Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Perasaan Sesungguhnya


__ADS_3

Dari dalam mobil. Daniah hanya bisa menatap kerumunan orang dari


kejauhan. Daniah mencoba menghitung satu persatu jumlah mereka. Sembilan dengan tuan Saga, gumamnya.


Mereka siapa ya? teman-teman masa kecil tuan Saga? ih lucunya. Membayangkan saja sudah bisa membuat orang tersenyum. Daniah hanya mengenal dua diantaranya. Noah dan dokter Harun, selebihnya belum pernah dia temui.


“ Aran!” Menarik lengan baju Aran.


“ Ia nona.” Menundukan kepalanya ke dalam mobil.


“ Apa kau mengenal mereka? Ada Noah


dan dokter Harun juga. Tapi selebihnya, eh bukannya itu bapak mentri negara


kita.” Daniah sampai mengeluarkan kepalanya. Memastikan. Laki-laki yang sedang


berdiri di depan Saga. Dia terlihat menoleh ke arah mobil Daniah tapi kepalanya


langsung diputar cepat tangan Saga. Hingga Daniah tidak bisa melihat wajahnya


lagi. Dia terlihat tertawa setelahnya sambil menepuk bahu Saga.


“ Sepertinya benar nona.” Aran menjawab sambil mencoba mengenali wajah mereka satu persatu.


Wahhh, ternyata teman-teman tuan


saga memang bukan orang biasa.


“ Aran, apa kau tidak mau berpaling


hati?” Mengeser tubuh Aran supaya pintu mobil bisa terbuka. Tapi gadis itu


tidak mau mengeser posisi berdirinya. “ Aran, aku mau keluar,”


“ Maaf nona, tapi bisakah nona


tetap di dalam mobil.” Bola mata memelas muncul. menyampaikan alasan kenapa dia berdiri di tempatnya sekarang.


Atau tuan Saga bisa membunuhku kali


ini.


“ Baiklah, baiklah. Jangan tunjukan


wajah seperti itu.” Akhirnya duduk lagi di dalam mobil. “ Aran, kau lihat


sepertinya teman-teman tuan Saga terlihat normal. Apa kau tidak mau pindah ke lain


hati?” Aran langsung menunduk melihat Daniah. Maksudnya? Sepertinya dia bahkan


bertanya tanpa membuka mulutnya.


“  Haha, berpaling dari sekertaris Han. Lihatlah mereka. Bukankah mereka


terlihat normal dan keren-keren.” Menutup mulutnya sendiri malu karena memuji


laki-laki lain. “ Noah sudah menikah, sisanya tidak tahu. Eh lihat yang itu


juga tampan.”


“ Ehmmm. Ehmmm.” Dari sudut mobil


terdengar suara deheman keras. Berasal dari sopir yang mengantar mereka.


“ Hahaa, tapi tentu saja tuan


Sagaku yang paling keren.” Baru menyadari kalau pembicaraannya terekam oleh


orang lain. “ Benarkan Aran, tuan Saga yang paling tampan dari mereka semua.” Sengaja mengeraskan suara. "Tidak, tuan Saga yang paling tampan dari seluruh penduduk planet bumi." semakin keras suaranya. Sampai sopir tadi berdehem ulang.


“ Tentu saja nona.” Ikut sadar


juga kalau dia dalam bahaya.


Dia tidak akan mengadukan, kalau


aku bergosip di belakang tuan Sagakan. Pikiran Aran dan Daniah nyaris bersamaan. sambil melirik sopir yang menatap ke arah lain.


***


Akhirnya, Saga mengizinkan teman-temannya menyapa Daniah secara langsung. Walaupun sebelumnya dia sudah mengumbar ancaman dan syarat macam-macam. Noah sampai geleng kepala, kalau dia belum mengenal Daniah dia juga pasti seantusias yang lain.


“ Kakak ipar apa kabar?” Harun mulai memprovokasi seperti biasanya. Tidak perduli Saga yang sudah melingkarkan tangan di pinggang istrinya menatap tajam.


" Baiklah, perkenalkan diri kalian dengan singkat." Menarik Daniah semakin mendekat ke dalam pelukannya. " Jangan bicara macam-macam atau kuhajar kalian." Hardiknya memberi peringatan pada teman-temannya. Noah hanya bisa menahan tawa. Sementara Daniah yang menahan malu.


" Kakak ipar." Salah satu dari mereka maju.


" Kau mau mati!"


" Baiklah, baiklah. Nona Daniah, saya Keanu. Saya walikota XX tempat nona berbulan madu kemarin, saya minta maaf sudah membuat nona tidak nyaman di kota saya. Dan."


" Cukup! mau sampai kapan kau bicara. Lanjut."


Ini mereka lagi main apa si!


Sudah seperti orientasi siswa baru. Memperkenalkan nama secara bergilir, sudah mereka berbaris rapi lagi. Noah juga ikut berdiri dalam barisan.

__ADS_1


Apa aku yang merasa ini aneh, atau mereka sama tidak normalnya dengan tuan Saga.


" Nona Daniah saya, Abram. Saya"


" Ia, bapak mentri." Daniah menggangukan kepalanya, terkejut saat Saga menarik tangannya untuk mundur dan berdiri di belakangnya.


" Kau mengenalnya? Kalian pernah bertemu di mana?" Menatap Abram kesal.


Hei, diakan mentri negara kita. Mentri paling populer karena ketampanannya sudah seperti selebriti dunia. Jelas semua orang mengenalnya.


" Sayang, diakan sering muncul di TV." bicara di balik punggung. Merasa malu sendiri dengan kelakuan suaminya.


" Noah, kenalkan mereka satu persatu. Sebutkan saja nama mereka." Protes mengudara. Menyapa Daniah secara langsung itu sudah seperti mengobati dahaga penasaran mereka selama ini. Tentang wanita yang sudah menaklukan hati Saga dan membuatnya berubah. Mereka masih ribut, yang belum mendapat giliran bicara. " Kenapa? Protes! mau tidak kuizinkan kalian menyapanya sekalian." akhirnya protes berhenti ketika kalimat final itu terucap.


Mereka masih mengerutu saat Noah menyebutkan nama mereka masing-masing serta status dan pekerjaan mereka. Daniah hanya melambaikan tangan di balik punggung Saga, sambil tersenyum malu. Mencoba mengingat semua nama dan pekerjaan yang di sebutkan Noah.


" Kalau aku kau sudah kenalkan, mata...."


" Cukup!" Langsung memotong sebelum Noah menyelesaikan kalimatnya.


Cih, aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku. Matahariku. Matahariku. Weeek.


Acara perkenalan selesai. Daniah sudah bisa mengingat semua nama-nama yang diperkenalkan Noah. Merekapun berjalan menyusuri trotoar. Menuju area pemakaman. Pohon-pohon hijau yang asri melindungi pejalan kaki. Tempat ini nyaman dan indah, tapi tetap saja, siapapun yang datang kemari selalu membawa luka besar kenangan di hati.


Mereka sampai di pintu masuk sebuah komplek pemakaman. Di dalam pemakaman ini terbagi menjadi beberapa zona. Tulisan besar nama setiap zona ada di gerbang kecil. Daniah melihat jalan menuju makam ayah Saga dan juga makam ibunya yang sudah dipindahkan.


Ibu, aku datang. Aku akan menyapamu


nanti ya.


Brug! Karena melamun, Daniah tidak


menyadari kalau Saga berhenti. Akhirnya dia menabrak tubuh suaminya. Mengusap-usap hidungnya yang terbentur.


“ Sayang, kenapa?” mengintip dari


balik punggung Saga. Karena Saga tidak bergerak ataupun bicara sepatah katapun.


Haaaa, sekertaris Han.


Sekertaris Han, untuk pertama


kalinya Daniah melihat wajah dingin itu terlihat mengantung mendung. Yang


teramat sangat. Yang tidak bisa ia tutupi. Yang bisa di lihat oleh orang lain. Daniah merasa bersalah, jadi raut wajah ini yang ingin ia sembunyikan dari tuan Saga.


“ Tuan muda." Menganggukan kepalanya dalam. " kenapa anda di sini?”


Han melihat di belakang, rombongan yang lain juga menghentikan langkah mereka.


Kenapa yang lain juga datang bersamaan seperti ini?


Tapi kenapa sekarang mereka muncul bersamaan begini?


“ Kau sudah bertemu paman?”


“ Ia tuan muda.”


“ Apa kau mengadu tentangku.”


Han terdiam, hanya menatap Saga


lekat. Melihat Saga berdiri di hadapannya melihatnya dengan kondisi menyedihkan


membuat harga dirinya tercabik.


“ Kenapa anda datang?”


“ Niah bilang, kalau kau akan


lebih senang kalau ada yang menemani di harimu yang berat. Selama ini kau tidak


mengizinkan siapun melihatmukan? Niah pikir kau kesepian, jadi dia menyuruhku


datang diwaktu yang sama denganmu.” Menjawab dengan jujur alasan keberadaannya di pemakaman bertepatan dengan kunjungan Han.


Kenapa dia bawa-bawa aku si. Dasar!


Kau sedang mengumpankan istrimu ke mulut harimau tahu.


“ Tuan muda.”


Daniah di balik punggung Saga


menarik jas laki-laki itu. Lalu kepalanya muncul.


“ Apa kau baik-baik saja sekertaris


Han” melambaikan tangan. “Aku juga ingin bertemu paman dan berterimakasih


padanya.” Menarik tangan Saga dan berbisik. “Sayang, dia tidak marahkan?”


sejujurnya Daniah merasa takut dengan reaksi Han selanjutnya.


“ Terimakasih sudah datang hari ini


tuan muda dan juga nona." Menggangukan kepala dalam. "Silahkan!" Han mempersilahkan Saga lewat dengan tangannya. Lalu dia menyapa semua orang yang

__ADS_1


datang, diapun sempat melirik Aran yang berdiri di kejauhan.


“ Kau sudah bekerja keras Han.”


“ Hiduplah dengan baik, selanjutnya


juga seperti itu.”


“ Paman pasti bangga melihatmu.”


" Kau sudah bekerja keras Han."


Ntah kenapa  suasana yang biasanya sepi, yang biasanya ia tangisi sendiri, terasa sangat lain hari ini. Han menyentuh dadanya yang berdenyut. Tidak tahu kenapa dia merasa senang hari ini melihat semuanya datang bersamaan.


Terimakasih nona. Kau benar, walaupun menyedihkan dilihat, tapi aku benar-benar senang melihat tuan muda hari ini.


" Kemarilah! Apa kau tidak mau menyapa ayahku?" Menoleh, melihat Aran.


Aran terkejut mendengarnya, dia berlari mendekat. Jalan mensejajaari langkah Han tanpa bicara sepatah katapun. Menuju makan ayah mertuanya. Semoga.


***


" Aran kami turun duluan ya." Daniah berbisik di telinga Aran. " Semangat ya." Aran hanya bisa tersenyum sambil mengangukan kepalanya dalam.


Hanya tersisa dua orang, yang masih membisu satu sama lain. Duduk terdiam di sebuah


kursi panjang. Menatap lurus ke depan dengan pikiran masing-masing. Aran hanya


melirik melalui ujung matanya, melihat wajah yang biasanya tanpa ekspresi itu.


Terlihat sedikit mendung.


“ Maaf, saya ikut hadir di tempat


ini tuan.” Tau posisinya, mungkin dia sudah melebihi batas.


Han mendesah, menarik nafas dalam.


“ Apa tuan baik-baik saja?”


“ Aku senang kau datang.” Han menjawab singkat, lalu memilih terdiam lagi.


Eh, apa dia bilang. Kenapa dia


membingukanku begini si, di satu sisi dia selalu membuka pintu membuatku


mendekat. Tapi kadang dia menjaga jarak agar terus terbentang lebar.


“ Apa nona Daniah yang mengajakmu?”


“ Ia.”


Nona bahkan mengatakan saya mau


bertemu ayah merua saya.


Han ingin mendekat, tapi diapun tetap menjaga jarak. Karena hatinya belum menjumpai keyakinan.


“ Aran, tuan muda adalah hal


paling utama dalam hidupku sejauh ini. Tidak ada yang kuanggap penting selain


kebahagiaannya. Itulah janji dan sumpahku, meneruskan sumpah ayahku pada tuan


besar.” Menatap lurus ke depan. “ Selama aku belum yakin tuan muda hidup dengan


bahagia, aku tidak pernah terpikirkan untuk hal lain.”


Glek. Apa dia sedang menjelaskan


alasan kenapa selama ini dia menolakku. Walaupun sebenarnya dia tidak mau menolakku.


“ Saya akan menunggu, kalau tuan


minta saya menunggu.” Jadi katakanlah apa yang kau inginkan. Aran bergumam. Dia


ingin menyandarkan kepalanya di kepala Han sekarang.


Han tertawa kecil. Lalu dia bangun


dari duduk. Menatap Aran lekat.


“ Aku tidak berfikir kau akan


sanggup melakukannya.” Mengulurkan tangan, ragu Aran meraih tangan itu dan juga


bangun dari duduk.


“ Kenapa? Apa tuan meragukan


perasaan saya.” Protes.


“ Kalau begitu, berusahalah.” Tersenyum tipis lalu berbalik melangkah.


Apa dia memintaku menunggu!


" Tuan! Tunggu jelaskan apa maksud kata-kata tuan." Han tidak mengubris dan terus melangkah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2