Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
145. Konsultasi Ke Dokter


__ADS_3

Jadwal konsultasi ke rumah sakit


sudah ditetapkan. Sekretaris Han memberi tahukan melalui pesan singkat, sesaat


setelah Daniah turun dari mobil di area parkir rukonya, dia bahkan belum masuk


ke dalam ruko. Leela sudah mengajaknya langsung pergi lagi, begitu dia


mendapati pesan yang sama di hpnya.


Kenapa dia tidak memberi tahu


di rumah tadi si, dia pasti sengaja.


Sepertinya keduanya terlihat menggerutu


dalam hati masing-masing, sambil masuk ke dalam mobil. Leela sudah membawa


kembali mobilnya, melintas di jalan raya saat sebuah pesan masuk lagi ke hp milik Daniah.


“Apa Anda mau tuan muda menemani?”


pesan dari Sekretaris Han, langsung membuat Daniah panik. Membayangkan saja dia


sudah bisa memprediksi akan seheboh apa kunjungannya ke dokter kalau sampai


Tuan Saga juga ikut.


“Tidak!”


Daniah sengaja membumbui dengan


tanda seru. Baginya konsultasi dan pemeriksaan hari ini sudah cukup


menegangkan. Tidak mau ada Saga di sampingnya yang tentunya hanya akan membuat


semuanya menjadi penuh tekanan. Dia pun berfikir, kalau ada apa-apa dengan


tubuhnya, dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi kemarahan suaminya saat itu juga. Pil


kontrasepsi kembali terngiang, membuatnya benar-benar yakin untuk pergi


sendiri. Paling tidak dia bisa menyiapkan diri dengan segala kemungkinan.


Aaaaa, periksa kehamilan nanti diapain


aja ya. Kenapa aku merasa cemas begini.


Sepanjang perjalanan Daniah


tenggelam dalam kecemasannya sendiri. Saat mobil sudah sampai di area parkir.


“Leela kenapa Dokter Harun sudah


ada di depan pintu? Dia tidak datang menyambut kita kan?” Bukankah terlalu


berlebihan sampai disambut begini. Terlebih lagi di sampingnya juga berdiri


dua orang wanita. Tidak tahu statusnya siapa.


“Tidak Nona, dia hanya menyambut


Nona.” Leela keluar dari mobil untuk membukakan pintu, tapi Daniah lebih cepat,


sebelum gadis itu berjalan memutar dia sudah keluar dari mobil.  Saat melihat Daniah turun dari mobil Dokter


Harun berjalan mendekat. Dia sudah tersenyum sepanjang langkahnya. Laki-laki


itu memang terlihat selalu bahagia, setiap kali Daniah bertemu. Dalam situasi


apa pun.


“Kakak Ipar selamat datang, senang


bertemu denganmu lagi.” Dokter Harun sudah  berjalan mendekat, bahkan ingin  memeluk Daniah.


Karena antusiasnya. Tapi secepat kilat Leela sudah menghadang langkah kakinya.


Kedua wanita yang berdiri di belakangnya terlihat menahan senyumannya.


“Silahkan tunjukan kami jalannya


Dokter.” Tersenyum penuh ancaman. “Tidak perlu terlalu banyak basa-basi.”


Keduanya terlihat sangat akrab. Leela bahkan bicara dengan bahasa yang cukup


santai. Berbeda sekali ketika bicara dengan Sekretaris Han sekalipun yang


merupakan saudaranya sendiri. Daniah memperhatikan tingkah keduanya.


“Cih, aku tidak menyapamu. Aku


menyapa kakak ipar.” Menatap Leela kesal, langsung memalingkan wajah, dan


kembali senyum sejuta wattnya dia berikan khusus untuk Daniah.


“Jangan panggil nona dengan


sebutan itu, tuan muda tidak akan suka mendengarnya.” Seperti biasanya, Leela


bersikap sekaku protokoler.  Dokter Harun


memutar kepalanya berkeliling area parkir. Lalu mengangkat bahu dan mengejek


sinis.


“Saga tidak ada, jadi berhentilah


bicara. Minggir sana”


“Saya akan mengadukan pada tuan

__ADS_1


muda.”


“Hei, bisa tidak kau kendurkan


sedikit gayamu itu. Serigala galak.” Mendorong lengan Leela agar minggir.


Sementara Daniah dan kedua wanita di belakang dokter Harun menonton


pertengkaran mereka dan tidak bisa menahan gelak. Seperti bocah yang


memperebutkan perhatian kakak mereka. Dan anehnya Daniah merasa kedua wanita


itu sangat memaklumi. Seperti tahu sedekat apa hubungan mereka berdua.


“Kakak ipar.” Kembali pada Dania, tidak menggubris pandangan sebal Leela.


Dia meminta Daniah untuk mengikutinya.


“Jangan panggil nona seperti itu.”


Berkata dengan setengah berteriak.


“Sudahlah Leela.” Akhirnya Daniah


melerai, sesungguhnya dia merasa senang, untuk pertama kalinya dia melihat


sikap Leela selayaknya manusia normal. Ternyata gadis ini bisa bersikap


kekanakan seperti ini ya gumamnya.


Dokter Harun merasa menang karena


dibela, lihat wajah sombongnya itu saat berdiri di samping Daniah. Leela


tersenyum kecut mengikuti dari belakang.


“Dokter, ini hanya pemeriksaan


biasa kan. Aku merasa agak sedikit cemas.” Daniah mengatakan apa yang dia


rasakan. Berharap setelah mengatakan bisa mengusir perasaan itu. Tapi tetap


tidak ternyata.


"Jangan cemas Kakak Ipar. Kita cuma


akan cek up kesehatan biasa, nggak akan diapa-apain. Hei Leela kamu mau cek up


juga? Aku kasih diskon 99 persen deh.” Meledek Leela lagi.


Leela mendelik kesal. “Aku


benar-benar akan mengadukanmu pada tuan muda.” Ancamnya juga.


“Cih, dasar serigala galak.”


Mereka masuk ke dalam rumah sakit.


Saat bertemu beberapa orang terlihat mereka menyapa dengan sopan Dokter Harun.


yang sudah hamil besar sedang duduk di temani pasangan mereka masing-masing. Wajah


mereka terlihat penuh suka cita. Suami mereka berusaha menenangkan dengan


mengelus perut istrinya, sambil bicara dengan mendekatkan wajah mereka ke perut istrinya. Berkomunikasi dengan calon buah hati.


Lucunya, membayangkan Tuan Saga


melakukan itu. Daniah terlihat tersenyum tipis membayangkan, namun segera


tersentak mendengar perkataan Dokter Harun lagi, yang ditujukan untuk Leela.


“Berhenti!” Tangan Harun menyilang


menahan Leela, sementara dua wanita yang mengikutinya tadi sudah masuk ke dalam ruangan. “Serigala galak dilarang masuk.” Mengetuk pintu yang sudah terbuka tiga kali.


“Aku harus menemani nona.”


“Tidak, aku dokter penanggung


jawab rumah sakit ini. Melarangmu masuk.” Harun menunjuk id yang menempel


di bajunya, sekaligus menunjukan statusnya di rumah sakit ini. “Apa kamu! Tunggu


di ruang tunggu sana!” Menunjuk deretan kursi yang juga banyak orang yang sedang


menunggu.


Leela terlihat sangat kesal, sudah


seperti ingin menendang kaki Dokter Harun. Kalau tidak sedang di rumah sakit,


dia pasti sudah baku hantam dari tadi.


“Tapi aku dibawah perintah


langsung pemilik rumah sakit ini. Untuk berada di samping nona dalam situasi


apa pun.” Menunjukan hpnya. Nomor pribadi Saga. “Mau ku telepon tuan muda


sekarang?”


Harun langsung masam mendengar


jawaban Leela. Wanita di hadapannya ini memang sekaku kawat jemuran baju. Tapi


membiarkan dia masuk pasti dia akan berulah di dalam pikirnya. Padahal dia


sudah senang saat tahu Saga tidak menemani. Ternyata yang menemani Daniah tidak


kalah merepotkan daripada Saga.

__ADS_1


“Dokter, biar Leela masuk juga


ya?” Daniah menarik tangan Leela. “Nanti sekalian dia bisa di cek up juga.” Melerai


pertengkaran tidak berkesudahan. Sampai di titik ini Daniah sangat penasaran,


sebenarnya hubungan kedua orang ini apa si.


Tunggu, jangan-jangan Dokter Harun


ini suami Leela?


Daniah yang digelitiki penasaran


ingin segera bertanya, tapi tidak punya kesempatan.


“Baiklah, tapi berhenti mengganggu.


Kau harus duduk diam dan melihat saja. Apa pun yang terjadi di dalam jangan


bergerak dan melakukan apa pun. Janji!” berteriak sambil menuding tangannya ke


wajah Leela. “Angkat tanganmu dan bersumpah!” Seperti bocah yang butuh


jaminan. Leela menurut mengangkat tangannya dan mengikuti sumpah yang diucapkan


Dokter Harun.


Ya Tuhan mereka ini lucu sekali,


jangan-jangan Dokter Harun ini benar-benar suami Leela.


“Asalkan tidak ada yang membahayakan


nona di dalam aku akan diam saja.” Setelah selesai membaca sumpahnya.


“Memang akan ada bahaya apa? ini


Cuma cek up kesehatan.” Masih menuding tajam.


“Pura-pura tidak tahu, kamu itu


yang paling bahaya.” Leela menatap Daniah. “Nona, Dokter Harun ini biarpun


jomblo tapi dia playboy. Jangan percaya kata-kata.”


Yaaa, ternyata bukan suaminya Leela


ya. Lantas hubungan kalian apa si. Saking penasarannya dengan mereka berdua,


Daniah tidak merasa, kalau kecemasannya sudah nyaris menghilang.


“Cih, kau bahkan jatuh cinta pada


playboy kelas kakap.” Mengejek lagi.


“Criss sudah berubah.” Menjawab


tegas, seperti membela suaminya.


Ohhh jadi suami Leela namanya


Criss. Daniah masih sibuk menduga-duga juga.


“Ia, ia. Ayo kakak Ipar masuk.


Jangan pedulikan Leela.”


***


Pemeriksaan kesehatan berjalan  lancar. Seorang dokter wanita dan perawat


membawa Daniah menuju sebuah ruangan untuk pemeriksaan USG. Leela mengikuti.


Sementara dokter Harun dan seorang dokter laki-laki yang sudah terlihat cukup


umur menunggu di ruangan yang lain. Perawat menaruh cairan bening di perut


Daniah, lalu dengan sebuah alat dokter wanita mulai memeriksa. Secara sederhana


dokter wanita itu menjelaskan bagaimana kondisi Daniah. Gadis itu hanya


menganggukkan kepala, sambil menatap layar di depannya.


“Kondisi rahim Nona bagus. Dokter Harun


sudah mengatakan kalau Nona pernah minum pil kontrasepsi ya?”


“Ia Dok, apa itu berpengaruh ya?”


“Sejauh ini tidak. Jangan cemas, nanti


Nona bisa minum vitamin untuk memulihkan kesuburan. Semua baik-baik saja.” Dokter wanita itu menepuk tangan Daniah lembut. Meyakinkan.


Daniah merapikan pakaiannya lagi,


lalu keluar ruangan. Sementara dokter wanita tadi menyusul selang beberapa lama


sambil membawa kertas laporan hasil USG. seperti biasa penjelasan mendetail di sampaikan. Yang ditangkap Daniah adalah semua baik-baik saja.


Terlihat Daniah menarik nafas lega, walaupun rasa khawatir yang entah datangnya dari mana ini belum sepenuhnya pergi. Tapi tidak separah saat dia datang tadi.


"Kakak Ipar jangan cemas, Kakak Ipar bisa memberiku keponakan sebanyak yang Kakak Ipar mau." Dokter Harun mengedipkan mata dan tertawa jenaka. Mereka sudah keluar dari ruang pemeriksaan dan kembali ke area parkir. "Pergilah bulan madu dan bersenang-senang." Daniah langsung malu sendiri mendengarnya.


Apa! dia tahu tentang bulan madu.


"Bersemangat Kakak Ipar!"


"Sudah minggir sana!" Leela mendorong tubuh Dokter Harun. "Memang Dokter nggak punya kerjaan apa?"


"Serigala galak datang!"

__ADS_1


Sekali lagi sebelum berpisah, Daniah melihat drama pertengkaran bocah. Leela benar-benar terlihat seperti gadis normal pada umumnya.


Bersambung


__ADS_2