Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
128. Bekerja Kembali


__ADS_3

Pagi hari ini cuaca cerah dikalahkan semangat dan keceriaan Daniah. Dia punya energi berkali lipat dari


biasa dia berangkat bekerja. Bagaimana tidak, setelah seminggu akhirnya dia


bisa kembali beraktifitas normal seperti biasanya.


Daniah sudah ada di dalam mobil


yang melaju dengan kecepatan sedang. Leela selalu terlihat ceria setiap waktu,


menyegarkan suasana.


Daniah menampar kaca mobil dengan


pandangannya, pikirannya jauh berlarian ke masalah Jenika semalam. Dia bahkan


belum mencoba bertanya pada Raksa, semalam dia tidur dalam pelukan suaminya


setelah bicara dengan Jen.


Sudahlah! Kita selesaikan satu


persatu. Tuan Saga juga berjanji membantu menjelaskan pada Jen nanti. Walaupun


caranya masih membingungkan. Dia mau memberi waktu Jen untuk berjuang. Aaaa,


tapi kalau hanya membuat Jen terluka bagaimana. Baiklah, aku akan coba bicara


dengan Raksa nanti.


Daniah menoleh pada Leela yang


masih fokus mengemudi.


“Leela, nanti ingatkan aku untuk


menonton TV ya. Katanya Tuan Saga akan ada interview langsung. Aku disuruh


menonton, kalau perlu disuruh merekam. Kalau  kau sampai tidak nonton, habis kau nanti malam. Begitu dia mengancamku


tadi. Hiks.  Memang mau pamer apa lagi


si.” Sudah mengeluh pagi-pagi pada Leela. Teringat pesan Saga saat dia


mengantarnya memasuki mobil pagi tadi.


“Ia Nona, nanti saya pasti


ingatkan.”


Kalau sampai Nona tidak menonton


saya pasti dihukum dikirim ke antartika untuk membuat patung es, atau bahkan


lebih parah dari itu.


“Maaf ya Leela karena aku kamu


harus bekerja seperti ini. “ Daniah terdengar serius dengan ucapannya. Setelah bertanya


pada Jen, dia sedikit tahu kalau sebenarnya Leela termasuk jajaran penting dan


orang kepercayaan Tuan Saga. Tapi karenanya, dia harus menjadi sopir seperti


ini.


“Kenapa Nona minta maaf, pekerjaan


saya ini sangat penting di mata tuan muda.” Leela menjawab ringan, tanpa merasa


terbebani sedikit pun. Dia seperti mengatakan, saya senang dengan pekerjaan


saya. “Saya bahagia kalau bisa menjalankan tugas yang tuan muda berikan untuk


saya.” Lagi-lagi kata-kata Leela terdengar sangat tulus.


“Tapi kan tetap saja, seharusnya


kamu ada di perusahaan kan, bukannya bekerja seperti ini. Apa mau aku bicara


pada Tuan Saga, supaya kamu dipindah tugaskan di tempatmu yang seharusnya.”


Aku tahu kamu salah satu pegawai


penting di Antarna Group, bagaimana bisa kamu cuma bersamaku seperti ini.


“Tidak apa-apa Nona, sebenarnya


kalau sampai Nona mengatakan pada tuan muda untuk mengganti saya, malah saya


akan mendapatkan hukuman nanti.” Tersenyum.


“Kenapa?” Daniah jelas protes,


kenapa Leela harus dihukum.


“Karena saya tidak bisa bekerja


dengan baik, jadi nona minta ganti sopir dengan yang lain. Mungkin saya


benar-benar akan dibuang ke pedalaman desa untuk introspeksi diri.”


Daniah langsung shock mendengar


kata-kata Leela.


“Hei, tidak mungkin kan. Memang


Tuan Saga sejahat itu.” Menyentuh bahu Leela. “Aku tidak akan mengatakan


apa-apa di depan Tuan Saga. Maaf ya, kalau aku selalu menyusahkanmu.”


Ya ampun nona benar-benar polos


sekali. Tapi benar-benar menggemaskan si. Berbeda dengan Helen, Anda sungguh


jauh berbeda dengan wanita yang dulu dekat dengan tuan muda. Dan entah kenapa


saya senang sekali karena Anda, karena nonalah yang harus saya layani, bukan


wanita itu.


“Leela sudah punya pacar?” tepat


mobil memasuki halaman ruko.  Daniah


sudah membuka pintu mobil sendiri.

__ADS_1


“Saya sudah menikah Nona.”


“Apa!”


Menutup pintu lagi. Daniah menatap


Leela serius.


“Benar-benar sudah menikah!”


Protes tidak percaya. Leela masih terlihat seperti anak-anak bebas yang sedang


menikmati hidupnya. Sementara Leela hanya Menganggukkan kepala lalu keluar dari


mobil. Berjalan cepat membukakan pintu mobil untuk Daniah.


“Kenapa anda kaget begitu nona?


Sejujurnya usia kita sama, hanya berbeda bulan saja. Tapi kita lahir di tahun


yang sama.” Menjelaskan.


Hah! Benarkah. Dia yang terlihat


imut atau aku yang terlihat lebih tua dari usiaku.


“Tapi Nona malah jadi terlihat


seperti usianya di bawah saya ya?” Tertawa ceria. Mengikuti langkah kaki


Daniah.


“Hei, berbohong juga ada


batasannya Leela, jangan bicara sembarangan.” Mendorong bahu Leela, malu


sendiri dengan yang dikatakan Leela.


Memang aku terlihat semuda itu apa.


***


Sudah seperti anak-anak yang di


tinggal kabur orang tuanya, dan sekarang melihat ibu mereka berdiri di depan


pintu sambil tersenyum lebar. Antara kesal dan kangen membuncah menjadi satu.


Mereka meninggalkan pekerjaan mereka masih-masih dan datang memeluk Daniah.


Tika yang paling lama. Sampai Daniah menepuk-nepuk punggungnya dia baru


melepaskan pelukannya. Leela menonton adegan itu frustasi. Tapi tetap tidak


melakukan apa-apa, karena merasa nonanya juga terlihat tidak terganggu. Dia malah


terlihat sama bahagianya.


Leela sudah sedikit memperlebar


sentuhan yang diizinkan untuk sesama perempuan. Walaupun dia masih menunjukan


sorot mata tidak suka.


“Terimakasih Tika, kamu sudah


Bagaimanapun dia sudah menyerahkan tanggung jawab toko sepenuhnya pada Tika.


Selama seminggu ini Tika sudah menghandle banyak sekali pekerjaan. “Terimakasih ya.” Puk, puk menepuk punggung Tika dengan penuh terimakasih.


“Tapi Mbak Niah sudah sehat


beneran kan?” Masih terlihat cemas.


“Hehe, ia aku sudah baikan.”


Daniah terpaksa berbohong mengatakan kalau dia sedang tidak enak badan. Jadi tidak


bisa datang ke toko. Tidak mungkin kan kalau dia mengaku dihukum suaminya


karena ketahuan minum pil kontrasepsi.


Jiwa-jiwa polos karyawanku.


“Jangan-jangan Mbak Niah lagi


hamil ya!” Celetukan seorang karyawan langsung disambut keributan. Membuat


hati Daniah ngilu. Membicarakan kehamilan hanya mengingatkannya tentang pil


kontrasepsi yang dengan beraninya dia telan. Walaupun masalah itu sudah lewat,


namun kalau mendengar kata hamil maka otomatis kata pil kontrasepsi akan ikut


menempel di belakangnya dia masih sedikit trauma.


“Tidak-tidak. Aku belum hamil.


Benar, kemarin hanya tidak enak badan. Sudah bubar semua ayo mulai kerja.”


Mendengar instruksi itu mereka langsung bubar dan mulai bekerja lagi. Tidak


merasa aneh ketika melihat Leela langsung bergabung tanpa canggung seperti


biasa. Padahal dia juga sebenarnya tidak pernah datang selama Daniah tidak


datang, tapi entah kenapa para karyawan Daniah tidak merasa aneh dengan itu.


Sambil bekerja mereka juga masih sibuk berbincang tanpa canggung.


Daniah mengikuti Tika dan karyawan


lainnya naik ke lantai dua. Menerima laporan pertanggungjawaban yang di


berikan Tika selama seminggu ini. Beserta semua catatan omset dan pengeluaran


uang untuk membayar semua barang supplier yang masuk selama Daniah tidak ada.


“Mbak Niah sudah sehat benar?


jangan memaksakan diri.” Tika mengulang pertanyaan yang sama lagi.


“Aku benar-benar sehat luar biasa


Tika, jangan cemaskan aku. Aku juga kangen mau bekerja.” Aku kangen kalian


tahu, begitu pekik hati Daniah.

__ADS_1


“Tapi seminggu nggak ketemu Mbak


Niah sudah kelihatan jauh berbeda lho.” Tika menyenggol dagu Daniah girang.


“Apa?” Meraba pipi dan wajahnya


sendiri.


“Mbak Niah kelihatan jauh lebih


cantik. Hehe.Ciee, jangan-jangan bukan sakit ya, Mbak Niah bulan madu yang kedua dengan Tuan Saga ya. Cieeee, mana oleh-oleh nya.” Tertawa sendiri


seenaknya, yang lainnya sudah ikut-ikutan berisik dan bercieee, cieee.


Daniah cuma bisa tergelak. Tapi semburat


malu muncul juga di wajahnya.


Ia, kami bulan madu si tapi cuma di


dalam kamar.


“Sembarangan. Mana ada yang


begituan.” Menyudahi gelak tawa Tika, sampai harus ditutup mulutnya,


untuk menghentikannya menggoda.


***


Siang bergulir dengan cepat. Aktivitas


rutin di ruko berjalan dengan lancar. Saatnya makan siang. Tika mengikuti


langkah Daniah saat dia mengajaknya untuk membeli makan siang. Sementara Leela


mengikuti tanpa diminta. Walaupun tidak di inginkan dia tidak tahu malu dan


mengekor ke mana Daniah melangkah. Mereka sudah membeli banyak sekali makanan.


Semua tangan memegang bungkusan makanan. Termasuk cilok yang dirindukan  Daniah selama seminggu ini.


Waktunya makan siang. Jangan lupa


makan siang ya, rehat dari aktivitas dulu sebentar dan makan.


Semua sudah berkumpul di lantai dua


sambil  menghadapi makanan masing-masing.


TV sudah menyala sedari tadi. Acara yang akan menampilkan Saga sudah dimulai


dari tadi. Tapi laki-laki itu belum muncul.  Acara penting yang harus ditonton Daniah. Dia


bahkan sudah diancam tadi bahkan disuruh merekam segala.


Dia mau apa si, apa aku disuruh


evaluasi penampilannya nanti. Cih. Aku kan tinggal jawab ia kamu tampan sekali


suamiku. Bereskan. Hehe. Tapi dia nggak akan ngasih pertanyaan tentang apa yang


dia omongin di TV kan. Memang dia mau ngomong apa nanti. Bisnis, mana aku tahu


perihal begituan kan.


Makan sambil berfikir keras.


“Leela, apa kamu bisa merekamnya


nanti kalau pas Tuan Saga Live?” Daniah menyenggol Leela di sampingnya. Ngeri


dengan pikirannya yang sudah berlarian ke mana-mana. Kalau sampai dia ditanya


tentang isi pembicaraan Saga bisa berabe kalau dia tidak bisa menjawab.


“Baik Nona.”


Leela meletakan makanannya lalu


berjalan mendekat ke TV. Tidak tahu apa yang dia lakukan. Yang lain juga tidak


terlalu memperhatikan. Sibuk dengan pembicaraan mereka dan makanan mereka juga.


“Sudah Nona, nanti kalau Tuan Saga


live sudah terekam.”


“ Hah, memang apa yang kamu lakukan


tadi?”


Selama ini dia nonton TV ya cuma


nonton aja, memang bisa ya sekarang TV di pakai merekam.


“Leela nanti kamu bantu


ingat-ingat apa yang dibilang Tuan Saga ya.” Bicara pelan di samping telinga


Leela. “Perasaanku mengatakan dia bakal bilang aneh-aneh terus mengetesku.”


“Ia nona. Tapi Nona tidak bisa


menjawab juga pasti tidak apa-apa.”


Hei, kamu tidak tahu kan kalau dia


sedang kesal di tempat tidur bagaimana kelakuannya.


“Pokoknya bantu aku mengingat apa


yang dia bilang ya.” Masih menarik lengan Leela meminta kepastian bantuan.


“Ia nona.” Tersenyum hangat meyakinkan.


Kalau Anda sepolos ini di depan


tuan muda, pantas saja dia sangat tergila-gila pada Anda Nona. Saya bahkan


tidak perlu mencatatnya, yang disampaikan Tuan Saga nanti pasti akan Anda


ingat seumur hidup Anda.


Leela menghabiskan makanannya, sambil melihat layar TV.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2