
Sepertinya sudah lama ya, aku terakhir kali masuk ke rumah ini. Ini untuk pertama kalinya aku pulang setelah menikah. Lucunya, aku bahkan butuh alasan dan acara khusus untuk hanya pulang ke rumah orangtuaku.
Daniah memasuki gerbang halaman rumah, mobilnya berhenti parkir di samping mobil Risya. Daniah melihat seorang pelayan membuka pintu utama lalu berdiri di dekat pintu dan selang tidak lama di belakangnya menyusul Raksa, Risya dan ibu. Daniah yang melihat wajah Ibu terlihat kecewa ketika melihatnya muncul seorang diri. Daniah hanya menghela nafas pelan, melihat reaksi wajah mereka.
“Memang apa yang kita harapkan.” Ibu bicara pada Risya. Melihat kemunculan Daniah yang sendirian, tanpa suami, tamu kehormatan yang ditunggu.
“Tuan Saga tidak mungkin datang.” Anak perempuannya menimpali. "Jelas-jelas dia istri yang diabaikan. Dulu ataupun sekarang dia masih sama menyedihkan." Risya mencibir senang. Dia memang selalu senang kalau melihat Daniah terpuruk sedih ataupun kalah. Saat dia tahu Daniah menikah dengan Tuan Saga, dia merasa bagai dijungkir balikan masuk ke perut bumi. Kalah dari semua segi, tapi setelah tahu tidak mungkin Daniah mendapatkan cinta dari laki-laki seperti Tuan Saga. Itu membuatnya sangat bahagia.
“Ibu kenapa mengatakan seperti itu. Sudah lama tidak bertemu Kak Niah, paling tidak jangan bicara yang tidak menyenangkan begitu.” Raksa menjadi pembela.
“Diam kamu bocah. Ibu, Daniah pasti tidak mendapatkan cinta dari Tuan Saga. Sudahlah jangan berharap lebih.” Suara Risya keras sekali, jelas-jelas sengaja agar Daniah mendengarnya.
“Apa kalian tidak tahu malu. Perusahaan dan hidup kita bisa selamat karena pengorbanan Kak Niah.” Ibu dan Risya tidak perduli dengan apa yang diucapkan Raksa. Mereka berbalik masuk ke dalam rumah tanpa semangat lagi untuk menyambut Daniah, Hanya Raksa dan seorang pelayan yang masih tertinggal. Raksa mendekat dan mengambil tas yang dipegang Daniah.
“Kak.”
“Sudahlah, kenapa kamu yang kecewa begitu. Aku tahu kok siapa yang mereka tunggu. Tuan Saga tidak akan datang. Lagipula alasan apa yang membuatnya sampai datang ke rumah kita.” Daniah tetap memberikan senyum pada adiknya.
“Maaf ya Kak.” Raksa merangkul bahu Daniah.
“Kenapa kamu yang minta maaf. Bibi.” Daniah menyerahkan kunci mobilnya. “ Ada beberapa barang di bagasi, tolong dikeluarkan ya. Panggil yang lain untuk membantu.”
“Baik Nona.” Bibi pengurus rumah menganggukkan kepala.
Setelahnya Raksa menarik lengan Daniah memasuki rumah. Bercerita tentang betapa irinya Risya dengan semua hadiah yang dibelikan Daniah.
...***...
Di ruang keluarga, sudah duduk di sofa. Ibu, Risya, Daniah dan Raksa. Raksa diam karena Risya beberapa kali menghardiknya karena dia menyela pembicaraan. Karena tidak mau mendengar pertengkaran akhirnya Daniah menyentuh tangan adiknya. Dia menggelengkan kepala, tersenyum, sambil bicara pelan. “Biarkan dia bicara semaunya. Masuklah ke kamar dulu sana.” Raksa menggeleng, dia tidak mau pergi. Jadi pada akhirnya dia memilih diam.
“Apa Tuan Saga yang memberimu hadiah mobil?”
“Apa tuan Saga tidak bisa datang, bukankah ini ulang tahun mertuanya, kenapa dia tidak bisa menyempatkan waktu sedikit saja.”
“Apa kamu sudah merasa beruntung bisa tidur dengan Tuan Saga, dan bisa bersikap sombong begitu.”
“Aku dengar dia tidur dengan banyak wanita setiap malam. Huh! Siapa juga yang tidak mau dengannya.”
__ADS_1
“Apa yang kamu dapatkan saat menjadi istri Tuan Saga.”
Daniah mendengus mendengar pernyataan adik tirinya yang panjang. “Apa kamu sudah selesai? Aku mau menemui ayah.”
“Ibu lihat Daniah, dia benar-benar sudah kurang ajar sekali.” Merengek seperti bayi, mengadu. Padahal tanpa perlu mengadu ibu juga sudah menonton pertunjukannya.
“Sudahlah jangan menggangunya.” Ibu cukup tahu diri juga rupanya. Walaupun Daniah tidak mendapatkan kasih sayang Tuan Saga, tapi statusnya tetaplah istri sah.
“Ibu, apa sekarang ibu takut karena dia menikah dengan Tuan Saga. Dia juga tidak mendapat kasih sayang suaminya Bu, kalau memang suaminya perduli pasti Tuan saga datang hari ini.” Masih mengoceh ke mana-mana tidak mau mengalah. Daniah sudah mulai jengah.
Saat itu masuklah bibi pelayan diikuti oleh sopir yang sudah lama bekerja di rumah ini dan seorang pelayan wanita lagi. Di rumah ini ada tiga pelayan wanita dan dua pelayan laki-laki yang merangkap sopir. Mereka membawa barang-barang yang dibeli Daniah tadi.
“Nona di mana kami harus meletakan barang-barang ini?” tanya bibi pengurus rumah sambil meletakan boks kardus yang dia pegang.
Daniah mendekat meninggalkan Risya yang masih mengoceh panjang.
“Bibi dua boks ini dibagi-bagi ya. Satu boks isinya makanan silahkan dinikmati bersama-sama. Kalau satunya hadiah, sudah saya pisahkan sesuai nama. Semoga cocok untuk kalian. Dan juga ini.” Daniah mengeluarkan amplop yang berjumlah lima buah. Menyerahkan ke tangan bibi pengurus rumah. Tangan bibi bergetar, matanya sudah berkaca-kaca.
“Nona, kenapa Anda baik sekali.” Katanya pelan sambil menepuk tangan Daniah lembut.
“Bibi bicara apa. Aku yang berterima kasih, Bibi dan semuanya sudah menjagaku selama ini dengan sangat baik.” Membalas dengan menepuk punggung bibi hangat, tersenyum pada sopir dan pelayan yang lainnya. Mengucapkan terimakasih tulus lewat sorot matanya.
Ketiga orang itu menundukkan kepala mereka hormat. Bibi masih menyeka ujung matanya. Lalu mereka masuk ke dapur meletakan beberapa barang yang Daniah beli untuk rumah ini.
“Cih, kamu bahkan memberi para pelayan hadiah, dan membelikan Raksa banyak hadiah mahal. Tapi sama sekali tidak ingat pada adikmu ini.” Ternyata wujud orang tidak tahu malu itu banyak sekali rupanya ya, salah satunya sedang berdiri di hadapan Daniah sekarang.
“Adik, maaf ya sepertinya kamu dan aku tidak terlalu akrab, sampai aku harus memberimu hadiah.”
Wajah Risya memerah karena geram. Sementara Raksa yang sedari tadi diam tergelak mendengar ucapan Daniah. Risya melotot. Kalau dulu dia pasti sudah maju menjambak Daniah atau memukulnya. Kenapa dia bisa seberani itu, karena di belakangnya berdiri pembela yang selalu membiarkan apa yang dia lakukan.
“Baiklah kamu memang kurang ajar ya. Tidak memberiku hadiah tidak masalah, tapi sampai tidak memberi ibu hadiah sepertinya kamu sudah sangat keterlaluan.” Menemukan kata tepat untuk menjatuhkan Daniah.
“Kak jangan keterlaluan!” Raksa menjawab kesal.
“Diam Raksa, jangan ikut-ikut ya. Kamu sudah di sogok hadiah mahal sama dia kan.” Raksa memandang jengah pada Risya dan ibunya yang hanya diam.
Daniah menoleh pada ibu tirinya. Senyum tipis muncul di bibirnya.
__ADS_1
“Ibu, bukan kah aku sudah memberikan hadiah yang sangat dia inginkan.” Wajah ibu terlihat bingung, karena tidak merasa pernah mendapatkan hadiah berharga apa pun dari anak tirinya ini.
“Apa?” Risya menantang.
“Bukankah keluarnya aku dari rumah ini itu adalah hadiah terindah yang bisa kuberikan pada ibu.” Daniah membungkukkan kepalanya. Senyum samar penuh kemenangan muncul di bibirnya. “Saya mau menemui ayah. Permisi.”
“Ibu!” Risya berteriak marah. “Dia kurang ajar sekali bu, mentang-mentang menikah dengan Tuan Saga.”
Daniah menuju ruang kerja ayahnya, dia bernafas lega dan puas sekali meninggalkan ruang keluarga. Walaupun sedikit bergetar karena rasa percaya dirinya yang berlebihan. Sampai di depan pintu dia membisu.
Sepertinya aku terlalu berani tidak ya? Kalau aku di tendang dari rumah Tuan Saga dan harus kembali ke rumah ini, aku pasti akan dikuliti habis, dan dijadikan pajangan di dinding atau dipakai mengepel lantai oleh Risya. Ahh, terserahlah. Yang penting aku puas sekarang.
Daniah mengetuk pintu, setelah mendengar sahutan dari dalam Daniah membuka pintu dan masuk. Berdiri diam melihat ayahnya yang sudah duduk di sofa.
“Duduklah!” Ayah menunjuk sofa di depannya, Daniah menurut tanpa bicara sepatah kata pun. “Bagaimana di rumah Tuan Saga? Apa semua berjalan dengan baik?” Dia mulai bertanya setelah Daniah duduk.
Apa yang mau ayah ketahui. Kabarku atau apa dia mengatakan untuk tidak melakukan kesalahan di rumah Tuan saga.
“Jangan khawatir, saya melakukan semuanya sesuai dengan rencana ayah.”
Aku hanya ingin sedikit saja mengingatkanmu, kalau aku jadi seperti ini karenamu. Daniah meringis. Ketika mendapati kenyataan, kalau semuanya sebenarnya bukanlah salah ayahnya. Tuan Saga memilihnya, karena dirinya, bukan karena ayah yang menjualnya.
Karena wajahku dan rambutku maka akulah yang terpilih.
Daniah mengambil tas kertas kecil yang dia letakan dibawah kakinya. “Hadiah untuk ayah, selamat ulang tahun. Semoga ayah selalu sehat.”
“Niah, apa kamu masih marah sama ayah.” Bukannya.menerima hadiah dari Daniah laki-laki itu malah menggenggam tangan Daniah. “Apa Tuan Saga memperlakukanmu dengan baik?’
Apa ini. Apa ayah benar-benar perduli padaku.
Dada Daniah bergetar, apalagi saat Ayah menepuk punggung tangannya lembut. Ayolah Daniah, jangan selemah ini begitu dia menyadarkan diri. Laki-laki ini yang sudah memasukanmu dalam lubang neraka. Karena dialah kamu harus menikah dengan Tuan Saga. Jangan selemah itu.
"Maafkan Ayah Niah, dan terimakasih untuk semuanya."
Ini curang kan namanya, aku tidak mempersiapkan diriku untuk perubahan sikap ayah seperti ini.
Tidak bisa dicegah, ada yang menganak di ujung mata Daniah. Dia ingin memeluk ayahnya dan menangis, namun urung ia lakukan. Hatinya belum sepenuhnya siap. untuk memaafkan semuanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG