Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
133. Prolog Musim Kedua


__ADS_3

Kisah Daniah dan Saga akan berlanjut....


Pengakuan cinta Saga Rahardian yang


dilakukan live di stasiun TV telah merubah banyak hal.  Mencatatkan sejarah sebagai live acara TV


yang mendapatkan rating tertinggi untuk acara siang hari. Pembahasan tentang mereka


tidak ada habisnya, walaupun fakta siapa sosok Daniah, tidak pernah terungkap


ke publik. Tidak ada informasi khusus tentangnya. Dan tidak ada yang berusaha mencari tahu detailnya. Hanya nama-nama Daniah yang bertebaran di internet, tetapi bukan sosok sebenarnya dari wanita yang dimaksud Saga.


Hari itu terjadi peristiwa besar yang tidak


akan mudah dilupakan oleh setiap orang. Terutama bagi mereka yang terlibat dalam hubungan rumit di kehidupan Saga dan Daniah.


Wanita cantik yang selalu membiarkan rambut hitamnya jatuh ke bahunya itu terlihat sangat terpukul, melihat apa yang ia saksikan saat ini.


Helen menjatuhkan kuas di tangannya,


memporak porandakan cat yang ada di atas meja. Tumpah mencipta lukisan abstrak


di dinding dan juga lantai. Dia menggigil gemetar di sudut ruangan, sebelumnya dia


sudah merobohkan kanvas putih di hadapannya. Tangannya sakit, saat menjatuhkan


cat-cat di meja tadi. Namun ia seperti tidak merasakan apa-apa. Ia menatap TV


penuh dengan kebencian teramat sangat, melihat Saga yang bahkan sekarang tidak


bisa ia sentuh dengan tangannya. Apalagi saat nama Daniah disebutkan. Saat itu


Saga bahkan dengan perasaan sangat bahagia menyebutkan perasaan hatinya. “Dia


bahkan tidak pernah mengakui perasaan cintanya padaku di hadapan orang lain.”


Helen masih terduduk di tempatnya, bahkan saat acara di TV selesai.


Sementara itu, di rumah utama, ibu


sedang menonton di kamarnya sendirian. Menjatuhkan gelas teh yang ada di


tangannya ke lantai. Dia bahkan tidak menghindarkan kakinya dari cipratan air


teh yang memercik. Sedikit panas tersisa di kulit kakinya, tapi itu tidak


seberapa di banding perasaannya saat ini. “Saga mengakui perasaannya pada


Daniah di hadapan dunia.” Tubuhnya masih membeku menatap layar TV. Pikirannya


yang berlarian, menemukan rencana apa pun yang bisa ia pakai sebagai pegangan.


Bahwa Daniah tetap tidak pantas menjadi ibu dari anak putranya, pewaris


keluarga Saga Rahardian kelak. Hingga ia mencoba menyusun rencana apa pun yang bisa ia pakai untuk mencegah itu. Menunda atau kalau perlu mencegah kehamilan Daniah.


Di sebuah kafe yang cukup ramai,

__ADS_1


pemilik kafe sengaja mengeraskan volume TV. Tidak ada yang merasa terganggu.


Mereka bahkan sedang menikmati dan menonton acara TV bersama. Ada yang bersorak


girang di sudut meja, seperti dia ikut terlibat.  Sementara di ujung tempat duduk di dekat


jendela, di mana mereka bisa melihat TV dengan jelas. Noah dan Tamara saling


menggenggam tangan masing-masing. Mereka saling pandang. “Akhirnya Saga


mengakui perasaannya pada istrinya. Tama, walaupun aku agak kesal karena Helen


sudah menipuku selama ini. Tapi dia pasti sedang menangis sekarang.” Tama


menepuk tangan Noah.


“Ini bukan salahmu sayang. Hubungi


dia nanti dan tanyakan kabarnya. Dia pasti sangat terluka sekarang, jangan


tinggalkan dia sebagai teman.” Noah sangat berterimakasih memiliki wanita sebaik


Tamara di sampingnya. Seseorang yang bisa memahami hubungan rumit antara


dirinya, Helen dan Saga. Saga, semoga kamu bahagia dengan pilihan hidupmu yang


sekarang gumam Noah dalam hati.


“Kamu saja butuh waktu satu tahun


untuk melepaskan Helen kan.” Suara lembut Tamara.


Lagi-lagi Tamara menepuk bahu Noah. Wanita ini seorang psikolog yang membantu


Noah keluar dari lembah keterpurukan. Setahun lalu mereka mulai melakukan


konsultasi secara berkesinambungan. Butuh waktu yang sangat lama sampai Noah


berhasil menuntaskan perasaannya dan membuka hatinya. Hingga akhirnya mereka


sepakat saling menguatkan sebagai sepasang kekasih. “Aku akan menemui Helen


nanti.” Mereka kembali menatap TV sambil berpegangan tangan.


Keluarga Daniah tidak luput berada


di depan TV. Mereka menonton tanpa ada yang bicara. Orangtua Daniah membisu


duduk berdampingan, tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Mereka sedang


membuat daftar kesalahan terburuk apa yang sudah pernah mereka lalukan. Risya


menggigit bibirnya penuh rasa iri. Bagaimana Daniah bisa begitu beruntung dalam


hidupnya. Begitu yang ia pikirkan. Andai dia yang menikah dengan Tuan Saga.


Andai dia dulu yang harus berkorban. Mungkin hanya itu yang dilihatnya sekarang, dia mengesampingkan atau memang tidak tahu, bagaimana perjuangan Daniah bertahan selama ini. Sekali lagi di rumah ini hanya Raksa yang benar-benar merasa sangat bahagia dengan apa yang mereka lihat di TV saat ini.

__ADS_1


Terimakasih Tuhan, sudah membuat Kak Niah bahagia. Begitu sepanjang acara yang


terlintas di pikirannya. Yang ia ucapkan berulang dalam hatinya.


Sementara itu, jauh di tempat lain, seseorang yang tidak terlibat secara langsung, tapi pernah memiliki sejarah kelam dengan salah satu petinggi di Antarna Group,  di sebuah


toserba 24 jam seorang gadis sedang duduk sambil menatap TV yang terpasang di


toserba. Sorot mata keputusasaan itu berubah menjadi kesal. “Aaaaaa, aku


harusnya masih ada di stasiun TV itu sekarang.” Agak keras dia bicara sampai


wanita yang berdiri di belakang kasih meliriknya. Dia memalingkan wajah, meraih


cup mi yang sudah dia seduh. Yang sudah dia diamkan beberapa menit, karena waktunya tersita menatap TV.


Tuan Saga ada di stasiun TV,


sekarang dia pasti ada di sana kan. Iblis yang yang sudah menghancurkan hidupku.


Baiklah, baiklah, itu memang salahku. Hiks, hiks, aku yang tergoda dengan uang sampai


mempertaruhkan hidup dan pekerjaanku. Aku tidak mati saat itu sudah keberuntunganku.


Dan aku mengakui karena kemurahan hatinya. Karena aku cuma serangga pengganggu


yang akan mengotori sepatunya kalau dia menginjakku. Makanya dia melepaskan aku.


“Jahatnya dia dan bodohnya aku.”


Gadis itu hanya bisa mengutuki


dirinya. Kesalahan beberapa tahun lalu yang menghancurkan hidupnya. Saat ini


untuk bertahan hidup dia bekerja menjadi penulis online novel, di banyak


aplikasi penyedia jasa baca online. Selain itu juga bekerja part time di sebuah


gerai makanan cepat saji.


Cih, aku bahkan tidak bisa meluruskan


rambutku demi menghemat uang untuk hidup. Dia merapikan rambutnya ke belakang


telinga. Melihat pantulan wajahnya di kaca toko. Sekali lagi melihat layar TV,


sambil menggigit bibirnya dengan kesal.


“Tuan Saga memang tampan sekali,


tapi iblis jahat itu juga tampan si.”


Gadis itu mengusir apa pun yang muncul dalam pikirannya, saat ini hidup seperti ini sudah lebih dari cukup baginya. setelah mengganggu harimau, dia tidak mati itu sudah keberuntungan. Dia akan hidup dengan tenang dan tidak terlihat seperti biasanya. Setelah selesai dengan makanannya, dia menyeret kakinya keluar dari toserba. Kembali ke kontrakan sempit yang ia sewa untuk menulis novel dan hidup selama ini.


Mungkin sebentar lagi hidupmu akan berubah nona penulis ^_^


Kisah akan berlanjut....

__ADS_1


selamat membaca


__ADS_2