Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Bulan Madu (Part 14)


__ADS_3

Dari luar bangunan kafe masih


berdiri dengan  kokoh.  Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Hanya


para penjaga yang berdiri dengan setelan sempurna mereka, yang membuat


pemandangan kafe berbeda dari hari-hari lainnya. Rombongan para pengawal itu


datang sebelum helikopter mendarat. Tidak ada yang berani mendekat atau mencoba


mencari tahu apa yang terjadi. Ketika tadi terlihat helikopter menderu,


dan  mendarat di landasan halipad banyak


dari mereka yang keluar dari toko atau menghentikan aktifitas mereka. Sejenak


menonton. Tapi selang tidak lama deru kendaraan lain muncul.  Mereka adalah tim keamanan Antarna Group


lainnya. Mereka bisa dengan mudah di kenali dari emblem yang melingkar di jas


mereka. Emblem warna putih dengan logo Antarna Group yang terlihat jelas.


“Ada apa? Kenapa tim keamanan


perusahaan Antarna Group ada di di pulau ini?”


“ Aku melihat presdirnya ada di tv


tadi, sedang ada di kota XX.”


“ Katanya walikota kita berteman


dengan tuan Sagakan?”


“ Apa dia sedang berlibur?”


“ Tapi kenapa banyak sekali tim


keamanan di sini?”


“ Ada pristiwa besar apa ini?”


“ Aku melihatnya turun dari


helikopter tadi. Tapi sepertinya suasana hatinya terlihat buruk.”


" Dan kalian tahukan, orang yang selalu tertangkap kamera bersamanya. dia juga terlihat tidak senang tadi."


" Ya Tuhan ada apa, kupikir ini bisa jadi berkah untuk pulau kita karena kedatangan tuan Saga."


" Benar, tv nasional tadi juga mengundang wisatawan untuk wisata ke kotaXX dan kepulau kita karena dia muncul di tv."


“ Sudahlah, ini bukan urusan kita.


Orang kecil seperti kita menonton saja dari jauh.”


“ Tapi itukan kafe milik Haksan.


Apa dia membuat masalah dengan tuan Saga.”


“ Cih, aku akan bersyukur kalau dia


kena batunya.”


Sepertinya orang-orang memang kurang menyukai Haksan. Perangainya memang sombong, apalagi kalau menilik dari latar belakang keluarganya. Dia selalu memamerkan kedekatanya dengan walikota. Membuatnya cukup ditakuti di pulau ini.


Banyak yang mengeluarkan isi kepala


mereka. Tapi pilihan paling masuk akal keluar dari mulut  penduduk lokal adalah, jangan ikut campur.


Toko mereka salah satunya sempat di masuki Daniah tadi. Walaupun mereka tidak


menyadari sama sekali. Mereka hanya berfikir dua gadis pelancong kaya yang sedang


menghabiskan uang di tokonya. Mereka masih menonton sambil berspekulasi. Masih


ribut mencari alasan mereka masing-masing atas kemunculan tim keamanan Antarna


Group di pulau mereka. Saat tim keamanan mulai berdatangan lagi dari arah jalan


raya, lalu mereka seperti sudah dikomando  berpencar berada di posisi mereka masih-masing. Orang-orang berangsur


mundur dan menarik diri. Sepenasaran apapun mereka, tim keamanan Antarna Group


sudah seperti line polisi yang tidak bisa mereka lewati sembarangan. Hingga


mereka memilih membawa rasa penasaran dan obrolan mereka masuk ke dalam toko


mereka. Ada yang masih berusaha mengintip dengan berdiri di dekat jendela toko.


Tapi tidak ada yang terlihat. Tirai kafe tempat tim keamanan berkumpul sudah


tertutup. Membuat apapun yang terjadi di dalamnya tidak terlihat dari luar


sedikitpun.


Sementara itu di dalam kafe yang


sudah porak poranda. Han memerintahkan para pelayan wanita kafe yang masih


tinggal untuk membersihkan sebuah sudut meja. Mendorong pecahan kaca ke sudut


ruangan. Mereka dengan tangan gemetar berusaha menyelesaikan pekerjaan yang


diberikan. Sambil melirik takut pada para pengawal yang berdiri siaga. Lalu


orang-orang yang sedang berlutut di tengah ruangan. Anak buah bos mereka.


Serpihan kaca ada yang masih berserak di antara kaki mereka yang berlutut.


Sementara itu seorang laki-laki yang mereka kenali sebagai presdir Antarna


Group sedang duduk diam di kursinya.


“ Tunggulah di ruang ganti, dan


jangan membuat keributan di sana. Aku akan menemui kalian sebentar lagi.”


Perintah Han langsung di sambut anggukan kepala. Mereka membawa sapu dan tempat


sambah di tangan mereka. Tiga pelayan wanita itu sigap bergandengan tangan


menuju ruang ganti baju. Menunggu dalam diam. Tidak ada yang berani


membicarakannya. Walaupun mereka tahu siapa laki-laki yang duduk dengan aura


membunuh di ruangan tadi. Tuan Saga Rahardian, presdir Antarna Group. Dia memang

__ADS_1


sedang ada di kota XX ini. Stasiun tv nasional pagi ini menyiarkan berita itu.


Dan sekarang orangnya benar-benar ada di pulau ini.


“ Jangan membahasnya. Diam dan


berdoa saja agar semua baik-baik saja.” Salah satu mengkomando dengan tangan


bergetar. Yang lain mengangukan kepala dan mengunci mulut mereka. Berdoa kepada


Tuhan adalah pilihan paling tepat di situasi sekarang ini.


***


Kelima orang anak buah Haksan kaki


mereka sudah bergetar hebat. Ada yang sudah kesemutan karena menahan berat tubuh.


Sambil menahan sakit dan nyeri yang mulai menjalar ke seluruh tubuh. Mereka


memang mendapat pengobatan dari dokter jaga klinik tadi, tapi sepertinya tidak


menolong, karena rasa sakit itu masih mengerogoti. Mereka ingin berbaring dan


meluruskan kaki. Mereka melirik bos Haksan yang tidak berdaya.


Berharap menyelamatkan mereka, tapi


sepertinya harapan mereka hanya sia-sia.


Haksan yang terlihat paling menyedihkan, wajahnya saja pasti akan sulit


di kenali. Dia sudah babak belur. Sedari tadi dia sudah menjerit kesakitan.


Hanya terbaring di lantai saat dokter jaga memeriksanya. Terlihat seperti


gelandangan berbeda dengannya pada saat hari biasa. Saat ini dia sekuat tenaga bertahan untuk duduk.


“ Tuan, maafkan saya. Ampuni saya


tuan. Ampuni kami yang sudah menggangu anda.” Merintih kesakitan memegangi


lututnya. “ Kami tahu anda berhati mulia tuan.”


Saga berdecak di tempat duduknya.


“ Siapa yang bilang? Aku sama


sekali bukan orang yang pemaaf asal kalian tahu.” Ketukan jari-jari Saga di meja


semakin membuat semua orang menciut. Nyali Haksan lumer seketika untuk memohon.


Hanya bisa menundukan kepala. “ Kau bilang mengenal Ken tadi?


“ Ia tuan.” Berharap nama walikota


itu bisa menyelamatkan hidupnya.


“ Han.”


“ Ia tuan muda.” Laki-laki itu


muncul setelah mengurus semua cctv yang ada di dalam ruangan kafe dia sudah


melihat semua kejadian saat pertama kali Daniah masuk ke dalam kafe..


mengenalnya.”


“ Baik.”


Han melangkah menjauh. Menatap muak


pada laki-laki yang wajahnya tidak di kenali itu.


Kalau saja salah satu dari tiga mantan pacar


nona yang normal itu muncul pasti tidak sampai menimbulkan keributan semacam


ini. Malah anak ini yang muncul.


“ Hallo Han kau merindukanku. Kita


baru saja berpisah, kau sudah menelfonku.” Suara Ken dengan gaya bicara sok


akrabnya yang mendominasi. Sudah bicara lagi kemana-mana, Han sampai melotot


kesal melihat layar hpnya.


“ Habislah anda tuan, tuan Saga


sangat marah pada anda.” Menjawab semua rentetan kalimat panjang Ken dengan


satu kalimat berjuta makna.


“ Hei sialan. Kenapa jelaskan ada


apa?” Yang di sana langsung memaki keras. Apa lagi saat teriakannya hanya


di jawab kebisuan oleh Han. Han tidak menjawab setelah memberi teror ancaman. “


Hei sialan jawab!”


“ Beraninya kau memakiku.” Hp


ternyata sudah berpindah tangan. Membuat Ken yang berada di sebrang pulau


langsung seperti tersambar petih. Dia mengumpati Han beberapa kali dalam hati.


Tidak bilang kalau hp sudah ada di tangan Saga.


“ Maafkan aku Saga. Aku tidak


memakimu, sumpah, aku bicara pada Han tadi.” Menarik nafas menenangkan diri.


Bangun dari duduk dan menarik nafas pelan sambil mengerakan tangan naik dan


turun. “Ada apa? Apa ada masalah?”


Jangan sampai ada masalah di


kotaku! Ken memohon dan berdoa.


“ Kau kenal dia?” tunjuknya pada


orang-orang yang sedang berlutut di hadapannya. Lupa kalau dia sedang bicara


dengan orang ditelfon. Dan orang yang sedang bicara padanya sama sekali tidak

__ADS_1


melihat siapa yang dia tunjuk.


Siapa? Siapa yang kau maksud.


Akukan tidak melihat siapapun yang kau tunjuk. Ken panik di sebrang pulau.


“ Hei, siapa namamu tadi?” Bertanya


langsung pada Haksan yang sedang menahan sakit.


“ Haksan tuan.” Seorang pengawal


menyebutkan sebuah nama. “Pemilik kafe XX di pusat perbelanjaan oleh-oleh.”


Saga menyebutkan nama dan identitas


Haksan dengan nada geram. Dan terdengar jelas nada suara itu di telinga Ken.


Saga benar-benar murka. Ken


terduduk di kursi kerjanya. Menduga-duga apa yang terjadi.


“ Dia anak kolegaku. Kenapa? Apa


dia melakukan kesalahan padamu.”


“ Dia menggangu istriku.” Mata Ken


terbelalak, dia bahkan hampir terjatuh dari kursinya.


Bocah gila, aku tahu kau akan


membuat masalah. Tapi kenapa harus dengan Saga. Menggangu istrinya lagi, aku


bahkan yang hanya ingin bertemu saja tidak di izinkan. Kau malah menggangunya.


“  Aku akan memberinya pelajaran. Aku minta maaf


atas namanya” Walaupun tahu tidak mungkin masalah ini selesai hanya dengan Ken


minta maaf. Laki-laki itu ingin segera bertemu dan memohon saja.


“ Dia menyentuh istriku. Beraninya  dia menyentuh Daniahku.” Tatapan Saga saja bisa


merobek tubuh seseorang. Haksan yang hanya merintih kesakitan semakin menciut.


Awalnya dia berfikir kalau dia mengenal walikota itu bisa menyelamatkan hidupnya.


Tapi ternyata.


“ Kau tidak menyuruhku mematahkan


tangannyakan?” Ken takut-takut menyahut.


“ Aku tidak mengatakan begitu.” Menjawab


dingin.


“ Tentu saja, Saga pria berhati


mulia.” Ken Mengelus dada lega.


“ Hatiku tidak semulia itu.” Dingin


menjawab.


Sialan! Kau benar-benar mau aku


mematahkan tangan bocah itukan.


“ Aku akan mengurusnya dan


menghubungi orang tuanya.”


“ Ken, kau pilih kolegamu atau


aku.” Pertanyaan yang membuat Ken ingin menangis darah karena tahu maksudnya.


Bunuh saja aku Saga!


“ Tentu saja tuan Saga yang


terhormat, kau yang lebih utama dari segalanya. Kau sahabat sekaligus pendukung


utamakukan. Aku akan membereskan semuanya untukmu. Sebagai bentuk permohonan


maafku aku akan datang ke pulau dan berlutut di depan istrimu minta maaf atas


kekacauan ini.”


“ Hei, siapa yang menyuruhmu


datang. “ Berteriak kesal. Saga tidak menyadari kalau sedikit saja suaranya


meninggi membuat orang-orang yang terduduk dilantai itu semakin gemetar


ketakutan.


“ Aku mau minta maaf pada kakak


ipar karena membuatnya menderita di kotaku.”


“ Jangan panggil Daniahku kakak


ipar. Jangan datang ke vila, kalau tidak mau aku menghajarmu. Bereskan saja


dia, atau kau mau Han yang turun tangan.”


 Seenaknya saja mau bertemu dengan Daniahku setelah pristiwa ini.


“ Baik, akan ku bereskan semuanya


tuan Saga. Sampaikan salam dan permintaan maafku untuk kakak ipar ya.”


“ Jangan panggil Daniahku kakak


ipar.”


Mati saja kau Ken, kau benar-benar


seperti Harun. Siapa yang kakak iparmu. Dia Daniahku.


Semua orang semakin menciut nyalinya. Hanya Han yang terlihat mengelengkan kepala sambil mendesah.


Kenapa anda malah ngelawak di situasi seperti ini tuan muda.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2