Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
85. Usaha Helena (Part 1)


__ADS_3

Siang ini, semua agenda berjalan dengan baik. Walaupun harus mundur dua jam dari jadwal yang ada. Kalau sudah seperti ini bisa di bilang Han yang bisa bernafas lebih lega. Dia bisa menyimpan banyak tenaganya.


Efek keberadaan nona Daniah ternyata sangat berpengaruh besar pada mood tuan muda. Sepanjang hari ini dia bahkan masih terlihat senang. Kesalahan CEO Defika bahkan bisa dia maafkan. Padahal CEO perempuan itu jelas-jelas sudah ketakutan. Dan siap menerima hukuman apa pun yang diberikan padanya.


“Han.” Saga menutup berkas laporan yang baru saja selesai dia tanda tangani. Proyek Antarna Group tahun ini, Danau Hijau.


“Ia Tuan Muda.” Han bangun dari duduk dan lamunannya, menghampiri meja kerja Saga. Dia menerima berkas yang sudah selesai di periksa Saga.


“Apa Anda tidak mau datang di peresmian.” Menebak setelah menerima berkas laporan dan membacanya.


“Kenapa? Apa kamu juga berfikir aku belum move on.” Menyandarkan kepala, tapi menatap kesal.


“Tidak Tuan Muda. Saya hanya tidak mau Anda merasa tidak nyaman.”


“Danau Hijau akan jadi tempat pengabdian Antarna Group pada kota ini. Anggap itu saja, tidak ada cerita apa pun di balik itu semua. Aku tidak mau ada artikel apa pun tentang Ele setelah peresmian Danau Hijau. Fokus hanya pada Antarna Group.” Seharusnya seperti ini saja, awalnya dia memang akan menjadikan tempat itu sebagai tempat bersejarah pernikahannya. Tapi sekarang, tempat itu akan menjadi wisata kota gratis untuk masyarakat umum.


“Baik Tuan Muda.”


Ketukan pintu mengalihkan pandangan Han. Dia mengangguk sekilas pada Saga, lalu berjalan membukakan pintu. Staf sekretarisnya sudah berdiri di depan pintu.


“Kenapa?” tanyanya.


“Maaf Tuan. Nyonya datang dan ingin bertemu dengan Tuan Saga. Dan...” dia tidak melanjutkan kalimatnya. Lihat, dia sudah meremas tangan karena ingat kejadian beberapa waktu lalu.


“Kenapa?”


“Bersama Nona Helena”


“Persilahkan mereka masuk.”


Staf sekretaris itu mengangguk, setelah Han berbalik dia menutup pintu tanpa bersuara. Bernafas lega. Selang tidak lama dia menunggu di depan lift muncul nyonya besar, ibu dari presdir dan juga wanita itu. Wanita yang sudah membuatnya kehilangan separuh uang gaji. Dia menganggukkan kepalanya sopan.


“Silahkan Nyonya, Tuan Saga mempersilahkan untuk masuk.”


“Aku hanya ingin bertemu dengan anakku kenapa kalian mempersulit seperti ini.” Hardiknya marah. Staf sekretaris itu hanya menunduk dalam tidak menjawab.

__ADS_1


Lebih baik melihat Anda yang marah daripada Tuan Saga yang marah kan. Sungguh melelahkan hidupku. Hiks, tapi aku akan berjuang untuk hidup seperti ini sampai akhir. Demi gaji yang besar.


Dia mengikuti langkah kaki nyonya dan Helena, mengetuk pintu, lalu mempersilakan mereka masuk. Setelahnya kembali menutup pintu tanpa bersuara. Tidak tahu dan tidak penasaran untuk tahu juga, akan ada kejadian apa di ruangan presdir.


Han menganggukkan kepala sembari menarik kursi di depan meja kerja Saga. Mempersilahkan kedua tamu tidak di undang untuk duduk. Dia melirik tajam Helena, gadis itu masih tidak tahu malu juga menatapnya dengan sorot mata sebal. Setelah kedua orang itu duduk, dia tetap berdiri di dekat meja.


Ibu menoleh pada Sekretaris Han, mengusir lewat pandangannya. Tapi tentunya, Sekretaris Han tidak mau terlalu peka kalau urusannya bukan dengan majikannya. Jadi dia tetap berdiri tidak bergeming.


“Jangan pedulikan Han. Kenapa ibu kemari tanpa pemberitahuan?” Saga seperti tahu ketidaknyamanan ibu. Tapi dia tidak perduli. Dia bahkan tidak melirik Helena yang duduk di samping ibunya. Wanita itu yang sedari tadi ingin tersenyum hanya bisa memegang kursi erat. Kecewa.


“Saga, ada yang mau ibu bicarakan. Ini mengenai Daniah.”


Di tempat duduknya, airmuka Saga berubah. Ada indikasi tidak senang dengan pembicaraan ibunya barusan. Apalagi saat ini Ele sedang duduk di hadapannya. Rencana apa yang sedang dibuat wanita ini pikirnya. Dia tahu, ini mungkin ide Ele.


“Daniah bukan gadis yang baik dan pantas untukmu Saga.” Ibu langsung pada poin utamanya, tidak mau berbasa-basi lagi. Selama ini kesabarannya menunggu sepertinya sia-sia. Karena sepertinya Daniah berhasil menjerat putranya. Ibu menerima hp yang diambil Helena dari tasnya. “Lihatlah, dia bahkan menemui laki-laki lain di belakangmu.”


Han bereaksi, tidak mungkin begitu arti sorot matanya. Tidak mungkin dia sampai kecolongan begini. Dan dia tahu, bahwa Daniah tidak akan seberani itu bertindak di luar batas. Dia hanya berani bicara. Tapi tidak akan punya keberanian merealisasikannya. Tapi foto yang dibawa Helena, seketika membuatnya kesal. Apa dia sudah kehilangan kemampuannya untuk membuat semua yang ada di sekeliling Tuan Saga berjalan dengan semestinya.


Han yang menerima hp di tangan ibu, wanita itu terlihat kesal. Dia terlihat ingin mempertahankan alat bukti yang ia miliki, tapi karena sorot mata Han dan diamnya putranya dengan tindakan sekretarisnya itu akhirnya dia melepaskan tangannya. Hp sudah berpindah tangan. Senyum tipis muncul, saat Han melihat foto dan terdengar ia bernafas lega. Dengan tangan kanan dia menyerahkan hp ke tangan kiri Saga.


Sekarang giliran Saga yang tergelak, dia bersandar di kursinya. Ibu dan Helen terkejut dengan reaksi yang di berikan Saga. Ini di luar rencana mereka. Helen terlihat memegang erat pegangan kursi.


“Ibu ada apa denganmu?  Apa ibu tidak tahu, kalau Jen dan Sofi saja aku awasi. Aku tahu siapa teman -teman mereka.dan pacar mereka sekarang.” Ibu menelan ludah. Merasakan kebodohannya. Benar, tidak mungkin Saga tidak tahu. Tapi sekelebat sesal itu tidak membuatnya berfikir dengan sehat. “Seharusnya Ibu tahu kan kalau aku saja mengawasi Jen dan Sofi, pasti aku jauh lebih mengawasi istriku kan.” Menekankan pada kata terakhirnya.


Deg, Kali ini Helen menjatuhkan tas yang ia senggol di atas meja Saga. Lebih terkejut lagi ketika Saga melemparkan hp yang dia pegang tadi di hadapannya.


“Tanyakan saja pada Han bagaimana dia mengawasi istriku. Dan satu lagi, aku mengenal laki-laki yang di foto itu. Aku juga pernah tidur di rumahnya.”


“Apa!” bersamaan menjawab.


Han benar-benar senang melihat wajah Helena yang pias, matanya yang sekarang takut bertatap dengannya.


Sekarang Anda sudah menyadarinya kan, sejauh apa saya tahu tentang Anda Nona Helena.


“Anda jangan khawatir Nyonya saya mengawasi semua orang yang dekat dengan tuan muda. Nona Jenika, nona Sofia dan Nona Daniah. Anda tidak perlu khawatir. Saya hanya memastikan semua hal di sekeliling tuan muda berjalan dengan semestinya.”

__ADS_1


Wajah Helen semakin pias. Ia bahkan hampir terjatuh dari tempat duduknya setelah mendengar kalimat Han.


“Bawa dia ke sofa.” Saga memerintahkan Han untuk membawa Helen duduk di sofa, dia tidak mau melihat gadis itu. Sorot matanya yang mengiba malah membuatnya kesal. Setelah Helen dan ibu berpindah, Han keluar dari ruangan. Tidak lama dia muncul membawa sebotol air dan gelas.


“Silahkan Nona, Anda tidak apa-apa kan?”


Helen mendongak, menerima gelas dengan gemetar.


“Seharusnya Anda duduk dan melukis sekarang, kenapa masih melakukan hal tidak berguna seperti ini.”


Helena meletakan gelas di atas meja, karena kalau sampai masih dia pegang, dia yakin gelas itu akan pecah terburai karena terjatuh dari tangannya.


“Pergilah!” Ibu seperti paham kalau Helen gelisah karena siapa. Dia mengambil gelas lalu membantu Helen minum. “Kenapa denganmu? Apa Han mengancammu?”


“Tidak Bu,” terbata menjawab.


Udara di ruangan seperti sudah tidak nyaman di pakai Helen bernafas. Dia menyadari dia harus keluar dari tempat ini. Situasi sudah semakin tidak terkendali. Tidak tahu siapa yang bersama Daniah, tapi yang pasti tidak berhasil membuat Saga marah. Dia harus pergi sekarang, supaya bisa kembali berfikir jernih.


Saga berjalan dan duduk di sofa, sementara Sekretaris Han berdiri di sampingnya.


“Han bilang ibu minta izin untuk mengadakan pesta ulang tahun di rumah.”


“Ia, karena ibu ingin membuat konsep keluarga, jadi apa boleh.”


“Tidak.” Saga memotong kalimat ibunya. “Aku tidak mau banyak orang berkeliaran di rumahku.” Melirik Helen, sepertinya kata-katanya barusan memang ditujukan untuk Helen. “Jadi buatlah pesta di gedung seperti biasanya. Han akan mengirim sekretaris wanita untuk membantu ibu.” Saga bangun dari duduknya. “Bawa dia pergi kalau dia sudah bisa berdiri.”


Helen gemetar, apa benar dia sudah benar-benar kehilangan kesempatan.


Han sudah membuka pintu, Saga berhenti dan berbalik lagi. "Ibu, jangan lupa undang Daniah ke pesta ulang tahun Ibu, ibu kan harus memperkenalkan menantu  ibu pada teman-teman ibu kan.” Pintu tertutup.


Kedua wanita itu bersitatap, ibu meminta pertanggungjawaban atas hal memalukan yang baru saja terjadi. Tapi Helena bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Kata-kata Sekretaris Han masih menghantui pikirannya.


“Anda jangan khawatir Nyonya saya mengawasi semua orang yang dekat dengan tuan muda. Nona Jenika, nona Sofia dan Nona Daniah. Anda tidak perlu khawatir. Saya hanya memastikan semua hal di sekeliling tuan muda berjalan dengan semestinya.”


Apa dia juga mengawasiku selama ini, apa dia juga tahu kalau aku...........

__ADS_1


Tangan Helena gemetar


BERSAMBUNG


__ADS_2