Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
152. Bertemu Dengan Saga (Part 1)


__ADS_3

Sudah di dalam mobil yang melaju. Aran menyodorkan kopi dan roti isi yang dia pesan dua paket tadi. Tapi Sekretaris Han melirik pun tidak. Akhirnya dia menikmati semua makanan itu. Dua porsi sekaligus tandas dalam sekejap. Han terlihat melirik sebentar, lalu mengalihkan pandangannya menatap jalanan.


Bagaimana dia tidak tahu malu, makan sebanyak itu lagi. Yang seperti itu mengaku dewi kecantikan? mengemudi sambil menggelengkan kepalanya sendiri.


Setelah meletakan semua sampah dalam plastik, Aran menghela nafas lega. Perutnya yang merinding keroncongan tadi sudah terisi penuh. Melihatnya sudah selesai makan Sekretaris Han mulai bicara.


Sepanjang perjalanan Aran terdiam


mendengarkan, mencatat semua yang dibicarakan Han di kepalanya. Walaupun


sebagian besar yang dikatakan Han dia sudah tahu. Sebagai reporter berita resmi, dia mengetahui banyak protokoler yang harus di taati ketika bertemu dengan pejabat penting, perusahaan besar, atau artis sekali pun.


"Tutup mulutmu dan jangan bicara


kalau Tuan Saga tidak memintamu bicara. Jawab dengan jelas kalau dia bertanya.


Dia yang akan menentukan apa kau layak menerima pekerjaan ini atau tidak. Jika


Tuan Saga menolak, kau juga tidak akan bisa bekerja."


Cih, lantas kenapa sudah seperti


aku diterima wawancara kerja saja tadi.


"Kalau tuan muda menolakmu, kau bisa bekerja menjadi pesuruh. Aku akan mengirimmu ke luar kota. Merangkak sekalipun kau tidak akan bisa keluar dari tempat terpencil itu."


Apa! dia hanya sedang menakutiku kan.


"Aku serius!" Menjawab sorot tidak percaya di mata Aran.


Aaaaa, jadi orang baik apa akan membunuhmu, kenapa bicara saja selalu setajam pisau begitu.


Sekali lagi Sekretaris Han mengingatkan bagaimana Aran harus bersikap di hadapan Tuan Saga.


Arandita sudah paham bagaimana


protokoler berhadapan dengan Tuan Saga. Dia sudah sering mengikuti berbagai


acara resmi Antarna Group yang melibatkan presdirnya. Jadi standar baku yang


harus dilakukan di hadapan Tuan Saga dia sudah hafal diluar kepala.


Tapi kenapa dia yang akan


memutuskan sendiri, memang pekerjaanku apa si.


Mata-mata? Atau menguntit istrinya? Hei tapi untuk apa?


Penasaran, sekaligus nyali yang


sedikit menciut. Bagaimanapun dia belum pernah berhadapan langsung atau bicara


dengan Presdir Antarna Group. Tapi ketakutannya bisa ia kubur, sekali lagi dia berusaha hanya melihat hal positif di depannya. Uang dan hidup yang lebih baik. Jauh lebih indah untuk dibayangkan, daripada pekerjaan yang menantinya.


“Tuan apa pekerjaan saya


sebenarnya?” Akhirnya bertanya setelah sebelumnya melirik Han ragu-ragu. maju mundur dalam hati untuk bertanya.


Han mengemudikan mobil dalam diam.


“Apa aku belum memberitahumu.” Jawabnya seenaknya, tidak menoleh sedikit pun.


Apa! kau sengaja ya. Jelas-jelas


penjelasan panjang lebarmu tadi hanya seputar protokoler berhadapan dengan Tuan


Saga, yang semuanya sudah ku hafal di luar kepala.


“Tuan sama sekali belum


menjelaskan pekerjaan saya.” Protes kecil yang tidak berarti.


“Kenapa kau tidak bertanya? bodoh!


Sepertinya aku salah menilaimu ya. Kinerjamu sebagai reporter sok tahu


sepertinya sudah mulai hilang.” Lagi-lagi setajam itu kata-katanya.


Apa! aku kan sudah bertanya di kafe


tadi, cuma kau jawab dengan bawa-bawa mempertaruhkan nyawa.


“Maafkan saya Tuan. Selama menjadi


dewi kecantikan saya hanya menghabiskan waktu di kamar sempit saya, jadi


sepertinya jiwa sok tahu saya sedikit memudar.” Menjawab dengan nada sedikit


kesal.  Membawa nama pena yang sedari


tadi jadi bahan ejekan Sekretaris Han.“Kalau Tuan tidak keberatan apa Tuan mau


menjelaskan pekerjaan saya.”


Ya, ya, aku tahu, seringaimu itu

__ADS_1


muncul saat kau senang kan? Aku akan mengganti nama penaku nanti. Jadi gadis buruk rupa, biar kau puas.


“Kau akan bekerja menjaga nona


muda kami.”


“Apa! maksudnya nona Daniah?”


Sebuah nama yang sempat menggegerkan itu. Menjaga nona Daniah? Dari apa? dia bahkan


tidak diperkenalkan ke publik untuk menjaga privasinya. Pertanyaan berseliweran


di kepala Aran.


Jangan-jangan sebenarnya dia orang


populer di negara ini?


“Kau tidak terlalu ketinggalan


informasi rupaya.” Han bicara lagi.


“Siapa yang tidak tahu nama itu


Tuan. Sejak Tuan Saga mengatakannya ke publik siapa nama istri yang dicintainya.


Apa Tuan tahu, kalau nama Daniah menjadi nama nomor satu yang dipilih ibu hamil


untuk memberi nama anak perempuan mereka.”


Hah! Kau tidak tahu rupanya. Aran seperti menang telak satu permainan. Kemenangan yang dia klaim sendiri.


“Apa ide menyatakan perasaan Tuan


Saga  di stasiun tv terinspirasi dari


kejadian lamaran untuk Tuan dulu.” Langsung menutup mulut dengan tangan. Terkejut dengan kata-katanya sendiri.


“Tutup mulutmu!” Tegas.


Aku cari mati.


“Maaf Tuan.” Arandita langsung


bungkam setelah meminta maaf, dia tidak berani lagi membuka mulutnya bicara


sepatah kata pun. Dia pun berfikir, kalau dirinya sudah gila. Bagaimana bisa dia


mengungkit kejadian itu lagi.


tidak akan melempar ku keluar mobil kan.


“Kau mau aku mulai memotong


gajimu, yang bahkan belum kau dapat.” Han membuka mulutnya ketika mobil masuk


ke area parkir gedung Antarna Group.


“Tidak Tuan, maafkan saya. Maafkan


kelancangan saya.”  Memohon, Han diam dan


mengacuhkan. keluar dari mobil, sementara Arandita berlari di belakangnya. Mengutuki kebodohannya bicara.


***


Lantai tertinggi gedung Antarna


Group.


Mimpi apa aku bisa sampai di lantai ini. Dengan pekerjaanku dulu saja mustahil aku bisa menginjakan kaki di lantai tertinggi ini.


Aran mengedarkan pandangannya. Bertatap mata


dengan staf sekretaris yang langsung berdiri saat dia dan Sekretaris Han


sampai di depan ruangan.


Ini pasti ruangan Tuan Saga. Eh,


kenapa aku ditinggal.


Aran mematung di depan pintu,


ketika dia mendapat isyarat untuk diam menunggu. Sementara Han masuk ke dalam


ruangan. Dia tersenyum pada staf sekretaris yang masih melihatnya dengan penuh


tanda tanya. Aran ingin melangkah bertanya, tapi diurungkan niatnya. Tuan Han


mau dia diam menunggu tadi.


Jangan membuat kesalahan Aran, atau


kau hanya akan kerja sukarela tanpa bayaran.

__ADS_1


Arandita hanya melihat kesibukan


tiga staf sekertaris itu. Ada satu orang yang terlihat keluar masuk membawa


berkas dari sebuah ruangan yang entah ada di mana. Dia hanya terlihat memasuki


lorong di ujung ruangan. Setelah dia duduk, dia  memberi instruksi


kepada dua orang yang ada di sampingnya.. Aran melihat semua hal itu, namun


entah kenapa kelebatan yang terngiang di kepalanya adalah slide kehidupan masa


lalunya.


Betapa senangnya aku, kalau aku


tidak pernah terlibat dengan Tuan Han. Hari ini aku pasti sedang sibuk dengan


tumpukan berita dan foto-foto. Arandita! Bagaimana kau bisa terjerumus dan hidup


seperti ini.


Rasa sesak yang tiba-tiba muncul,


saat sesosok wajah muncul juga setelah bayangan tuan Han lenyap. Ya, nona muda putri


dari pemilik stasiun TVXX yang dulu menjanjikan kerahasiaan namanya. Cih, memang


seharusnya dia tidak mudah percaya kata-kata orang yang sedang dimabuk cinta.


Saat dia meminta pertolongan, wanita itu menjanjikan uang dengan nominal yang


tidak terbayangkan. Kerahasiaan namanya, dan jaminan kalau tidak akan terjadi


apa-apa padanya. Tapi nyatanya!


Sial! Aran memaki lagi demi


mengingat wajah nona cantik itu.


Dia bahkan sekarang sudah menikah.


Aku tidak dapat uang, kehilangan pekerjaan dan harus berurusan dengan orang


seperti Tuan Han. Kalau saja dalam hidup ini boleh balas dendam, rasanya aku


ingin balas dendam. Menyiram segelas air saja sepertinya sudah cukup untuk


membalasmu nona.


Hiks, hiks, Aran menagis tanpa


mengeluarkan suara dan airmata. Bagi rakyat jelata sepertinya itu tidak


mungkin. Setelah dia ditendang secara tidak hormat dari stasiun TV jangankan


bertemu dengan nona muda untuk menuntut haknya. Dia harus menghilang dan


bersembunyi seperti bayangan masa lalu. Karena muncul dan menunjukan diri sama


saja mencari mati.


Aran sempoyongan karena tiba-tiba


bahunya terdorong dengan kuat. Terjaga dari lamunan. Namun dia bisa mundur dengan cepat dan


membuatnya tidak terjatuh.


Kenapa dia kuat sekali, padahal


hanya mendorong dengan jari.


“Kau tuli ya, dipanggil tidak


menjawab?”


Han sudah ada di hadapannya. Entah


sudah berapa lama dia tenggelam dalam pikirannya.


“Masuk! Ingat, apa yang sudah


kujelaskan di dalam mobil tadi.” Langsung membalikan badan dan membuka pintu.


“Baik Tuan.”


Aku sudah tahu! Aku hafal di luar


kepala protokoler itu.


Dibelakang Han, Aran mengutuki


laki-laki di hadapannya dengan makian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2