
Aku seharusnya mencatat nasehat Sekretaris Han bukan hanya di hatiku, tapi di buku catatan, supaya aku tidak lupa sedikit pun. Kalau laki-laki ini prilakunya memang seenaknya dan semaunya sendiri. Memberiku kartu tanpa batas.tapi kalau dia iseng dia bisa saja meminta pertanggungjawabanku. Memang kamu maunya aku memakai kartumu untuk apa. Buat beli baju, tas atau sepatu untukku saja.
“Sekarang bertanggungjawablah atas perbuatanmu yang tercela itu.” Kesal, sambil berbaring di samping Daniah. Saga mengangkat kakinya menindih kaki Daniah karena tahu gadis itu ingin menggeser tubuhnya. Menjauh darinya.
Apa! Apa! Memang aku melakukan apa? Sudah seperti aku melakukan perselingkuhan terencana saja. Aku kan membelikan adikku. Dia adik tiriku juga, kami memiliki darah yang sama. Gila ya sampai berfikir aku main gila dengan adik sendiri. Kenapa si Anda nggak waras sedikit saja. Kalau Anda sedikit saja normal, Anda itu tampan dan luar biasa tahu.
“Kamu membelikan laki-laki lain banyak sekali barang, lantas mana untukku.”
Eh apa! memang mau aku membelikan apa si. Kamu kan sudah punya semua di lemarimu, berlebih lagi. Dan itu pun pasti dibuat khusus untuk Anda oleh desainer ternama. Masih mau apa dari rakyat jelata sepertiku. Mall tempat aku belanja saja milikmu.
“Jangan bilang kamu bahkan lupa membelikanku sesuatu.” Menarik ujung rambut Daniah. Saga menggulungnya sampai wajah Daniah menempel di pipinya. “Habis kau kalau tidak ada barang untukku. Aku akan membuatmu merintih semalaman.”
Wajah Daniah sudah pucat pasi, dia bergerak menjauhkan pipinya beberapa centi. Agar otaknya bisa dipakai untuk berfikir. Seperti melihat bola lampu yang menyala. Dia menemukan ide yang bisa menyelamatkannya malam ini.
“Saya membelikan Anda sesuatu,” terbata bicara, sambil meyakinkan kalau ini bukan ide gila yang semakin membuat Saga marah.
“Apa?” Jemari Saga sudah meremas sesuatu, membuat Daniah merintih. “Kalau kau cuma cari alasan, habis kau.”
Daniah mundur dan bangun membuat tangan Saga meremas udara.
“Kau mau kemana heh?” sudah berteriak kesal.
“Saya mau mengambilkan hadiah Anda.” Sudah berdiri di samping tempat tidur. Dia membetulkan pakaian tidurnya yang sudah berantakan ke mana-mana.
“Kemari cepat sebelum aku benar-benar marah.”
“I, ia.”
Daniah bergegas masuk ke dalam ruang ganti baju, mengambil tas, lalu secepat kilat kembali ke tempat tidur. Saga sudah duduk bersandar, lampu di atas meja sudah menyala. Dia menunggu Daniah mencari-cari sesuatu yang ada di dalam tasnya. Setelah menemukan benda yang dicari Daniah menyerahkan dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Apa ini?” Memperhatikan di bawah sorot lampu. “Apa ini berlian?”
Apa si, berlian dari mananya coba.
“Kau sedang mempermainkanku!” menarik tangan Daniah agar mendekat. “Kamu membelikan adikmu banyak sekali barang dan cuma membelikanku ini. Mau mati ya!”
“Maaf suamiku.”
“Hemm.” Mencengkram baju tipis Daniah. “Kamu panggil apa?”
“Maaf sayang, saya hanya belum terbiasa.”
“Kalau begitu biasakan dirimu mulai sekarang, kalau salah lagi aku akan menghukummu.” Mengusap bibir Daniah dengan tangannya. Lalu kembali melihat hadiah Daniah di sorot lampu.
“Apa ini?”
“ Apa! Kamu sedang cari-cari alasan biar tidak dihukum ya. Buat apa memberiku ini.” Melemparkan ke tubuh Daniah. Ditangkap gelagapan oleh kedua tangannya. Benda kecil itu kini digenggamnya.
Daniah mengambil hp miliknya di dalam laci meja ingin menunjukan bagaimana benda itu bekerja, Saga memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan istrinya.
“Anda bisa menempelkannya seperti ini.” Benda berbentuk bintang kecil itu berkilau terkena cahaya lampu.
Tunggu, dia juga pakai. Jadi itu benda couple.
Wajah Saga merona senang. Dia mengulurkan tangannya.
“Kalau Anda tidak suka, saya akan memberi Anda hadiah yang lain.”
“Berikan! Kamu sudah memberikan padaku beraninya mengambilnya lagi.”
__ADS_1
Kan kamu yang melemparkan padaku tadi.
Saga meraih hp di atas meja, melemparkannya ke pangkuan Daniah. “Tempelkan itu!”
Daniah menempelkan lambang bintang di hp Saga. Saat sudah menempel dengan benar, dua benda kecil itu menyala bersama.
“Ahh, benar menyala.” Daniah girang melihat benda mungil itu menyala. “Lucu ya, jadi kalau hp kita berdekatan lampu di bintang ini akan menyala.”
Saga mematikan lampu meja di sampingnya. Dia tidak mau kalau sampai Daniah melihat rona senang di wajahnya.
Kenapa dia imut begini coba.
Mengusap wajahnya sendiri.
Saga mengambil dua hp yang yang sedang dipegang Daniah dengan penuh takjub. Dia meletakan keduanya di atas meja di dekat lampu. Tubuhnya melorot dan dia menarik Daniah untuk ikut tidur juga. "Baiklah, aku memaafkanmu kali ini."
"Terimakasih sayang."
Berterimakasih dengan senyum tulus lalu tidur. Aku sudah memberi hadiah, seharusnya kamu cukup senang kan.
"Hei, apa itu cukup untuk berterimakasih." Daniah terkejut saat Saga membuka bajunya dan melemparkannya ke lantai.
Mau apa dia? apa belum cukup menyiksaku hari ini.
"Aku akan memberikan tubuhku untuk membayar hadiah bintang kecilmu tadi. Kau bisa melakukan apa pun yang kamu mau." Saga menepuk dadanya yang sudah terbuka. Sementara Daniah gemetar mencengkram bibir tempat tidur.
Siapa yang sudi kau hadiahi tubuhmu!
BERSAMBUNG
__ADS_1