Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
153. Bertemu Dengan Saga (Part 2)


__ADS_3

Akhirnya, setelah sekian lama


menunggu. Dia masuk juga ke ruangan Presdir Antarna Group. Dadanya berdebar  bersemangat.  Dia berdiri di belakang Sekretaris Han. Menatap


dengan antusias seseorang yang sedang duduk di sofa.


Gila! Itu benar-benar Tuan Saga.


Presdir Antarna Group.


Bahkan dalam kegiatan resmi saat dia


menjadi reporter, dia hanya bisa berdiri dari jarak sekian meter untuk


mengambil foto. Kalau dia menemukan posisi tepat sambil berebut dengan reporter


lain itu saja sudah membuatnya senang. Saat ini, ia berada di jarak sedekat


ini. Aran ingin sekali mengeluarkan kameranya dan mengabadikan momen penting


ini. Ya, walaupun hanya sekedar mengambil gambar dengan kamera hp sekali pun.


“Dia Arandita, Tuan bisa bertanya


langsung padanya.”


Saga memperhatikan penampilan


wanita yang masuk bersama Han. Gadis ini dibawa Han dari luar Antarna Group.


Membuatnya sangat penasaran. Apa yang membuat Han tertarik padanya. Posisi yang


akan diberikan padanya sangat penting dalam kaca matanya. Han tidak mungkin


memberikan kesempatan pada orang sembarangan.


“Mendekatkan!” Perintahnya sambil


menggerakkan tangannya.


Aran terperanjat dari dunianya yang


sedang mengagumi apa pun yang ada di sekeliling Saga, lalu ia berjalan cepat


beberapa langkah. Begitu pula dengan Sekretaris Han, dia terlihat berjalan ke belakang


Saga.


Kenapa kau berdiri di sana? Biar lebih


dramatis mengintimidasi dengan tatapanmu. Aran menggerutu dalam hati tahu maksud


kepindahan Sekretaris Han.


“Siapa kau?” Pertanyaan tidak


jelas disampaikan Saga seperti biasanya.


Hah! Pertanyaan apa itu? Aku harus


menjelaskan dari mana?


“Apa Anda tidak mengenali saya


Tuan.” Akhirnya memilih menjawab dengan kepercayaan tinggi. Dia cukup populer


karena kejadian itu. Walaupun kepopulerannya dalam hal negatif dan masuk daftar hitam


Antarna Group.


“Memang siapa kau, sampai tuan


muda harus mengingatmu.” Dari belakang tempat Han berdiri dia menjawab sinis


dengan sorot mata mematikan itu. Jangan bicara yang tidak perlu, begitu


isyaratnya.


Tapi jawaban gadis yang berdiri di


depannya dan reaksi Han malah membuat Saga tertarik.


“Memang siapa kau?” tanyanya lagi.


“Sampai aku harus mengingatmu?” Saga malas mengingat-ingat sesuatu yang tidak


penting.


“Saya reporter stasiun TVXX Tuan,


yang dulu mendokumentasikan keseharian Tuan Han untuk acara lamaran Tuan Han di


stasiun TV.” Menjawab dengan cepat dan lugas, sampai tidak sadar seseorang yang


berdiri di belakang sedang mengeram kesal.


Ingatan Saga sampai di waktu itu,


dan dia tergelak cukup keras, karena kejadian itu nyata terbayang di kepalanya.


Sampai membuat Aran terperanjat.


Gila! Ini pertama kalinya aku


melihatnya live tertawa. Benar-benar tertawa. Tapi tunggu, kenapa dia tertawa?


“Hebat sekali kau ya. Semua


anggota tubuhmu masih ada di tempatnya. Padahal kau sudah membuat Han sekesal


itu. Aku pikir, kau pasti sudah kehilangan satu tangan atau kakimu.” Masih di


susul tawa setelah mengatakannya. Membuat Aran mulai merasa takut.


Tiba-tiba kaki Aran lunglai demi


mendengar kata-kata Saga.


Aku tahu, seharusnya aku tidak ada


disini dan terlibat dengan Tuan Han.


“Berkat kebaikan Tuan Han saya


masih sehat seperti ini. Terimakasih Tuan atas belas kasih Anda yang tidak terhingga.”


Tidak berani menatap Sekretaris Han di belakang Saga. Demi mengusir rasa takut


yang tiba-tiba muncul kata-kata tersusun manis itu keluar.


Ayo sanjung dan puji harimau itu.


Diamnya dia saja sudah seperti mau menerkam begitu.


“Han.”


“Ia Tuan Muda.” Sekretaris Han

__ADS_1


mendekat.


“Aku ingin melihat data dirinya.


Sepertinya cukup menarik juga.”


Sebenarnya kenapa kau melepaskannya


itulah yang paling menarik. Lebih-lebih kau yang membawanya sendiri ke hadapanku.


Han mengambil sebuah amplop coklat


di meja kerja Saga. Mengeluarkan lembaran kertas lalu menyerahkannya pada Saga.


Arandita matanya tampak berbinar melihat pemandangan di depannya. Sikap patuh


Han yang hanya ia tunjukan di hadapan Tuan Saga. Adalah momen indah yang harus


diabadikan.


Apa aku boleh merekam ini?


“Kau boleh juga sepertinya.”


Membalik lembaran kertas di tangannya. “Aku tidak meragukan keahlianmu, kau


bahkan bisa mengelabui Han.” Mengingat berapa banyak vidio dan foto yang bisa


diambil tanpa sepengetahuan Han sudah menjadi nilai plus baginya.


“Terimakasih Tuan.” Tanpa sadar


tersenyum dengan bangga. Padahal itu kan bukan hal yang perlu dibanggakan,


lebih-lebih orang yang dia buntuti sedang menatapnya dengan sebal begitu.


“Han, dia membanggakan


keberhasilannya merekammu diam-diam. Apa kau tidak marah?”


Apa yang Anda lakukan Tuan Saga?


Jangan menyiram bensin dalam kobaran api. Dalam kehidupan sehari-hari ternyata


kalian akrab begini ya.


Semakin banyak hal yang membuat


Arandita gemas, ingin mengambil hp dan mengabadikan momen-momen ini. Menunjukan


pada dunia. Imej sesungguhnya Presdir Antarna Group.


Masih terlalu dini untuk terkejut


nona penulis, kau saja belum bertemu dengan Daniah dan melihat interaksi


mereka. Wkwkwk.


“Sejauh apa kau memakai ilmu


beladirimu?” Saga bicara lagi tanpa mengalihkan pandangan dari kertas-kertas


yang dipegangnya. Sepertinya dia sedang melihat daftar ilmu beladiri yang


dikuasai Aran.


“Saya sudah sampai di level


tertinggi Tuan.” Bangga. Aran mendapatkan semua itu tidak dalam waktu sebentar.


Jadi dia merasa pantas untuk membanggakan diri.


diturunkan dari kakeknya yang mempunyai tempat pelatihan khusus. Tapi


percayalah, dia bekerja keras untuk mendapatkan semua pencapaiannya sampai hari


ini. Dulu dia bahkan sempat bercita-cita menjadi atlit bela diri, jika tidak


jatuh cinta pada dunia berita.


“Apa kau bisa mematahkan tangan


orang?”


Apa! kenapa? Bukannya tadi tugasku


menjaga nona muda.


“Aku tidak mau siapa pun menyentuh


tubuh istriku, apa kau bisa memastikan itu.”


Apa! jadi aku harus mematahkan


tangan laki-laki yang menyentuh nona. Aku tahu, aku seharusnya tidak berada di


sini.


Sampai dititik ini, Aran mulai


merasa dua laki-laki di hadapannya ini sama-sama gilanya.


“Saya belum pernah melakukannya


Tuan. Mematahkan tangan atau apa pun itu namanya.” Merasa harus menjawab jujur,


karena mulai dihantui keraguan. Sepertinya pilihan untuk menerima pekerjaan ini


adalah salah.


Pantas, dia menawariku gaji 3 kali


lipat daripada di stasiun TVXX.


“Menurutmu kenapa Han


merekomendasikan mu?” sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dengan pasti.


Sebenarnya hanya Han yang tahu jawabannya. Saga hanya ingin mendengar versi


gadis di depannya.


Apa ada sesuatu yang aku lewatkan di masa lalu?


“Saya harus membalas kerugian Tuan Han.” Menjawab jujur. Melirik sekilas yang berdiri di belakang. Tidak bergeming saat mendengar jawabannya.


“Kenapa?” Semakin antusias. Sepertinya benar-benar ada hal yang di lewatkan Saga saat tragedi lamaran Han di TV.


“Karena sudah menabrak Tuan Han


dan membangkitkan kenangan buruk tentang masa lalu.” Aran menjawab dengan polos, seperti mengadu. Lihat, alasan aneh dan dibuat-buat itu.


“Aaa, lamaran di stasiun TV. Kau


masih hidup saja sudah membuatku heran.”


Benarkan, seharusnya aku tidak ada

__ADS_1


di sini. Cara berfikir mereka benar-benar bersinergi satu sama lain.


“Baiklah, satu tes terakhir. Ambil


hp Han dan berikan padaku. Aku ingin melihat sehebat apa ilmu bela dirimu."


Aran terlihat bingung. Apalagi


saat menatap wajah yang tidak bergeming itu.


Bagaimana ini? Yang ada tanganku patah. Lagipula, di mana dia menyimpan hpnya?


“Kuberi tahu satu rahasia.” Saga bicara pelan, seperti berbisik. Padahal jelas terdengar di seluruh ruangan.


“Ia Tuan.” Berbinar bola mata Aran.


“Han biasanya menyimpan hp di saku


jas bagian kiri.” Mata Aran langsung tertuju ke saku jas bagian kiri. “Kau


bisa menendang kakinya, lalu memutar tangannya. Kalau perlu dorong dia


ke tembok. Ambil hpnya dan bawa padaku.”


Hah! Sudah gila ya. Ide apa itu.


Memang tenagaku bisa mendorongnya sampai ke tembok. Dan kenapa sepertinya Tuan Saga bangga sekali dengan ide gila itu.


“Semoga berhasil.”


Saga bangun dari duduk di sofa,


berpindah ke meja kerjanya. Supaya pemandangan yang terlihat jauh lebih jelas. Dia terlihat senang sekali, apalagi saat melihat wajah Han yang sebal.


Bagaimana ini, tendang kakinya,


putar tangan lalu sudut kan dia di tembok. Memang dia ini bocah. Lihat tinggi


badannya itu.


Aran hanya bisa menggerutu, sambil menyusun strategi. Sementara Sekretaris Han masih berdiri di tempatnya. Menunggu yang dilakukan Arandita selanjutnya.


Ragu, Aran mendekat. menoleh sekilas pada Saga yang sudah duduk bersandar di kursi kerjanya.


Dia menonton sambil makan!


Matanya kembali tertuju pada Han. dengan langkah hati-hati dia maju mendekat. Mencoba merealisasikan ide gila yang diberikan Tuan Saga. Walaupun jelas-jelas dia tidak punya keberanian. Menendang kaki, sudah gila ya, makinya dalam hati. Tidak mungkin dia berani melakukannya. Jarak mereka sudah terpaut hanya tiga langkah. Aran mematung.


Han menggerakkan tangannya, membuat Aran langsung waspada. Dia sampai mundur selangkah karena kaget. lebih terkejut saat Han mengeluarkan hp dari saku kirinya dan menyerahkannya dengan tangan kiri.


"Ambil!"


Apa! Dia serius?


"Ambil!" Han menggoyangkan benda di tangannya, supaya gadis di depannya segera meraihnya.


"Buahahaha." Sementara Saga terbahak di kursinya, semakin membuat Aran kebingungan. "Sepertinya tidak ada alasan aku tidak menerimamu. Han sampai membiarkan orang lain menyentuh hpnya. Ambil!" Menunjuk hp di tangan Han, "Berikan padaku dan keluarlah!"


Patuh mengikuti apa yang dikatakan Tuan Saga. Dengan hati-hati mengambil hp di tangan Sekretaris Han. Lalu menyerahkan dengan kedua tangannya pada Saga. Setelahnya tanpa berfikir ulang langsung mengambil langkah keluar dari ruangan. Di depan dia bersandar di meja staf sekretaris yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.


Sementara itu di dalam ruangan.


"Haha, aku tahu. Kau tidak mungkin melepaskannya dulu tanpa alasan." menyerahkan hp ke tangan Han. "Duduklah!"


Kau pasti melepaskannya karena sesuatu.


"Saya tidak sengaja bertemu dengannya beberapa hari lalu Tuan. Dan berhentilah berfikir yang tidak-tidak, saya melepaskannya dulu hanya karena saya tidak menganggapnya penting. Serangga pengganggu yang sama sekali tidak penting."


"Benarkah?" Tertawa tidak percaya.


Kau tidak mungkin membawanya padaku untuk menjaga Daniah, kalau merasa dia hanya serangga pengganggu.


"Jangan menduga yang tidak-tidak Tuan Muda."


"Terserah aku." Tidak mau kalah. "Ayolah Han, mengaku saja. Aku bisa melepaskanmu dari sumpah setiamu sekarang."


Hah! tidak berhasil. Dia selalu terlihat kesal kalau aku menyuruhnya mulai mengurus hidupnya.


"Aku bahagia bersama Daniah sekarang." Saga bicara dengan keyakinan penuh.


"Saya yang akan memastikan itu sendiri Tuan Muda."


Sekali lagi Han mengatakan kalau belum waktunya dia berfikir tentang dirinya sendiri.


***


Arandita berdiri gelisah, bersandar di dinding. Menatap pintu ruangan Presdir Antarna Group.


Sepertinya aku benar-benar sudah salah langkah. Dua laki-laki itu sama-sama gila. Dan kalau aku terlibat dengan keduanya pasti aku yang gila.


Aran memutuskan untuk mundur. Menutup mata dari panggilan lembaran uang yang bisa ia terima setiap bulannya. Pekerjaan apa pun itu, menjaga nona muda. Bukan hal sepele yang bisa dia lakukan sambil melindungi dirinya dari Sekretaris Han. Dia terperanjat saat pintu terbuka. Dia mengepalkan tangan meyakinkan diri.


Nyawaku kan jauh lebih berharga kan? Tuan Saga laki-laki sempurna yang selalu menuntut kesempurnaan. Bisa habis aku kalau salah sedikit saja.


"Tuan Han, bisa kita bicara." Ragu.


"Kenapa?"


"Saya sepertinya tidak bisa melakukan pekerjaan ini. maaf!" berteriak keras sampai staf sekertaris langsung melirik. "Pekerjaan ini sepertinya tidak cocok untuk saya."


"Apa kau sedang main-main denganku." Han mendorong tubuh Aran sampai membentur tembok. "Bukankah kau tahu, aku tidak pernah bercanda kalau berurusan dengan tuan muda."


"Maaf Tuan!" Habislah aku. "Saya takut tidak bisa melakukan dengan sempurna seperti yang Tuan Saga katakan tadi."


Han mencengkram kerah baju yang di pakai Arandita.


"Tuan, Tuan berjanji tidak akan memukul saya kan?" Mengingatkan syarat yang sudah di setujui Han.


"Memukulmu. Siapa yang memukulmu? aku hanya menyudutkan mu ke tembok dan menarik kerah bajumu." Belum melepaskan tangannya. "Tuan muda sudah memilihmu."


"Tapi ini juga termasuk kekerasan fisik." Berkilah, sambil berusaha melepaskan diri.


"Kekerasan fisik. memang apa bunyi syarat yang kau minta tadi." Bertanya dengan tatapan licik.


"Jangan memukul saya." Sial! seharusnya aku memakai kalimat tidak ada kekerasan fisik secara umum. Aaaaa, kenapa aku bodoh sekali!


Aran kalah telak lagi. Saat melihat bibir Han kembali menyeringai kemenangan.


"Ambil ini." Han menempelkan kartu di kening Aran. "Pergi beli semua kebutuhanmu. Ganti penampilanmu, jangan sampai nona muda kami merasa malu kau ada di sampingnya."


Aran menatap kartu di tangannya.


"Apa saya bisa membeli apa saja yang saya butuhkan?" Lupa sudah tujuan mau mengundurkan diri tadi.


"Hemm."


"Termasuk melunasi pinjaman keluarga saya di bank." Wahh, berani sekali kau menanyakan itu Arandita.


"Kalau kau berani lakukanlah."


Aku pasti tidak berani. Lebih baik berhutang di bank resmi daripada padanya.


"Tuan Han, apa saya juga boleh memakai kartu ini ke salon. untuk meluruskan rambut saya." Han yang sudah berbalik menoleh lagi. Menatap kesal.


Kenapa kau bahkan jauh lebih banyak bicara di banding nona Daniah. Tidak bisa kubayangkan kalau kalian bersama.


"Kalau kau mau jadi serangga lagi, lakukanlah." Sudah berjalan meninggalkan Aran.

__ADS_1


Apa! kenapa bawa-bawa serangga lagi si.


Bersambung


__ADS_2