Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
138. Berfikir Keras


__ADS_3

Han sudah kembali ke ruangannya,


dia duduk sambil termenung.  Memikirkan


siapa pengganti Leela. Dia sudah menuliskan beberapa nama di kertas. Tapi satu


persatu nama itu di coret, karena merasa posisi mereka saat ini masih terlalu


riskan untuk digantikan orang lain. Akhirnya dia meraih hp yang ada di atas


meja.


“Berikan tiga nama yang kau


rekomendasikan untuk menggantikanmu menjaga nona. Kirim datanya ke email.”


Sepertinya Han mencari sedikit


jalan pintas melalui Leela.


Baiklah, kita tunggu apa yang bisa kau


berikan.


Beralih ke bulan madu 51%.


Lagi-lagi Han terlihat gusar memikirkan seberapa signifikannya satu persen itu


di mata Daniah, hingga ketukan pintu kaca membuatnya menoleh. Seorang staf


sekretaris sudah berdiri di luar pintu. Saat Han sudah menggerakkan tangannya


memberi isyarat masuk staf itu membuka pintu perlahan.


“Kenapa?” katanya tanpa berpaling


dari kertas di atas meja. Dia baru saja menuliskan beberapa tempat yang bisa


jadi destinasi bulan madu, tempat yang sekiranya populer di negara ini.


“Maaf Tuan, Tuan Hariawan meminta


untuk bertemu dengan Tuan Saga.” Staf sekretaris berada di situasi yang


sangat tidak menyenangkan. Di satu sisi tamu laki-laki itu belum membuat janji,


tapi di lain pihak, dia adalah paman dari Presdir Antarna sendiri. Membuatnya


mau tidak mau harus mengetuk pintu kaca di depannya ini.


“Dimana dia?” Sudah menoleh dan


meletakan pena di tangannya ketika nama Hariawan disebutkan. Berusaha


menerka-nerka, apa yang diinginkan laki-laki itu.


“Sedang menunggu di ruang tunggu.”


Menjawab cepat.


“Baiklah, sajikan teh untuknya.


Aku akan menemui Tuan Saga.”


“Baik Tuan.” Stafnya sudah


berbalik dan memegang handle pintu. Langkahnya terhenti ketika Han kembali


bicara.


“Tunggu!”


Gadis itu berbalik, mulai terlihat


khawatir dan menduga-duga apa yang diinginkan laki-laki di depannya ini. Dia


masih terlihat menatap kertas di depannya.


“Kau sudah menikah kan?”


“Ia Tuan saya sudah menikah.”


Ada apa ini, kenapa dia bertanya


hal pribadi begini. Tuhan apa salahku. Apa aku kelamaan mengambil cuti, tapi


kenapa baru menanyakannya sekarang.


“Kau pergi ke mana waktu bulan


madu?”


Walaupun masih tidak mengerti tapi


yang dipahami dia harus menjawab dengan cepat.


“Saya pergi ke negara XX”


Aaa, negara yang konon jadi negara


paling romantis dan cocok untuk berbulan madu itu ya. Memang kebanyakan orang


akan memilih pergi ke luar negri. Tapi nona memilih ingin pergi ke dalam negri saja.


“Apa yang kau lakukan saat bulan


madu?” Sekali lagi pertanyaan aneh keluar, Han tidak melihat sebingung apa


wajah staf sekretarisnya sekarang. Karena dia malah memegang hpnya. Sedang


berkutat dengan mesin pencarian dengan kata kunci bulan madu.

__ADS_1


“Kami jalan-jalan dan belanja


Tuan, selebihnya.” Tidak melanjutkan kalimatnya, bingung sendiri, apa benar


dia harus menjawab dengan jujur.


“Apa?”  Stafnya terkejut karena ternyata


Sekretaris Han masih menunggu jawabannya.


“Selebihnya kami menghabiskan


waktu di dalam kamar.” Entah kenapa jawabannya membuat dirinya malu sendiri.


Wajahnya hampir memerah karena bingung bercampur rasa malu. Lebih-lebih ketika


sekali lagi mendengar pertanyaan Sekretaris Han.


“Apa yang kamu lakukan di dalam


kamar?” Saat beberapa saat tidak mendengar jawaban, akhirnya dia meletakan


hpnya dan menoleh. “Jawab!” Terkejut sendiri ketika melihat wajah staf


sekretarisnya, dan lebih terkejut lagi ketika dia mulai mencerna pertanyaan terakhirnya.


Sial! Kenapa aku masih bertanya apa


yang mereka lakukan.


“Kenapa masih di sini? pergilah,


sajikan teh untuk Tuan Hariawan.” Nada suara tegas Han, seperti menyalahkan. Padahal jelas-jelas dia yang menahan stafnya tadi.


“Eh baik Tuan.”


Kenapa aku yang malu, seharusnya


dia kan yang malu menanyakan hal begituan. Staf sekretaris itu menggerutu sendiri.


Apalagi ketika wajah datar Sekretaris Han tidak berubah sampai akhir tadi.


Cih, mengutuki pertanyaan yang dia


lontarkan. Aku kan tidak sepolos itu sampai bertanya apa yang dilakukan


pengantin baru di dalam kamar. Sial! Han memukul meja beberapa kali. Menghukum


kebodohannya sendiri.  Dia menyingkirkan


kertas-kertas di atas meja. Meremasnya menjadi bola bulat lalu melemparkannya


di tempat sampah.


Kita sudahi dulu bulan madu satu


persen itu, sekarang kenapa Tuan Hariawan datang kemari. Tidak mungkin dia


sama baiknya denganku. Memohon pun akan sia-sia.


Suasana hati Sekretaris Han


benar-benar sangat buruk saat dia meninggalkan ruangannya. Bahkan saat keluar


dari ruangan Presdir Antarna dia juga masih memasang wajah yang sama. Bahkan


saat melihat staf yang tadi dia tanyai tentang pertanyaan memalukan tentang


bulan madu, dia bahkan tidak memberikan reaksi apa-apa. Walaupun terlihat


stafnya masih merasa malu.


Han mengusir staf sekretarisnya yang


mengikutinya sampai ke ruang tunggu. Sementara laki-laki yang sedang duduk itu


berdiri saat melihat pintu terbuka. Terlihat gurat kecewa di matanya. Karena


hanya melihat Han seorang diri. Tidak ada yang muncul di belakangnya sampai dia


menutup pintu.


“Tuan muda menitipkan salam untuk


Anda Tuan.” Han menundukkan kepalanya sopan. Dia bisa melihat senyum kecewa


laki-laki di hadapannya.


“Apa Saga tidak mau bertemu dengan


pamannya sendiri?” Duduk lagi di sofa. Dengan membawa perasaan kecewa yang


tidak bisa dia tutupi baik dari raut wajah ataupun nada suaranya. Dia meraih


cangkir tehnya lagi, menghabiskan isinya.


“Anda pasti paham, kalau tuan muda


tidak seperti itu Tuan.  Apa Anda mau


minum lagi, staf saya akan mengambilkan teh lagi.”


Hariawan memaksakan tersenyum. “Tidak usah.”


“Anda bisa menyampaikan apa pun


kepada saya. Saya akan menyampaikan secara langsung kepada tuan muda.” Menunggu


reaksi Hariawan, sekaligus berusaha menemukan niatan apa yang membawa laki-laki


ini datang dari luar kota kemari.

__ADS_1


Hariawan adalah kakak kandung ibu


dari Saga Rahardian. Dia pria penuh wibawa yang cukup dekat dengan Saga.


Hubungan mereka terbilang cukup baik, sampai setahun lalu. Karena keserakahan


dirinya dia membuat kesalahan fatal yang sangat merugikan. Bukan hanya bagi


perusahaannya, tapi berdampak jauh lebih buruk dari itu. Sampai menimbulkan


korban jiwa. Cukup lama Han membereskan masalah dan kekacauan yang dibuat


laki-laki di hadapannya ini. Dan akhirnya Tuan Saga memutuskan memberikan kesempatan


perusahannya untuk tetap berjalan dengan beberapa syarat. Bisa dibilang sebagai


hukuman.


“Bukankah satu tahun sudah cukup?”


Hariawan memulai pembicaraannya. “Selama satu tahun ini perusahaanku tidak


pernah melakukan kesalahan sekecil apa pun dalam proyek-proyek yang kami


bangun.” Meyakinkan. Dia mengambil tas yang dia letakan di bawah dekat dengan


kakinya. “Lihatlah, ini bukti kami bekerja dengan sangat baik selama setahun


ini.” Dia membuka tasnya dan mengeluarkan dokumen-dokumen.


“Bukan perkara satu tahun atau dua


tahun.” Han menghentikan tangan Hariawan yang ingin mengeluarkan semua isi tas.


“Tuan Saga ingin perusahaan Anda menyelesaikan lima puluh proyek kecil daerah


yang tidak melibatkan nyawa manusia. Kalau Anda sudah menyelesaikan itu Anda


bisa kembali ke ibu kota lagi Tuan.” Han mengulang pesan yang diucapkan Saga


di ruangannya tadi.


“Dia benar-benar tidak berubah ya.


Masih sangat idealis dan keras kepala.” Berdecak, sekaligus tersenyum tipis. “Kecuali


berhubungan dengan kehidupan pribadinya. Aku menonton acaranya waktu itu. ”


Han mengernyit mendengarnya. Dia


mulai  menerka arah pembicaraan laki-laki


di hadapannya ini. Kedatangannya dengan membawa tas berisi proyek kesuksesan


perusahannya hanyalah alasan. Ada misi terselubung yang coba ia lakukan.


Apa ini berhubungan dengan Nona Daniah?


“Tuan.”


“Han, dari semua orang, aku tahu


hanya kamu yang paling tahu bagaimana dan apa yang dipikirkan Saga. Apa


menurutmu Saga benar-benar menyukai istrinya seperti yang dia katakan live di


stasiun TV waktu itu.”


Sepertinya apa yang diduga Han


benar adanya.


“Apa nyonya yang meminta Anda


kemari?”


Wajah Hardiawan terlihat cukup


terkejut karena bisa dengan mudahnya Han menebak. Dia berusaha menutupi reaksi


spontanitas dengan tertawa. Lalu menepuk tas yang ada di depannya.


“Tidak, aku datang untuk memohon


kepada Saga supaya bisa kembali ke ibu kota.”


Huh!! Kalau seperti itu kenapa Anda


malah penasaran dengan kehidupan pribadi tuan muda.


“Tuan, berhentilah. Tuan muda


tidak pernah membenci Anda secara pribadi. Dia masih mengormati Anda sebagai


paman yang memang pantas untuk dihormati. Saya harap Anda tidak membuat


penilaian tuan muda terhadap Anda salah selama ini.”


“Apa maksudmu?”


“Berhentilah sampai di sini.


apapun yang nyonya rencanakan sudah gagal. Tuan muda mencintai Nona Daniah. Dan


saya akan menjaganya dengan nyawa saya, menjaga hubungan mereka.” Sorot mata


Han yang serius membuat Hariawan menurunkan tangannya.


Hariawan tahu, laki-laki di hadapannya


ini bisa melakukan apa pun untuk Saga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2