Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
119. Gedung Antarna Group (Part 2)


__ADS_3

Han meninggalkan Saga yang tenggelam


dalam pikirannya. Dia keluar dengan pikiran yang terganggu, melihat bintang


yang berkedip di hp Tuan Saga.  Lebih


terkejut lagi saat mendapati kejadian  yang dia lihat di depan lift.


Daniah merapat ke tembok, tubuhnya


yang mungil terdorong menempel di dinding. Sementara satu tangan Helen


mencengkeram baju. Daniah terlihat berusaha melepaskan diri dengan mendorong


tubuh Helen, tapi sepertinya sia-sia.


“Apa yang Anda lakukan!”  Han menarik tangan yang dipakai mencengkeram


baju Daniah dengan kuat. Sampai Helen terdengar  mengaduh dengan suara keras. “Beraninya Anda


menyentuh tubuh nona kami yang berharga.” Han memutar tangan Helen membuat


gadis itu menjerit.


“Sekretaris Han lepaskan! Kau bisa


mematahkan tangan Helen!” Daniah memukul lengan Sekretaris Han yang dipakainya


memegang tangan Helen, agar laki-laki itu melepaskan tangannya. “Lepaskan


sekarang!” Masih terdengar Helen menjerit. “Lepaskan Helen sekarang! Dengar


tidak!” Daniah semakin merasa frustasi mendengar Helen menjerit. “ Sekretaris


Han!”


Han mengibaskan tangannya Saat


Daniah sekuat tenaga memukulnya. Membuat Helen menarik tangannya menjauh, dia


terdengar mengumpat sambil memegangi tangannya. Sorot mata permusuhan dan


kebencian dia tujukan untuk kedua orang di hadapannya. Walaupun Daniah


hanyalah sosok korban yang bahkan menyelamatkan hidupnya. Dia membenci kedua


orang di hadapannya, hampir dengan seluruh nafas kehidupannya.


Yang satu, wanita tidak tahu malu


yang sudah merusak kehidupannya, yang satunya laki-laki sial yang sedikit pun


tidak pernah membuatnya tenang berada di samping Saga. Baik dulu ataupun


sekarang.


“Helen kamu tidak apa-apa?” Daniah


mendekat dan menyentuh tangan Helen, tapi gadis itu menepisnya. Dia malah


menatap dengan penuh kebencian. “Sekretaris sialan! Memang apa hebatnya dia


sampai kau mendukungnya begitu.” Mendorong Daniah dengan tangannya.


“Hati-hati dengan tangan Anda


nona. Itu adalah satu-satunya hal berharga yaang Anda miliki untuk hidup kan?


Sekali lagi Anda berani meletakan tangan di tubuh nona kami yang berharga, saya


akan pastikan Anda tidak akan bisa melukis lagi.” Peringatan terakhir Han.


Tidak hanya membuat Helen gemetar tapi Daniah pun merinding mendengarnya.


“Apa kau sudah merasa hebat


sekarang? Dua tahun lalu Saga juga memperlakukanku sama seperti dia


memperlakukanmu.” Seringai mencibir dari bibir Helen, tidak menjawab ancaman


Sekretaris Han. Malah dia berbalik mengancam wanita di depannya dengan


kata-katanya. “Tapi lihat aku sekarang, aku bahkan seperti pengemis untuk


hanya minta bertemu dengannya.” Sekarang tawa kecil muncul di wajah Helen. Dia


berfikir kalau dia melakukan ini dia bisa selangkah di depan Daniah.


Mengalahkannya telak, dan membuat gadis itu bimbang. “Aku akan lihat sampai


kapan kau akan bertahan di sampingnya.”


“Terimakasih sudah mengingatkan


aku. Kedepannya aku akan sangat hati-hati dan tidak melakukan kesalahan seperti


yang Helen lakukan.” Daniah tersenyum, ya, dia kan memang selalu hebat kalau cuma


adu kata-kata. Membuat wajah Helen yang tadinya merasa menang seperti terjatuh


kembali ke jurang hinaan. Dia tidak menyiapkan sepatah kata pun untuk balasan,


karena berfikir Daniah hanya akan menggigit bibirnya kelu tanpa bisa menjawab.


Han berteriak memanggil staf


sekretarisnya, seseorang langsung berlari mendekat. “Antar dia keluar dari


gedung ini.” Staf sekretaris menganggukkan kepala cepat lalu mendekat ke arah


Helen. “Saya harap Anda mendengar apa yang tuan Saga katakan tadi.”


“Kepaskan aku! Aku bisa jalan


sendiri.” Helen menepis tangan staf sekretaris yang menariknya untuk segera


berlalu. Daniah menatap kepergian Helen dengan nanar. Ada perasaan sedih

__ADS_1


melihatnya. Bagaimanapun dia tahu, bahwa Helen sedang memperjuangkan


perasaannya. Terlepas dari kesalahan apa pun di masa lalu yang sudah dia lakukan


pada Saga. Daniah melirik Sekretaris Han, laki-laki itu masih terlihat sangat


menakutkan.


“Di mana Leela?”


Daniah tahu pertanyaan itu


ditujukan padanya. Untuk kali pertama sejak dia bertemu Sekretaris Han, dia


merasa laki-laki di hadapannya ini sangat berbahaya. Pertanyaannya mengandung


arti kemarahan.


“Di mana Leela Nona, bagaimana dia


bisa meninggalkan Anda sendirian?”


Ini berbahaya kan?


“Aku menyuruhnya turun dan


menunggu di kafe di bawah.” Berharap kata-katanya bisa menyelamatkan Leela.


Wajah Sekretaris Han semakin tidak


suka mendengar yang dikatakan daniah.


“Jangan memarahinya, aku yang


menyuruhnya turun. Dia mengantarku sampai naik ke lift.”


“Nona, apa Anda tahu seberapa


besar kesalahan Leela?”


Apa! dia kan tidak melakukan


apa pun, lagi pula aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya bertemu dengan Helen dan


kebetulan dia mendorongku ke tembok. Mencengkeram leherku dan mau memukulku.


Ya, itu sudah keterlaluan si memang. Tapi kau kan tidak perlu semarah itu.


“Baik, aku minta maaf karena tidak


berfikir, seharusnya aku membiarkan Leela ada di sampingku. Dia sudah


memperingatkan, tapi aku yang memohon padanya untuk pergi. Jadi jangan


memarahinya ya.”


Han tidak menjawab, tapi sorot


matanya sama sekali tidak melunak walaupun Daniah sudah menjelaskan.


“Lagi pula aku tidak apa-apa.”


Tuan Saga sampai tahu yang dilakukan Helen hari ini pada Anda. Bisa jadi semua


petugas keamanan dan staf sekretaris saya tidak akan selamat dari kemarahan


Tuan Saga. Bahkan saya pun.”


“Kalau begitu jangan katakan.”


Daniah menarik lengan baju Han. “Jangan katakan padanya apa  yang kamu lihat tadi.”


Hanya itu satu jalan keluar yang dirasa cukup untuk menyelamatkan semua orang.


Toh Daniah juga merasa dirinya baik-baik saja.


“Kalau begitu mulai sekarang berhati-hatilah Nona, sedikit saja sesuatu menimpa Anda akan ada banyak yang


celaka.” Suara Sekretaris Han datar mengingatkan, mengisyaratkan apa yang dia


katakan bukan main-main dan sesuatu yang bisa dibantah.


“Hei apa maksudmu?” wajah Han


berpaling tidak senang mendengar jawaban Daniah. “Baiklah, aku paham. Aku akan


lebih berhati-hati ke depannya.” Tidak jadi membantah, karena situasinya


mencekam.


“Tuan muda pasti sudah tidak sabar


menunggu Anda. Silahkan.”


Han mengikuti langkah Daniah di


balik punggungnya.


Merepotkan sekali, bagaimana Leela


bisa seceroboh ini. Tunggu, apa aku perlu bertanya apa dia mendengar


pertengkaran Helen dan tuan Saga tadi ya. Sejauh apa?


“Nona.”


“Apa!”


“Tidak apa-apa. masuklah.”


Daniah mengernyit namun tidak


berpaling menoleh.


Daniah menganggukkan kepalanya sopan


pada staf sekertaris yang berdiri menyambutnya dengan ramah. Lalu dia masuk ke

__ADS_1


dalam ruangan presdir.


Pertama kalinya Daniah masuk ke


dalam ruangan Presdir Antarna Group.


Waahh, kantor ini luar biasa.


Seleranya benar-benar tidak manusiawi. Di bandingkan rukoku. Hiks, kenapa aku


merasa terhina begini.


“Kau sudah datang?”  Saga masih duduk di sofa di mana Han


meninggalkannya tadi.


“Ia sayang.” Menjawab seriang


mungkin, mengusir gelisah karena kejadian di depan lift.


Daniah berdiri mematung, bingung


mau melakukan apa.


“Apa yang kau lakukan, kenapa


hanya berdiri, mendekatlah!” Saga mengulurkan tangannya.


“Saya akan menyiapkan makan siang


Anda, silahkan nikmati waktunya.” Han begitu tahu apa yang musti dilakukannya


di situasi seperti ini.


“Hemm.”


Hei, maksudnya apa!


Daniah terjatuh di pangkuan Saga


saat dia menarik tangannya.


“Apa yang kau lakukan hari ini.”


Menyisir rambut Daniah dengan tangannya. Gadis itu mau beringsut dan pindah


duduk di sofa yang lainnya. Tapi tangan Saga melingkar dan memeluk pinggangnya


membuatnya tidak bisa bergerak. “Berapa berat badanmu? Kenapa kau ringan


begini, aku seperti memangku bantal saja.” Tertawa.


Hei pendusta, berbohong juga harus


ada batasannya.


“Sayang, aku pasti beratkan, kamu


sedang meledekku kan?”


“Siapa yang meledekmu. Katakan apa


yang kau lakukan tadi di rumah.” Memainkan ujung rambut Daniah di pangkuannya.


“Aku tidak melakukan apabpun.”


Memang apa yang mau kulakukan.


“Aku hanya di dalam kamar bicara


dengan Maya dan mengecek kerja karyawanku di toko.”


“Itu saja?” mendorong tubuh Daniah


agar terbangun. Lalu dia juga bangun, menarik tangan Daniah mengikutinya.


Dia mau membawaku kemana?


Sebuah pintu terbuka saat Daniah


belum selesai dengan pikirannya.


“Tempat tidur? Sayang apa yang mau


kamu lakukan?” Sudah panik dan berusaha melepaskan tangan. Saga mendorong tubuh


Daniah sampai dia jatuh di atas tempat tidur dengan posisi terlentang. “


Sayang!”


Saga ikut menjatuhkan diri di


samping Daniah. Melingkarkan tangan, Daniah memberontak walaupun tidak terlihat


ia melakukannya dengan mencolok. Saga membenamkan wajahnya dalam pelukan


Daniah. Menempel di dadanya.


“Diamlah! Aku hanya ingin tidur


memelukmu.” Daniah menghentikan semua gerakan tubuhnya. Terdengar Saga


mendesah. “Aku lelah!” Mendengar itu Daniah refleks memeluk punggung Saga. Mencium


kepalanya yang terbenam di dadanya.


Helen pasti menjadi beban di hatimu


ya, maafkan aku yang tidak mempercayaimu.


“Tidurlah sayang, aku akan tetap


di sini saat kau bangun.”


Karena aku tidak akan melakukan


kesalahan yang sama seperti yang Helen lakukan.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2