Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
24. Alasan Meluruskan Rambut


__ADS_3

Daniah menatap dirinya di balik cermin kamar mandi. Ia bisa gila sendiri melihat rambutnya yang sekarang. Ini bukan dirinya. Ya walaupun memang terlihat lebih rapi, lebih cantik. Cih, cantik. Ya Daniah tahu satu kata itu tidak tidak akan pernah mewakili dirinya. Tapi memang dia terlihat lebih baik dengan gaya rambut seperti ini.


Kenapa aku tidak pernah mencoba meluruskan rambutku ya. Ya, omongan ibu tiriku yang mengatakan rambutku menjijikan seperti milik ibu, malah membuatku ingin menyiksanya dengan melihatnya setiap hari. Kekanakan sekali. Biarkan saja. Sekarang wanita itu pasti sangat senang karena tidak melihat rambutku ini kan. Apa Tuan Saga akan menyukainya ya kalo melihat. Haha, memang apa peduliku kalau si gila itu suka atau tidak.


Daniah keluar dari kamar. Memeriksa hp. Kenapa Sekretaris Han tidak mengirimkan pesan apa-apa ya. Apa Tuan Saga tidak pulang untuk makan malam. Daniah menuruni tangga. Dia berpapasan dengan pelayan yang sedang mengatur meja makan. Pelayan itu terlihat terkejut, lalu menundukkan kepala sopan pada Daniah.


Ya, kau pasti melihat aneh rambutku ya.


Daniah mencari di mana kepala pelayan. Ternyata dia sedang di dapur memberikan beberapa instruksi kepada para pelayan yang lain.


“Permisi Pak Mun.”


Dia langsung berjalan mendekati Daniah. “Ada yang bisa saya bantu Nona?”


“Tidak ada apa-apa Pak. Saya hanya mau bertanya, apa Tuan Saga tidak kembali ke rumah untuk makan malam.”

__ADS_1


“Tuan muda tidak makan malam di rumah malam ini, karena ada pekerjaan.”


“Begitu ya, kapan dia akan pulang?” tanya Daniah lagi memastikan.


“Saya belum mendapat informasi pastinya Nona. Biasanya tengah malam, nanti saya akan bangunkan Nona jika tuan muda kembali.”


“Hehe ia Pak. Hidup Pak Mun berat sekali juga ya sepertinya. Ayo kita tos.” Daniah menggantung tangannya di udara. Di hadapan Pak Mun, laki-laki itu terdiam dan hanya memandang bingung. “Tos. Begini.” Daniah memperagakan. Pak Mun walaupun canggung mengikuti. “Semoga hidup kita lebih baik kedepannya.” Pak Mun menganggukkan kepalanya, walaupun masih tidak mengerti apa yang dimaksud Daniah.


Jadi Pak Mun itu kapan tidur dan istirahatnya ya. Kira-kira berapa ya gajinya.


“Wahhh, wahhhh siapa ini?”


“Kau meluruskan rambutmu?”


“Haha, supaya apa? Supaya terlihat seperti kakak di foto yang ditunjukan Clarissa tadi pagi.”

__ADS_1


Sial! Kenapa memang momennya pas begini.


Daniah geram sendiri.


Ini perintah kakak gilamu kenapa waktunya pas begini. Aku bicara apa pun hanya terdengar sebagai dalil menggelikan. Malah aku yang akan malu. Jadi baiklah, sebaiknya aku mengalah dan diam saja.


Oh, apa kalau Daniah diam saja masalah selesai. Tentu tidak wahai penduduk bumi. Mulut berbisa dua adik ipar malah semakin menjadi-jadi. Daniah sudah tidak tahan. Telinganya perih. Apalagi saat melihat ibu mertuanya yang malah tersenyum senang melihatnya terhina seperti itu.


Brak! Daniah menggebrak meja makan. Meletakan sendok. Dia siap menyerang balik setiap ucapan yang dikeluarkan dari bibir cantik kedua adik iparnya. Dan pertengkaran pun terjadi. Semua orang bicara dengan suara keras. Daniah mendelik tajam pada ibu mertuanya yang kenapa hanya menonton dan menikmati pertunjukan.


“Terimakasih makan malamnya hari ini Pak Mun.” Daniah menoleh pada Pak Mun yang berdiri tidak jauh dari meja makan. Posisinya saat semua penghuni rumah ini makan.


“Anda bahkan belum makan malam Nona, kembalilah ke meja Anda. Anda harus makan, kan?”


“Saya sudah tidak berselera.”

__ADS_1


Daniah meninggalkan ruang makan. Berjalan tidak tahu ke mana langkah kakinya melangkah. Dia sendiri belum sempat berkeliling rumah ini. Tapi dia tetap membawa kakinya melangkah, toh dia tidak mungkin kesasar kan. Penjaga rumah ini saja ada di setiap sudut rumah. Kalau dia kesasar dia akan bisa bertanya juga.


BERSAMBUNG.....................


__ADS_2