Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Bulan Madu (Part 7)


__ADS_3

Oleh-oleh akan selalu jadi


prioritas wisatawan. Baik itu yang berasal dari mancanegara maupun wisatawan


domestik. Membuat area perbelanjaan seperti ini sungguh peluang yang sangat


bagus. Para pelancong bisa mendapatkan aneka barang lokal dalam satu tempat. Bahkan


tempat seperti inipun bisa menjadi salah satu destinasi wisatawan daerah


setempat juga. Karena bukan hanya toko-toko, kuliner pun lengkap. Ada pula


arena bermain anak-anak yang bisa dimasuki dengan membayar tiket dengan harga


yang cukup terjangkau.


Daniah bisa melihat anak-anak


berlarian dengan gembira. Sementara orang tua mereka berjalan santai sambil


bergandengan tangan. Mengawasi dari belakang.


Manisnya mereka.


Daniah menarik tangan Aran memecah


keramaian pengunjung, sekarang  mereka


berjalan beriringan layaknya teman sepermainan yang sedang berlibur.


“ Aran, kamu pilih juga ya apa yang


mau kamu beli.” Menepuk tangan Aran yang di gandengnya. “Jangan sungkan.”


“ Terimakasih nona, tapi saya tidak


apa-apa.”


“ Kak Niah, panggil aku kak Niah. “


Daniah memukul bahu Aran. “ Kitakan sudah janji dengan mengaitkan jari tadi.”


Habislah aku, kalau sampai tuan Han


tahu. Aran.


Daniah memutuskan toko pertama yang


ia masuki adalah toko aksesoris dan perhiasan. Batu warna warni yang berkilau


sudah membuat kantong wisatawan bergetar ingin memborong semuanya.  Daniah melihat ke dalam etalase toko.


Kalung-kalung cantik dengan liontin batu-batu berwarna-warni. Dia mengeluarkan


hpnya dan melakukan voice call.


“ Hallo mbak Niah!” teriakan dari


layar hp berebut berada di paling depan. Para pegawai ruko berkumpul. Dari


semua lantai. “ Mbak Niah kangen!” teriak mereka bersamaan.


“ Aku juga kangen!” Daniah tak


kalah memekik. “ Lihat!” di gerakan kamera hp ke dalam etalase yang memajang


asesoris cantik-cantik itu. “ Kalian mau pilih yang mana? Haha. Boleh pilih


satu-satu ya.”


Semua ribut bersautan. Akhirnya


Daniah memfoto semua asesoris dan mengirimkan ke dalam grup toko. Semua memilih


masing-masing. Cukup lama, bahkan ada yang berebut dan sampai adu ketikan


karena mereka memilih barang yang sama.


Sementara itu Aran di belakang


Daniah hanya berdiri tidak bergerak melihat apa yang dilakukan Daniah.


Mereka itu siapa si? Kenapa nona


Daniah ini benar-benar di luar jangkauan kepalaku karakternya. Dia ini


benar-benar tidak seperti nona kaya yang pernah kutemui. Ku pikir istri tuan


Saga seharusnyakan bergaya elegan dan sok kaya kan. Sombong sedikit juga tidak


apa-apalah. Tuan Saga lho suaminya.


“ Aran, kemarilah. Pilihlah yang


kamu suka.”


Lamunan Aran langsung buyar. “ Saya


juga?” menunjuk dirinya tidak percaya.


“ ia.”


Daniah sudah memisahkan semua


aksesori yang dipilih karyawannya. Dia membelikan satu set dengan warna senada


dengan kalung hasil pilihan mereka masing-maing. Dia memang tidak menawarkan


yang lain tadi. Biar jadi kejutan saat mereka membuka kotak hadiah mereka masing-masing


nanti. Cincin, anting-anting dan gelang dengan warna senada, adalah bonus rasa


sayang dan terimakasihnya untuk semua karyawannya.  Walaupun semua dibeli dengan uang tuan Saga.


Haha.


Sementara Aran melihat-lihat, isi


etalase yang membuat mata wanita berbinar.


Semua cantik-cantik begini, tapi


sepertinya terlalu mencolok kalau aku yang memakainya.


Dia sedang mengukur dirinya


sendiri. Karena memang dia jarang memakai perhiasan.


“ Bagaimana ini? Kamu bisa


memasangnya di hp kamu. Aku tahu kok, Aran gak terlalu suka sama perhiasankan.


Bisa aku liat dari style dan gaya pakaian yang kamu pakai.”


“ Ia.” Tersenyum malu. Lalu memilih

__ADS_1


salah satu benda yang direkomendasikan Daniah. Walaupun dengan ragu dia


menyerahkan hasil pilihannya ke tangan Daniah untuk di hitung dengan yang


lainnya.


Nona, kenapa anda baik sekali


begini si. Masih tidak percaya dengan situasi yang dilihatnya dengan mata


kepala sendiri.


***


Mereka terlihat keluar masuk


toko-toko. Para pelayan toko dengan ramah melayani semua kemauan Daniah.


Selesai di satu toko, sambil membawa tas belanjanya dia menarik tangan Aran


agar mengikutinya dengan cepat. Masuk lagi ke toko berikutnya memilih banyak


benda.


Aran mendengar sebelumnya Daniah


menyebutkan nama-nama wanita sebelum memilih benda yang akan dia beli.


Dari tempatnya duduk Aran sedang


menghitung, berapa total jumlah uang yang dikeluarkan nona muda di hadapannya


yang sedang memilih barang. Dia menyerah, karena hanya akan membuat kantong dan


airmatanya menetes pilu. Tapi yang di lihat Aran dari setiap kali benda yang


dia beli nona Daniah tidak pernah memilih untuk dirinya sendiri. Tidak ada


satupun barang yang dibelinya khusus untuknya.


Hah! Jadi semua ini benar-benar dia


beli untuk orang lain. Apa! para pelayan di rumah orangtuanya juga mendapat


jatah. Ya tuhan, nona Daniah ini malaikat ya, sampai memikirkan itu.


“ Aran ada lagi yang mau kamu


beli?”


“ Tidak nona, eh Kak Niah. Anda


sudah membelikan saya banyak sekali. Dan juga sepertinya tangan kita sudah


tidak muat.” Aran mengangkat kedua tangannya. Penuh.


“ Haha, maaf ya aku merepotkanmu.”


Ditangan Daniahpun sama.


“ Tidak, bukan begitu maksudnya.


Saya masih bisa membawa semuanya sendiri, berikan tas yang kak Niah pegang.”


Merasa bersalah karena sikap kurang ajarnya.


“ Sudahlah tidak apa-apa. Aku sudah


terbiasa membawa barang-barang sebanyak ini dengan tanganku. Aku gadis pekerja


Inimah bukan apa-apa, gumam Daniah.


Dia bisa membawa sekotak besar pakaian dengan tangan kecilnya.


“ Tapi kak, bagaimana kalau kita


berikan pada para pengawal saja tas-tas ini untuk di bawa ke mobil. Biar kak


Niah nyaman. Masih ada yang mau dibelikan.” Aran menunjuk dengan ekor matanya.


Dua orang yang sedari tadi mengawasi mereka dalam diam.


Biar mereka punya kerjaan.


“ Pengawal? Memang mereka ada di


sekitar sini.”


Apa! jadi dia tidak sadar kalau


sedari tadi ada dua orang yang mengikuti kami.


“ Mereka kak.” Aran menunjuk dua


orang yang berdiri tidak jauh dari mereka. Kedua orang itu mengangukan kepala


ketika Daniah melihat ke arah mereka.


“ Apa! Jadi mereka mengikuti kita


dari tadi.” Terbelalak tidak percaya. Saat Daniah melambaikan tangan keduanya


mendekat dan menerima semua tas belanjaan.


“ Bagaimana kau bisa tahu, wahh,


Aran keren. Udah mirip pengawal level tinggi, sampai tahu kalau diikuti.”


Tidak sama sekali nona, mereka


mengikuti kita sudah sangat mencolok sekali. Anda saja yang kelewat bahagia


tadi belanja sampai tidak menyadari.


“ Saya tidak punya kemampuan


semacam itu kak.”


Hanya salah satu dari pengawal yang


membawa tas belanjaan ke mobil. Salah satunya tetap mengikuti.


“ Apa masih ada yang mau kak Niah


beli?”


Daniah berjalan masih sambil


melihat-lihat. Berfikir sebentar, sepertinya sudah tidak ada. Dia sudah


mengabsen semua nama yang akan dia bawakan oleh-oleh..


“ Apa kak Niah tidak membelikan


tuan Saga apa-apa.” pertanyaan Aran langsung membuat Daniah berhenti. Benarkan,

__ADS_1


ini yang sedari tadi terlintas di ujung kepalanya tapi tidak ia temukan


jawabannya. Dia berbalik dan menghambur memeluk Aran. “ Kak Niah kenapa? Gadis


yang dipeluk langsung terkejut.


“ Aran terimakasih sudah


mengingatkanku sesuatu yang sangat penting. Kau menyelamatkan hidupku.””


Bagaimana aku bisa sampai lupa pada


suamiku yang mengemaskan dan bisa mengila itu kalau tahu aku membelikan


barang untuk semua orang. Kecuali dia.


“ Aran, apa kau mau membeli untuk


sekertaris Han juga.”


“ Apa? tidak kak. Dia punya uang


yang berlimpah untuk membeli apapun yang dia mau.”


Kalau sampai aku membelikan sesuatu


untuknya, bisa-bisa dia melemparkan ke wajahku sambil bilang. Beraninya kau


memberiku barang murahann seperti ini! Sambil melemparkan kemukaku dan mencelos


pergi.


“ Tidak apa-apa. aku yang bayar.


Anggap saja untuk menyuapnya supaya dia bersikap baik padamu.”


“ Tidak kak, tidak perlu.”


Dia tidak akan pernah bisa bersikap


baik dan normal padaku.


***


Acara penting yang di hadiri Saga


sudah berakhir. Ketika media berkerumun dan meminta waktu wawancara Han sudah


mengerakan tangaannya. Bahwa tidak ada wawancara khusus denga presdir Antarna


Group. Hanya para pejawab kota XX beserta Keanu yang terlihat melakukan


konfrensi press. Sementara Saga kembali keruang tunggu VVIP yang di sediakan


untuknya.


Dia terlihat jengah selama acara.


Beberapa kali melihat jam yang ada di tangannya.


“ Kapan kita pergi?” Katanya mulai


terdengar gusar. Yang ada di kepalanya hanya wajah Daniah. Yang ntah kenapa


sedang tervisualisasi duduk termenung sambil menunggunya. Padahal tidak sama


sekali tuan muda. Istrimu sedang bahagia di luar sana.


“ Setelah jamuan makan tuan.” Han


menjawab. Dia juga merasa kesal karena tidak bisa melakukan apapun. Dia tahu


Saga sudah merasa bosan sedaritadi.


“ Apa! Kau sudah gila ya. Aku mau


makan siang dengan Daniah.”


“ Maaf tuan, tuan Ken benar-benar


memaksakan kehendaknya kali ini. Anda belum bisa pergi sebelum jamuan makan.”


Kalau Saga pergi sebelum jamuan,


aku akan datang ke vila kalian. Menggangunya semalaman. Sialan. Han bahkan


benar-benar mengumpat di depan Ken yang hanya di jawab dengan gelak kemenangan


laki-laki itu.


“ Apa yang dilakukan Daniah


sekarang?” Melihat jam tangannya lagi.


“ Nona sedang pergi berbelanja.”


“ Apa dia merindukanku sekarang?”


Pertanyaan yang seharusnya tidak butuh jawaban. Tapi dia menunggu Han menjawab


untuk membuat hatinya senang.


Tidak sama sekali tuan, nona


bersenang-senang dengan gembira tanpa sedikitpun memikirkan anda. Level cinta


nona masih jauh dibawah anda.


“ Han, aku ingin melihat wajah


Daniah.”


“ Nona juga pasti merindukan anda


tuan muda. Begitukan kalau sepasang kekasih diikat oleh cinta. Kalian terikat dalam pikiran kalian masing-masing.” Han merasa


merinding dengan kata-kata karangannya sendiri.


“ Benarkah!” senyum senang sudah


muncul di wajah Saga. Tapi dia langsung gusar. “ Kurang aja! Kau sudah membual


ya” Saga menendang meja di depannya saat mendengar Han tergelak tadi. “ kau mau


mati ya?”


“ Tidak tuan maafkan saya. Nona


juga pasti sedang memikirkan anda sekarang.” senyum kecil itu muncul lagi. Membuat Saga benar-benar ingin menendang kaki Han sekarang.


“ Berhenti bicara omong kosong kalau kau tidak mau mati sekarang!”


Cih, habis kau kalau kau bilang tidak merindukanku nanti.


Karena sepanjang hari ini isi kepala Saga hanya dihantui wajah istrinya Daniah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2