Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Bulan Madu (Part 17)


__ADS_3

Sementara itu kembali ke vila,


masih berdiam diri di kamar utama. Tidak ada siapapun yang mendekati kamar.


Bahkan pak Mun hanya terlihat berkeliaran di lantai bawah. Setelah membawa


makanan dan minuman camilan selingan setelah makan tadi. Para penjaga dan


pengawal setelah lelah bermain air mereka masih terlihat berleha-leha di bibir


pantai. Walaupun begitu tetap masih terlihat beberapa penjaga yang tidak


meninggalkan pos mereka dan tetap bersiaga. Mereka adalah penduduk lokal yang


bertugas menjaga keamanan vila.


Lalu, apa yang dilakukan 2  penghuni kamar utama,  sepertinya mereka sama sekali tidak terlihat


bosan walaupun sudah hampir separuh hari mereka habiskan di atas tempat tidur.


Daniah menyetel wajah cemberutnya.


“ Sayang kenapa sepertinya hanya


kamu yang diuntungkan dari hukuman ini.” Daniah merengek di sela-sela


kemenangan yang dia dapatkan. Dia yang menang tapi malah Saga yang senang.


“ Apa! protes saja. Sudah cium  sini.” Laki-laki itu menunjuk beberapa bagian


tubuhnya yang belum terkena tanda lipstik dari kecupan bibir Daniah. Tubuh Saga


sudah polos sedari tadi, tidak tahu teronggok di mana pakaiannya. Bekas kecupan


merah lipstik sudah menempel di beberapa bagian tubuh yang kasat mata.


kalau kau yang menang kau boleh


menciumku di semua bagian tubuhku, kalau aku yang menang aku akan menciumu di


bagian manapun yang kusuka.


Kenapa taruhannya jadi begini si!


Rasanya ingin menangis. Ini sama sajakan. Dia malah senang sekali kalau aku


yang menang! Lihat, gelak tawanya semakin terlihat puas gitu kalau aku yang


menang.


Mereka sudah  sepuluh kali


tanding dalam permaian game, Daniah delapan kali menang dan dua kali kalah. Di


lihat dari semua tanda kecupan bibir di tubuh Saga sepertinya hari ini


laki-laki itu benar-benar menang banyak, walaupun dia kalah telak sampai


delapan kali permainan. Selain memang tidak terlalu lihai bermain game, tapi


sepertinya kekalahannya membawanya pada peruntungan. Hingga membuatnya sengaja


mengalah beberapa kali, terlihat dari senyum jahatnya kalau Daniah protes


sedari tadi.


“ Sudah aku tidak mau main lagi.”


Melemparkan hp ke ujung tempat tidur.


Masak dari tadi aku menang terus


si, sudah kalau aku yang menang dia yang dapat hadiah lagi.


“ Kenapa? Inikan idemu main game.”


Sudah melingkarkan kakinya memeluk tubuh Daniah karena gadis itu mau beranjak


meninggalkan tempat tidur. “Kau mau kemana?”


Ia si mauku memang begitu,


mengerjaimu. Tapi kenapa aku jadinya yang dikerjai habis-habisan.


“ Sayang lepaskan aku.” Daniah


berontak mengoyangkan tubuhnya yang terhimpit kaki panjang Saga. Sia-sia


kekuatannya kalah jauh. Suaminya sama sekali tidak mau melepaskannya. Semakin


dilawan, Saga semakin keras menakan kakinya.


“ Tidak mau, ayo main lagi. Bagian


sini belum kena cium ni.” Saga menunjuk bagian tubuhnya yg belum ada tanda


bibir Daniah.


Aaaaaa, gila ya.


“ Lihatkan, kamu sengaja kalah


kan.” Memukul bahu Saga beberapa kali. “Curang itu namanya.”


Baru kali ini ada yang sengaja


kalah demi dapat hadiah.


“ Mana ada begitu sudah mulai


lagi.” Menarik ujung rambut Daniah. “Kalau kau berhenti kau di hukum lho, itu


perjanjiannyakan.”


Kenapa ada orang seenaknya begini


si, main game saja gak mau ngalahnya.

__ADS_1


Akhirnya kesepakatan di ulang,


selain kecupan Daniah boleh melakukan apapun sesuai yang dia inginkan kalau dia


menang.


“ Terserah, lakukan sesukamu.”


Katanya mengalah saat protes kembali datang. “ Memang kau mau melakukan apa


heh? Awas ya kalau aneh-aneh.” Daniah hanya membalas senyum imut sambil


mengedipkan mata dan menjentikan jarinya ke dagu suaminya.


Saga mengoleskan lagi lipstik ke


bibir istrinya. Sambil tergelak lebar penuh kemenagan. Hari ini dia


pemenangnya, walaupun kalah sekalipun. Dan akhirnya  selain sekujur tubuhnya penuh tanda bibir


tanpa tersisa ruang lagi,  tapi kali ini rambutnya


juga sudah penuh dengan kucir-kucir kecil yang di buat Daniah. Berbarengan


dengan hujan tanda lipstik di tubuhnya.


“ Haha.” Daniah tertawa sampai


terguncang bahunya kuat. Bagaimana tidak, tuan Saga yang rupawan sekaligus


terkadang menakutkan itu bisa terlihat begitu mengemaskan dengan kucir-kucir


kecil di rambutnya.


“ Kau benar-benar mau mati ya.”


“ Sayang, kamu jadi imut begini.” Memukul


bahu Saga lagi sambil tergelak lebar.


“ Kurang ajar sekali kamu ya.


Baiklah karena tertawa senangmu itu mengemaskan lakukan saja sesukamu.” Gantian


menghujani Daniah dengan ciuman bertubi-tubi sampai baju tidur yang dipakai


istrinya sudah tidak berwujud lagi.


“ Ampun, ampun.  Ampuni hamba yang mulia.” Saga tidak


mengentikan apa yang dilakukannya sampai Daniah tersungkur pasrah dan tidak


lagi mengunakan tangannya untuk menolak. Membiarkan Saga melakukan apapun yang


ia inginkan. Kalau tanda liptik dari bibir Daniah di tubuh Saga mungkin akan


tersapu air dan hilang dalam sekejap. Tapi sepertinya tidak dengan tanda merah


yang di tinggalkan Saga di tubuh Daniah.


Siang menjelang sore Daniah


***


“Sayang ayo foto sebentar buat


kenang-kenangan.” Menarik Saga jatuh lagi ke tempat tidur. Laki-laki itu sudah


mau bangun dan membereskan rambutnya. “Jangan di lepas dulu, kita foto dulu.”


Mencegah tangan yang sudah menarik satu ikat rambut.


“ Wahh. Kau benar-benar semakin


kurang ajar ya. Minta yang aneh-aneh.” Tapi dia tetap berpose menyenangkan


istrinya. Cekrik-cekrik banyak sekali Daniah mengambil foto. Bertepatan dengan


mereka mengambil foto, hp yang dipakai Daniah berdering keras. “Sayang, Jen


vidio call, aku angkat ya.”


“ Hemm” Beranjak dari tempat tidur.


“ Eh mau kemana?”


“ Merapikan rambut, kau mau melihat


mereka pingsan gara-gara tatanan rambut anehmu ini.”


“ Haha, ia sayang. Aku tunggu di


sini ya” Daniah menarik selimut sampai menutupi bagian atas tubuhnya. Lalu


mengeser layar hpnya. Di dalam layar Jen dan Sofi sudah senggol-senggolan ingin


berada yang paling depan dan menyapa duluan.


“ Kakak ipar!” Teriak mereka


bersamaan.


Mengalirlah cerita dramatis mereka


berdua selama ditinggal bulan madu. Cerita menyerahnya Jen mengejar Raksa


karena terpikat pesona keren pacar Raksa. Hubungan kakak adik diantara mereka


terbilang lancar sentosa. Walaupun hati Jen belum sepenuhnya merelakan. Sofi


mengadu tentang dia disumpahi berjodoh dengan sekertaris Han.


“ Apa yang kalian lakukan?” Saga


sudah muncul dengan sisiran rambut dan pakaian rapi. Duduk di samping Daniah


sambil melingkarkan tangan memeluk dan menyandarkan dagu di bahu istrinya.

__ADS_1


“ Kak Saga terlihat makin tampan


lho, apa karena kakak ipar ya?” Jen mengoda saat melihat kakak laki-laki


tersayangnya.


“ Kak Jen, kenapa leher kak Saga


merah-merah?” Sofi dengan polosnya menunjuk leher Saga, beberapa tanda lipstik


memang tidak tertutup sempurna. Daniah yang panik.


“ Haha, sofi tadi kami main


coret-coretan.” Daniah tertawa sambil berusaha menutupi leher Saga dengan menarik kerah bajunya ke atas.


“ Kalian belum cukup umur untuk


tahu.” Jawaban acuh Saga dibalas keributan dua adiknya. “ Apa ibu sudah


kembali?” tanya Saga lagi.


“ Besok kak sepertinya, kami sudah


boleh pulang kerumahkan kalau ibu sudah pulang?”


“ Han akan mengurusnya besok.”


“ Baiklah, kakak kapan pulang.” Masih ribut sambil membahas tentang leher kakak tersayang mereka. Sofi terlihat berbisik lagi di telinga Jen.


“ Kapan ya? Aku senang di sini.” Mencium


rambut Daniah di depan Jen dan Sofi, mencipta kehebohan mereka berdua. Daniah


sampai geleng kepala dan menahan bibir Saga untuk melakukan lebih dari itu


dengan tangannya.


“ Kakak ipar nanti pulang sudah bawa kabar


tentang keponakan kami ya." Cekikikan lagi dua bersaudara itu.


Hah! Mulai lagi deh.


“ Kenapa kalian hanya di kamar tidak main di luar.” Sofi bicara lagi, pertanyaan sederhananya yang tidak pada tempatnya, mencipta gelak tawa.


“ Hei, kalian belum cukup umur untuk sok tahu. Sudah, tutup.


Meladeni mereka tidak akan selesai.”


“ Sayang, kan baru sebentar.” Daniah menoleh lalu


terperanjak kaget saat tahu tangan suaminya sudah menyentuh bagian tubuhnya


di bawah selimut. Dia berbisik “ Tutup sekarang atau.”


“ Ia, ia. Turunkan tanganmu sayang.”


Aaaaa, selimut ini jatuh nanti!


Setelah sambungan telfon terputus. Daniah memukul tangan Saga


yang kelewat usilnya. Lalu ambruk lagi di tempat tidur. Mengekspresikan perasaan melalui setiap gerakan tubuh mereka.


“ Sayang, kamu tahukan sebentar lagi aku ulang tahun.” Hanya saling mempererat pelukan.


“ Hemmm.”


“ Apa aku boleh minta sesuatu.”


“ Katakan apa yang kau mau, Han akan menyiapkan semuanya.


Kau mau pesta?”


“ Bukan. Sekertaris Han tidak bisa menyiapkannya, cuma kamu


yang bisa memberiku ini.” Ada rona muncul di wajah Saga. Kenapa kata-kata


Daniah terdengar dia menjadi seseorang yang spesial.


“ Kau mau minta apa? separuh dari kekayaanku.” Menciumi


kepala Daniah dan sudah asik bermain-main dengan rambut.


“ lebih dari itu.”


“ Haha, tidak tahu malu sekali kamu ya.”


“ Bolehkan, janji ya, sayang, kamu akan mengabulkan apa yang


aku minta.”


Saga memutar posisi tidurannya, Daniah sudah ada di bawah


dadanya, dan kaki laki-laki itu sudah seperti menindih tubuh kecil Daniah. Tapi


Saga masih bertumpu pada berat tubuhnya sendiri.


“ Niah.” Meraih bibir Daniah dan menciumnya. “Kalau


permintaanmu hanya omong kosong tentang kebebasan, pergi keluar rumah sendiri


tanpa pengamanan kau tahu apa yang akan kau dapatkankan.” Mencium lagi dengan durasi yang lebih lama.


Ia, aku tahu, kau pasti mungkin bahkan tidak akan


mengijinkanku keluar rumah.


“ Tidak, aku tidak akan minta itu.”


“ Baiklah, kau bisa minta sekarang.”


“ Tidak, aku akan minta nanti dihari ulang tahunku, tapi


sekarang berjanjilah kau mau mengabulkannya.”


Bodoh! Memang apa yang tidak akan kuberikan untukmu.

__ADS_1


Kembali meraih bibir Daniah dengan lembut. Dan berhenti bicara dengan mulut tapi tidak dengan anggota tubuh mereka.


Bersambung


__ADS_2