Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
39. Tidur Bersama


__ADS_3

Lihat dia, tersenyum seperti orang bodoh. Seharian ini aku sudah mengerjainya habis-habisan, tapi sekarang dia masih menonton TV sambil tertawa seperti orang gila. Sial Sebenarnya apa yang kulakukan seharian ini. Aku pura-pura sakit hanya untuk puas mengerjainya.


Saga menyandarkan kepalanya. Mengacak rambutnya sendiri. Hari ini Helena kembali, wanita yang dulu pernah mengisi kehidupannya. Karena kembalinya wanita itu membuat pikirannya campur aduk. Ada penasaran yang menggelitik hatinya, namun tertutup dengan ego yang jauh lebih besar. Membuatnya bukannya pergi menemuinya, malah main rumah-rumahan dan asik mengerjai Daniah.


Aku malah asik dengannya sampai melupakan apa yang membuatku malas keluar rumah hari ini. Lihat itu, dia tersenyum lagi. Kurang ajar, dia bahkan tidak pernah tersenyum setulus itu padaku. Bisa-bisanya dia tersenyum begitu saat nonton TV.


“Daniah!” panggilnya keras.


“Ia.”


Eh, tadi dia menyebut namaku kan.


Daniah segera beranjak dari sofa menuju tempat tidur.


“Apa ada yang Anda butuhkan lagi Tuan?”


Sampai kapan kau akan pura-pura sakit.


“Duduk! Kakiku sakit.”


Apa! Lagi! Kalau kau sesuka itu dipijat, panggil tukang urut profesional sana.


Daniah duduk dan mulai memijat kaki Saga di pangkuannya.


“Kamu sedang apa?” Menunjuk kursi sofa yang tadi dia duduki.


“Menonton TV.”


“Nonton apa?” bertanya lagi.


“Lawakan.”


Sial! Kenapa menjawab pendek-pendek begitu hah! Aku kan jadi bingung harus bertanya apa lagi.


“Kau tidak senang merawatku hari ini?” Nada bicaranya sudah mulai kesal.


“Haha, bagaimana mungkin saya tidak senang Tuan, ini sudah merupakan kehormatan sebagai istri Anda.”

__ADS_1


“Baguslah kalau kau tahu. Tidak sembarang orang bisa menyentuhku walaupun mereka ingin.” Daniah mengeraskan pijitannya. “Aww sudah gila ya, kau mau mematahkan kakiku.”


“Maaf Tuan. Kalau seperti ini sudah pas kan?”


“Hemm. Ahhh minggir, pijatanmu sama sekali tidak enak. Pergi ke sekolah memijat sana, biar tanganmu bisa berguna.”


Daniah diam saja, berfikir kalau itu hanya gurauan.


“Tidak menjawab?” Dia terkejut karena ternyata Saga serius.


“Baik Tuan saya akan ikut kursus memijat.”


“Matikan TV berisik itu, aku mau tidur.” Saga sudah menarik selimutnya.


“Baik.”


Daniah geleng kepala, pusing sendiri tidak bisa menebak suasana hati laki-laki di hadapannya. Dia berjalan ke sofanya. Mematikan TV lalu mematikan semua lampu.


Sial! Karena hari ini aku harus melayaninya aku sampai tidak bisa bicara dengan orang lain. Aaaa, aku ingin bicara dengan sesama manusia.


Daniah melirik tempat tidur, cahaya remang-remang memperlihatkan kalau Saga sepertinya sudah berbaring di bawah selimut. Dia berjinjit berjalan ke pintu. Pintu setengah terbuka.


Hp di tangannya terjatuh karena terkejut.


“Saya belum mengantuk Tuan, jadi mau keluar sebentar.”


“Tutup pintu dan kemari!” Daniah menurut mendekat ke tempat tidur. “Naik.” Perintah selanjutnya dari Saga.


“Na, naik kemana Tuan?”


“Naik ke tempat tidur.” Semakin kesal suaranya terdengar.


“Ke, kenapa?” Pikiran Daniah sudah kemana-mana, ini level penyiksaan paling mutahir pikirnya.


“Kenapa?  Malah bertanya. Tidak dengar aku bilang. Aku menyuruhmu naik ke tempat tidur.”


“Ia Tuan.” Daniah sudah merasai sinyal merah dari nada ucapan Saga. Dia mulai gusar karena kata-katanya dibantah.

__ADS_1


“Mulai hari ini, kau tidur di tempat tidur.”


“Tapi Tuan bilang agar saya jangan mimpi untuk tidur bersama Anda.”


Daniah sudah tidur di bawahn selimut. Berada di pinggir, di sebelahnya ada bantal guling sebagai pengaman yang memisahkan.


Saga tergelak “Aku menyuruhmu tidur di tempat tidur, bukannya mau menidurimu.”


“Haha, maafkan saya sudah berharap lebih.” Tertawa seperti orang yang kecewa. Dia harus benar-benar terdengar seperti orang yang berharap.


Aku pasti sudah gila, siapa yang mau tidur satu tempat tidur denganmu iblis.


“Bermimpilah kalau mau aku tergoda oleh mu.”


“Hahaha.”


Untunglah.


...***...


Grab! tidak tahu sekarang jam berapa.


Mata Daniah terbuka, antara sadar dan tidak.


Apa ini, tangan, kaki. Haaaaaa, kenapa dia memelukku seperti bantal. Aku harus bagaimana ini. Sial, di mana guling yang memisahkan kami tadi si.


“Tu, Tuan Saga.” Daniah berusaha mengangkat lengan yang mendekap tubuhnya.


Kenapa berat sekali! Aaaaa, tolong. Dan kaki ini, aku tidak bisa bergerak. Kalau aku dorong tubuhnya pasti bisa geser kan.


“Jangan menggangu tidur tuan muda, itu hal yang paling terlarang di rumah ini.”


Bagaimana ini, aku ingat kata-kata Pak Mun, membuatku merinding. Kalau aku mendorongnya dan dia bangun lalu dia murka bagaimana. Baiklah terserah, anggap saja aku sedang dipeluk gorila. Kalau aku melepaskan diri malah aku yang akan diterkam. Baik, baik sekarang pejamkan saja mata. Besok aku harus pergi ke galery dan bertemu Helena. Wanita yang bisa membuatku lepas dari penjara ini.


Nafas Daniah sudah terhembus pelan, artinya dia mulai memasuki mimpi dan terlelap. Sementara sebuah senyum penuh kemenangan muncul di bibir Saga yang mempererat pelukannya.


Sementara malam semakin larut sepertinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG................


__ADS_2