
Jadwal konsultasi ke rumah sakit
sudah ditetapkan. Sekretaris Han memberi tahukan melalui pesan singkat, sesaat
setelah Daniah turun dari mobil di area parkir rukonya, dia bahkan belum masuk
ke dalam ruko. Leela sudah mengajaknya langsung pergi lagi, begitu dia
mendapati pesan yang sama di hpnya.
Kenapa dia tidak memberi tahu
di rumah tadi si, dia pasti sengaja.
Sepertinya keduanya terlihat menggerutu
dalam hati masing-masing, sambil masuk ke dalam mobil. Leela sudah membawa
kembali mobilnya, melintas di jalan raya saat sebuah pesan masuk lagi ke hp milik Daniah.
“Apa Anda mau tuan muda menemani?”
pesan dari Sekretaris Han, langsung membuat Daniah panik. Membayangkan saja dia
sudah bisa memprediksi akan seheboh apa kunjungannya ke dokter kalau sampai
Tuan Saga juga ikut.
“Tidak!”
Daniah sengaja membumbui dengan
tanda seru. Baginya konsultasi dan pemeriksaan hari ini sudah cukup
menegangkan. Tidak mau ada Saga di sampingnya yang tentunya hanya akan membuat
semuanya menjadi penuh tekanan. Dia pun berfikir, kalau ada apa-apa dengan
tubuhnya, dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi kemarahan suaminya saat itu juga. Pil
kontrasepsi kembali terngiang, membuatnya benar-benar yakin untuk pergi
sendiri. Paling tidak dia bisa menyiapkan diri dengan segala kemungkinan.
Aaaaa, periksa kehamilan nanti diapain
aja ya. Kenapa aku merasa cemas begini.
Sepanjang perjalanan Daniah
tenggelam dalam kecemasannya sendiri. Saat mobil sudah sampai di area parkir.
“Leela kenapa Dokter Harun sudah
ada di depan pintu? Dia tidak datang menyambut kita kan?” Bukankah terlalu
berlebihan sampai disambut begini. Terlebih lagi di sampingnya juga berdiri
dua orang wanita. Tidak tahu statusnya siapa.
“Tidak Nona, dia hanya menyambut
Nona.” Leela keluar dari mobil untuk membukakan pintu, tapi Daniah lebih cepat,
sebelum gadis itu berjalan memutar dia sudah keluar dari mobil. Saat melihat Daniah turun dari mobil Dokter
Harun berjalan mendekat. Dia sudah tersenyum sepanjang langkahnya. Laki-laki
itu memang terlihat selalu bahagia, setiap kali Daniah bertemu. Dalam situasi
apa pun.
“Kakak Ipar selamat datang, senang
bertemu denganmu lagi.” Dokter Harun sudah berjalan mendekat, bahkan ingin memeluk Daniah.
Karena antusiasnya. Tapi secepat kilat Leela sudah menghadang langkah kakinya.
Kedua wanita yang berdiri di belakangnya terlihat menahan senyumannya.
“Silahkan tunjukan kami jalannya
Dokter.” Tersenyum penuh ancaman. “Tidak perlu terlalu banyak basa-basi.”
Keduanya terlihat sangat akrab. Leela bahkan bicara dengan bahasa yang cukup
santai. Berbeda sekali ketika bicara dengan Sekretaris Han sekalipun yang
merupakan saudaranya sendiri. Daniah memperhatikan tingkah keduanya.
“Cih, aku tidak menyapamu. Aku
menyapa kakak ipar.” Menatap Leela kesal, langsung memalingkan wajah, dan
kembali senyum sejuta wattnya dia berikan khusus untuk Daniah.
“Jangan panggil nona dengan
sebutan itu, tuan muda tidak akan suka mendengarnya.” Seperti biasanya, Leela
bersikap sekaku protokoler. Dokter Harun
memutar kepalanya berkeliling area parkir. Lalu mengangkat bahu dan mengejek
sinis.
“Saga tidak ada, jadi berhentilah
bicara. Minggir sana”
“Saya akan mengadukan pada tuan
__ADS_1
muda.”
“Hei, bisa tidak kau kendurkan
sedikit gayamu itu. Serigala galak.” Mendorong lengan Leela agar minggir.
Sementara Daniah dan kedua wanita di belakang dokter Harun menonton
pertengkaran mereka dan tidak bisa menahan gelak. Seperti bocah yang
memperebutkan perhatian kakak mereka. Dan anehnya Daniah merasa kedua wanita
itu sangat memaklumi. Seperti tahu sedekat apa hubungan mereka berdua.
“Kakak ipar.” Kembali pada Dania, tidak menggubris pandangan sebal Leela.
Dia meminta Daniah untuk mengikutinya.
“Jangan panggil nona seperti itu.”
Berkata dengan setengah berteriak.
“Sudahlah Leela.” Akhirnya Daniah
melerai, sesungguhnya dia merasa senang, untuk pertama kalinya dia melihat
sikap Leela selayaknya manusia normal. Ternyata gadis ini bisa bersikap
kekanakan seperti ini ya gumamnya.
Dokter Harun merasa menang karena
dibela, lihat wajah sombongnya itu saat berdiri di samping Daniah. Leela
tersenyum kecut mengikuti dari belakang.
“Dokter, ini hanya pemeriksaan
biasa kan. Aku merasa agak sedikit cemas.” Daniah mengatakan apa yang dia
rasakan. Berharap setelah mengatakan bisa mengusir perasaan itu. Tapi tetap
tidak ternyata.
"Jangan cemas Kakak Ipar. Kita cuma
akan cek up kesehatan biasa, nggak akan diapa-apain. Hei Leela kamu mau cek up
juga? Aku kasih diskon 99 persen deh.” Meledek Leela lagi.
Leela mendelik kesal. “Aku
benar-benar akan mengadukanmu pada tuan muda.” Ancamnya juga.
“Cih, dasar serigala galak.”
Mereka masuk ke dalam rumah sakit.
Saat bertemu beberapa orang terlihat mereka menyapa dengan sopan Dokter Harun.
yang sudah hamil besar sedang duduk di temani pasangan mereka masing-masing. Wajah
mereka terlihat penuh suka cita. Suami mereka berusaha menenangkan dengan
mengelus perut istrinya, sambil bicara dengan mendekatkan wajah mereka ke perut istrinya. Berkomunikasi dengan calon buah hati.
Lucunya, membayangkan Tuan Saga
melakukan itu. Daniah terlihat tersenyum tipis membayangkan, namun segera
tersentak mendengar perkataan Dokter Harun lagi, yang ditujukan untuk Leela.
“Berhenti!” Tangan Harun menyilang
menahan Leela, sementara dua wanita yang mengikutinya tadi sudah masuk ke dalam ruangan. “Serigala galak dilarang masuk.” Mengetuk pintu yang sudah terbuka tiga kali.
“Aku harus menemani nona.”
“Tidak, aku dokter penanggung
jawab rumah sakit ini. Melarangmu masuk.” Harun menunjuk id yang menempel
di bajunya, sekaligus menunjukan statusnya di rumah sakit ini. “Apa kamu! Tunggu
di ruang tunggu sana!” Menunjuk deretan kursi yang juga banyak orang yang sedang
menunggu.
Leela terlihat sangat kesal, sudah
seperti ingin menendang kaki Dokter Harun. Kalau tidak sedang di rumah sakit,
dia pasti sudah baku hantam dari tadi.
“Tapi aku dibawah perintah
langsung pemilik rumah sakit ini. Untuk berada di samping nona dalam situasi
apa pun.” Menunjukan hpnya. Nomor pribadi Saga. “Mau ku telepon tuan muda
sekarang?”
Harun langsung masam mendengar
jawaban Leela. Wanita di hadapannya ini memang sekaku kawat jemuran baju. Tapi
membiarkan dia masuk pasti dia akan berulah di dalam pikirnya. Padahal dia
sudah senang saat tahu Saga tidak menemani. Ternyata yang menemani Daniah tidak
kalah merepotkan daripada Saga.
__ADS_1
“Dokter, biar Leela masuk juga
ya?” Daniah menarik tangan Leela. “Nanti sekalian dia bisa di cek up juga.” Melerai
pertengkaran tidak berkesudahan. Sampai di titik ini Daniah sangat penasaran,
sebenarnya hubungan kedua orang ini apa si.
Tunggu, jangan-jangan Dokter Harun
ini suami Leela?
Daniah yang digelitiki penasaran
ingin segera bertanya, tapi tidak punya kesempatan.
“Baiklah, tapi berhenti mengganggu.
Kau harus duduk diam dan melihat saja. Apa pun yang terjadi di dalam jangan
bergerak dan melakukan apa pun. Janji!” berteriak sambil menuding tangannya ke
wajah Leela. “Angkat tanganmu dan bersumpah!” Seperti bocah yang butuh
jaminan. Leela menurut mengangkat tangannya dan mengikuti sumpah yang diucapkan
Dokter Harun.
Ya Tuhan mereka ini lucu sekali,
jangan-jangan Dokter Harun ini benar-benar suami Leela.
“Asalkan tidak ada yang membahayakan
nona di dalam aku akan diam saja.” Setelah selesai membaca sumpahnya.
“Memang akan ada bahaya apa? ini
Cuma cek up kesehatan.” Masih menuding tajam.
“Pura-pura tidak tahu, kamu itu
yang paling bahaya.” Leela menatap Daniah. “Nona, Dokter Harun ini biarpun
jomblo tapi dia playboy. Jangan percaya kata-kata.”
Yaaa, ternyata bukan suaminya Leela
ya. Lantas hubungan kalian apa si. Saking penasarannya dengan mereka berdua,
Daniah tidak merasa, kalau kecemasannya sudah nyaris menghilang.
“Cih, kau bahkan jatuh cinta pada
playboy kelas kakap.” Mengejek lagi.
“Criss sudah berubah.” Menjawab
tegas, seperti membela suaminya.
Ohhh jadi suami Leela namanya
Criss. Daniah masih sibuk menduga-duga juga.
“Ia, ia. Ayo kakak Ipar masuk.
Jangan pedulikan Leela.”
***
Pemeriksaan kesehatan berjalan lancar. Seorang dokter wanita dan perawat
membawa Daniah menuju sebuah ruangan untuk pemeriksaan USG. Leela mengikuti.
Sementara dokter Harun dan seorang dokter laki-laki yang sudah terlihat cukup
umur menunggu di ruangan yang lain. Perawat menaruh cairan bening di perut
Daniah, lalu dengan sebuah alat dokter wanita mulai memeriksa. Secara sederhana
dokter wanita itu menjelaskan bagaimana kondisi Daniah. Gadis itu hanya
menganggukkan kepala, sambil menatap layar di depannya.
“Kondisi rahim Nona bagus. Dokter Harun
sudah mengatakan kalau Nona pernah minum pil kontrasepsi ya?”
“Ia Dok, apa itu berpengaruh ya?”
“Sejauh ini tidak. Jangan cemas, nanti
Nona bisa minum vitamin untuk memulihkan kesuburan. Semua baik-baik saja.” Dokter wanita itu menepuk tangan Daniah lembut. Meyakinkan.
Daniah merapikan pakaiannya lagi,
lalu keluar ruangan. Sementara dokter wanita tadi menyusul selang beberapa lama
sambil membawa kertas laporan hasil USG. seperti biasa penjelasan mendetail di sampaikan. Yang ditangkap Daniah adalah semua baik-baik saja.
Terlihat Daniah menarik nafas lega, walaupun rasa khawatir yang entah datangnya dari mana ini belum sepenuhnya pergi. Tapi tidak separah saat dia datang tadi.
"Kakak Ipar jangan cemas, Kakak Ipar bisa memberiku keponakan sebanyak yang Kakak Ipar mau." Dokter Harun mengedipkan mata dan tertawa jenaka. Mereka sudah keluar dari ruang pemeriksaan dan kembali ke area parkir. "Pergilah bulan madu dan bersenang-senang." Daniah langsung malu sendiri mendengarnya.
Apa! dia tahu tentang bulan madu.
"Bersemangat Kakak Ipar!"
"Sudah minggir sana!" Leela mendorong tubuh Dokter Harun. "Memang Dokter nggak punya kerjaan apa?"
"Serigala galak datang!"
__ADS_1
Sekali lagi sebelum berpisah, Daniah melihat drama pertengkaran bocah. Leela benar-benar terlihat seperti gadis normal pada umumnya.
Bersambung