Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
154. Bulan Madu (Part 1)


__ADS_3

Waktu kembali berputar, matahari


kembali bersinar. Di musim cerah seperti ini, langit pagi pun sudah berwarna biru


terang.  Kalau jadwal rutin biasanya,


hari ini pasangan suami istri itu  sudah


keluar kamar dan menikmati sarapan. Namun sepertinya hari ini tidak seperti


biasanya. Langit cerah terus bergerak menuju siang. Dan pintu kamar mereka


masih tertutup rapat.


Terlihat Saga keluar dari ruang


ganti baju, mengeringkan rambutnya. Suasana hatinya terlihat senang, bisa dilihat dari senyum yang muncul di bibirnya. Dia memakai pakaian


yang cukup santai. Tanpa setelan jas seperti biasanya selalu melekat di tubuh


sempurnanya.


“Hah! Kau benar-benar tidak


bergerak dari tempat tidur ya.” Bergumam sendiri saat mendapati Daniah yang


hanya terlihat ujung rambutnya, tertutup selimut. Masih terlelap dalam tidur.


Saga melemparkan handuk di tangannya yang  jatuh ke ujung meja. Lalu dia melompat ke tempat


tidur di samping Daniah. Gadis itu hanya menggeliat tapi tidak terbangun.


Walaupun Saga menjatuhkan diri cukup keras di sampingnya. “Haha, kau


benar-benar tidak bangun ya.” Sudah mulai gemas dan tidak bisa menahan diri.


Menarik ujung selimut sampai bahu


Daniah tersibak, terlihat jelas beberapa stempel kepemilikan melekat merah di


sana. Saga mencium setiap tanda itu sambil tergelak, karena Daniah benar-benar


tidak menunjukan reaksi apa pun.


“Hei, bangun!” Mencium lagi. “Kau


tidur jam berapa semalam, sesiang ini belum bangun?” Padahal karena siapa


Daniah sampai seperti itu, seharusnya tidak perlu ditanyakan. “Sayang, Niah


sayang, bangun.” Saga berbisik di telinga Daniah sambil tangannya melingkar


memeluk Daniah. “Niah sayang, bangun, atau kau ketinggalan pesawat nanti.”


Belum bereaksi juga, akhirnya Saga mencium leher Daniah sampai mencipta tanda


merah untuk kedua kalinya.


Mulai menggeliat. Terdengar erangan


kecil. Terdengar auman dari mulutnya kemudian, segera dia tutup dengan tangan saat tahu


Saga terbaring di sampingnya.


“Hei bangun!”


“Jam berapa sayang.” Menggeliat,


sambil memastikan waktu dengan melihat jendela. Terperanjat karena di luar sana


sudah terang benderang, matahari pasti sudah lama naik.  “Maaf, aku terlambat ya? Kenapa belum


siap-siap? Tidak bekerja?” Deretan pertanyaan muncul saat melihat baju yang


dipakai Saga.


“Hari ini libur.”


“Ahhh, enaknya presdir bisa


semaunya bekerja.” Saga hanya bereaksi dengan mempererat pelukannya. Lihat, dia


yang minta orang bangun, giliran sudah bangun malah didekap seerat itu.


Bukannya melepaskan diri Daniah ikut larut bermalas-malasan juga. Sambil


menggeliat dan membenamkan wajah di dada suaminya.


“Sayang, aku bermimpi barusan.”


Mendongakkan kepala yang langsung di sambut kecupan lembut di keningnya.


“Apa?”


Tanganmu Tuan, kondisikan tanganmu.


“Kau memanggilku sayang dengan


sangat manis di telingaku.”


Saga tergelak lalu mencium pipi


Daniah. “Kau pasti benar-benar bermimpi, bangun dan mandi sana, Han pasti


sudah menunggu di bawah.” Menggeser tubuh lalu bangun. Kalau dia tetap berbaring


dan memeluk istrinya bisa jadi jadwal keberangkatan bulan madu akan tertunda. Semua agenda yang disusun Han akan mundur.


Aku benar-benar cuma mimpi ya tadi.


Kupikir dia akan mengaku kalau memanggilku sayang. Dasar, mengaku saja si biar

__ADS_1


aku senang.


“Sayang!” Menarik ujung lengan


Saga yang sudah duduk di tepi tempat tidur.


“Apa? bangun sana! Mau ku makan


lagi.”


Daniah merenggut sambil menggelengkan


kepala. “Panggil aku sayang dulu. Niah sayang. Haha, aku baru mau bangun.”


Daniah tertawa sendiri sambil menutup mulutnya. Panggilan yang tadi terdengar


di mimpi terdengar sangat manis. Dan dia ingin merasakan debaran itu secara


nyata.


“Belum bangun juga dari mimpi kamu


ya.” Tertawa, meletakan tangan di ujung selimut yang dipakai Daniah melindungi


tubuh polosnya. “Kau benar-benar mau mengajakku tidur lagi ya?” menarik selimut.


“Tidak.” Langsung sigap


mempertahankan helaian kain pelindung tubuhnya. “Hei, Saga panggil aku sayang


dulu.” Daniah tertawa sambil tetap mempertahankan selimutnya.


“Wahhh, wahh, mulai kurang ajar


ya.” Saga melepaskan sandal yang sudah dipakainya dan naik ke atas tempat


tidur. “Niah sayang kau mau aku mulai dari mana?”


“Tidak! Tidak. Aku cuma minta


dipanggil sayang, tidak mau yang lain.” Bangun dari tempat tidur, dengan


selimut sudah berpindah  ke tangan Saga. Tapi dia berhasil lari dan masuk ke ruang ganti


baju. “Aku mencintaimu.” Teriaknya, langsung menutup rapat pintu. Sementara Saga tergelak


sambil menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur lagi. Mencium selimut yang


dipakai Daniah tadi.


Hei Saga, hei Saga, hei Saga.


Kurang ajar sekali aku, tapi kenapa itu menyenangkan ya memanggilnya begitu. Aku ingin memanggilnya begitu sesekali.


Daniah  melihat bayangannya di kaca saat mengeringkan


rambut. Merasa dicintai itu benar-benar memunculkan perasaan yang berbeda


bersamaan. Makin hari perasaannya semakin tumbuh dengan kuat.


Daniah mengintip di balik pintu


ruang ganti setelah selesai mandi dan ganti baju, masih mendapati Saga terlentang di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Tidak tahu apa yang dipikirkannya.


Kenapa dia masih di atas tempat


tidur si, kalau dia membalasku bagaimana?


“Sayang, memang kamu mau ke mana?


Kenapa sampai tidak berangkat kerja? Aku boleh pergi ke ruko kan?” Belum keluar


dari ruang ganti baju. Yang diatas tempat tidur diam tidak menjawab. Mau tidak


mau Daniah keluar juga akhirnya. “Sayang.”


“Hemm.”


Aaaaa,  ia, aku lupa semalam belum membicarakan kepergian


Leela. Aku kan mau minta bawa mobil sendiri lagi.


Mendekati tempat tidur sambil


berfikir. Memutar otak dengan cepat bagaimana memilih kata yang paling tepat. Dia tidak mau kalau permohonannya terdengar seperti rengekan. Karena kalau jelas-jelas dia meminta bawa mobil sendiri, kecil kemungkinan kalau Saga akan meloloskan permintaan itu. Daniah masih yakin, kalau suaminya selalu senang kalau melakukan sesuatu yang tidak dia sukai.


“Sayang, aku boleh.” Mau membahas


tentang Leela.


“Niah sayang, kemarilah.” Tangan


Saga terangkat, dia menggoyangkan tangannya berulang. Isyarat Agar Daniah mendekati tempat tidur.


Aku tahu, kau tidak akan


mengampuniku semudah itu. Kenapa aku cari perkara minta dipanggil sayang segala


si.


“Niah.” Suara Saga terdengar


setengah berbisik.


“Ia, ia. Aku datang.”


Dan kegiatan bulan madu benar-benar


mundur dari jadwal.


***

__ADS_1


“Aku lapar!” Daniah melingkarkan


tangan di lengan Saga. Sambil menyeret kakinya.


“Mau ku gendong?”


“Tidak! Terimakasih.”


Tidak tahu harus membayar dengan


apa kalau sampai tuan muda ini menggendongnya menuruni tangga.


“Sayang, hari ini kamu mau


ke mana?” bertanya lagi. “Karena Leela sudah berhenti apa aku boleh.....”


“Kita akan berangkat bulan madu.”


Jawaban Saga sudah membungkam Daniah untuk bicara tentang Leela lebih lanjut.


“Hah! Bulan madu! Sekarang?”


Menghentikan langkah. “Sekarang?”


“Ia sekarang.”


Apa-apaan dia, kenapa mendadak


begini. Aku bahkan belum menyiapkan apa pun.


Daniah bahkan tidak memikirkan atau


belum memikirkan apa yang harus dia bawa. Pakaian dan semua barangnya pun belum


dia kemas.


Dia benar-benar gila ya, kenapa


suka mendadak begini si.


“Tapi sayang, aku bahkan belum


siap-siap dan mengepak pakaian.” Sampai di bawah tangga. Daniah melihat Han


keluar dari ruangan Saga dengan membawa tas kerjanya.


Lihat itu, si pembuat jadwal


keberangkatan.


“Pak Mun sudah menyiapkannya.” Saga membalas cepat. "Kau hanya perlu membawa tubuhmu." Ada senyum diujung kalimat Saga.


Apa, cukup membawa tubuhku. Dasar!


“Apa Pak Mun, apa kamu menyuruhnya


menyiapkan pakaian?” Malu, membayangkan pakaian seperti apa yang dipilih pak


Mun.


“Hei, memang tidak ada pelayan di


rumah ini, sampai dia yang harus mengepak baju. Ayo makan, kamu bilang


kelaparan tadi.” Menarik tangan Daniah menuju meja makan. Saga menarik kursi dan mendudukkan tubuh Daniah.


Seenaknya si seenaknya, tapi jangan


begini juga kali. Masak aku pergi bulan madu tanpa persiapan apa-apa.


Daniah mengedarkan pandangan.


Merasa suasana yang berbeda di rumah. Tapi apa? dia tidak bisa menebak walaupun sudah berfikir. Pak Mun


muncul dari arah dapur membawa makan siang, di belakangnya ada dua pelayan yang


sigap menyusun makanan di atas meja. Setelah mempersilahkan Daniah makan, mereka meninggalkan ruangan. Hari ini pakaian Pak Mun terlihat berbeda dari biasanya.


“Anda baru turun Tuan Muda? Kita


sudah mundur dari jadwal yang seharusnya.” Han sudah berdiri di samping meja makan. "Ada yang harus tuan muda cek sebelum berangkat." Menunjuk tas yang dipegangnya.


“Daniah mengajakku tidur lagi


tadi.” Menyentuh rambut Daniah di sampingnya, lalu mengacaknya pelan.


Apa! kenapa aku. Hei, kenapa kau


percaya juga kata-kata Tuan Saga.


Daniah mendelik sebal sambil


mengambil sarapannya. Karena protesnya tidak digubris Sekretaris Han.


“Makanlah duluan, aku akan


membereskan beberapa berkas.” Satu kecupan mendarat di kepala Daniah.


“ Eh Ia.” Mengikuti langkah kaki kedua orang itu meninggalkannya sendiri di meja makan.


Han yang berjalan di belakang Saga


menoleh, berdecak sambil menggelengkan kepala menatap Daniah penuh arti.


"Apa!" Berteriak tanpa suara.


Kurang ajar, masih


sempat-sempatnya dia meledek.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2