Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Bulan Madu Selesai


__ADS_3

Saga sudah bangun duluan. Mendapati


Daniah memeluknya erat membuat hatinya bergetar senang. Dia memang masih


seperti itu. Setiap hal yang dilakukan Daniah karena inisiatifnya selalu


membuatnya sangat bahagia. Dia merasa dicintai melebihi apa yang sudah dia


berikan untuk istrinya.


Setelah selesai mandi dan


mengeringkan rambut dia memanggil Han, selang tidak lama Han masuk membawa jus


segar dan potongan buah.


“ Duduklah, kau bawa yang kuminta.”


“ Ia tuan. Silahkan” Han


menyerahkan garbu kecil ke tangan Saga. Lalu mengeluarkan lembaran-lembaran


kertas dari amplop coklat  yang dia bawa di bawah nampannya tadi.


Kenapa aku merasa cemas ya. Apa


tuan muda benar-benar perlu tahu tentang ini. Kalau dia semakin gelisah dan


berfikir macam-macam bagaimana.


Han sedang berperang dengan


pikirannya sendiri selama Saga menghabiskan makanannya. Dia sudah mencari


banyak referensi, bahkan menghubungi dokter kandungan yang secara khusus sudah


ditunjuk sebagai dokter pribadi nona.


Saga meletakan gelasnya yang sudah


kosong, dan mengambil lembaran kertas yang di berikan Han. Matanya memicing


saat membaca apa yang tertulis di sana.


“ Kau tidak bercanda dengan semua


informasi inikan?” Tangannya bergetar, bahkan dia memukul bahu Han dengan


tumpukan kertas itu.  “ Bagaimana aku membiarkan


Daniah merasakan ini? Ini pasti gila?”


Benarkan, apa yang aku cemaskan.


Tuan muda tidak mungkin baik-baik saja setelah melihat ini.


Wanita memiliki kemulyaan yang di


anugrahkan Tuhan dengan bisa meneruskan keturunan. Kehamilan dan melahirkan


adalah hadiah Tuhan bagi para wanita. Dalam proses kehamilan ada banyak sekali


cerita dan drama. Bahkan di gambarkan seorang ibu yang melahirkan anaknya


merasakaan sakit seperti 20 tulang di tubuhnya dipatahkan.


Membaca itu tubuh Saga gemetar. Dia


menoleh ke tempat tidur dimana istrinya sedang terlelap di bawah selimut. Hanya


ujung rambutnya yang terlihat.


“ Tuan muda, pelankan suara anda.


Nona bisa terbangun.” Bahkan hanya dengan membaca informasi seputar kehamilan,


seharusnya membuat bulu kudu semua orang bergetar. Ibu merasakan sakit ketika


melahirkan seperti halnya 20 tulang ditubuhnya dipatahkan. Membayangkan rasa


sakitnya saja tidak akan tergambarkan dengan benar.


Masih memandang lembaran-lembaran


kertas itu tidak percaya.


“ Buatkan jadwal bertemu dengan


dokter kandungan Daniah, aku ingin mendengar semua penjelasan sejelas-jelasnya tentang


kehamilan, melahirkan juga datang bulan.”


“ Baik.”


Hah!


Saga menjatuhkan kepalanya di atas


sandaran kursi. Pikirannya terbang menjumpai wajah-wajah yang di sayanginya.

__ADS_1


Menghampiri wajah ibunya yang sedang jauh di sana. Menemukan Jen dan Sofi, dua


wanita  yang akan selamanya dia anggap


anak-anak. Sebanyak apapun usianya, Saga hanya akan menganggap mereka dua bocah


yang harus selalu dia lindungi.  Juga


wanita yang dicintainya. Dia menatap nanar lagi, tubuh kecil di bawah selimut


itu. Benarkan dia bisa.


Ibu, kau hebat sekali ya. Apa dulu


Ayah juga menangis ketakutan saat melihatmu kesakitan melahirkan kami. Ayah,


apa kau tahu dulu ibu kesakitan, ah tidak mungkin kau tidak tahukan. Kau


mencintai ibu seperti aku mencintai Daniah.


Kata-kata Daniah kembali terngiang


dipikirannya. Bagaimana dia bisa bercerita tentang sosok ibu kandungnya, wanita


yang begitu dicintainya. Walaupun hanya ingatan samar tentang seseorang yang


sudah melahirkannya ke dunia. Ibu, sampaikapanpun tak akan pernah terlupakan. Begitu ujarnya.


Bagaimana sebenci apapun Daniah pada ibu tirinya dia adalah wanita yang sudah


melahirkan Raksa. Adik yang sudah banyak sekali membuatnya tegar dan bertahan


hidup di keluarganya. Hingga ujaran balas dendan yang pernah di sodorkan Saga


hanya di balas senyum olehnya. “ Bagaimanapun Raksa mencintai ibunya. Dan aku


sangat menyayangi Raksa.” Begitulah dia akhirnya menghentikan niatan Saga balas


dendan untuk semua perlakukan yang pernah ibu tirinya lakukan padanya.


Jangan marah pada ibu, mengalahlah.


Ibu sangat menyayangimu, apapun yang sudah ibu lakukan maafkan dia. Jangan marah pada ibu


hanya karena aku. Begitulah yang selalu diulang Daniah saat kerap beberapa kali


dia bersitegang dan beda pendapat dengan ibunya.


Ibu.


“ Tuan muda.”


“ Hemm.” Tersadar dari lamunan,


“ Saya juga merasa binggung dengan


kondisi ini, tapi ini kenyataan yang saya lihat setelah mencari info-info


seputar kehamilan.”


“ Apa?” Saga mengangkat kepalanya


tertarik.


“ Walaupun wanita mengalami


perjuangan luar biasa dari semenjak hamil sampai melahirkan, tapi mereka bahagia


dengan semua itu. Karena menjadi ibu adalah hadiah yang Tuhan berikan bagi


seorang wanita.”


Jadi jangan terlalu cemas tuan


muda, nona Daniah pasti merasakan itu juga.


“ Niah juga pernah mengatakannya.


Kalau Tuhan memberinya kesempatan dia akan bahagia menjalani semuanya. Tapi...”


tertahan kata-katanya. “Apa aku bisa melihatnya menderita begitu. Aku pasti


bisa gila.”


Han diam, karena dia tahu


jawabannya. Rasanya menyesal juga dia sudah menyodorkan kertas-kertas yang ada di hadapannya ini. Kalau saja tuan muda tidak tahu, tentu dia tidak akan secemas ini memikirkan. Selama ini dia sudah menantikan kehamilan Daniah. Anak yang akan dilahirkan Daniah sebagai bukti cinta kasih mereka.


Apa tuan muda akan berfikir ulang tentang keinginannya melihat nona hamil.


Dikepala Saga masih bermunculan


aktualisasi tentang informasi kehamilan, jika itu terjadi pada Daniah. Apa dia


akan sanggup melihatnya.


“ Apa perusahaan punya kebijakan


khusus untuk karyawan hamil dan melahirkan?” Tiba-tiba hal ini masuk ke

__ADS_1


pikirannya. Di Antarna Group ada banyak sekali karyawan wanita yang statusnya


sudah menikah.


“ Cuti melahirkan selama dua bulan


tuan.” Menjawab sambil merapikan kertas-kertas berserak di atas meja.


“ Apa itu cukup?”


Saya juga tidak tahu tuan muda.


Belum pernah ada yang komplen mengenai kebijakan cuti melahirkan selama ini.


“ Bahas ini di internal kepegawaian,


untuk memberikan cuti sekaligus bonus khusus bagi karyawan wanita yang sehabis


melahirkan. Anggarkan perencanaannya mulai tahun depan.”


“ Baik.”


Nona, anda membawa banyak sekali perubahan di


Antarna Group.


Terdengar suara dari tempat tidur.


Membuat kedua lelaki itu menoleh.


“ Hei apa yang kau lihat?” Gusar


saat melihat Han juga melirik kea rah tempat tidur. “Sudah kubilang, jangan liat


istriku yang sedang tidur.”


Dia mengemaskan tahu, apalagi kalau


habis membuka mata dan kebinggungan.


“ Maaf tuan muda.” Han langsung


berpaling ke arah meja.


Memang ada bedanya begitu, nona


saat tidur sama tidak.


Saga bangun dari tempat duduknya


mendekati Daniah. “ Kau sudah bangun? Apa ada yang tidak nyaman.” Menyentuh


pipi Daniah yang masih berusaha mengumpulkan separuh nyawanya.


Hah! Aku ketiduran berapa lama ini.


Ahhh, banjir, aku harus ganti pembalut.


“ Aku baik-baik saja sayang. Aku


mau kekamar mandi.”


Saga sudah bangun dan mengambil


posisi mau mengendong Daniah tapi gadis itu benar-benar menolak dengan keras.


Bahkan memukul bahu Saga dengan bantal.


“ Aku bisa jalan, sudah sana, teruskan


saja pekerjaan kalian.” Melihat ke arah sekertaris Han. Melihat juga kertas


menumpuk di atas meja.


Mereka sedang bekerja ya.


Walaupun tidak rela akhirnya


dibiarkan saja istrinya itu berjalan sendiri ke kemar mandi.


Setelah melihat istrinya masuk dia kembali duduk.


" Kau lihatkan dia mengemaskan kalau habis membuka mata saat bangun tidur."


Mana saya tahu tuan, melirik saja tidak bolehkan tadi.


" Kau tidak akan tahu, kamu kan jomblo."


Hahahahahaahaha. Han


Beberapa saat terdegar Saga sudah menghela nafas, sepertinya dia sudah mengambil beberapa kesimpulan sambil menatap pintu kamar mandi. Kali ini suara air tidak terlalu terdengar.


" Sepertinya bulan madu kali ini sampai disini. " Han menghentikan pekerjaannya. Seperti yang sudah dia pikirkan. Tidak mungkin tuan muda akan membiarkan nona keluar, dan tidak mungkin pula berlama-lama di tempat ini jika tidak bisa melakukan apa-apa. "Hari ini kirim pulang para pelayan dan pengawal, sisakan saja seperlunya. Kita tidak mungkin melanjutkan agenda dengan kondisi Daniah yang begitu."


" Baik tuan muda, saya akan mengurusnya." Han sudah memasukan semua kertas ke dalam amplop coklat yang dia bawa. " Saya akan membereskan semuanya dan meminta pak Mun membawa makan siang ke kamar."


" Hemm."


Sepertinya bulan madu kali ini benar-benar tidak berjalan dengan baik. Ku pikir akan ada kabar menyenangkan tentang kehamilan nona. Tapi tuan muda malah terlihat gelisah.

__ADS_1


Han meremas amplop yang dia bawa. Andai dia tidak menunjukan ini pasti akan lain ceritanya. Karena dia selalu seperti itu. Jika melihat Saga kecewa atau memikirkan sesuatu sampai seserius itu dia sudah merasa gagal melakukan kewajibannya.


Bersambung


__ADS_2