alasannya. Anda pasti takut sekali tadi.” Sorot mata


penuh penyesalan Leela semakin membuat Daniah merasa bersalah,


“Hei, memang apa yang dikatakan Sekretaris sialan itu.” Mengoleskan salep


dingin di dekat bibir Leela, dan mengusapkan perlahan dan tipis-tipis di pipi


yang memerah.


“Nona Helen yang hampir memukul


Anda.”


“Apa dia bilang begitu. Helen


tidak memukulku Leela. Dia hanya mendorongku ke dinding dan mencengkeram


bajuku. Begini.” Daniah menarik bajunya sendiri, memperagakan apa yang di


lakukan Helen tadi. “Dan aku tidak selemah itu kali sampai membiarkan dia


memukulku. Walaupun aku kalah besar dan tinggi darinya tapi aku juga tidak mau


di pukul sama dia kan.”


Ada apa dengannya, kenapa sekarang


dia yang telihat  sangat kesal.


“Maafkan saya nona, saya sudah


melakukan kesalahan yang sangat besar.” Lagi-lagi Daniah merasa frustasi jika


Leela atau sekertaris Han mengatakan ini.


Cih, memang apa yang akan di


lakukan Tuan Saga si kalau sampai aku terluka. Aku penasaran sekaligus takut.


“Hei, aku tidak apa-apa.”


“Kalau tuan muda tahu.” Daniah


langsung memotong kata-kata Leela.


“Jangan katakan apa pun di


depannya. Aku tidak mengatakan kalau aku bertemu Helen tadi padanya. Jangan


mengungkitnya. Leela sepertinya aku sudah membuat kesalahan besar ya. Maafkan


aku.” Daniah semakin merasa bersalah.


Tadinya dia benar-benar


mengesampingkan semua perkataan Sekretaris Han, tapi mendengar apa yang di


katakan Leela, sepertinya kata-kata Sekretaris Han terdengar sangat masuk akal.


“Kalau sampai tuan muda tahu, saya mungkin tidak akan selamat dari


kemarahannya.”


Cih, aku penasaran juga apa yang


akan dilakukan tuan Saga kalau dia marah padamu. Tapi kalau sampai dia marah


padamu, bagaimana nasib karyawan-karyawan yang lain.


Sekali lagi Daniah hanya bisa


menggigit bibirnya kelu, dia merasa bagaimana Saga memperlakukannya sangat


berlebihan. Caranya mencintai, atau caranya melindunginya sampai kapan Daniah akan terbiasa dengan situasi semacam ini.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2