
Di sebuah kontrakan sempit yang di
sewa dengan biaya cukup terjangkau kalangan menengah ke bawah. Bangunan sedikit
kumuh yang bercampur dengan kawasan padat penduduk. Ada banyak kontrakan
sejenis yang menawarkan harga murah dengan fasilitas alakadarnya di sekitarnya.
Becek sedikit jika hujan turun. Bukan sebuah hunian yang akan menjadi pilihan,
jika kalian memiliki uang lebih di ibukota. Namun, tempat-tempat ini menjadi
penyelamat para pekerja dengan gaji di bawah rata-rata.
Dan kontrakan sempit inilah tempat
gadis itu bernaung, menyembunyikan diri dari dunia yang sudah lama
meninggalkannya.
Sudah dua hari lewat dari
pertemuannya dengan harimau gila itu. Aran sama sekali tidak bergerak dari
kamar kosnya. Dia delivery makanan beberapa kali. Sebagai upayanya
menyembunyikan diri. Tapi hp di atas meja , tidak bergetar selama dua hari ini.
Tidak ada pesan masuk atau panggilan telepon. Dia kerap memeriksanya. Bahkan
mungkin selama dua hari ini pekerjaannya adalah memeriksa hp.
“Aku pasti sudah gila! Kenapa aku
kecewa dia tidak menghubungiku.” Depresi “Aku tahu, dia tidak mungkin
menghubungiku. Dia hanya mengintimidasi kemarin.” Kembali berusaha memperoleh kesadaran diri.
Aran menjatuhkan diri ke atas
tempat tidur, berguling di bawah selimut tipisnya. Menggulingkan tubuh sampai
membentur dinding pembatas. Dia bahkan tidak punya ruang untuk sekedar
berguling-guling di atas tempat tidur. Kepalanya muncul dari balik selimut. Dengan
rambut terburai kesana kemari.
Tapi kenapa aku sama sekali tidak
menulis!
Di depan laptopnya yang menyala dia
hanya mematung. Seluruh ide di kepalanya buntu. Selama dua hari ini dia hanya
bolak-balik memandang hpnya. Membuka kotak pesan, melihat daftar panggilan. Seperti
pelamar kerja yang sedang menunggu panggilan wawancara. Dia benar-benar
mendedikasikan waktu untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Seharusnya aku menulis. Aku tahu dia hanya mengerjaiku. Lagi pula
sudah gila ya, memang apa yang dia inginkan dariku. Dia bahkan punya ratusan
karyawan yang bisa melakukan apa pun yang dia inginkan. Lantas apa artinya
serpihan daun sepertiku ini.
“Bangun Arandita!” berteriak
sendiri memenuhi kamar kosnya dengan teriakannya. Entah kenapa Aran menggerutu.
Seharusnya dia senang Sekretaris Han tidak menghubunginya. Walaupun jujur
dibagian hatinya yang lain dia merasa kecewa. Dengan perasaan enggan dia bangun
dari atas tempat tidur. Menyeret kakinya menuju karpet dimana meja kecil dan
laptopnya yang sudah dua hari ini tidak dia sentuh.
Pendar cahaya laptop membias ke wajahnya.
Menggerakkan mouse untuk membuka kertas lembaran putih. Dia harus menulis
sekarang. Jadwal update dua novelnya sudah ada di depan mata. Krik, krik sudah
setengah jam dia meletakkan tangannya di keyboard laptopnya. Tapi kepalanya
benar-benar tidak bisa diajak berfikir.
Aaaaaaa, kenapa aku ini.
__ADS_1
Akhirnya Aran memilih bersandar di
tempat tidurnya. Menjatuhkan kepalanya. Menatap langit-langit kamar sempitnya.
Adegan masa lalunya menari-nari di pikirannya, terbiaskan di langit kamar. Dulu,
saat ia masih menjadi reporter di stasiun TV ternama milik konglomerat negri
ini. Stasiun TV XX yang berhasil mendapatkan wawancara khusus dengan Presdir
Antarna Group saat dia menyatakan perasaannya pada istrinya.
Kejadian itu sudah sangat lama,
namun tidak akan pernah terlupakan dari ingatannya. Karena keserakahannya dan
kenekatannya. Membuat Aran harus kehilangan semuanya.
Siang itu putri pemilik stasiun TV
tempatnya bekerja mendatanginya di ruangannya. Wanita cantik yang juga telah
menyelesaikan studi bergengsinya di luar negri. Dia sudah memiliki brand
kosmetik yang sangat populer di negara ini. Cantik, pintar, kaya raya dan dari
keluarga terpandang. Dia punya semua modal untuk jadi bunga di kalangan atas
pergaulannya. Tapi, kenapa gadis sesempurna dia harus jatuh cinta pada orang
yang salah.
“Nona, Anda tahu kan ada aturan
yang tidak tertulis di dunia media negara ini. Bahwa Antarna Group adalah
perusahaan yang tidak bisa disentuh secara pribadi.” Ada garis yang tidak bisa
ditembus media dalam memberitakan Antarna Group. Yaitu mengenai kehidupan
pribadi pemiliknya, yaitu Saga Rahardian Wijaya. Sudah seperti aturan tidak
tertulis, jangan menggangunya, kalau kalian mau hidup damai. Begitulah adanya.
Perusahaan skala nasional yang ada di semua lini kehidupan. Loyalitas para
karyawan yang sudah tidak perlu dipertanyakan. Membuat media selalu menaati
batas tidak tertulis itu.
punya pelukis Helena. Gadis sombong itu sudah seperti putri, memamerkan
hubungannya dengan Tuan Saga.” Mendengus sebal, membayangkan wajah pelukis
Helena. Gadis paling beruntung di negri ini yang diperkenalkan kepada publik
sebagai kekasih Tuan Saga.
“Tapi memang itu layak untuk
dipamerkan Nona.” Aran membalas ringan. Siapa juga yang tidak akan pamer kalau
punya pacar sehebat Tuan Saga. Kalau dia bukan serpihan debu di dunia ini
mungkin dia juga akan tidak tahu malu untuk ikut menyukai Tuan Saga.” Tapi, Kalau bukan
Tuan Saga siapa lagi. Setau saya dia tidak punya adik yang diperkenalkan ke publik.”
Walaupun Aran juga tidak tahu kalau dalam pergaulan kelas atas yang terbatas. Mungkin
saja nona di hadapannya ini mengenal adik Tuan Saga.
“Sekretarisnya.” Jawaban wanita di
depan Aran seperti sambaran petir di telinga gadis itu.
“Apa Nona sudah gila!” Aran
berteriak keras, tidak perduli siapa wanita yang ada di depannya. Putri kesayangan
pemilik tempat dia menggantungkan hidup. “Nona tahu siapa dia? Walaupun dia juga
sama-sama tampan, tapi seharusnya Nona jangan pernah berhubungan dengannya.”
Aran tahu siapa yang dimaksud nona di hadapannya. Laki-laki dingin yang selalu
berada di belakang Tuan Saga. Saat dia mengambil foto-foto resmi Presdir
Antarna Group, dia selalu melihat laki-laki itu. Dia bahkan selalu dalam frame
foto yang sama dengan Tuan Saga. “Nona carilah laki-laki normal saja.”
Wajah wanita di hadapan Aran tampak
__ADS_1
sangat muram. Dia tahu kalau Sekretaris Han memang terlihat sangat dingin dari
luar, tapi dia yakin kalau dia bisa menyentuhnya hati itu sebenarnya hangat.
“Tapi aku menyukainya, kami sudah
beberapa kali bertemu di forum resmi. Semakin dilihat dia semakin mempesona.”
Sudah gila ya! Aran memaki dalam
hatinya.
Sekretaris Han ibarat musuh para
reporter. Dengan isyarat tangannya saja para reporter sudah tahu untuk menjaga
jarak untuk sekedar mengambil foto. Dia
tidak segan mengambil tindakan fisik jika dia merasa ada yang mengganggu kenyamanan
Tuan Saga. Dan tidak pandang bulu. Dia bisa memukul laki-laki atau perempuan.
Semua gender itu sama saja baginya. Pengganggu kenyamanan Tuan Saga. Harus
dihilangkan. Dan Aran paham betul, dia
harus menghindari orang seperti itu.
Setampan apapun dia, aku tidak akan
memilihnya untuk jatuh cinta. Memang aku punya nyawa berapa sampai mau berurusan dengannya.
“Aku akan memberimu uang sekian.”
Nona muda itu menyebutkan nominal uang yang jumlahnya bisa menggugurkan
pertahanannya. Glek, Aran menelan ludah demi mengulang nominal itu di kepalanya.
Setengahnya saja bisa dia pakai untuk melunasi pinjaman pembelian rumah
orangtuanya. Dan sisanya bisa dia pakai untuk dirinya sendiri. Jiwa serakahnya,
naluri keingintahuannya, tantangan yang menaikan semangat. Berlomba memprovokasi.
Aran dikenal sebagai reporter
tangguh di stasiun TVXX. Kerjanya cepat dan juga profesional. Berani, walaupun
terkadang keberaniannya dilandasi karena kekurangan uang. Untuk itulah nona
muda itu mendatangi Aran. Nona muda itu tersenyum tipis. Dia mengenal Aran
dengan baik. Reporter satu ini bisa bekerja diluar nalar manusia biasa jika
dijanjikan uang.
“Nona maaf, saya tidak berani.” Sepertinya
Aran belum kehilangan akal sehatnya.
Cih, dia tidak terpancing.
“Aku yang akan bertanggungjawab
semuanya. Kau tahukan ayahku sangat menyayangiku.” Aran menganggukkan kepalanya.
“Kau cukup mengambil vidio sehari-hari, dan foto-foto. Setelahnya serahkan
pada tim produksi, mereka yang akan mengatur semuanya.”
Nona, kenapa Anda gila begini si.
Anda bahkan mau menyiarkannya di TV. Anda tidak tahu seberbahaya apa laki-laki
itu. Julukannya saja harimau gila. Ya, itu julukan dariku si.
“Aku akan memberimu bonus dua kali
lipat gajimu setelah semua selesai.”
“Nona.” Mulai tergoda saat kembali
menghitung nominal yang akan didapat.
“Aku yang akan menjaminmu.
Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa. Identitasmu akan dirahasiakan.” Semakin
tergoda mendengarnya.
Dan akhirnya Aran benar-benar
melakukannya. Membuka lembaran ikatan mematikan dengan laki-laki yang dia
__ADS_1
juluki harimau gila. Seharusnya dia tidak boleh terlalu serakah. Karena ini adalah hal yang ia sesali sepanjang hidupnya.
Bersambung