
Han meninggalkan Saga yang tenggelam
dalam pikirannya. Dia keluar dengan pikiran yang terganggu, melihat bintang
yang berkedip di hp Tuan Saga. Lebih
terkejut lagi saat mendapati kejadian yang dia lihat di depan lift.
Daniah merapat ke tembok, tubuhnya
yang mungil terdorong menempel di dinding. Sementara satu tangan Helen
mencengkeram baju. Daniah terlihat berusaha melepaskan diri dengan mendorong
tubuh Helen, tapi sepertinya sia-sia.
“Apa yang Anda lakukan!” Han menarik tangan yang dipakai mencengkeram
baju Daniah dengan kuat. Sampai Helen terdengar mengaduh dengan suara keras. “Beraninya Anda
menyentuh tubuh nona kami yang berharga.” Han memutar tangan Helen membuat
gadis itu menjerit.
“Sekretaris Han lepaskan! Kau bisa
mematahkan tangan Helen!” Daniah memukul lengan Sekretaris Han yang dipakainya
memegang tangan Helen, agar laki-laki itu melepaskan tangannya. “Lepaskan
sekarang!” Masih terdengar Helen menjerit. “Lepaskan Helen sekarang! Dengar
tidak!” Daniah semakin merasa frustasi mendengar Helen menjerit. “ Sekretaris
Han!”
Han mengibaskan tangannya Saat
Daniah sekuat tenaga memukulnya. Membuat Helen menarik tangannya menjauh, dia
terdengar mengumpat sambil memegangi tangannya. Sorot mata permusuhan dan
kebencian dia tujukan untuk kedua orang di hadapannya. Walaupun Daniah
hanyalah sosok korban yang bahkan menyelamatkan hidupnya. Dia membenci kedua
orang di hadapannya, hampir dengan seluruh nafas kehidupannya.
Yang satu, wanita tidak tahu malu
yang sudah merusak kehidupannya, yang satunya laki-laki sial yang sedikit pun
tidak pernah membuatnya tenang berada di samping Saga. Baik dulu ataupun
sekarang.
“Helen kamu tidak apa-apa?” Daniah
mendekat dan menyentuh tangan Helen, tapi gadis itu menepisnya. Dia malah
menatap dengan penuh kebencian. “Sekretaris sialan! Memang apa hebatnya dia
sampai kau mendukungnya begitu.” Mendorong Daniah dengan tangannya.
“Hati-hati dengan tangan Anda
nona. Itu adalah satu-satunya hal berharga yaang Anda miliki untuk hidup kan?
Sekali lagi Anda berani meletakan tangan di tubuh nona kami yang berharga, saya
akan pastikan Anda tidak akan bisa melukis lagi.” Peringatan terakhir Han.
Tidak hanya membuat Helen gemetar tapi Daniah pun merinding mendengarnya.
“Apa kau sudah merasa hebat
sekarang? Dua tahun lalu Saga juga memperlakukanku sama seperti dia
memperlakukanmu.” Seringai mencibir dari bibir Helen, tidak menjawab ancaman
Sekretaris Han. Malah dia berbalik mengancam wanita di depannya dengan
kata-katanya. “Tapi lihat aku sekarang, aku bahkan seperti pengemis untuk
hanya minta bertemu dengannya.” Sekarang tawa kecil muncul di wajah Helen. Dia
berfikir kalau dia melakukan ini dia bisa selangkah di depan Daniah.
Mengalahkannya telak, dan membuat gadis itu bimbang. “Aku akan lihat sampai
kapan kau akan bertahan di sampingnya.”
“Terimakasih sudah mengingatkan
aku. Kedepannya aku akan sangat hati-hati dan tidak melakukan kesalahan seperti
yang Helen lakukan.” Daniah tersenyum, ya, dia kan memang selalu hebat kalau cuma
adu kata-kata. Membuat wajah Helen yang tadinya merasa menang seperti terjatuh
kembali ke jurang hinaan. Dia tidak menyiapkan sepatah kata pun untuk balasan,
karena berfikir Daniah hanya akan menggigit bibirnya kelu tanpa bisa menjawab.
Han berteriak memanggil staf
sekretarisnya, seseorang langsung berlari mendekat. “Antar dia keluar dari
gedung ini.” Staf sekretaris menganggukkan kepala cepat lalu mendekat ke arah
Helen. “Saya harap Anda mendengar apa yang tuan Saga katakan tadi.”
“Kepaskan aku! Aku bisa jalan
sendiri.” Helen menepis tangan staf sekretaris yang menariknya untuk segera
berlalu. Daniah menatap kepergian Helen dengan nanar. Ada perasaan sedih
__ADS_1
melihatnya. Bagaimanapun dia tahu, bahwa Helen sedang memperjuangkan
perasaannya. Terlepas dari kesalahan apa pun di masa lalu yang sudah dia lakukan
pada Saga. Daniah melirik Sekretaris Han, laki-laki itu masih terlihat sangat
menakutkan.
“Di mana Leela?”
Daniah tahu pertanyaan itu
ditujukan padanya. Untuk kali pertama sejak dia bertemu Sekretaris Han, dia
merasa laki-laki di hadapannya ini sangat berbahaya. Pertanyaannya mengandung
arti kemarahan.
“Di mana Leela Nona, bagaimana dia
bisa meninggalkan Anda sendirian?”
Ini berbahaya kan?
“Aku menyuruhnya turun dan
menunggu di kafe di bawah.” Berharap kata-katanya bisa menyelamatkan Leela.
Wajah Sekretaris Han semakin tidak
suka mendengar yang dikatakan daniah.
“Jangan memarahinya, aku yang
menyuruhnya turun. Dia mengantarku sampai naik ke lift.”
“Nona, apa Anda tahu seberapa
besar kesalahan Leela?”
Apa! dia kan tidak melakukan
apa pun, lagi pula aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya bertemu dengan Helen dan
kebetulan dia mendorongku ke tembok. Mencengkeram leherku dan mau memukulku.
Ya, itu sudah keterlaluan si memang. Tapi kau kan tidak perlu semarah itu.
“Baik, aku minta maaf karena tidak
berfikir, seharusnya aku membiarkan Leela ada di sampingku. Dia sudah
memperingatkan, tapi aku yang memohon padanya untuk pergi. Jadi jangan
memarahinya ya.”
Han tidak menjawab, tapi sorot
matanya sama sekali tidak melunak walaupun Daniah sudah menjelaskan.
“Lagi pula aku tidak apa-apa.”
Tuan Saga sampai tahu yang dilakukan Helen hari ini pada Anda. Bisa jadi semua
petugas keamanan dan staf sekretaris saya tidak akan selamat dari kemarahan
Tuan Saga. Bahkan saya pun.”
“Kalau begitu jangan katakan.”
Daniah menarik lengan baju Han. “Jangan katakan padanya apa yang kamu lihat tadi.”
Hanya itu satu jalan keluar yang dirasa cukup untuk menyelamatkan semua orang.
Toh Daniah juga merasa dirinya baik-baik saja.
“Kalau begitu mulai sekarang berhati-hatilah Nona, sedikit saja sesuatu menimpa Anda akan ada banyak yang
celaka.” Suara Sekretaris Han datar mengingatkan, mengisyaratkan apa yang dia
katakan bukan main-main dan sesuatu yang bisa dibantah.
“Hei apa maksudmu?” wajah Han
berpaling tidak senang mendengar jawaban Daniah. “Baiklah, aku paham. Aku akan
lebih berhati-hati ke depannya.” Tidak jadi membantah, karena situasinya
mencekam.
“Tuan muda pasti sudah tidak sabar
menunggu Anda. Silahkan.”
Han mengikuti langkah Daniah di
balik punggungnya.
Merepotkan sekali, bagaimana Leela
bisa seceroboh ini. Tunggu, apa aku perlu bertanya apa dia mendengar
pertengkaran Helen dan tuan Saga tadi ya. Sejauh apa?
“Nona.”
“Apa!”
“Tidak apa-apa. masuklah.”
Daniah mengernyit namun tidak
berpaling menoleh.
Daniah menganggukkan kepalanya sopan
pada staf sekertaris yang berdiri menyambutnya dengan ramah. Lalu dia masuk ke
__ADS_1
dalam ruangan presdir.
Pertama kalinya Daniah masuk ke
dalam ruangan Presdir Antarna Group.
Waahh, kantor ini luar biasa.
Seleranya benar-benar tidak manusiawi. Di bandingkan rukoku. Hiks, kenapa aku
merasa terhina begini.
“Kau sudah datang?” Saga masih duduk di sofa di mana Han
meninggalkannya tadi.
“Ia sayang.” Menjawab seriang
mungkin, mengusir gelisah karena kejadian di depan lift.
Daniah berdiri mematung, bingung
mau melakukan apa.
“Apa yang kau lakukan, kenapa
hanya berdiri, mendekatlah!” Saga mengulurkan tangannya.
“Saya akan menyiapkan makan siang
Anda, silahkan nikmati waktunya.” Han begitu tahu apa yang musti dilakukannya
di situasi seperti ini.
“Hemm.”
Hei, maksudnya apa!
Daniah terjatuh di pangkuan Saga
saat dia menarik tangannya.
“Apa yang kau lakukan hari ini.”
Menyisir rambut Daniah dengan tangannya. Gadis itu mau beringsut dan pindah
duduk di sofa yang lainnya. Tapi tangan Saga melingkar dan memeluk pinggangnya
membuatnya tidak bisa bergerak. “Berapa berat badanmu? Kenapa kau ringan
begini, aku seperti memangku bantal saja.” Tertawa.
Hei pendusta, berbohong juga harus
ada batasannya.
“Sayang, aku pasti beratkan, kamu
sedang meledekku kan?”
“Siapa yang meledekmu. Katakan apa
yang kau lakukan tadi di rumah.” Memainkan ujung rambut Daniah di pangkuannya.
“Aku tidak melakukan apabpun.”
Memang apa yang mau kulakukan.
“Aku hanya di dalam kamar bicara
dengan Maya dan mengecek kerja karyawanku di toko.”
“Itu saja?” mendorong tubuh Daniah
agar terbangun. Lalu dia juga bangun, menarik tangan Daniah mengikutinya.
Dia mau membawaku kemana?
Sebuah pintu terbuka saat Daniah
belum selesai dengan pikirannya.
“Tempat tidur? Sayang apa yang mau
kamu lakukan?” Sudah panik dan berusaha melepaskan tangan. Saga mendorong tubuh
Daniah sampai dia jatuh di atas tempat tidur dengan posisi terlentang. “
Sayang!”
Saga ikut menjatuhkan diri di
samping Daniah. Melingkarkan tangan, Daniah memberontak walaupun tidak terlihat
ia melakukannya dengan mencolok. Saga membenamkan wajahnya dalam pelukan
Daniah. Menempel di dadanya.
“Diamlah! Aku hanya ingin tidur
memelukmu.” Daniah menghentikan semua gerakan tubuhnya. Terdengar Saga
mendesah. “Aku lelah!” Mendengar itu Daniah refleks memeluk punggung Saga. Mencium
kepalanya yang terbenam di dadanya.
Helen pasti menjadi beban di hatimu
ya, maafkan aku yang tidak mempercayaimu.
“Tidurlah sayang, aku akan tetap
di sini saat kau bangun.”
Karena aku tidak akan melakukan
kesalahan yang sama seperti yang Helen lakukan.
__ADS_1
Bersambung..........