
Setelah memikirkannya sepanjang perjalanan dari kampus, Sofia memutuskan
untuk mempertemukan Haze dan kak Saga. Selama ini status mereka yang tidak
dipublikasikan ke publik sering membuat Sofi lupa. Bahwa dia adalah bagian dari
Antarna Group. Dia senang Haze hanya melihatnya sebagai gadis biasa tanpa
embel-embel dan latar belakang. Tapi kalau sampai Haze tahu suatu hari nanti bukan dari dirinya, laki-laki itu pasti akan kecewa. Karena merasa tidak dipercaya.
Kak Saga pernah mengatakannya, ada tiga kemungkinan ketika orang tau
latar belakangmu. Mendekat karena serasa menemukan oase, menjauh karena tidak
mau terlibat atau yang bertahan karena tulus. Walaupun yang terakhir itu sangat
jarang. Karena aku tidak menemukan teman baru setelah aku berada di posisi ini.
Kak Saga memang sulit di dekatikan? Dia jadi lebih manusiawi karena kakak
ipar. Begitu Sofia menyimpulkan. Daniah telah merubah banyak bagian dari sosok
Saga, hingga banyak orang yang mengenalnya dulu merasa berhutang budi pada
sosok Daniah.
Ketukan pintu pelan di ruang kerja Saga. “ Kak, ini Sofi. Apa aku boleh
masuk!” Belum ada suara sahutan dari dalam, membuat gadis itu menunggu. Dia
ingin menarik Jen tadi agar menemaninya, tapi Jen masih menangis di pundak
Daniah sambil mengadu tentang hubungannya dengan Raksa. Membuatnya manyun dan
membawa langkah kakinya sendiri.
Apa tidak apa-apa ya. Aaaa, kenapa sekarang aku ragu si.
Saat Sofia hendak berbalik pergi, pintu ruang kerja terbuka. Saat melihat yang
muncul di balik pintu siapa membuatnya menciut dan mau kabur tanpa bicara
apapun.
“ Kenapa?” Han bicara masih belum melepaskan handle pintu. " Ada yang nona Sofi butuhkan?" Pertanyaannya sudah ingin membuat Sofia mengambil langkah seribu. " Kalau tidak ada." Sudah mau menutup pintu lagi.
“ Kenapa kau masih disini?” Mencegah Han yang sudah mau berbalik menutup pintu.
Kenapa Han masih bersama kak Saga jam segini si.
“ Kenapa nona kemari?” seperti biasa tidak sudi menjawab pertanyaan Sofi.
“ Aku mau bicara dengan kak Saga.” Maju dua langkah memasuki pintu,
membuat Han mundur dan membiarkan Sofi masuk. Di dalam ruangan Saga sedang
duduk di meja kerjanya menghadapi tumpukan draf. Dia mendongak sebentar, lalu
kembali kepekerjaannya.
“ Kenapa Sofi.” Tanyanya tanpa berpaling.
“ Ada yang mau aku bicarakan kak. Apa boleh berdua saja.” Menatap
sekertaris Han yang sudah duduk di kursi lainnya dan bekerja dengan laptop dan
dokumennya. Yang sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dibicarakan Sofia.
Dia itu tidak peka sama sekali si, Kak Mera bagaimana kau bisa tergila-gila
dengan laki-laki sepertinya.
Sofia masih berdiri di dekat meja Saga sambil menatap sekertaris Han
__ADS_1
dengan bola mata mengusir. Bibir yang sinis juga muncul.
Pergilah sekertaris Han, kembali ke rumahmu sana!
“ Apa ada yang mau nona sampaikan pada saya?” Han mendongak, tahu kalau
dia dipandangin sedari tadi dengan tatapan tidak suka. Sofia langsung gelagapan.
Apa dia punya mata di atas kepalanya? menakutkan sekali.
“ Eh apa? aku memandangmu? bukan karena suka padamu ya.” Mengeser
tempatnya berdiri, mendekat ke arah Saga mencari perlindungan diri.
Aku bukan kak Amera ya.
“ Jangan kuatir, saya juga tidak suka dengan nona.” Ucapnya datar lalu
kembali melihat pekerjaannya. Sama sekali tidak perduli kalau kata-katanya sudah menyinggung harga diri Sofia sebagai wanita.
Apa! dia menjawab apa. Siapa juga yang mau kamu sukai, dasar!
Muka Sofia langsung manyun saat melihat Saga tergelak mendengar jawaban
Han. Saga sendiri tahu, kalau adiknya ini sangat takut pada Han. Dan Meledeknya sedikit ternyata menyenangkan juga batinnya.
“ Apa!” Saga menjawab cemberut Sofia. “ Sepertinya kalian cocok juga
berdua.” Tertawa lagi, apalagi saat melihat wajah Sofi yang mulai mau menangis. Dan Han yang tidak perduli di tempat duduknya.
“ Tidak!” Suara teriakan Sofia membuat telinganya berdecit. Saga sampai mengusap
telinganya, menatap Sofi. “Maaf kak! Habis kak Saga bicara aneh-aneh. Aku sudah
di sumpahi kak Jen supaya menikah dengannya tahu.” Menunjuk sekertaris Han yang
tidak tahu apa-apa.
dalam tas kerjanya. Sepertinya pekerjaannya sudah hampir selesai. Setelahnya
dia bangun dan mendekati meja Saga.
“ Kak Saga tolong! Dia marahkan.” Berjalan ke belakang kursi yang di
duduki Saga. Bersembunyi di sana, mengintip sedikit.
“ Apa tuan muda sudah menyelesaikan semua?” Sambil membereskan berkas yang ada di meja kerja
Saga. Setelah selesai dia masih berdiri di tempatnya. Melirik Sofia. Yang dilirik langsung mundur tidak berani mengintip di balik kursi. “ Apa nona mau saya menyumpahi diri saya untuk tidak menikah dengan
nona. Supaya nona bisa tidur dengan tenang."
Eh memang bisa begitu. Ntah kenapa Sofia merasa sedikit rasa takut dihatinya mencair pergi.
“ Haha, bagaimanaa kalau aku menjodohkan kalian?” Tiba-tiba Saga bicara menyambar. Membuat panik adiknya.
“ Tidak mau!” Sofi berteriak sekerasnya di balik kursi Saga. “ Kak Saga tidak
mau!” Sekali lagi berteriak dengan suara keras.
“ Berhentilah berteriak nona, memanng siapa yang mau menikahi nona Sofia.
Saya jugakan punya selera sendiri.”
Cih, dasar bocah.
Walaupun senang kenapa jawaban Han terasa mengelitik dan menyebalkan di
telinga Sofi. Dia melangkah keluar dari persembunyiannya.
Dasar! Memang aku kenapa? Haze bilang aku mengemaskan dan cantik. Weeek, sedang kamu jomblokan? Ya, ya, aku tahu, kadang yang jomblo itu memang harus sombong. Haha.
“ Jadi seperti apa tipe idealmu, apa Amera? Kak Mera sangat tergila-gila
__ADS_1
padamu.” Padahal apa yang dilihat darimu si, gumam-gumam tapi terdengar dengan
jelas.
“ Apa nona benar-benar penasaran dan mau saya menjawabnya?” Sudah selesai merapikan semua pekerjaannya. Sedang memberi salam penutup untuk Sofia.
Terlalu banyak mencari tahu bisa memperpendek umurmu nona. Langsung Sofia
ingat kata-kata itu.
“ Tidak! Aku tidak penasaran sama sekali. Sumpah.”
“ Tuhkan sepertinya kalian lumayan manis juga kalo bersama.” Saga menyela lagi, setelah dia menonton drama di depannya. Han memperlakukan kedua adiknya memang seperti itu.
Sofi kembali dengan teriakannya, sementara Han hanya menatap datar sambil
mengangkat bahu.
Jangan bicara omong kosong lagi tuan muda, saya mohon.
“ Saya permisi tuan muda. Beristirahatlah setelah ini.” Menyudahi pembicaraan dengan Sofia. Malas menanggapi lagi. Biasanya kalau tidak berada di balik punggung Saga, gadis kecil itu akan lari kalau melihatnya.
“ Hemm. Pergilah!” Han menggangukan kepala, tanpa sedikitpun menoleh pada Sofia dia berlalu meninggalkan ruangan.
***
Selepas kepergian Han, sofia langsung duduk di sofa. Saga menyusul dan
menjatuhkan tubuhnya juga.
“ Kenapa?” mengusap kepala adik perempuannya dengan hangat. “ Mau bicara
tentang apa? Bukan memintaku untuk melamar Han jadi suamimukan?” Lagi-lagi meledek, wajah pucat Sofia belum menghilang.
“ Aaaaaa, kak Saga, berhenti meledeku. Jangan ikut-ikut kak Jen. Dia sudah menyumpahiku berkali-kali.” Mengadu lagi. Kalau Jen dan Sofi sedang adu mulut, Jen selalu mengingatkan Sofi dengan sumpahnya itu. " Kak."
" Hemm."
" Kak Saga tahu pacarkukan?" Menatap Saga. Kakak laki-lakinya itu mengganguk.
Tuhkan, tidak mungkin dia tidak tahu. Apalagi mereka pernah bertemu.
" Katanya dia mau bertemu kak Saga. Apa boleh?" Ragu.
" Kenapa? Dia mau melamarmu?"
" Tidak!" Mengibaskan tangan cepat. " Dia ingin minta restu pacaran denganku." Walaupun tetap terdengar aneh alasan Sofia. Tapi dia melanjutkan ceritanya kenapa sampai Haze ingin bertemu dengan Saga. Kecuali perihal ciuman spontan itu. Bagian itu dia lewati dengan terbata.
" Kau pikir masih bisa berhubungan dengannya kalau aku tidak merestui." Jawaban itu sudah tidak perlu bantahan lagi. Saat Sofi melihat wajah Saga, bahwa kakaknya memang tidak merasa keberatan. " Kalau kau memang mau aku bertemu dengannya, baiklah."
Eh, yang benar.
" Tapi...."
Kenapa harus ada tapinya si?
" Siapkan hatimu untuk semua kemungkinan yang bisa terjadi."
Apakah Haze akan tetap sama seperti dulu atau berubah setelah tahu siapa dirimu. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Jadi siapkan hatimu. Begitu kalimat terakhir Saga.
Baiklah, aku percaya ketulusan hati Haze.
" Sofia." Sofia yang sudah mau melangkah keluar berdiri diam. Menunggu kenapa Saga memanggilnya lagi. " Jaga kehormatanmu, bukan hanya karena aku. Tapi karena itu hal yang berharga untukmu."
" Ia kak, sumpah! kami tidak pernah melakukan apa-apa." Langsung berkata meyakinkan, seperti pencuri yang ketahuan. " Aku selalu ingat pesan kak Saga!" Mengeraskan intonasi lagi.
" Kau seperti maling yang tertangkap basah ya?" Sofia langsung menunduk. "Han akan mengatur waktunya, katakan pada pacarmu untuk bersiap."
Aaaaaa, apa kami ketahuan pernah berciuman? Bagaimana ini Haze!
Sofia menyeret kakinya keluar ruangan dengan wajah panik.
Bersambung
__ADS_1