Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Bulan Madu (Part 13)


__ADS_3

Di ruang perawatan VVIP, kedua


wanita yang ada di dalamnya sedang mengingat kembali kejadian yang berlangsung


beberapa waktu lalu. Pristiwa saat kedatangan tuan Saga beserta rombongannya ke


kafe. Tempat Daniah bertemu dengan kenangan buruk di SMUnya. Memori yang bahkan


tidak pernah sekelebatpun terlintas. Haksan, nama yang tidak akan pernah di


sebut Daniah jika dia membicarakan tentang kehidupan SMUnya. Baik itu dalam


cerita keseharian atau cerita cintanya. Dia hanya akan mengaku kalau dia pernah


pacaran tiga kali. Tapi nama Haksan tidak ada dalam daftar itu. Mereka saling


mengengam tangan masing-masing ketika sorot mata Saga yang penuh kemarahan


kembali terlintas.


Saat itu mereka bahkan hanya  bisa menduga-duga apa yang terjadi pada Haksan


dari suara teriakan penuh kesakitannya. Di ruang tunggu di mana para pegawai


kafe saling bersitatap melihat Daniah dan juga wanita di sebelahnya. Mereka


terlihat ingin bertanya, namun takut dan bayangan keributan yang mereka lihat


tadi membuat mereka hanya saling berspekulasi tentang dua wanita di hadapan


mereka. Sampai akhirnya seorang laki-laki masuk dan membawa dua wanita itu


keluar, para pelayan kafe hanya bisa melihat dalam diam.


Dan sekarang diruangan perawatan


ini dua wanita itu masih bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Haksan


sebenarnya.


“ Nona, apa nona benar-benar mau


membahasnya lagi.” Daniah dan Aran  saling bersitatap tegang. Daniah mengelengkan


kepalanya. Dia takut, kalau dia membahasnya membuatnya merasa bersalah pada


Haksan.


Walaupun dia berusaha meyakinkan


hatinya, kalau ini bukanlah salahnya. Haksan yang datang menggangunya, dia yang


tidak percaya kalau dia sudah menikah dengan tuan Saga. Perangainya yang tidak


berubah dari masa lalu semakin memperkeruh suasana. Ini salahnya. Begitu yang


berusaha diyakinkan Daniah di hatinya.


Ya, tapi siapa juga si yang akan


percaya kalau aku benar-benar istri tuan Saga, kalau dibandingkan dengan Helena


wanita yang dia kenalkan ke publik sebagai kekasihnya. Aku dan wanita itukan


bagai bumi dan langit kalau di lihat dari segi fisik. Sedangkan hanya penilaian


tidak kasat mata itulah yang dilihat kebanyakan orang.


Daniah termenung lagi mulai bisa


meraba bagaimana kedepannya hidupnya. Kebebasan, membawa mobil sendiri bekerja.


Semua itu bahkan sudah berlarian dan menjauh secepat larinya rusa hutan dari


kejaran pemburu. Mustahil.  Tadi sebelum


keluar dari ruangan ini Saga sudah menebar ancaman yang membautnya tetap berada


di tempat tidurnya.


“ Jangan keluar dari ruangan ini


selangkahpun.” Menghentikan bicara dan melihat pintu lalu terdiam sebentar


menimbang apa yang ingin ia ucapkan, dan akhirnya dia merubah kata-katanya.


“Tidak, tidak usah turun dari tempat tidur sampai aku kembali.” Melihat Aran


dengan sorot mata tajam. Membuat yang ditatap langsung bergetar. “Jaga istriku


untuk tetap berada di tempat tidurnya sampai aku kembali.” Seperti berkata,


kalau sampai istriku turun dari tempat tidurnya habis kau.


“ Ba, baik tuan.”


Dia masih marah. Benar, dia masih


marahkan? Aran menerka.


Daniah frustasi duduk di atas


tempat tidur. Sebenarnya tidak masalah kalau dia turun, ketahuan sekalipun.


Paling-paling dia cuma akan diteriaki saja. Tapi kata-kata yang diberikan suaminya


tadi bukan hanya untuknya. Tapi lebih tepatnya dia tujukan pada Aran. Hingga

__ADS_1


membuat Daniah benar-benar bertahan di tempat tidurnya.  Ketukan di pintu membuyarkan pikirannya yang


melamun kemana-mana. Aran langsung membawa langkahnya untuk melihat. Ternyata


seorang perawat membawakan makanan dan juga minuman. Dia melihat dua pengawal


duduk berjaga, salah satu yang mengikutinya tadi yang satunya sudah berganti


orang.


Hah! Apa ini, apa ini makanan


klinik kesehatan. Memandang nampan yang dia pegang. Aneka cake mewah dan


potongan buah segar serta jus buah.


Aran berhenti untuk terkejut


setelah melihat ruangan yang ia sekarang berada. Tempat inipun tidak sekelas


dengan kamar perawatannya sama sekali.


“ Apa nona mau makan sesuatu?”


“ Tidak. Makanlah kalau kamu mau.”


Daniah duduk bersandar sambil menatap jendela. “ Bagaimana kalau sesuatu


terjadi pada kak Haksan ya.” Tanyanya pada dirinya sendiri.


“ Nona, jangan menyebut namanya


lagi dengan mulut nona. Saya mohon.” Hari ini jadi pelajaran penting bagi Aran.


Bahwa tidak ada kesalahan sepele kalau berhubungan dengan tuan Saga. Semua


aturan tertulis yang dibuatkan sekertaris Han padanya sampai berlembar-lembar


itu adalah kewajiban mutlak yang tidak bisa ditawar.


Kejadian saat Saga meremas rambut


Daniah tadi sangat jelas muncul di kepala Aran. Dia tahu alasan laki-laki itu


melakukannya. Dia menakar kadar cemburu tuan Saga sebesar pada pada nonanya.


“ Kumohon jangan bersikap seperti


Leela dan Han.” Daniah mendesah sedikit merasa kesal.


“ Maafkan saya nona, tapi hari ini


saya benar-benar baru melihat sikap tuan Saga yang seperti itu. Dia bahkan


tidak mau melihat nona di kafe tadikan. Dia benar-benar sedang menahan


kemarahannya supaya nona tidak melihat.”


mengalihkan mata yang biasanya selalu tertuju padanya.


“ Tapi nona, tadi nona tidak


bertengkar dengan tuan Sagakan?” aku sampai di pelototi di luar tadi karena


menanyakan keadaan nona. “ Tuan Saga tidak melakukan apapun pada nona kan?”


Kuatir. Walapun Aran tidak sampai berfikir kalau tuan Saga sampai memukul nona


Daniah.


“ Huh! Dia melakukan banyak hal


padaku.” Jawaban Daniah terdengar menakutkan di telinga Aran, membuat Daniah


tertawa menebak apa yang dipikirkan gadis di depannya. “ Aku tidak apa-apa


Aran, tuan Saga tidak melakukan hal buruk padaku kok. Ya dia hanya melakukan


banyak hal saja.” Tidak mungkin menjelaskan secara detail. “ Sudahlah, ayo makan


kuenya. Cake coklat ini sepertinya enak.” Kau tidak akan paham apa yang dilakukan tuan Saga begitu pikir Daniah. Padahal, nona penulis sudah cukup pengalaman halunya kalau urusan begituan yang tertuang pada novel-novelnya. Tapi jangan tanya kalau di kehidupan nyata. Mungkin dia hanya setingkat di atas sekertaris Han perihal pengalaman cinta.


Walaupun masih terbaca gurat


kebingungan di wajahnya Aran mengikuti saja ketika Daniah memberikan sendok


untuknya. Dia ikut makan makanan yang sama dengan yang dimakan Daniah.


“ Aran, apa kau tidak bertanya tadi


pada sekertaris Han, mereka mau kemana?” Berusaha menenangkan diri lagi dengan


bicara. Daripada memikirkanya sendiri di kepalanya sepertinya lebih baik kalau


ada yang ikut memikirkannya.


“Saya bertanya nona, tapi tuan Han


hanya menjawab. Terlalu banyak tahu dan bertanya bisa memperpendek umurmu.”


Cemberut kesal sambil menjelaskan, dengan nada suara sama persis yang diberikan


sekertaris Han padanya tadi. “Saya sudah tidak berani bertanya lagi kalau dia


menjawab begitu.”


“ Cih, dia selalu memakai kalimat

__ADS_1


itu sebagai senjatanya. Ternyata padamu juga ya.” Wajah sombong Han seperti


hantu langsung muncul di kepala Daniah. Apa nona tidak lelah memaki saya?


Seringai tipis muncul di bibir sekertaris Han.


Aaaa, dalam bayangan saja dia


kenapa menyebalkan begitu si.


“ Apa! jadi pada nona juga?” Tidak


percaya, bagaimana bisa  sekertaris Han


bisa tidak sesopan itu pada nona Daniah pikir Aran. Tak terasa dia lahap juga


makan kue. Aran sudah pindah ke cake keduanya. Sambil di selingi makan buah


juga.


“ Percayalah, dia juga kurang ajar


padaku kok. Diakan hanya patuh pada tuan Saga, semua orang dianggap angin lalu


sama dia.” Geram sendiri Daniah menjelaskan. “Tapi mereka tidak akan kembali ke


kafekan. Apa mereka belum selesai dengan kak Haksan.”


“ Nona, jangan menyebut nama


laki-laki itu.” Merengek frustasi.


“ Ia, ia. Tapikan tuan Saga tidak


ada, tidak ada yang mendengarnya selain kamu.”


Nona, sadarlah. Banyak mata dan


telinga yang mendengar kita walaupun tidak kita sadari.


Aran bahkan menyapu ruangan saking


merasa kalau dirinya diawasi.


“ Nona, apa laki-laki itu mantan


pacar nona?” bertanya akhirnya, mengubur rasa penasaran siapa sebenarnya


Haksan.


“ Bukan!” Melotot. “Dia bukan


siapa-siapaku, teman saja bukan.”


Hemm, Aran berfikir jadi hubungan


mereka itu apa ya.


“ Aran, jangan banyak mencari tahu,


lupa ya, itu bisa memperpendek umurmu.” Mereka tertawa, karena Daniah


mengucapkannya dengan intonasi dan mimik yang sering di ucapkan sekertaris Han.


Namun setelahnya dia mengatakan semuanya pada Aran. Siapa Haksan, dan betapa


tidak pentingnya laki-laki itu. Yang ia cemaskan kalau sampai laki-laki itu


terluka parah hanyalah tuan Saga, dia tidak mau Tuan Saga sampai berlumuran


darah karenanya. Karena Daniah sendiri merasa suaminya yang dia kenal, walaupun


terkadang dingin dan menakutkan tapi sejujurnya hatinya lembut dan hangat.


“ Nona apa menurut nona sekertaris


Han itu jauh lebih menakutkan daripada tuan Saga.”


Daniah langsung meletakan garbu


yang dia pegang. Berfikir.


“ Tidak juga si soalnya aku masih


berani membantah bicaranya.” Tertawa kecil. “Aku masih berani menjahilinya kok,


kalau saja aku punya satu saja kelemahannya.”


Nona, anda betul-betul belum mengenal


sekertaris Han kalau masih bicara begitu.


Membayangkan saja nyali Aran sudah


menciut. Karena dia melihat dibanding tuan Saga laki-laki yang sedang mereka


bicarakan jauh lebih menakutkan.


“ Aran, apa kau tidak mau coba


jatuh cinta padanya. Dia sepertinya jomblo abadi yang tidak mengenal cinta


selain pada tuan Saga.”


“ Hahaha.” Aran hanya tertawa


menjawab kata-kata Daniah. Tapi dia menyentuh dadanya merasakan degub yang

__ADS_1


tiba-tiba beraksi spontan.


Bersambung


__ADS_2